My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 95: Alicia


__ADS_3

Wanita itu tengah mengukur kain didepannya. Dengan kacamata yang bertengger diwajahnya, penampilannya berkali lebih dewasa dan independen. Ketika sebuah suara membuatnya menoleh dan menghentikan sesaat kegiatannya.


"Nona Karina, ada masalah ..."


"Kenapa Dya?" tanyanya pada Ditya--pekerjanya.


"Itu, nona Alana ..." Ditya kehilangan kemampuannya untuk menjelaskan dan dengan cemas memandang Karina yang mengerutkan keningnya. Karina dengan sadar melangkah turun, dan menemukan pemandangan yang membuat ia keheranan.


Ada seorang gadis yang tengah menuding Arana dengan tajam. "Kau merusak gaunnya!"


Diseberang sana, Arana hampir tidak mengatakan apapun. Ia memandang gaun yang ada dibawah dengan pandangan samar dan mengepalkan tangannya, menahan rasa tidak nyaman didalam hatinya karena rasa bersalah dihatinya. Gaun yang sudah susah payah dijahit dan dibentuk oleh pekerja boutique ini harus robek karena tergores oleh tepian tajam meja disampingnya ketika dia tidak sengaja jatuh diatas gaun itu.


"Aku tahu bahwa kau memang kaya raya dan bisa memiliki segalanya. Tapi apakah menurutmu tidak berlebihan jika kau merusak gaunnya begitu?" lantang Mia.


Ia diam-diam menyeringai bersama dengan teman-temannya. Sudah sejak lama dia tidak menyukai Alana, kesombongannya yang menyebalkan itu membuat Mia muak. Sebenarnya, Mia dulu adalah penggemar Alana. Mia merasa bahwa Alana adalah teman yang sebanding dengannya, dan bahkan sewaktu sekolah menengah, Alana mendapatkan julukan sebagai Ratu Perundung yang membuat Mia merasa semakin menginginkannya sebagai teman.


Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Mia mendatangi Alana dan menawarinya untuk menjadi temannya, namun bukannya menerima, Alana bahkan melewatinya begitu saja dan mengabaikannya seakan dirinya adalah angin kosong yang membuat Mia begitu malu dan marah disaat bersamaan.


Sejak saat itu, Mia membenci Alana dan selalu ingin membalas dendam atas rasa malu yang diterimanya waktu itu.


"Ada apa ini?" sela Karina ketika wanita itu melangkah mendekati mereka dan menanyakan situasi yang terjadi.


Mia segera membuka suaranya. "Begini, nyonya. Dia telah merusakkan salah satu gaun yang sebenarnya ingin saya beli. Sekarang gaun ini tidak hanya rusak, namun bahkan mungkin tidak akan bisa diperbaiki jika tidak mengambil bahan yang baru dan menjahit dari awal."


"Saya merasa dirugikan karena gaun itu adalah satu-satunya yang cocok untuk acara di kampus saya selain gaun di etalase itu." Ujarnya sembari menunjuk gaun yang diakui Arana sebagai miliknya.


Karina memandang gaun yang robek parah dibagian bawahnya dan menatap Arana yang menatapnya dengan percikan emosi samar. "Saya tidak merobeknya."


Karina melihat ketulusan disepasang manik Arana dan menghela napas sebelum memandang kearah Mia. "Maafkan saya, nona. Namun sepertinya ada kesalahpahaman disini. Saya akan mengurus masalah gaun ini dan akan membantu anda secara pribadi memilih gaun yang anda butuhkan selama anda menyebutkan untuk acara apa gaun tersebut."


Mia dengan keras kepala menggeleng dan memang berniat menyudutkan Arana. "Tidak! Saya hanya ingin gaun ini, dan saya ingin dia bertanggung jawab karena merusak gaun ini."

__ADS_1


"Tapi nona ..."


Mia dengan tajam memandangnya. "Tidak ada tapi-tapian, nyonya! Saya adalah pelanggan setia disini, dan apakah saya akan dikecewakan karena penanganan masalah disini?"


Karina menghela napasnya. "Kalau begitu saya akan mengecek apakah nona Alana merusak gaun ini dengan sengaja. Jika memang nona Alana merusak gaun dengan sengaja, saya akan memperhitungkan kompensasi dari nona Alana untuk anda."


"Bagaimana caramu memastikannya? Dia jelas-jelas sengaja merusaknya karena dia tidak ingin aku memiliki gaun ini!" tegas Mia.


Karina menjawab, "Saya akan memeriksa kamera pengawas."


Mendengar hal itu, Mia tercengang. Ia mendongak, memandang sekelilingnya dan merasakan kepanikan didalam batinnya. Bukankah tidak ada satupun kamera CCTV diruangan itu?!


Kemudian, terungkap sudah bahwa apa yang terjadi dengan Arana secara alami adalah jebakan dari Mia. Ketika gadis itu menyandung Arana didalam video, Arana kehilangan keseimbangan dan tidak sengaja jatuh kearah gaun yang melekat ditubuh manekin itu.


