My Beloved Arana

My Beloved Arana
EKSTRA BAB 6


__ADS_3

EKSTRA BAB 6: MELBOURNE IN 12 YEARS AGO


"Anak itu sangat aneh."


Perkataan dan bisikan-bisikan itu memenuhi hampir seluruh kelompok ketika anak-anak yang nampak berusia sepuluh tahun itu nampak tengah berada dibawah naungan atap sebuah bangunan sekolah dasar. Mereka mengenakan seragam berwarna biru gelap dan putih yang nampak bagus pada anak-anak itu.


Disisi lain, objek pembicaraan mereka, seorang anak perempuan yang mengenakan balutan seragam yang sama dengan mereka nampak duduk dibawah pohon. Berjongkok dan nampak menunduk untuk bermain dengan anak kucing yang ditemukannya. Kucing berbulu coklat susu itu mengeong dan nampak menggaruk kakinya dan tangannya beberapa kali dengan tatapan lucu dan menggemaskan. Namun, anak perempuan bermanik hitam itu menatap anak kucing didepannya dengan wajah datar tanpa emosi. Hanya jejak rasa dingin dibawah kacamata hitam yang digunakannya.


"Katanya anak itu tidak bisa berekspresi, ya?"


"Adik kelas banyak yang menangis melihatnya. Teman sekelas saja bahkan tidak jarang ada yang menangis karena takut kepadanya. Itu sebabnya dia duduk sendirian dikelas."


"Aku saja takut dekat dengan dia."


"Eh, ya sudah. Aku lapar, ayo ke kantin."


"Em! Aku mau membeli donat keju!"


Dalam sekejab tempat itu dilanda keheningan. Hanya ada samar jejak langkah kaki yang menjauh sebelum menghilang dan menyisakan anak perempuan dan seekor anak kucing. Anak itu mengulurkan tangannya dan menggosok pipi kucing itu, perlahan merambat kelehernya dan maniknya sedikit menyipit. Ketika tangannya tepat melingkari leher anak kucing itu dan hendak mengangkatnya, sebuah suara membuatnya menoleh dan melonggarkan tangannya.


"Ternyata disana!"


Ia menoleh, dan melihat seorang anak perempuan yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Hanya sebuah pita bergaris yang membedakan dan menjelaskan bahwa anak perempuan yang tengah berlari kecil kearahnya dengan sebuah kantong plastik ditangannya itu adalah adik kelasnya. Ia menatapnya dan anak perempuan bersurai hitam yang berlari menghampirinya itu segera berjongkok didekatnya.


Ia menoleh dan menatap anak perempuan bersurai hitam panjang disampingnya. Meneliti penampilannya ketika anak perempuan itu membuka kaleng makanan kucing dan memberikannya kepada anak kucing didepannya. Anak kucing itu mengeong dan kemudian dengan gembira mengusapkan wajahnya kepunggung tangan anak itu. Anak itu mengangkat sepotong ikan kering dan menaikkannya, memancing kucing itu untuk mengangkat tubuh bagian depannya dan mendapatkan makanan yang dia mau.


"Ibunya meninggal beberapa waktu lalu, jadi sekarang dia sendirian." Anak perempuan itu berkata sembari melihat sang senior.


"Kakak disini untuk melihat kucing juga, ya?"


Anak perempuan yang lebih dewasa itu diam selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya tanpa membalas apapun. Melihatnya, anak perempuan yang lebih muda itu menatapnya dan yang ditatap sedikit meliriknya.

__ADS_1


"Kalau begitu apa kakak mau bergantian membelikan makanan kucing untuknya?" Anak perempuan itu berkata setelah menyunggingkan senyuman malu. "Uang sakuku tidak selalu cukup untuk membeli makanan kucing. Jika saat aku tidak memberinya makan, apa kakak mau membantu memberinya juga?"


"Kenapa aku harus memberikannya?"


Anak perempuan yang berambut hitam menoleh dan menatapnya dengan tatapan terkejut. "Karena kita harus membantu sesama makhluk hidup, kak. Harga makanan kucing tidak begitu mahal, namun itu sudah membantu kucing kecil ini untuk bertahan hidup."


Anak itu mengangkat kucing kedalam gendongannya dan memeluknya sementara anak perempuan yang lebih dewasa berkata, "Jika kamu memberinya makanan, dia hanya akan bergantung kepadamu dan dia tidak akan bertahan hidup sendiri tanpa bantuan manusia. Dia akan menjadi tidak mandiri dan akan mati jika tidak ada yang membantunya."


