
Mendudukkan dirinya dibangku meja makan, Alva menyangga dagunya dengan tangan, memandang kearah dapur untuk menemukan Arana dan Arletta yang tengah bahu membahu memasak makan malam mereka.
"Nana, tolong urus supnya, ya? Mama akan mencuci buahnya."
Arana menyunggingkan senyuman dan menganggukkan kepalanya. "Baik, ma."
Arana segera mengambil alih sup ketika Arletta mencuci buah dan memotongnya. Gadis itu mengaduk sup dan mencicipinya menggunakan sendok sebelum menganggukkan kepalanya dengan puas, merasa bahwa lidahnya sudah merasakan rasa yang tepat seperti yang ia bayangkan. Tangannya beralih mengaduk tumisan daging, menambahkan beberapa bumbu dan mengaduknya selama beberapa waktu dan menyendokkan sedikit untuk memberikannya pada Arletta.
"Mnh!! Lezat sekali! Nana benar-benar pandai memasak, ya!"
Mendapatkan pujian seperti itu, Arana menyunggingkan senyuman dan kembali mengurus makanannya, tidak sadar pada Alva yang mengerucutkan bibirnya dimeja makan. Ia benar-benar cemburu pada interaksi Arana dan Arletta. Jika dia bisa memasak, mereka bisa memasak bersama, dan yang akan disuapi oleh Arana untuk mencicipi adalah dirinya.
Tapi mengingat bahwa dia bahkan tidak bisa merebus air, wajah Alva semakin tertekuk.
Setelah itu, ketiganya menghabiskan makan malam mereka dalam suasana yang hangat.
"Mama tidak menginap saja disini?" Arana bertanya kepada Arletta ketika wanita setengah baya itu berencana untuk kembali.
Arletta menggelengkan kepalanya. "Mama akan menemui teman mama setelah ini. Mama sudah membuat janji, jadi mama harus datang."
"Besok mama akan berkunjung kemari lagi."
Mendengarkan hal itu, Arana menganggukkan kepalanya dengan riang. Tepat seperti anak kecil yang dijanjikan untuk membeli es krim atau dijanjikan pergi ketaman bermain. Melihatnya, Arletta tidak bisa menahan gemas untuk memeluk Arana yang tertegun.
"Jangan lupa istirahat yang cukup ya, nak."
Hidung Arana terasa masam, namun Arana dengan tenang membalas pelukan Arletta dan menganggukkan kepalanya. "Iya, ma. Mama hati-hati dijalan."
Keduanya melepaskan pelukan mereka dan Arletta mengangguk dan menoleh pada Alva. "Ayo, Nan."
__ADS_1
Alva mendaratkan kecupan ringan dipipi Arana sembari berkata, "Aku akan kembali cukup malam. Tidak perlu menungguku dan beristirahatlah, oke?"
"Mn. Hati-hati."
Kemudian, hanya tersisa Arana dilorong itu sendirian. Gadis itu mengusap lengannya merasakan perasaan sepi dan menutup pintu.
***
Didalam mobil, Arletta tiba-tiba membuka bibirnya, mengungkapkan sesuatu yang membuat Alva tidak bisa tidak terkejut.
"Apakah dia benar-benar Alana, Nan?"
Alva menyunggingkan senyuman, fokus pada jalanan didepannya dan mengungkapkan senyuman. "Apa maksud mama? Kapan mama akan pulang? Nanti Al bisa mengantar mama kebandara."
Arletta menoleh, memandang tegas Alva. "Nan, mama adalah seseorang yang melahirkanmu. Mama yang tahu bagaimana kamu tumbuh dari bayi sampai dewasa. Mama mengenal kamu, jadi, katakan pada mama dengan sejelas-jelasnya. Apakah dia, benar-benar Alana yang kamu bawa menemui mama satu tahun lalu?"
Ada keheningan selama beberapa waktu, sebelum pada akhirnya Alva membuka bibirnya. "Dia bukan Alana."
"Namanya Arana, Arana Canyelier. Dia adalah saudari kembar Alana."
Jawaban Alva membuat kening Arletta mengerut dengan bingung. "Apakah Alana memiliki saudari kembar? Bukankah Alana adalah putri tunggal dan hanya memiliki satu kakak laki-laki bernama Hiro yang tinggal di Belanda? Dan bagaimana dia bisa menjadi istrimu? Bukankah kamu mencintai Alana dan ingin menikahinya?"
"Cerita ini, mungkin mama tidak ingin mendengarnya." Kata Alva.
Arletta menggelengkan kepalanya. "Tidak! Ceritakan semuanya kepada mama!"
