
"Al, katakan, apa kamu ingin membalas dendam?"
Manik Arana tertuju pada Alva yang tengah duduk disebelahnya. Maniknya mengawasi bagaimana pria itu menunjukkan wajah bingungnya. Penuh kepalsuan. "Apa maksudmu sayang?"
Arana menggeleng lemah. "Tidak perlu berbohong, Al. Aku sudah tahu."
"Karena aku memaksamu menghabiskan bubur sewaktu kamu sakit, kamu sekarang memaksaku menghabiskan makanan sebanyak ini. Astaga, sayang. Aku hanya mengambilkan sedikit bubur untukmu, dan sekarang—! Kurasa kamu memborong semua yang ada di restoran."
Arana berkata dengan tak terima. Perutnya sudah hampir membuncit karena kekenyangan. Dan pria itu masih terus menyendok nasi untuk dia makan. Dan lihat makanan yang masih belum tersentuh, bahkan sampai ke pinggir meja kecil diatas ranjang.
Alva mengulas senyuman. "Tidak, sayang. Dokter bilang kamu harus banyak makan agar cepat pulih."
"Dokter memang bilang begitu. Tapi Dokter tidak mengatakan untuk memberiku makan sebanyak ini. Bukannya cepat sembuh, aku akan dimasukkan ke ruang khusus karena menderita obesitas, sayang!"
Alva berkedip. "Oh, benarkah?"
Tangan Arana terulur, mencubit pipi Alva yang ternyata jauh lebih lembut dari dugaan Arana. "Kamu kok, menggemaskan sekali sih??"
Alva menyeringai kecil dan menghambur memeluk Arana. "Aku menggemaskan hanya untukmu, sayang. Dengan yang lain tidak. Makannya, kamu juga harus manja dan bergantung kepadaku. Aku kan, suamimu."
"Ohh, begitu?"
Jawqbqn acuh Arana membuat Alva bangkit sembari memberikan jarak antara dirinya dan Arana. "Kenapa responmu begitu? Ayolah~ Aku serius."
"Sepertinya aku sudah serius." Ulang Arana sembari memasang pose berfikir.
Alva mencebikkan bibirnya kesal. "Bilang kamu akan bersikap manja kepadaku dan bergantung kepadaku!"
"Eh? Kenapa kamu memaksa?" Arana tertawa begitu selesai berkata demikian.
Alva menggeleng. "Biar saja!"
"Cepat bilang." Didesak terus oleh Alva, Arana pada akhirnya menyerah. "Oke, aku akan bersikap manja dan hanya bergantung kepada suamiku tercinta ini. Sudah ya, sayang?"
Alva mengangguk puas. Ia melirik makanan diatas meja. "Aku akan memanggil suster untuk membagikan makanan yang belum dibuka. Tapi yang sudah terbuka, terpaksa kita yang harus menghabiskannya."
Arana menutup bibirnya dengan sebelah tangan. "Aku sudah tidak kuat makan lagi."
__ADS_1
Alva menatap panik. "Tapi masih banyak makanan, sayang."
"Aku kan sudah bilang. Kamu sih, membeli terlalu banyak makanan. Kamu harus bertanggungjawab."
Alva menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ini, bagaimana jika kamu makan tumis brokolinya saja? Hanya itu dan yang lainnya akan kumakan."
"Kamu tidak suka brokoli, ya?" Tanya Arana.
Mendengar pertanyaan Arana, Alva sedikit ragu sebelum mengangguk. "Bagiku, rasanya aneh. Aku tidak suka brokoli, sayang. Jadi, jika dimasa depan kamu memasak, jangan gunakan brokoli, ya? Pleasee~"
Manik Arana menyipit memandang Alva. "Padahal brokoli itu sehat lho. Tapi kalau kamu tidak suka, ya sudah. Yang penting, kamu tetap makan sayur yang lainnya."
Ia mengulurkan tangan, meraih sepiring tumis brokoli dan bakso ayam diatas meja kecil diatas kakinya. "Sini, biar aku makan. Kamu juga makanlah yang lain. Tidak baik Membuang-buang makanan. Pokoknya kamu harus menghabiskan yang lain."
"Terimakasih, sayang!"
Alva cukup lega ketika Arana membiarkannya untuk tidak makan brokoli, bahkan menurut ketika diminta untuk tidak memasak brokoli. Alva makan sayuran, namun untuk brokoli adalah pengecualian. Ketika dia masih kecil, dia pernah melihat film animasi, dimana seseorang yang memakan brokoli langsung berubah menjadi zombie berwarna hijau. Walaupun sudah sejak lama logikanya telah berjalan untuk berpikir jika itu adalah sebuah film fiksi, namun pandangan Alva terhadap brokoli sudah buruk. Selain itu, bentuk brokoli juga aneh.