Anak perempuan yang lebih kecil sedikit sedikit menjawab dengan suara pelan. "Apa yang kakak katakan memang benar. Namun aku juga sudah mengajarinya untuk mandiri. Aku tidak begitu saja memberinya makan, setidaknya aku membuatnya berusaha untuk mencapai makanan yang aku berikan dari tanganku."


"Itu cukup bisa diterima."


Anak perempuan itu segera menerbitkan senyuman. "Benar, kan?"


"Tapi juga salah."


Segera anak itu menjadi sedikit kecewa dengan perkataan sang kakak kelas. "Jika sejak awal kamu berniat memberinya makan, angkat dia menjadi hewan peliharaanmu karena sekalinya dia mendapatkan makanan dari manusia, dia akan merasa semua manusia itu baik dan berpikir bahwa semua manusia akan membantunya dengan memberinya makan. Namun kucingpun harus tahu bahwa tidak semua manusia itu baik. Jika sejak awal kamu ingin membantunya hidup, kamu harus membiarkannya berusaha untuk bertahan hidup, karena darisana dia akan berjuang untuk dirinya sendiri dan bertahan hidup."


Ia mendongak dan tersenyum dengan semangat. "Terimakasih untuk nasihatnya, kak. Meski sebenarnya itu untuk kucing, namun aku juga akan selalu mengingatnya dan berterimakasih untuk nasihat yang kakak berikan."


Kedua anak itu secara alami sering bertemu ketika mereka berurusan dengan si anak kucing. Keduanya sering memberi makan kucing itu bersama dan sering mengobrol sampai tidak terasa hubungan mereka semakin dekat.


"Selama ini aku tidak pernah melihat kakak tersenyum, ya?"


Mendengar ucapan yang lebih muda, ia menatap si penanya yang menatapnya dengan tatapan ingin tahu sebelum ia berkata, "Tidak ada alasan untuk tersenyum."


"Ah, kakak bohong, ya? Tidak ada alasan? Bagaimana mungkin? Setiap hal yang terjadi dalam hidup kita sangat memungkinkan kita untuk tertawa atau setidaknya tersenyum karena itu kan tanda bahagia atau senang. Tadi dipelajaran aku mendapat poin penuh untuk kuis, dan aku tersenyum karena aku merasa bahagia."


"Masa kakak tidak memiliki satupun hal yang bisa membuat kakak tertawa?"


Anak perempuan yang lebih dewasa tidak tergerak dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."

__ADS_1


Anak perempuan yang lebih kecil itu sedikit mengerutkan bibirnya sebelum menariknya menjadi lengkungan lebar dengan kedua jari telunjuknya. "Cobalah tersenyum seperti ini, kak."


"Tidak mau."


"Coba sekali dulu, kak~!"


"Tidak."


Anak perempuan itu mengulurkan tangannya dan memaksa yang lebih dewasa untuk menarik bibirnya menjadi garis lengkungan. Yang lebih besar menahan diri dan menghela napas ketika dia membiarkan adik kelasnya itu menarik bibirnya yang kaku untuk membentuk senyuman. Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya anak perempuan itu menarik dirinya dan tersenyum puas.


"Nah! Begitu! Kakak semakin cantik jika tersenyum seperti itu!" katanya.


Ia kemudian kembali dan mengoceh banyak hal yang tanpa sadar, membuat si anak perempuan yang lebih dewasa itu menarik sudut bibirnya dengan geli kala ia bercerita tentang banyak hal yang menggelikan.


"Nana!"


Anak yang dipanggil Nana itu menoleh, dan melambaikan tangannya dengan senyuman. "Tunggu sebentar, Amber!"


Ia bangkit berdiri. "Aku pulang duluan,"


Ia melambaikan tangannya, "Kak Bianca."


Suasana menjadi lebih hening ketika Bianca ditinggal sendirian. Anak perempuan itu memandang kesatu arah selama beberapa menit sebelum menolehkan kepalanya, mengangkat anak kucing disebelahnya dengan sebelah tangan dan bergumam dengan wajah datas. "Kamu beruntung. Sepertinya Nana sangat menyayangimu. Jika aku membunuhmu seperti Ibumu,"


"... senyumnya akan hilang."


"Seorang peri tidak boleh kehilangan senyumnya. Kau juga berpikir hal yang sama, kan?"


"Meong~"


Ia menengus dan mendorong kucing itu dari tangannya. "Anak pintar."

__ADS_1



__ADS_2