
Melangkah memasuki kawasan panti asuhan, Arana dan Flora disambut anak-anak yang sejak kecil sudah diajarkan untuk bersikap ramah. Terutama Katrina yang paling dewasa diantara mereka, anak gadis itu mengantarkan Arana dan Flora ke dalam.
"Katrina, ini sedikit dari kak Ala dan kak Flora. Dibagi-bagikan dengan anak-anak lain, ya?"
Menerima kantung yang diberikan Arana dan Flora, Katrina dan beberapa anak lain memandangnya dengan manik berbinar. Anak-anak lain segera berterimakasih, berteriak girang dan mulai berkumpul di satu tempat untuk membagi-bagikan bingkisan dari Arana dan Flora. Wanita itu juga tidak ingin datang dengan tangan kosong, jadi dia turut membelikan anak-anak barang-barang yang sekiranya mereka butuhkan seperti kebutuhan mandi dan pakaian.
"Aku panggilkan bunda sebentar ya, kak? Silakan duduk dulu." Katrina berkata sembari membawa kebutuhan dapur yang dibelikan oleh Arana.
Mendudukkan dirinya dibangku ruang teras sembari memandang anak-anak yang tengah berkumpul di gazebo kayu ditengah panti asuhan, Arana menyunggingkan senyum. Oh, senyuman anak-anak membuatnya puas. Arana senang mereka senang dengan pemberiannya dan Flora. Setidaknya, sedikit apa yang mereka berikan sudah mampu menerbitkan senyuman anak-anak malang itu.
Arana menoleh ketika Flora berkata, "Aku tidak suka anak-anak sebenarnya."
Arana mengangkat alisnya sedikit bingung, namun dia kemudian tersenyum. "Anda pasti akan menyukai anak-anak."
"Kau terlihat sangat yakin." Flora berucap sembari menyangga wajahnya dengan sebelah tangannya, memandang Arana dengan sekarang manik yang menyipit tajam.
"Um, mungkin karena kita semua pernah menjadi anak-anak. Bisa mencintai diri sendiri, berarti bisa mencintai apapun wujud kita. Anak-anak, remaja, dewasa sampai tua." Kata Arana.
Flora diam. Memandangnya tanpa kata dan hanya memiringkan kepalanya sebelum menyeringai. "Kau sangat aneh!"
Arana mengernyitkan dahinya. Mengapa dia dipanggil aneh? Bukankah dia hanya menjawab pertanyaan Flora? Ia menggaruk kepalanya dengan bingung sampai suara seseorang membuat keduanya menoleh. "Nak Alana?"
Arana bangkit berdiri, disusul Flora yang masih menyilangkan tangannya dengan aura menawannya. "Halo, Bunda Lina."
"Ah, nak Alana kemari bersama teman?" Tanya Lina membuat Arana memandang Flora. "Iya, ini kak Flora."
Lina mengulurkan tangannya. "Halo, nama saya Lina. Disini, saya biasa dipanggil Bunda Lina oleh anak-anak. Terima kasih sudah mau bermain ke panti asuhan ini."
__ADS_1
Flora menatapnya selama sedetik sebelum membalasnya. "Tentu saja, Bunda Lina. Saya Flora, senang juga rasanya bisa berkunjung ke panti asuhan ini. Anak-anak disini sangat ramah."
"Pada dasarnya anak-anak disini sudah ramah. Saya hanya mengajarkan kepada anak-anak untuk menjadi ramah kepada semua orang. Kebaikan akan membuat mereka dikelilingi oleh orang-orang yang peduli dan baik kepada mereka." Ucap Lina dengan senyuman.
Manik Flora menyipit. Baik tidak akan selalu membawa orang untuk tulus. Baik itu adalah kenaifan. Didunia zaman sekarang, mereka yang baik hanya akan dimanfaatkan oleh mereka yang tamak dan rakus akan kekuasaan dan harta. Bahkan tidak peduli siapapun itu. Flora ingin mengatakannya, namun pada akhirnya, dia hanya diam.
...***...
Berdiri didepan perusahaan yang sudah dikenalnya, Arana sedikit tidak berdaya. Dia ada diperusahaan ini lagi.
Setelah makan siang bersama bersama dengan anak-anak panti asuhan, keduanya berpamitan dan pergi. Pada awalnya Arana akan kembali ke apartemennya, namun begitu mendengar ucapan Flora yang ingin berkunjung menemui Alva, entah dorongan apa, dia langsung berkata, "Aku ikut!"