Alva menghela napas panjang dan mulai menceritakan tentang Arana. "Pada awalnya, Al memang ingin menikahi Alana. Namun beberapa hari sebelum hari pernikahan, orangtua Alana membawa kembali Arana dari Melbourne dan menyuruhnya menikah menggantikan Alana."
Manik Arletta melebar dan dia hendak berteriak dengan marah ketika Alva mencoba menenangkannya, seakan tahu isi pikiran Arletta. "Mama tenang dulu. Alva tahu mereka menipu kita semua demi menjaga hubungan kerjasama dengan perusahaan Al. Namun intinya bukan disana."
__ADS_1
"Inti sebenarnya adalah kehidupan Arana."
Alva melanjutkan. "Al sudah menyelidiki tentang kehidupan Arana ketika Al sudah mengetahui bahwa dia bukan Alana. Kemudian, Al benar-benar dibuat tercengang dengan kehidupannya. Ketika Arana kecil, ia dititipkan kepada neneknya yang tinggal di Melbourne. Ketika neneknya meninggal, mama tahu apa yang terjadi?"
"Apa .. apa yang terjadi?" Tanya Arletta penasaran.
"Arana ditinggalkan disana, tanpa diberi sepeserpun uang untuk bertahan hidup. Orangtuanya benar-benar mengabaikannya dan melupakan keberadaannya untuk fokus mengurus Alana yang bertubuh lemah sejak kecil. Akibatnya, Arana harus bekerja bahkan saat usianya baru menginjak usia belasan tahun, waktu dimana dia seharusnya masih merasakan manisnya bermain dan berteman, juga bersekolah dengan nyaman."
Mendengar penuturan Alva, Arletta menutup bibirnya dengan terkejut. Tidak menyangka bahwa ada orangtua yang setega itu kepada putri mereka sendiri.
"Benarkah semua itu, Nan?"
Alva mengangguk, tidak mencoba menutupi masalah sedikitpun. Ia ingin mamanya tahu bagaimana beratnya kehidupan Arana, jadi Arletta bisa mengerti dan menerima keadaan Arana.
"Dari informasi yang Al dapatkan, memang begitu. Tapi mama tahu? Bahkan ketika teman-temannya merunudungnya dan menghinanya, mama akan kagum begitu mendengar bagaimana cerdasnya Arana." Kata Alva.'
"Meski disibukkan dengan pekerjaan part time, Arana sangat rajin belajar hingga membuatnya selalu mendapatkan rangking satu ketika kenaikan kelas. Arana juga adalah peraih nilai ujian tertinggi di Melbourne selama tiga tahun berturut-turut ketika berada disekolah menengah atas dan berhasil mendapatkan undangan dari berbagai Universitas ternama, salah satunya adalah Ocean University yang merupakan universitas terbaik di seluruh Australia." Alva tidak sekalipun mengarang cerita, dan mengungkapkan segala yang ia ketahui.
Mendengar apa yang dinyatakan Alva, Arletta tidak mampu menahan kekagumannya pada sosok Arana.
Pada awalnya, dia memang kecewa pada gadis itu karena masuk dalam rencana Lidia, Michael dan Alana untuk menipu Alva dan semua orang. Namun dia tidak menyangka akan ada kisah sesedih itu dalam hidupnya, yang sebenarnya tidak pantas dialami olehnya yang masih belia.
Arletta sebagai orangtua, sebagai ibu, merasa malu memikirkan kejamnya Lidia dan Michael yang tega menelantarkan putri mereka yang benar-benar berhati malaikat seperti Arana.
"Mama juga tahu, Arana ternyata menguasai berbagai bahasa yang ada didunia termasuk bahasa Yunani. Aku pernah mendengarnya mengatakan sesuatu dalam bahasa Yunani ketika kami sedang menonton film bersama. Dia terlihat senang, jadi mungkin itu ucapan pujian." Kata Alva tidak berhenti bercerita.
"Mama tahu gadis bule yang datang ke pesta pernikahan kami waktu itu? Namanya adalah Amber. Dia adalah sahabat baik Arana, dan dia bersama satu lagi sahabatnya adalah orang yang selalu membantu dan ada untuk Arana saat dia membutuhkan mereka, jadi ketika mereka datang, aku benar-benar menghargai mereka."
Memandang putranya yang terus mengoceh tentang Arana dan Arana, Arletta memandangnya dalam diam sebelum dia membuka suaranya, menyela Alva yang hendak membuka suaranya kembali.
__ADS_1
"Siapa yang kamu suka, Nan? Alana, atau Arana?"