My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 118: Rana, I'm In Pain


__ADS_3

Suasana didalam mobil cukup tenang. Meski mendapatkan kabar bahwa Aki memang melarikan diri dari rumah, Arana dan Alva tidak banyak bertanya alasan mengapa Aki melarikan diri, dan dengan ringan menyesuaikan diri. Arana adalah orang yang tanggap dan kritis, sehingga dia memahami jika Aki mendapatkan serangan pertanyaan demi pertanyaan, itu mungkin akan membuat Aki tidak nyaman dan berakhir menghindari mereka berdua. Itu akan menjadi kemungkinan paling buruk, yakni kabur ke tempat orang yang tidak dikenal oleh mereka.


Yosua menghubungi Alva beberapa waktu lalu dan mengatakan bahwa ia akan mencoba berbicara dengan Yoko dan menanyakan masalah yang terjadi diantara keduanya sehingga Aki bisa sampai melarikan diri dari sana. Yosua berpesan dan meminta tolong kepada Alva untuk membiarkan Aki tinggal ditempatnya selama beberapa waktu sampai kondisi psikologisnya lebih tenang dan siap untuk berkomunikasi lebih lanjut.


Mungkin saja masalah yang terjadi hanya kesalahpahaman semata diantara mereka berdua.


"Apa kamu lapar? Ingin mampir ke restoran dulu, tidak?" Arana bertanya kepada Aki yang duduk dibangku belakang sembari sedikit menoleh.


Aki nampak berpikir, menimang selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya. "Boleh, aku sedikit lapar."


"Ingin makan apa?"


Aki bertanya balik, "Makanan apa yang enak disini?"


Arana nampak meluruskan duduknya kembali, meletakkan telunjuknya didagunya dan memasang pose berpikir keras. "Makanan yang enak dan cocok dimakan saat malam hari. Aku tahu!"


Arana menoleh memandang Alva dengan senyuman manis. "Aku akan menyerahkan tanggung jawab ini kepadamu, Al. Kamu adalah seseorang yang mencintai kelezatan makanan melebihi siapapun. Jadi, kamu pasti tahu tempat makan terenak disini."


Alva menatap sekilas Arana dengan geli sebelum terdiam selama beberapa saat dan membuka suaranya. "Bagaimana dengan martabak telur? Kita tidak tahu selera Aki, dan takutnya lidahnya tidak terlalu cocok dengan rempah-rempah Indonesia. Martabak telur rasanya seperti Okonomiyaki, dan mudah dicari juga. Mau?"


Arana menyunggingkan senyuman sembari mengangguk, meskipun dalam hatinya dia mempertanyakan dengan keras apa itu martabak telur.


Ia memikirkan okonomiyaki, dan samar bisa menebak bahwa seharusnya martabak telur itu hampir mirip dengan okonomiyaki. Telur yang dimasak menggunakan campuran kol, daging, tepung terigu dan beberapa topping taburan seperti gurita, ebi, ham diatas saus dan kecap.

__ADS_1


Ketika Arana masih bergerilya membayangkan martabak telur, mobil Alva berhenti ditepi jalan. Ketika Arana menyadarinya, Arana melihat sebuah toko yang tidak begitu besar, namun nampak cukup ramai. Lingkungan toko bersih dan cahaya oranya yang berpendar nyaman dipenglihatan. Arana dengan tenang melihat Alva melangkah turun, sebelum dia turut melangkah turun disusul oleh Aki disampingnya.


"Antriannya cukup panjang. Duduklah dulu disana, sayang. Aku akan mengantri."


Toko itu berdiri ditepi jalan dengan berjarak beberapa meter dari jalan. Jarak beberapa meter itu dimanfaatkan untuk meletakkan bangku dan meja bundar yang nampak cocok dengan lampu jalan yang berjajar dan saling terhubung. Diatas meja, masing-masing terdapat lampion kecil dengan lampu berwarna-warni diatasnya. Meja yang diduduki Arana kebetulan memiliki cahaya biru yang lembut, dan Arana memandangnya dengan senang hati selama beberapa waktu.


"Wow, desainnya sangat menarik!" Gumamnya mengulas toko itu.


