
Arana memasang senyuman diwajah cantiknya. Jika orang-orang menyadarinya, ada sedikit celah diwajahnya yang tersenyum. Sesungguhnya, meskipun nampak sangat tenang, Arana mencoba bernapas secara normal. Jantungnya masih dapat dia dengar dan rasakan berdentum dengan kuat dan cepat. Bagaimanapun, ketika pekerja Karina kembali, dia hanya menemukan beberapa gulung kain dan gaun yang sedikit ketinggalan zaman.
Memanfaatkan gaun sebagai model awal, Arana menggunting semua bagian yang tidak penting dan menyisakan bagian utama dileher dan pinggang. Sebelum menjahitnya, menyatukannya dengan gulungan kain putih. Awalnya Arana cemas karena gaun itu nampak sangat biasa, namun ide mendadak terlintas dikepalanya saat dia melihat bunga mawar yang ada diruangan itu. Ruangan, yang penuh mawar putih.
Arana tersenyum puas dalam hati. Melihat respon orang lain yang terpesona pada gaunnya, Arana tahu bahwa dia berhasil.
"Untungnya aku berhasil." Batin Arana.
Denting lonceng berbunyi, menyatakan bahwa pasangan sudah siap, dan acara pernikahan sudah dapat dimulai. Pianis menekan tuts, membunyikan lagu pengiring yang merdu dan sempurna untuk acara pernikahan. Arana menatap uluran tangan Michael, yang akan membawanya ke seberang, menuju Alva. Terbesit dibenak gadis itu, bahwa jika ini adalah pernikahannya sendiri, dia mungkin tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk menggenggam tangan kokoh nan hangat ini, seperti sekarang. Perasaan itu membuat sepasang maniknya memerah. "Hentikan, Rana." Batinnya.
Bunga-bunga dilemparkan ketika Arana mulai melangkah oleh dampingan Michael. Lidia memandang keduanya dari belakang, dan tiba-tiba merasakan perasaan bersalah yang begitu menyakitkan didadanya. Maniknya memerah, dan dia menangis didetik berikutnya. Gadis didepan sana bukanlah Alana, dia adalah Arana. Putri kembarnya. Putri yang telah disakiti olehnya.
"Maafkan mama, Rana. Mama sungguh minta maaf." Cicit Lidia nyaris tanpa suara.
__ADS_1
Teng.. Teng.. Teng..
Setiap langkah Arana, perasaan gugup dan cemas semakin dan semakin bertambah didalam benaknya. Maniknya melirik kekanan dan kekiri, memandang para kerabat yang pada saat itu, mengira dirinya juga adalah Alana. Mengira dirinya, satu-satunya putri dikeluarga Michael yang paling mereka sayangi. Arana merasa iri. Benar-benar iri.
"Terima kasih, pa." Alva berujar sembari mengambil alih tangan Arana dari Michael. Tanpa Arana sadari, ternyata dia telah sampai kehadapan Alva, yang sebentar lagi, akan menjadi suaminya.
Michael menatap Arana dan memandang Alva. "Tolong jaga putriku, Alva."
Alva memberikan senyumannya dan mengangguk dengan tegas. "Saya bersumpah akan selalu menjaganya, pa."
Alva memandang Arana dan berucap dengan lembut, namun mengandung keteguhan dan ketegasan hati. "Saya Alvario Reynan Erlangga, mengambil engkau Clarissa Alana Damarian menjadi istri saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."
Arana menarik nafasnya dalam-dalam, mengungkap senyuman dan berkata. "Saya Clarissa Alana Damarian, mengambil engkau Alvario Reynan Erlangga menjadi suami saya, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus."
__ADS_1
"Bapa, saya tahu saya telah melakukan sebuah dosa besar. Mohon ampuni saya, Bapa. Ampuni saya." Batin Arana menjerit.
"Keduanya akan melakukan tukar cincin kemudian." Ujar pendeta.
Alva pertama kali memasangkan cincin dijari manis Arana, begitupun selanjutnya dengan Arana memasang cincin kejari manis Alva. Sebelum, pendeta berkata, "Sekarang pasangan boleh menjatuhkan ciuman sebagai kunci sumpah pernikahan ini."
Jantung Arana berdentum. Ciuman, sebuah ciuman dengan pria yang baru saja menjadi suaminya beberapa detik lalu! Yang bahkan baru bertemu dengannya belum genap 2 minggu!
Gadis itu melebarkan matanya ketika wajah Alva mendekat kearahnya. Tak bisa menyembunyikan kegugupan. Tubuhnya menegang ketika bibir tipis nan dingin Alva jatuh kebibir merah mudanya. Nafas hangat sedikit terasa, dan membuat bulu kuduk Arana meremang. Pupilnya menyempit, bahkan setelah Alva menarik wajahnya setelah beberapa saat berlalu.
Sorak sorai terdengar, dan tepuk tangan meriah menyambut pasangan yang baru saja melangsungkan ikrar pernikahan mereka diatas altar. Keduanya menghadap tamu undangan dan menyunggingkan senyuman. Arana melihat sahabat Alana menunjuk bunga ditangannya. Arana menyunggingkan senyuman, berbalik dan melemparkan bunganya kebelakang.
Seperti itulah, Arana melepas masa lajangnya. Si kutu buku, yang menikah dengan pria yang baru ditemuinya beberapa hari.
__ADS_1
Takdir sungguh lucu. Namun lebih lucu lagi, jika tahu apa yang akan takdir lakukan untuk mereka dimasa depan.