My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 104: I'm Tired Of Being Alana


__ADS_3

Memandang layar ponselnya dengan dingin, Arana mengangkat tangannya untuk membalas pesan itu.


[Anda tidak perlu khawatir. Jaga saja adik anda disana, oh, itupun jika adik anda, Alana, benar-benar ada disana.]


Setelahnya, Arana mematikan ponselnya dan tidak memperdulikan balasan dari Hiro. Suasana hatinya yang baik mendadak hancur karena satu pesan dari pria yang adalah kakaknya juga. Arana memandang kosong selama beberapa detik pada kuah merah didepannya sebelum tatapannya berubah menjadi amarah dan rasa kesal.


Menjaga perilaku agar tidak merusak nama, Alana?


Arana ingin mengumpat. Mereka semua buta. Arana akan meyakini mereka bahwa mereka buta. Mereka tidak bisa melihat bahwa dialah yang berulang kali hampir celaka karena ulah Alana yang dia bahkan tidak ia ketahui. Mengapa mereka begitu egois dan kejam? Arana masih kecil saat dia dibuang pada neneknya, dan neneknya sama sekali tidak pernah mengatakan alasannya dibuang oleh mereka selain tubuh lemah Alana dan omong kosong itu. Arana tidak pernah begitu membenci sesuatu, karena hatinya murni dari awal. Namun rasa sakit yang diterimanya membuatnya memaksa dirinya sendiri untuk memunculkan emosi negatif itu.


Rasa benci, untuk keluarganya.


Dia membenci Alana, karena dia adalah akar permasalahan ini.


Dia membenci Lidia yang tidak pernah menganggapnya sebagai seorang putri dan bahkan tega membuangnya.


Dia membenci Michael yang begitu egois dan tamak dengan hanya memikirkan kepentingannya sendiri, kekuasaan.


Dan dia membenci Hiro, seseorang yang seharusnya dia panggl kakak karena pria itu dengan seenaknya menyalahkannya bahkan ketika dia tidak pernah melihat dirinya.


Arana menutup bibirnya, dan merasakan mual ketika emosi itu merangkak naik ke dadanya, seolah mendobrak kerongkongannya untuk mengeluarkan kebencian itu dengan kata-kata dan umpatan. Arana ingin menjerit, Arana ingin mengamuk


"Sayang, ada apa? Apa kamu merasa tidak nyaman? Haruskah kita ke rumah sakit lagi?!" tanya Alva khawatir disampingnya.


Arana menggelengkan kepalanya dan memasang ekspresi malu. "Aku tadi ingin bersendawa karena kekenyangan. Tidak sopan, harus ditahan."


Tapi percayalah, Arana benar-benar tidak pernah membenci orang lain sebanyak itu.

__ADS_1


...***...


Setelah menghabiskan waktu untuk makan dan berjalan-jalan sebentar, Arana kemudian melangkah bersama dengan Alva memasuki apartemen mereka. Diperjalanan, Arana kerap kali melihat bahwa beberapa pandangan dilayangkan kearahnya, dan ia sedikit menundukkan kepalanya dan merasa tidak berdaya. Yah, dia terluka seperti itu, tentu saja akan mengundang perhatian orang ketika melihat lebam dan luka yang dimilikinya.


Meski sudah hampir sembuh, lebam itu masih terlihat samar diwajahnya.


"Sayang, orang-orang yang melihat ... tidak perlu mengambil hati."


Mendengar perkataan Alva, Arana mendongak, dan menyunggingkan senyuman. "Aku lebih khawatir jika sebenarnya mereka memandang lebamku sebagai hasil dari KDRT."


Kening Alva berkerut dan memandang dengan sedikit tidak puas. Nah, siapa yang tidak senang sekarang?


