
Alva berlari setelah keluar dari mobilnya. Ia melewati pintu depan dan segera berlari menuju kamarnya dan kamar Arana. Setiap langkahnya membawa kebahagiaan. Pelayan tengah berkumpul didepan pintu kamarnya dan kamar Arana. Ketika mereka berbalik dan menyadari kehadirannya, mereka tersenyum penuh dengan ucapan selamat yang membuat hati Alva semakin membuncah.
Alva dengan gugup melangkah menuju pintu dan menatap kedepan. Arana tengah duduk bersandar dikepala ranjang dengan Arletta yang menampilkan mimik bahagia, bercerita banyak hal disamping sang istri yang mendengarkan dengan senyuman.
"Sayang?" Panggilnya.
Arana menoleh, yang membuat Arletta menoleh juga. Sepasang manik itu saling bersitatap. Alva menatap Arana sebelum melihat gadis itu menyunggingkan senyuman yang begitu manis dan begitu lembut, penuh dengan kasih sayang yang membuat mata Alva memerah. Ia dengan perlahan melangkah mendekati Arana, berjongkok disamping tempat tidur dengan sebelah kaki dan menatap sang istri.
Arletta memberikan waktu kepada Alva dan Arana dengan tidak mengatakan apapun dan hanya tersenyum.
"Sayang, kamu ..." Alva hampir tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Semua kata-katanya nampak tercekat ditenggorokannya.
Arana dengan lembut mengangguk, meraih tangan Alva dan dengan lembut meletakkannya diatas perut Arana yang masih rata. "Bayi kita, Al."
Pernyataan Arana membuat mata Alva semakin memerah. Ada genangan air dimatanya ketika dia tertawa dengan bahagia dan memeluk Arana dengan penuh rasa syukur. Alva tidak bisa mengungkapkan betapa dia mencintai Arana yang begitu sempurna baginya. Gadis itu sudah tulus mencintainya, tulus berada disisinya, dan sekarang dia bahkan telah memberinya seorang buah hati yang berharga dan merupakan hasil cinta kasih keduanya.
"Sayang, aku ... aku ... aku benar-benar bersyukur."
"Terimakasih! Terimakasih, sayang!"
Arana menyunggingkan senyuman dan membalas pelukan Alva tidak kalah erat dan penuh dengan rasa syukur. Meski Arana akan menghadapi lebih banyak hal dimasa depan karena kehamilan ini, Arana sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang sudah terjadi. Bolehkah Arana egois? Jika suatu saat dia memang harus pergi, Arana ingin memiliki separuh dari hidup Alva untuk dirinya sendiri.
"Aku juga sangat bersyukur, Al. Hari ini adalah hari dimana aku merasa paling bahagia didalam hidupku, dan itu semua karena kamu."
"Kamu adalah kesempurnaan dalam hidupku, Al."
...***...
"Nana hamil?"
Johan terlonjak dari bangku kebesarannya ketika dia mendengar apa yang diucapkan oleh Arletta diseberang telepon. Wanita itu dengan penuh sukacita menyampaikan kabar kehamilan Arana kepada Johan, yang tentu saja membuat Johan terkejut, namun juga bahagia bukan main.
Ia berujar dengan nada yang dipenuhi ketidakpercayaan. "Aku akan jadi kakek?"
[Iya, sayang. Kita akan menjadi kakek dan nenek. Kita akan memiliki cucu pertama kita! Aku sangat dan sangat bahagia!]
[Jika dia perempuan, aku berharap dia akan secantik dan semanis Nana, dan jika dia laki-laki ...] Suara Arletta sedikit terjeda. [Aku berharap bahwa dia akan setampan dan seberani Alva, juga, semanis dan seceria Theo.]
Wajah Johan menampilkan gurat kesedihan yang tidak bisa dia sembunyikan. Manik birunya memandang sendu sebuah foto keluarga yang ada diatas meja kantornya dan dia dengan sedih menyunggingkan senyuman. "Sayang, semua sudah berlalu. Aku juga berharap demikian, namun Theo sudah bahagia disana, jadi, kita tidak perlu terus berlarut dalam kesedihan, ya?"
__ADS_1
[Iya, sayang. Aku hanya merindukannya. Putra kecil kita yang berharga.]
Johan memejamkan matanya yang memerah ketika mendengar suara pecah Arletta. "Sayang, tolong sampaikan kepada Nana. Katakan bahwa aku mungkin belum bisa secara langsung bertemu dengannya untuk mengucapkan selamat secara langsung. Nanti aku akan menghubunginya dan ketika aku pulang aku akan membawakannya hadiah."
