
Berbaring diranjang rumah sakit, Alana berkedip selama beberapa waktu sebelum menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya dari lampu ditengah ruangan. Rasa sakit tajam dari perutnya membuatnya meringis, dan dia kembali meringkuk dengan keringat dingin yang tercetak didahi dan lehernya.
"Kau sudah sadar?"
Mendengar suara itu, Alana menoleh dan mendapati seseorang yang jelas dia kenal. Dia bergumam dengan samar, "Kakak?"
Hiro melangkah masuk, berhenti didekat nakas meja dan menyilangkan tangannya didepan dadanya, memandang dingin pada Alana yang masih berkeringat karena merasakan rasa nyeri diperutnya. Tanpa basa-basi, Hiro mengatakan apa yang dokter sampaikan kepadanya. "Aku sedang bekerja ketika aku mendapatkan telepon dari rumah sakit. Kau keguguran dikehamilanmu yang keempat bulan. Karena kau sudah sering melakukan aborsi dan sering meminum minuman keras dan obat kontrasepsi, sekarang kandunganmu diangkat dan kau tidak akan pernah bisa hamil bahkan sampai kau mati."
Deg!
Mendengar apa yang dikatakan Hiro membuat tubuh Alana menegang. Matanya yang gemetar terangkat pada Hiro saat dia menyentuh perutnya. "Apa? Ka-Kandunganku?!"
Hiro memberinya tatapan sinis. "Mengapa kau kaget dan seolah tidak terima, huh? Kau sendiri yang merusak kandunganmu dengan minum-minuman keras sampai berbotol-botol. Jika bukan karena dokter disini hebat, kau sudah akan mati karena overdosis minuman keras. Bersyukurlah bahwa bukan nyawamu yang hilang dan hanya kandunganmu saja."
Alana menggeleng dengan panik. Alana tidak bermaksud untuk menggugurkan kandungannya. Karena emosi dan karena merasa begitu depresi akan pengkhianatan Josh, dia tanpa sadar minum-minuman keras untuk meluapkan emosinya dan melupakan bahwa dia tengah mengandung. Alana benar-benar tidak sekalipun berniat untuk menggugurkan kandungannya yang ini, karena dia tidak ingin menjadi wanita cacat yang tidak bisa lagi mengandung.
"Tidak! Aku tidak mau jadi cacat!!"
Alana menjerit dengan nada yang dipenuhi keputusasaan. Bagaimana dengan masa depannya? Jika dia menikah dan tidak bisa memberikan keturunan kepada pasangannya, bagaimana nasibnya?
"Tidak mau! Aku tidak mau menjadi cacat! Aku tidak mau!"
Hiro menyentak Alana. "Lalu kau mau bagaimana, sialan?!"
"Kau sendiri yang merusak hidupmu! Bukankah sudah sejak awal aku memperingatimu untuk bermain aman dan jangan sampai hamil? Kali pertama aku membiarkanmu dan membantumu. Aku sudah memperingatimu berkali-kali namun kau tidak pernah mendengarkanku! Sekarang kau sudah merasakan akibat kecerobohanmu dan kau merengek? Mau bagaimanapun juga kau sudah cacat dan tidak akan bisa lagi memiliki keturunan dalam hidupmu! Jadi berhentilah merengek seperti bocah cengeng yang aku benci!"
Ucapan Hiro membuat napas Alana memendek. Ia menangis dan dia terisak sembari memegangi perutnya.
"Aku tidak ingin jadi cacat..." lirihnya.
__ADS_1
Hiro mengabaikannya dan dengan dingin melangkah menuju pintu. Berhenti diambang pintu, dia berbalik dan memandang Alana. "Mama ada dirumah. Kita akan keluar dari sini siang ini, dan mama mungkin akan menyampaikan sesuatu. Cobalah untuk bersikap biasa jika tidak ingin ketahuan bahwa kamu tidak ada dirumah utama selama ini."
Kemudian dia pergi meninggalkan Alana yang terisak, menangisi dan menyesali kandungannya yang diangkat.
...***...
Kediaman Nenek Alana
Belanda
Lidia tengah menyesap teh bersama dengan Jasmin ketika Alana dan Hiro beriringan melangkah masuk. Tatapan keduanya menyapu mereka ketika Lidia dengan segera bangkit berdiri dan memeluk Alana kedalam dekapannya. Jasmin melirik dingin Alana yang sedikit tersentak akan tatapannya sementara Hiro segera mendudukkan dirinya disamping sang nenek.