Dan disinilah dia berada.
Melangkah berdampingan bersama dengan Flora, beberapa orang memandang keduanya dengan keterkejutan dan rasa penasaran yang tinggi. Flora adalah mantan kekasih Alva. Mereka berpacaran hampir selama setahun dan Flora sering berkunjung ke perusahaan Alva. Itu yang membuat wanita itu cukup dikenal di perusahaan Alva. Sementara Arana disana, sebagai Alana dikenali sebagai istri Alva.
Bukankah menarik jika melihat keduanya berjalan berdampingan?
"Flora?"
Erlan muncul dari balik pintu dan memanggil Flora untuk memastikan apa yang dilihatnya benar Flora atau bukan. Begitu dia melihat keberadaan Erlan, Flora menyapanya. "Hai, Lan! Sudah lama tidak melihatmu."
Erlan menaikkan alisnya. "Kau bercanda? Kita baru saja bertemu beberapa bulan lalu di Paris."
Flora menyeringai. "Benar kok. Beberapa bulan kan lama."
Erlan memutar bola matanya malas. "Apq yang kau lakukan disini?"
__ADS_1
"Mengucapkan selamat kepadanya karena sudah menikah. Oh, juga, aku berpapasan dengan Arana dan sekalian saja aku ikut bersamanya membawakan Alva makan siangnya." Kata Flora sembari melirik Arana yang sejak tadi diam tak bersuara.
Arana mengangguk dengan wajah tenangnya. "Ya, aku membawakan Alva makan siang."
Erlan tidak mengatakan apapun. Dia menatap Arana selama beberapa waktu sebelum kembali mengalihkan pandangannya kepada Flora. Arana diam-diam meremat pegangannya pada tali paper bag ditangannya. Dia tidak bisa menyalahkan Erlan yang tidak menyukainya, karena terlihat sejak awal bahwa Erlan sama sekali tidak menyukai Alana. Tapi tetap saja, tatapan dingin pria itu seakan mengatakan bahwa adalah dirinya sendiri—Arana, yang di benci olehnya. Dan itu menyakiti hati Arana.
Arana tidak pernah ingin di benci siapapun atau membuat masalah dengan orang lain.
Erlan berkata, "Alva ada di ruangannya." Sebelum dia pergi bahkan tanpa sepatah katapun lagi.
Flora menyadarkan Arana dari keterdiamannya. "Ayo pergi."
"Ah? Oh, iya." Respon Arana terkejut sebelum mengikuti langkah Flora memasuki lift.
Setelah lift berdenting, mereka sampai didepan pintu ruangan Alva. Arana hendak mengangkat tangannya mengetuk pintu sebelum Flora terlebih dahulu membuka pintu tanpa mengutuknya. Arana terkejut dan mau tak mau mengikuti langkah Flora yang segera menyapa Alva. "Hei, Va!"
Alva yang tengah berkutat dengan dokumen ditangannya menoleh dan menatap terkejut pada Flora. "Flo?"
Namun, dia lebih terkejut ketika melihat Arana melangkah dibelakang Flora. "Sayang?"
"Hei, Va. Bagaimana kau bisa menikah tanpa mengabariku?" Flora melemparkan dirinya, melingkarkan tangannya dileher Alva.
Alva sedikit limbung, dan memandang Flora dengan tanda tanya diwajahnya. Sementara Arana, menatap tercengang pemandangan yang ada didepannya. Hah? Halo? Apa yang dilakukan wanita itu? Istri pria yang dirangkulnya ada disini? Bagaimana dia bisa bertindak seperti itu?!
Di penglihatan Arana, tangan wanita itu merambat turun. Kebahu Alva, sementara bibirnya yang menyeringai dengan lipstik merah itu perlahan mendekati bibir tipis Alva. Manik Arana melebar, dan jantungnya berdenting, seolah memberinya sinyal berbahaya.
Dia melangkah cepat menuju keduanya. Arana dengan tegas mendorong Alva hingga hampir terjatuh kebelakang dan menjatuhkan ciuman keras pada Alva yang melebarkan maniknya. Dibelakangnya, manik Flora menyipit.
__ADS_1
Setelah ciuman itu selesai, dengan wajah memerah, Arana berkata dengan suara lantang. "Aku merindukanmu, sayang!"