Orang-orang zaman sekarang memang tidak begitu peduli dengan sesama. Namun tidak menyembunyikan banyak pihak yang masih memiliki hati sebaik malaikat dan mau membantu mereka yang membutuhkan. Beberapa orang seperti itu, melihat kondisi Arana mungkin akan berpikir bahwa dia mengalami KDRT dan dengan tatapan dalam mereka memperhatikan interaksi antara Alva dan Arana yang jelas sebagai pasangan suami istri. Jika mereka menemukan gerakan yang salah sedikit saja, mereka siap mengangkat ponsel dan menghubungi polisi.


Arana terbatuk canggung, dan memandang Alva dengan senyuman, ketika dia mengulurkan tangan untuk mengetuk dahi Alva yang berkerut. "Tenang, ada apa dengan kerutan ini. Jika kamu menjadi cepat tua karena banyak keluhan didalam dirimu, kamu tidak akan menjadi setampan sekarang, tahu."


Alva memandangnya dengan lembut, tersenyum dan membungkuk untuk mencium pipinya. "Tapi kamu tetap akan menyukaiku bahkan jika aku menjadi tua, kan?"


Alva tercengang. "Apa itu ciuman? Ini adalah kecupan sayang! Bahkan dipipi!'


"Tetap tidak boleh, humph!" dengus Arana sembari melipat tangan didepan dada dan menolehkan kepalanya dengan tenang melangkah meninggalkan Alva yang masih tercengang.


Pria itu mengejarnya dan dengan manja mengulurkan tangannya untuk memeluk pinggang Arana. "Sayang, aku tidak menciummu dibibir dan hanya menciummu dipipimu. Maafkan aku, jangan mengabaikanku."


Arana menggeleng. "Pokoknya saat pulang nanti, kamu harus membersihkan apartemen dan harus membersihkan semuanya sampai bersih."


"Setelah itu aku bisa menciummu didepan umum?" tanya Alva dengan manik berbinar.

__ADS_1


"Tentu saja tidak!" tegas Arana membuat telinga imajiner Alva terkulai.


Oh, malangnya. Niat pamer keuwuan didepan umum malah berakhir dengan bahkan tidak diperbolehkan mencium pipi didepan umum.


...***...


Malam harinya sebelum Alva kembali, Arana melangkah keluar dari mobil yang dikendarai oleh Agus. Memadang bangunan besar didepannya dengan ekspresi samar, Arana melangkah masuk dan menekan bel rumah, menunggu seseorang membukanya.


"Sebentar!"


Ada sebuah suara didalam, bersamaan dengan hentakan langkah kaki yang berhenti didepan pintu, seseorang membuka pintu bercat putih itu. Seorang pelayang memandang Arana dengan terkejut, dan segera memekik dengan suara pelan. "No-Nona Alana?!"


Arana memandangnya sekilas, sebelum dengan tegas melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu. Ruangan itu luas, dan Lidia serta Michael memandang kearahnya ketika Arana melangkah masuk. Dua manik itu memandang Arana dengan keterkejutan yang tidak bisa mereka sembunyikan.


"Astaga, ada apa denganmu?!" pekik Lidia sembari berdiri cepat melangkah mendatangi Arana.


"Ala?" panggilnya.


Mendengar itu, Arana menyunggingkan senyuman, menahan pergerakan tangan Lidia yang hendak menangkup wajahnya. "Aku Arana."


Lidia tertegun, dan memandang gadis didepannya dengan manik terkejut. Penampilan Arana benar-benar mirip dengan Alana. Senyumnya, pakaiannya, jenis gaya rambutnya. Lidia tidak bisa membedakan keduanya, dan tangannya gemetar diudara. "A-Arana? Apa yang terjadi dengan wajahmu, nak?"


Arana mengabaikan pertanyaan Lidia, ia melangkah untuk duduk disofa tunggal diseberang Lidia dan Michael, kemudian duduk menyilangkan kakinya dengan tenang, memandang Lidia dan Michael dengan ekspresi berbeda mereka.


"Apa-apaan ini?" tanya Michael dengan suara beratnya.


Arana menyandarkan punggungnya disofa dan berkata dengan acuh tak acuh. "Sesungguhnya, aku mulai bosan dengan permainan ini."

__ADS_1


"Aku bosan menjadi Alana."



__ADS_2