
Pada malam selanjutnya, pesta pernikahan dilangsungkan. Tentu saja, yang mengurus masih Alva. Baik Arana dan Alva juga pihak keluarga masing-masing menyambut teman dan kenalan masing-masing. Menerima ucapan selamat dan menyampaikan rasa syukur atas jalinan tali suci yang telah mengikat putra dan putri mereka. Pesta itu diadakan disebuau hotel yang merupakan hotel milik Alva. Balroom hotel itu begitu luas dan didekorasi dengan indah, dengan tema maroon dan putih tulang yang membuat suasana menjadi elegan dan begitu mewah.
Erlangga dan Damarian.
"Selamat untuk pernikahanmu, Alana. Semoga langgeng dengan suamimu."
Salah satu yang lain menyahut, "Sebenarnya aku tidak percaya Alana akan menikah di usia semudah ini. Kupikir akan menjadi pernikahan Selia atau Middie dulu diantara kelompok kita."
Arana yang saat ini tampil menawan dengan dress merah panjang menggoyangkan gelas ditangannya dan menyunggingkan senyuman. Namun tidak mengatakan apapun selain membalas ucapan selamat dari Civanya beberapa detik yang lalu. Dia pikir juga begitu. Tetapi, bagi pebisnis, pernikahan di usia muda bukanlah suatu masalah besar. Jalinan bisnis dengan dalih pernikahan bukan lagi hal tabu, dan semua orang tahu. Tetapi Lidia dan Michael terlalu menyayangi Alana sehingga mengorbankan dirinya untuk menjadi seorang istri diusianya yang masih terbilang remaja.
Maniknya tak sengaja menangkap sosok Alva yang tengah mengobrol dan menyambut rekan kerja dan temannya. Begitu juga dengan Lidia dan Michael, serta Johan——ayah Alva dan begitu juga dengan Delliska. Mereka memiliki tamu dengan jumlah yang tak sedikit, namun tak ada satupun disini, yang Arana kenal. Tidak ada teman, tidak ada kenalan, tidak ada seseorangpun yang tahu, siapa sebenarnya dirinya disana.
"Biarkan aku masuk!"
Suara itu membuat Arana sedikit mengalihkan perhatiannya kearah pintu masuk. Disana, penjaga sedang menahan seseorang yang berusaha untuk masuk. Sepasang maniknya melebar, mendapati seseorang yang dikenalnya didepan sana.
Amber!
"Ada apa ini?" Lidia yang pertama kali merespon situasi yang cukup menarik perhatian itu, dan dia mendekati penjaga. Penjaga itu segera menjelaskan. "Maaf nyonya. Gadis ini memaksa masuk, padahal tidak memiliki undangan. Dia bilang, dia adalah teman nona Alana."
__ADS_1
Lidia menoleh dan mendapati sosok Amber berdiri menyilangkan tangannya didepan dadanya. Gadis itu mengenakan pakaian santai. Atasan baju polos dengan jaket denim merah muda dan rok jeans warna putih. Sepatu boots tinggi berwarna putih benar-benar membuat tampilannya berlawanan dengan dresscode hari ini. Lidia hampir mengira bahwa remaja itu tersesat, namun begitu mengingat sepasang manik tajam itu, Lidia sadar bahwa anak perempuan itu sebenarnya adalah sahabat Arana.
"Selamat malam, nyonya. Sayang sekali bahwa saya tidak memiliki undangan, namun, bisakah saya masuk menemui sahabat saya?" Pertanyaan itu membuat Lidia mengangguk dengan kaku.
Amber tersenyum namun senyumnya tak mencapai bawah matanya. "Terima kasih, nyonya. Oh, gaun anda cantik sekali."
Lidia tertegun, ditinggalkan dengan satu pujian tentang gaunnya.
...***...
Amber melangkah dengan tegas menuju Arana yang memandang tanpa berkedip. Seringaiannya melebar, dan dia menyapa Arana. "Halo cantik! Kamu tampak luar biasa hari ini."
Senyuman Arana mengembang, dan dia menyambut Amber dengan pelukan. Sungguh, dia sangat merindukan sahabatnya yang satu ini!
"Hei Alana, dia siapa?" Maudy bertanya kepada Arana.
Arana menoleh, menarik Amber kesampingnya. "Dia Amber, kami berkenalan lewat online dan menjadi sahabat."
"Apa? Tapi kamu tidak pernah bercerita." Ucap Leva.
__ADS_1
Arana menatap acuh, "Apa aku harus menceritakan segalanya?" Ucapannya membuat Leva dan teman-temannya mendadak canggung. Mereka saling pandang dan bergumam dengan malu.
"Hai, aku Amber. Senang bertemu dengan kalian. Aku sangat terkejut bahwa sahabatku ini menikah hari ini. Sayangnya aku tidak diundang. Tapi karena aku sedikit istimewa, setidaknya itu yang dikatakan orangtuaku, aku langsung terbang kesini." Kata Amber dengan senyuman ramah.
Leva berkomentar kembali. "Kamu terlihat sangat muda! Berapa usiamu?"
"Sama seperti kalian."
Liora memekik. "Bagaimana kamu terlihat sangat muda? Apakah kami memakai resep tertentu? Produk apa yang kamu pakai?? Beri tahu aku rahasianya, kumohon~"
Arana terkekeh, mengalihkan perbincangan. "Bukankah kamu sibuk dengan pak Dosen?"
Amber memutar bola matanya malas. "Oh, jangan ingatkan aku tentang dia. Aku kabur, oke?"
Amber berkacak pinggang dan tatapannya mengedar. "Ngomong-ngomong, dimana suami sahabatku ini?"
Liora yang ada didekat Amber segera menepuk bahunya dan menunjuk ketempat Alva berada. "Dia disana. Yang tinggi dan super tampan itu."
Mengikuti arah tunjuk Liora, Amber memincing ketika menatap Alva. Lima detik kemudian, darah mengalir dari hidungnya. Sial, siapa yang pernah mengatakan bahwa calon suami Arana gemuk, botak dan bertemperamen buruk?
__ADS_1
Itu adalah sosok pangeran!!