Alva yakin jika alasannya cukup kekanak-kanakan, bahkan terdengar aneh. Namun, sejak itu, dia benar-benar tidak menyukai brokoli.
Tumis brokoli dan bakso itu sedikit berminyak. Bibir merah mudanya berlapis minyak tipis. Gerakan mengunyahnya stabil, dan sesekali lidah merahnya yang merekah akan menyapu bagian bibirnya. Tangan Alva yang memegang sendok sedikit menekan kuat, dan jakunnya naik turun ketika dia menelan udara.
Alva ingin mencicipinya, merasakannya dan mengunyahnya.
"Sayang, kenapa tidak lanjut makan?"
Suara itu menarik Alva dari lamunannya. "Ah, aku ... aku sedang makan."
Arana mengerutkan alisnya bingung, namun pada akhirnya mengedikkan bahunya dan lanjut memasukkan potongan bakso ke mulutnya. Oh, Arana benar-benar kenyang.
Menatap Arana selama dua detik, Alva menggelengkan kepalanya, menepis pikiran yang singgah dikepalanya beberapa waktu lalu.
"Dasar Alva! Tahan dirimu bodoh."
...***...
Melangkah memasuki ruang kantornya, Arana berhadapan dengan wajah kusut Erlan. Meski tahu alasannya, Alva membuka suaranya untuk bertanya, "Ada apa dengan wajah kusutmu?"
__ADS_1
Masih tanya!
Erlan ingin sekali membentak Alva seperti itu. Meluapkan emosinya. Namun disini, posisinya adalah asisten Alva, dia digaji Alva. Walaupun bersahabat, rasanya ya tidak baik untuk melakukannya meskipun Erlan sangat ingin. Pria itu hanya diam, tidak menjawab dan dengan anteng mengetik. Mengabaikan keberadaan Alva meskipun pria itu tidak bisa duduk karena bangkunya ia pakai untuk dirinya sendiri.
Heh, biarkan saja dia duduk dimanapun.
Alva berjalan mendekat, dan duduk dipinggir meja dengan kaki lurus menyentuh lantai. Sebelah kakinya sedikit terangkan, dan aura dominasi menguar ditubuhnya ketika dia membuks suaranya kembali.
"Bagaimana dengan orang itu?" Tanyanya.
Tanpa harus bertanya, Erlan paham betul siapa yang dimaksud Alva dengan tatapan dinginnya itu. Erlan mengambil sebuah Ipad. Ada sebuah rekaman didalamnya. Seorang pria setengah baya dengan penampilan yang berantakan tengah diikat disebuah kursi diruangan yang cukup gelap dengan pencahayaan yang remang.
Sepasang manik Alva menajam. "Jadi dia pelakunya."
"Bukankah dia salah satu kepala manajer di perusahaan cabang?" Tanya Alva.
Erlan mengangguk. "Dia dalam keadaan setengah sadar saat ditemukan. Dia mengkonsumsi alkohol dan nekat membawa mobil sendiri."
"Ada siapa disana sekarang?"
"Ada R dan J." Jawab Erlan.
R dan J adalah salah satu dari orang-orang kepercayaan Alva untuk mengurus sesuatu yang menjadi masalah baginya. Sebagai pengusaha besar, banyak musuh yang mengincarnya, dan bahkan tak jarang ia hampir celaka. Maka dari itu, dia merekrut orang-orang yang berbakat dan bisa dipercayanya untuk menjadi perisai, menjadi tombak, menjadi mata dan menjadi bayangannya.
Untuk menjaga identitas mereka, Alva memanggil mereka dengan inisial nama, dan hampir tidak pernah bertatap muka secara langsung dengan mereka.
Alva menamai kelompok yang dibentuknya sebagai Inti B, yang merupakan singkat dari Beta.
Alva tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah tidakan yang buruk. Dia kejam, dan terkadang dia tidak berperasaan Tapi yang dia lakukan adalah usaha untuk melindungi dirinya sendiri. Meski tangannya kotor, Alva tidak peduli selama mereka yang disayanginya bisa hidup dengan damai.
Alva meletakkan Ipad ditangannya keatas meja dan melangkah mendekat ke jendela. "Suruh J untuk mematahkan kaki kanannya. Dan katakan kepada Dion untuk mengatur pemecatannya. Aku tidak sudi ada sampah yang berada di bawah perusahaanku."
Erlan tahu bahwa dibeberapa kesempatan, Alva adalah seorang pria berhati kejam. Namun Erlan dengan acuh mengambil ponselnya dan berkata, "Siap, boss~"
Salah mereka juga yang mencari masalah dengan Alva.
__ADS_1