"Sayang, bagaimana kabar kamu? Mama sangat merindukan kamu, sayang."
Alana balas memeluk Lidia dengan tatapan samar dan mengangguk. "Aku baik, ma. Hanya sedikit lelah akhir-akhir ini. Aku juga merindukan mama dan papa."
"Ayo duduk sayang, mama ingin bercerita banyak hal padamu."
Lidia melihat kearah Jasmin yang melangkah pergi sebelum Hiro yang tengah bermain ponsel dengan tenang berkata, "Sudah biasa bagi nenek. Nenek selalu minum teh bersama dengan teman-temannya di jam segini."
"Mama mengerti." Lidia mengajak Alana duduk disebelahnya dan dengan lembut menggenggam tangannya.
"Kapan kamu akan kembali ke Indonesia, sayang?" Tanya Lidia membuat Alana menatapnya sejenak. "Aku tidak tahu, ma."
Lidia menghela napas. "Alva itu benar-benar orang yang baik dan menyayangimu dengan tulus, Ala. Mama melihat bagaimana dia memperlakukan Arana, dan itu karena dia mencintaimu."
Alana mengaduk teh didepannya, mendengarkan tanpa minat sampai dia menghentikan tangannya ketika mendengar perkataan Lidia. "Kamu tahu, karena kamu tidak kunjung kembali, sekarang Arana yang hamil. Arana hamil anak Alva, dan sekarang usia kandungannya menginjak usia tiga bulan."
"Apa?" Alana menoleh dan membeo.
__ADS_1
Lidia tidak mengerti masalahnya dan dia dengan menghela napas bercerita. "Arana benar-benar hamil anak Alva. Awalnya mama hanya ingin kamu menenangkan diri sampai kamu bisa membuka hati kepada Alva, sayang. Namun mama benar-benar tidak menyangka bahwa Arana akan hamil. Sekarang keputusan ada ditanganmu sayang, kamu ingin kembali mengambil tempatmu atau tetap disini dan menikmati hidupmu."
"Mama sudah berkata kepada Arana bahwa bayinya kelak akan menjadi milikmu, dan kamu bisa menjadi istri dari Alva dan ibu dari bayinya. Mama tahu bahwa kehidupan sebagai istri Alva benar-benar luar biasa sayang. Alva dan Arletta begitu memanjakan Arana."
Hiro berceletuk. "Lalu apa menurut mama Arana mau meninggalkan kehidupan penuh kasih sayang seperti itu? Dia kan sejak dulu tidak pernah mendapatkan kasih sayang."
"Dia harus mau."
Bukan Lidia yang menjawab, namun Alana. Sepasang maniknya melotot menatap Hiro yang sedikit menghentikan gerakan tangannya, memandang sang adik yang memiliki tatapan gila dimatanya. Alana dengan tegas berkata, "Dia harus mau, karena sejak awal, itu adalah tempatku. Alva mencintaiku, dan dia hanya menumpang disana dengan namaku untuk sementara waktu."
"Dia harus sadar diri, bahwa apa yang dia dapat selama ini adalah milikku."
Alana bergumam, "Bahkan bayi diperutnya."
Jauh diseberang sana, Arana tengah berjalan-jalan dengan Alva. Suasana harmonis tercipta diantara keduanya. Rasa damai, rasa tenang dan perasaan lega karena masalah sudah selesai membuat Arana dan Alva diliputi kebahagiaan yang tiada tara. Alva sesekali mengelus perut Arana yang sudah mulai sedikit membuncit dibalik dress selutut yang dikenakannya, dan Arana akan menanggapinya dengan senyuman lebar dengan rona merah muda dikedua pipinya.
Suasana bahagia, tanpa menyadari ancaman yang akan datang dikemudian hari.
...***...
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ...
Amber melangkah dari ruangan utama ketika dia mendengar suara bel berdenting. "Sebentar!"
Ia sedikit berteriak ketika dia melangkah menuju pintu masuk. Perutnya yang sudah sedikit menggembung dibalik baju tanpa lengan yang dikenakannya membuatnya harus berjalan dengan hati-hati untuk menjaga dirinya agar tidak jatuh.
"Siapa?"
Ia membuka pintu dan berhenti ketika dia melihat siapa yang ada dihadapannya. Ia mengerutkan alisnya dan menatap pria didepannya. "Apa yang kau lakukan disini, Exel?"
__ADS_1