"Begitulah kamu menanam keburukan dan kamu akan menuai keburukan." Ungkap Arana dengan dingin ketika dia memandang Mia yang segera berlalu dengan malu dan amarah yang menyentuh ubun-ubunnya.


...***...


Wanita itu mengenakan kemeja putih yang nampak sedikit lusuh, dengan celana selutut berwarna biru muda. Ia nampak tidak mengenakan alas sepatu dan wajahnya kuyu karena air mata. Meski begitu, tidak bisa menyembunyikan wajah manis dan cantiknya.


"Excuse me, do you need some rocks? || Permisi, apakah kamu butuh batuan?" tanya Arselyne.


Namun pemuda itu tidak menyangka bahwa respon wanita didepannya itu akan cukup berlebihan. Ia mendongak, memandang Arselyne dengan ketakutan dan segera mundur sebelum meringkuk dan menutup tubuhnya seakan dia adalah korban kekerasan. Namun dilihat dari penampilannya yang bersih, Arselyne bisa menyimpulkan bahwa dia bukan korban kekerasan, setidaknya fisik.


"No... hey, I mean, I'm not a bad person. Please calm down || Tidak ... hei, maksudku, aku bukan orang jahat. Tolong tenang." Kata Arselyne turut berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan wanita itu dan memberi jarak diantara keduanya.


Wanita itu diam-diam mengintip dibalik lengannya, dan Arselyne memandangnya selama beberapa saat sebelum mencoba berkomunikasi dengannya kembali. "My name is Arselyne. Are you lost or someone trying to hurt you? || Namaku Arselyne. Apakah kamu tersesat atau seseorang mencoba menyakitimu?"


Wanita itu nampak memandang kekanan dan kekiri dengan cemas sebelum menggelengkan kepalanya. "I... a dog chased me just now. I... am very afraid of dogs || Aku ... ada anjing yang mengejarku tadi. Aku ... sangat takut dengan anjing."


Arselyne merasa bahwa wanita itu berbohong. Namun bahkan jika dalam keadaan ini dia berbohong, mungkin dia memiliki alasan tersendiri dan tidak bisa mengatakannya. Sedangkan Arselyne bukanlah seseorang yang ingin menelisik kehidupan orang asing. Jadi Arselyne tidak membongkar kebohongannya dan segera berkata, "Do you need help? Maybe I can drop you off at your house or something || Apa kamu butuh bantuan? Mungkin aku bisa mengantarmu ke rumahmu atau sejenisnya."

__ADS_1


"I didn't mean anything || Aku tidak bermaksud apa-apa." Lanjutnya tidak ingin membuat wanita itu salah paham.


Wanita itu membuka bibirnya setelah cukup lama. "Can... you take me away from here? || Bisakah ... kamu mambawaku pergi dari sini?"


...***...


Danau didepannya tidak begitu luas, namun indah dengan matahari tenggelam yang bisa dinikmati dari bangku taman yang ada disepanjang pinggiran jalan. Lampu penerangan berdiri kokoh berjajar, dan membawa nuansa hangat dan lembut.


Arselyne memandang jam ditangannya dan beralih ke wanita yang dengan tenang memandang danau. Dipunggungnya, mantel yang ia kenakan ia berikan kepada wanita itu, mengingat penampilan berantakannya.


Aselyne membuka suara setelah menemaninya hampir setengah jam. "Are you feeling any better? || Apakah kamu sudah lebih baik?"


Wanita itu menoleh, menganggukkan kepalanya. "I'm sorry I took up your time. Thank you for wanting to bring me here || Maafkan aku sudah menyita waktumu. Terima kasih sudah mau membawaku kesini."


Wanita itu hendak melepaskan mantel milik Arselyne ketika pemuda itu menahannya. "Just wear it. Cold air is not good for the body || Pakai saja. Udara dingin tidak baik untuk tubuh."


"Thank you very much, Arselyne || Terimakasih banyak, Arselyne."


Arselyne melambaikan tangannya membuat isyarat bahwa itu bukan masalah dan bangkit berdiri. "Then I will go. Look after yourself || Kalau begitu aku akan pergi. Jaga dirimu."


Setelah mendapatkan respon berupa anggukan kepala wanita itu, Arselyne melangkah pergi. Meskipun merasa simpati, wanita itu yang memintanya membawanya kesini dan tidak mau diantar sampai rumahnya. Jadi Arselyne tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya selain ini, sebab Arselyne juga bukan orang yang ingin dan senang ikut campur dengan hidup orang lain.


Jadi dengan langkah normal, Arselyne meninggalkan wanita yang masih termenung di bangku sembari memandang lurus kedepan.


Ketika sebuah suara memanggil.


"Alicia!"


Alicia--wanita itu, menoleh dan menatap horor siapa yang datang.


__ADS_1


__ADS_2