
Arana terkejut dan hendak bertanya ketika dia mendengar Amber melanjutkan suaranya dengan rengekan.
[Aku tidak sengaja menendang kaki meja dan sekarang ibu jari kakiku sungguh kesakitan! Rasanya seperti aku akan mati, Na!]
Arana hampir menganga tak percaya mendengar perkataan Amber. Detik berikutnya, Arana mendengus geli dan berkata kepada Amber. "Amber, kamu mengagetkanku. Kupikir ada apa. Ayolah, kaki meja tidak akan sekeras itu, kan? Kamu tidak akan mati hanya dengan luka di ibu jari kakimu."
[Tapi rasanya sangat sakit! Perasaan merinding keseluruh tubuh itu sangat nyata, Na!]
Arana tertawa kecil, "Aishh ... bagaimana dengan latihanmu selama ini, coba? Kamu babak belur karena berlatih dengan coach-mu saja tidak sampai membuatmu menangis, dan sekarang menendang meja saja kamu sampai berkata seperti akan mati, huh?"
[Umm, rasanya berbeda sekali, huks! Ngomong-ngomong, sedang apa kamu sekarang?]
"Sedang makan malam bersama Alva dan Aki, keponakan Alva." Jawab Arana sembari memandang Alva dan Aki yang masih menikmati makanan mereka dengan tenang. "Kamu ingin berkenalan dengan Aki, akan aku mulai panggilan video call."
[Ah, aku tidak bisa videocall sekarang. Aku sedang ada dirumah dan penyihir itu sedang marah-marah dengan Sheryl. Sebentar lagi dia akan memanggilku, aku tutup, ya? Sampaikan saja salamku pada Alva dan Aki. Bilang pada Alva jangan sampai membuatmu flu karena terlalu lama diluar rumah]
"Mn, baiklah, aku paham."
[Iya, selamat makan malam, Na. Selamat malam.]
Arana tersenyum lembut. "Selamat malam, Amber."
Arana dengan tenang menurunkan ponselnya ketika Amber menutup panggilan telepon. Ia kemudian melanjutkan makannya ketika Alva mengajaknya kembali untuk makan bersama. Bahkan dengan manisnya, Alva menyuapi Arana yang malu-malu.
...***...
Menutup panggilan teleponnya bersama dengan Arana, Amber membaringkan tubuhnya diranjangnya yang lebar. Rambut panjangnya tersingkap, dan menampilkan bahunya yang memiliki jejak keunguan, sebuah lebam yang mungkin tercipta karena hantaman benda tumpul. Wajahnya pun tidak kalah, karena jejak lebam dan robek disudut bibirnya terlihat dengan jelas. Amber dengan tenang mengusap wajahnya dan melirik gerakan di pintu.
"Nona Amber, tuan muda Ansel memanggil anda."
Amber membalikkan tubuhnya dan dengan malas menjawab. "Suruh dia datang kemari jika dia ingin mengatakan sesuatu atau membutuhkan aku melakukan sesuatu. Aku sedang malas untuk bergerak."
Pelayan itu memandang Amber ragu, namun pada akhirnya setelah tidak mendapatkan jawaban dipertanyaan keduanya, dia berbalik, menutup pintu dan pergi untuk menemui seseorang yang bernama Ansel itu.
__ADS_1
"Cih, apa yang dia butuhkan kali ini?" Gumam Amber memejamkan matanya.
"Tiga," entah mengapa, dia mulai menghitung mundur.
"Dua,"
"... dan satu." Ucap Amber, bersamaan dengan suara pintu yang terbanting dibelakangnya.
Brak!
"Amber! Apa yang membuatmu begitu sombong?!"
Teriakan lantang itu membuat Amber membalikkan tubuhnya, memandang sosok remaja laki-laki didepan sana dengan sepasang manik dingin dan datar. Tidak ada kehangatan diwajahnya, sama seperti pemuda yang memandangnya dengan tajam dan benci didepan sana. Wajahnya secara alami tampan, dengan rambut pirang dan kulit putih yang bersih. Manik hijaunya teduh dan dalam, membuat siapapun yang memandangnya akan kagum, seandainya tatapannya memang sebersih dan semurni itu.
"Bagaimana kau bisa membuatku mendatangi kamar kotormu, ini? Aku menyuruhmu datang karena ada sesuatu yang harus kuberitahu padamu, dan kau berani menghinaku!"
Amber meliriknya dan berucap, "Darimana kau bisa mengatakan aku menghinamu, huh?"
"Tentu saja dengan sikapmu yang seperti ini! Aku memanggilmu dan kau justru menyamankan diri tidur seperti ini. Kau pikir waktuku tidak berharga, huh?"
Ansel mengeratkan giginya, namun pada akhirnya dia menghela napas dan berkata, "Kakak akan kembali minggu depan. Dan jika kau sadar diri, pergilah dari hadapannya. Aku tidak ingin emosi kakakku terganggu karenamu."
