
Malam hari setelah Arana menghubungi Alva Aki kembali. Aki kembali setelah Yoko mengakui semua kesalahan dan menyesal atas kesalahan yang dilakukannya.
Arana menatap foto Aki dan Yoko yang berpelukan dan nampak begitu bahagia. Arana menyunggingkan senyuman dan dengan tenang mengalihkan tatapannya pada Alva yang tengah bersiap untuk beristirahat setelah bekerja seharian.
"Untungnya paman Yosua bisa meyakinkan bibi Yoko."
Arana berucap tenang yang membuat Alva menoleh dan tersenyum. "Iya, aku juga senang mengetahui bahwa semuanya sudah baik-baik saja. Awalnya aku khawatir bahwa bisa saja pertengkaran ini membuat hubungan keluarga paman menjadi sulit dan renggang. Untungnya, bibi segera menyadari kesalahannya dan dengan tulus meminta maaf kepada Aki."
Alva memeluk Arana yang bersandar dikepala ranjang. "Nanti kalau kita memiliki anak, anak kita harus menjadi apa yang dia inginkan, ya?"
"Jika dia ingin menjadi seorang pengusaha sepertiku, aku akan dengan senang hati menerima putra atau putri kita menjadi pengusaha. Jika dia ingin menjadi seorang penulis, atau dia ingin menjadi seorang dokter, aku tidak akan melarangnya. Itu bagus kan, sayang?"
Arana terhenyak selama beberapa waktu. Ia sedikit menatap dalam keheningan. Arana teringat kembali bahwa tidak selamanya dia akan menjadi Alana. Jika mereka benar-benar memiliki anak dan dengan identitasnya yang berpura-pura menjadi Alana, apa yang akan terjadi dimasa depan ketika suatu saat, Alana kembali?
Arana mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut pada Alva. "Iya, sayang. Kita akan membiarkan anak kita memilih jalan yang mereka inginkan. Baik dia menjadi seorang pengusaha, menjadi seorang musisi atau menjadi pelukis dan semacamnya, dia akan tetap menjadi buah hati kesayangan kita."
Namun untuk sekarang, biarkan Arana tidak perlu memikirkan apapun dan biarkan Arana berharap meskipun hanya sebentar, bahwa Alva, hanya miliknya.
"Ngomong-ngomong, Al. Bolehkah aku pergi menemui Amber?"
Karena Amber, tidak juga membalas atau merespon pesannya.
...***...
Melangkah disepanjang jalan, Alana memandang ponselnya dengan tatapan tajam. Maniknya menatap rentetan pesannya yang sama sekali tidak direspon atau bahkan dibaca oleh Josh. Kekasihnya itu sudah menghilang selama seharian penuh dan Alana bahkan tidak bisa menghubunginya sekalipun, padahal pemuda itu jelas-jelas sedang online. Alva dengan penuh kecemasan dan kekhawatiran mencoba menghubungi Josh sekali lagi.
"Sial, kemana dia?"
Ia hendak menghubungi Josh lagi ketika tatapannya melihat sesuatu. Apa yang dilihat Alana membuat gadis itu melebarkan matanya. Tangannya jatuh kesisi tubuhnya dan tatapannya melotot menatap pemandangan yang ada didepan sana. Ada seorang wanita yang tengah menggandeng mesra Josh dikerumunan orang. Alana memang melihatnya dari belakang, namun Alana yakin bahwa pemuda didepan sana adalah kekasihnya, Josh.
__ADS_1
Alana memandang kedepan dan bersitatap dengan Issabel selama beberapa waktu sebelum dengan tertegun melihat Issabel menyunggingkan seringaian dan mengeratkan pelukannya kepada Josh. Tindakan Issabel membuat Alana naik pitam.
"Jal*ng itu! Dia pasti sudah tahu bahwa aku adalah kekasih Josh, namun dia berani mendekatinya?!" Alana bergumam marah ketika ia kehilangan jejak mereka.
Ia memandang ponselnya dan berusaha berkali-kali menghubungi Josh, namun tidak ada respon sama sekali yang membuat perasaannya semakin kesal dan meradang oleh kemarahan. "Sialan! Dasar wanita jal*ng!!"
Beberapa waktu kemudian Alana sudah tiba diapartemennya yang sekaligus adalah apartemen kekasihnya. Dia berjalan dengan terburu-buru kedalam dan mulai membongkar seluruh apartemen. Dua jam berlalu, Alana dengan tatapan tajam melemparkan sebuah kemeja biru muda yang memiliki jejak ciuman lipstik dibelakang kerahnya yang membuat emosi Alana semakin memuncak.
Sekali, sekalipun dalam hidupnya, Alana tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini.
Beraninya seseorang mencuri kekasihnya!
"Sialan! Aku akan mencarinya dan merobek wajah jal*ng itu! Berani-beraninya dia menggoda Josh!"
Alana kemudian menjerit dengan penuh emosi. "Ahhhhh!!!"