Ada beberapa pembeli lain yang sedang menikmati martabak mereka dimeja disekitar Arana. Baik itu pasangan, sahabat maupun keluarga nampak bercanda ria dan nampak menikmati pembicaraan mereka sembari makan yang membuat suasana semakin hidup.


Arana mengeluarkan ponselnya, menekan ikon kamera dan menekan tombol perekam sebelum memulai rekaman video.


Rekaman awal memperlihatkan wajahnya yang tersenyum manis. Arana membalik kamera dan mengangkat ponselnya untuk merekam Aki yang duduk diseberangnya. Awalnya anak laki-laki itu tengah memainkan video game dengan ponselnya sebelum teralihkan ketika Arana memanggilnya. "Hei, Aki~ Lihat kesini!"


"Al!"


Alva menoleh dengan cepat ketika dia mendengar panggilan Arana. Melihat senyuman cerah Arana dan kegiatan merekamnya, Alva diam selama setengah detik sebelum dengan lembut tersenyum kearahnya dan melambaikan tangannya dengan ringan yang membuat Arana semakin merasa senang dan dengan tenang membuka bibirnya.


"Al, buat cinta untukku!"


Mendengar permintaan Arana, Alva berpikir selama beberapa waktu sebelum dengan tenang mengangkat tangannya, meregangkan dua jarinya dan membuat hati dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dan diarahkan kepada Arana dengan senyuman lembutnya. Hal itu membuat wajah Arana memerah, tangannya tanpa sadar tergelincir membalik kamera sehingga merekam wajahnya yang memerah dengan lucu, sebelum Arana terkejut dan buru-buru mematikan rekaman video yang secara otomatis tersimpan itu. Arana dengan malu berbalik badan, hingga samar telinganya mendengar tawa rendah Alva dibelakangnya.


Arana malu sekali!

__ADS_1


Arana dengan tenang mengatur ekspresinya dan mendongak untuk menemukan Aki memandangnya dengan sepasang manik yang penuh dengan tatapan ejekan yang membuat wajah Arana meledak karena rasa malu. Wajahnya memerah dan Arana terbatuk dengan canggung ketika dia berkata kepada Aki. "Ja-Jangan khawatir. Ma-Martabaknya akan segera jadi."


Aki mengangkat bahunya dengan acuh, "Sebenarnya aku tidak terlalu lapar, kok. Sepertinya, kakak yang mengunggu, ya kan?"


Arana terbatuk canggung dan dengan tenang mengalihkan perhatiannya pada sekelilingnya. Mencoba berpura-pura menikmati pemandangan, yang menyenangkannya, dia benar-benar lupa pada rasa malunya dan berubah menjadi mengagumi pemandangan sekitarnya dengan serius.


Udara malam memang sedikit dingin, namun Arana bisa merasakan kehangatan dari tiap orang yang ada disana.


"Kamu melamunkan apa, sayang?"


Arana menoleh dan terkejut ketika mendapati Alva sudah membawa beberapa bungkus martabak ditangannya dan menghampiri mereka. Arana mungkin terlalu lama melamun sampai tidak menyadari bahwa Alva sudah selesai mengantri. Ia menyunggingkan senyuman dan menggelengkan kepalanya ringan. Seringan jawabannya.


"Tidak ada, kok."


Alva tidak mendesak Arana dan percaya bahwa dia memang tidak sedang melamunkan apapun. Alva kemudian menata martabak diatas meja dan dengan bantuan Arana ia membuka bungkusan itu. Aroma harum tercium, dan penampakan martabak yang berbeda-beda terlihat dimata ketiganya. Ada martabak dengan toping udang, ada martabak dengan toping daging ham dan ada martabak dengan toping abon ayam dan abon sapi yang terlihat mewah. Ada dua piring saus cocolan disampingnya, saus keju yang gurih dan saus sambal yang pedas.


Ketiganya kemudian menikmati makanan mereka sampai mereka kenyang, sebelum Arana mendapatkan panggilan masuk dari Amber. "Halo, Amber? Ada apa?"


Arana tidak mendengar jawaban dari seberang sana selama beberapa waktu, sebelum maniknya melebar.


[Rana, aku kesakitan, hiks.]


__ADS_1


__ADS_2