Amber mendengus geli. "Apa dia menjadi gila hanya karena melihatku, huh?"
"Tutup mulutmu, Amber! Kau anak haram yang tidak tahu diri!"
Amber dengan kejam meraih ponselnya dan melemparkannya kearah Ansel. Remaja itu terkejut, namun dengan refleks ia menolehkan kepalanya sampai ponsel itu melewati sisi wajahnya dan menyapa dinding hingga hancur. Ansel memandang Amber dan hendak bersuara ketika kata-katanya tercekat ditenggorokannya begitu maniknya bersitatap dengan mata tajam gadis itu.
"Jika kau berani mengatakannya sekali lagi didepanku, kau mungkin tidak akan percaya apa yang bisa kulakukan padamu." Dingin Amber, "Aku sudah mulai muak, Ansel. Ingat itu!"
Membalikkan badannya, Amber tidak peduli dengan apa yang dilakukan Ansel dibelakangnya. Ia hanya memandang lurus kedepan sampai suara bantingan pintu terdengar. Amber berdiam diri, sampai maniknya tergenang oleh air mata. Amber memejamkan mata, mencoba menahan cairan hangat itu dimatanya. Namun, seberapa lama dia menahan, air matanya tetap meluruh.
Tidak ada isak tangis, tidak ada getaran dibahunya. Amber hanya menangis, membiarkan air matanya keluar ketika pikirannya tidak lagi tenang.
__ADS_1
"Aku benar-benar ingin terbebas dari semua masalah ini. Rasanya, tekanan ini tidak pernah berkurang." Gumamnya lirih sembari memejamkan matanya.
...***...
Melangkah memasuki apartemen, Arana melepaskan sepatu yang dipakainya, meletakannya diatas rak sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, begitu juga dengan Alva dan Aki dibelakangnya. Meletakkan tasnya diatas meja, Arana menoleh memandang Aki.
"Aki ingin mandi dulu? Aku akan menyiapkan air hangatnya."
Aki mengangguk, namun dia menolak tawaran Arana. "Aku bisa sendiri, kak. Tidak usah merepotkan kakak."
Setelahnya dengan arahan Arana, Aki melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah berjam-jam menghabiskan waktunya dengan berkeringat. Duduk bersebelahan disofa, Arana menyandarkan kepalanya dibahu Alva dan dengan lembut merengek kecil.
"Mengantuk sekali~"
Melihat betapa manjanya istrinya, Alva tidak bisa menahan gemas dan dengan lembut membawanya kedalam dekapannya dan mengecup lembut dahinya. "Kenapa kamu bisa semanis ini, sih? Kamu benar-benar terbuat dari gula dan madu ya? Aku benar-benar ingin memakanmu!"
"Memangnya kamu kabibal, huh?" Gumam Arana sembari mendongak, memandang Alva dengan manik memincing ketika dia menempelkan wajahnya didada bidang Alva, ketika pria itu memandangnya dengan tatapan selembut waffle hangat kesukaannya.
"Iya, tapi hanya untukmu~" Ucap Alva membuat Arana terkekeh dan kembali menenggelamkan wajahnya didada Alva, memejamkan matanya dengan senyuman yang tersungging dibibirnya, hingga ia tanpa sadar tertidur dipelukan Alva.
Memandang Arana yang terlelap didekapannya dengan napas yang teratur, Alva menyunggingkan senyuman dan dengan tenang menunggu sampai Aki selesai mandi. Aki memang tidak senang membuat keributan, dia melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah dan handuk dibahunya, ketika dia melihat Arana tengah terlelap dalam pelukan Alva.
"Aki, bisa tolong ambilkan selimut dikamarku?" Tanya Alva.
"Paman akan tidur disini?"
Alva mengangguk. Takut jika dia menggendong Arana ke kamar, akan membangunkan gadis itu. Lagipula, posisi Arana nyaman dan tidak akan membuat gadis itu pegal ketika bangun besok, jadi tidak ada salahnya tidur disofa malam ini. Dengan tanpa banyak bertanya lagi, Aki melangkah menaiki lantai dua dan kembali turun dengan selimut tebal ditangannya. Memberikannya kepada Alva, Alva dengan hati-hati menyelimuti Arana dan dirinya sendiri ketika dia berbicara kepada Aki dengan suara pelan dan lembut.
"Pergilah tidur."
Aki tidak terlalu mengantuk, namun dia dengan tenang mengangguk dan melangkah memasuki kamar tamu yang ada dilantai bawah dan dengan hati-hati menutup pintu agar tidak menimbulkan suara. Alva memandang Arana dan dengan gemas menggigit bibirnya sendiri.
"Manisnya~" Gumamnya samar.
__ADS_1