Ia tiba-tiba berhenti, membekap bibirnya dan sedikit bersandar pada dinding. Ia memegang perutnya dan wajahnya sedikit memucat dalam beberapa waktu. Ia menarik napas dengan cepat dan dalam dan menghembuskannya perlahan. "Aku mual."
...***...
Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya. Ada yang bersepeda, ada yang berjalan bersama dengan kekasihnya atau bersama hewan peliharaannya. Arana hampir tidak melihat pemandangan disekitarnya ketika tatapannya hanya berfokus kepada gambaran ditangannya.
"Kebetulan sekali bertemu disini~"
Suara dan bayangan disampingnya membuat Arana berhenti dan mendongak. Seketika, ekspresi Arana berubah.
"Ernad?" Tanya Arana kurang yakin.
"Oh, senang kamu tidak berpura-pura melupakanku lagi. Apa yang sedang kamu lakukan disini sendirian?" Tanya Ernad sembari mengambil tempat disamping Arana yang membuat Arana bergeser menjauh sedikit.
__ADS_1
"Justru akulah yang harus bertanya kepadamu. Apa yang kamu lakukan disini? Kamu tinggal disekitar sini?" Tanya Arana.
Ernad menganggukkan kepalanya. "Ya, aku tinggal diapartemen Golden Sun disana, dilantai tiga."
Ucapan Ernad membuat Arana terkejut. Ia menatap Ernad dan mau tidak mau merasakan perasaan yang sedikit aneh sebelum dengan tenang menganggukkan kepalanya dan kembali menunduk. Ia tidak lagi menggambar dan beralih menatap ponselnya. Meskipun Arana bilang dia menerima Ernad sebagai temannya, Arana tidak benar-benar bermaksud menjadi akrab dengan Ernad, karena Arana takut bahwa kebiasaannya yang berbeda dengan Alana bisa membuat Ernad menganggapnya berbeda dengan Alana. Meskipun sebenarnya Arana bisa beralasan bahwa dia sudah mengubah kebiasaanya sejak dua tahun lalu karena manusia tidak hanya sama.
"Bagaimana denganmu? Aku tadi bertanya apa yang kamu lakukan disini?"
Mendengar pertanyaan Ernad, Arana menjawab dengan acuh. "Aku juga tinggal disana. Jadi hal biasa jika aku sering ke taman ini."
Ernad segera mengubah ekspresinya menjadi lebih cerah. "Benarkah? Berarti kita adalah tetangga, kan?"
Arana mengedikkan bahunya dengan acuh dan dengan tenang menscrool kembali ponselnya dengan gerakan cepat, seakan dia terlihat tidak berminat melihat apapun yang muncul dilayar beranda instagram miliknya. Melihat hal itu, Ernad dengan tenang menaikkan sudut bibirnya dan melirik Arana dengan penuh perhatian dan ketertarikan dimatanya.
"Aku ingat kamu suka sekali dengan es krim. Mau aku membelikannya untukmu? Ada penjual es krim didepan sana. Kamu sangat suka dengan rasa moca, kan?"
Arana melirik Ernad dan dengan tegas berkata, "Bukankah sudah aku bilang bahwa jangan pernah membawa masa lalu dalam pembicaraan kita. Aku sudah melupakannya. Lagipula kamu perlu tahu bahwa aku tidak pernah suka dengan rasa moca."
Setelah mengucapkan kata itu dengan datar, Arana segera bimbang dalam hatinya. Ada sedikit rasa kasihan melihat ekspresi terluka Ernad. Lagipula, jika memang Ernad bersalah karena meninggalkan Alana keluar negeri karena belajar, sebenarnya Alana juga bersalah karena menerima pernikahan dengan Alva yang sebenarnya sudah digantikan olehnya. Ernad mengatakan bahwa Alana tidak pernah memutuskan Ernad, dan kembalinya dia berarti menunjukkan bahwa Ernad memang setia dalam hubungannya dengan Alana.
Memperlakukannya dengan kasar dan dingin begini membuat Arana sedikit merasa bersalah. Arana sedikit menunduk, melegakan tenggorokannya dengan batuk pelan.
"Maaf, aku tidak bermaksud kasar. Namun, aku sekarang sudah memiliki suami dan aku menghargainya karena dia mencintaiku. Aku harus menjaga jarak dari laki-laki lain dan tidak bisa terlalu akrab dengan lelaki lain atau suamiku bisa salah paham denganku. Kamu mengerti, kan?"
Arana bertanya dengan nada yang tenang namun sebenarnya berhati-hati yang membuat Ernad kemudian menyunggingkan senyuman tipis. "Aku mengerti."
"Aku hanya, kamu tahu ..." Ernad menjeda ucapannya, "Sebenarnya aku kembali untuk melamarmu."
Arana tercengang dan menatap Ernad.
__ADS_1
Astaga, Alana. Kamu benar-benar keterlaluan.