Arletta yang saat ini tengah membuatkan susu untuk Arana menyunggingkan senyuman setelah dia mengusap air mata yang berada disudut matanya. "Aku akan sampaikan kepada Nana. Sayang, jaga kesehatanmu disana, ya?"
[Iya, kamu juga.]
Setelah mengucapkan beberapa kata lagi, Arletta mengakhiri panggilan telepon dan dengan tenang mengangkat gelas susu khusus untuk ibu hamil yang direkomendasikan oleh dokter dan membawanya menuju kamar Arana.
"Sayang, minum susunya dulu."
Arletta membuka pintu dan menemukan Arana yang masih berada didekapan Alva. Arana nampak menatap Arletta dengan tatapan seolah menemukan penyelamat dan melambaikan tangan kepada Arletta. "Mama.."
Arletta mengerutkan kening dan berjalan menuju Alva dan Arana sebelum dengan tegas menjewer pelan telinga Alva. "Nan, kasihan Nana kalau kamu peluk terus!"
Alva menarik diri dari Arana dan memandang Arletta dengan cemberut. "Aku senang, mama. Al akan menjadi ayah untuk pertama kalinya dalam hidup Al, dan hati Al benar-benar merasakan kegembiraan yang tidak bisa Al bendung."
"Ya mama tahu kamu senang, tapi kasihan Nana kesusahan karena terus kamu peluk. Lebih baik kamu keluar sana dan beritahu orang-orang bahwa istrimu hamil daripada melakukan hal yang merepotkan. Kamu juga senang pamer kan, biasanya?"
Ucapan Arletta membuat Alva nampak merenung sebelum menganggukkan kepalanya. "Mama benar, aku akan memberitahu teman-temanku. Tapi nanti setelah usia kandungan Nana tepat berusia satu bulan."
"Terimakasih, ma." Arana menerimanya dengan penuh terimakasih dan dengan tenang menyesapnya dibawah tatapan Arletta dan Alva. Menenggak hingga setengah gelas, Alva tiba-tiba berucap disampingnya.
"Sayang, aku mau."
Arana menoleh dan menaikkan alisnya. Ia memandang pada gelas ditangannya dan sedikit mengangkatnya, "Mau minum ini?"
Alva menganggukkan kepalanya. Arana dengan bingung menyerahkan gelas susunya dan membiarkan Alva menenggak cairan kemerah mudaan itu dengan suasana hati yang baik. Arletta menatap Alva dan tiba-tiba terkekeh. "Sepertinya Alva ngidam."
Arana dan Alva menoleh kepada Arletta. Alva menaikkan sebelah alisnya bingung. "Ngidam? Apa sih, ma? Mana ada laki-laki, ngidam. Al hanya ingin merasakan minuman yang diminum istriku karena terlihat enak."
Arana nampak merenung sebelum berkata, "Tapi aku pernah membaca buku, dan katanya seorang lelaki memang bisa ngidam, sayang."
"Yah, sepertinya aku memang pernah bisa mendengarnya." Alva menghela napas namun tersenyum. "Ngomong-ngomong, bagaimana kamu bisa tahu kamu hamil, sayang? Apa kamu merasa tidak enak badan dan memeriksa ke dokter?"
"Sebenarnya ini karena mama."
Flashback
__ADS_1
Arana tengah berjalan menuju ruang utama ketika dia tiba-tiba menutup hidungnya begitu melewati kamar Arletta. Arletta yang kebetulan baru keluar dari kamarnya segera mengerutkan kening melihat polah tingkah Arana.
"Na, ada apa?"
"Maaf, ma. Nana kaget dengan baunya, tajam sekali." Arana bergumam sembari mencoba menahan pernapasannya agar tidak terlalu dalam menghirup aroma parfum dari kamar Arletta yang memang pada saat itu baru selesai mandi.
Arletta diam merenung selama beberapa waktu sebelum menutup pintu kamarnya dan menarik Arana menuju sofa setelah membuka jendela. Arletta duduk disamping Arana dan memandang Arana dengan tatapan serius.
"Na, jujur pada mama, apa akhir-akhir ini kamu sering mual saat pagi hari?" Tanya Arletta.
Arana sedikit mengenang sebelum mengangguk. "Hanya beberapa kali, ma. Nana belum makan, jadi terkadang memang suka mual dipagi hari dan memang rasanya agak parah."
"Apa kamu sering merasa lelah meski kamu hanya melakukan pekerjaan kecil?" Tanya Arletta membuat Arana mengangguk ragu. "Sepertinya iya, ma. Sepertinya Nana kurang olahraga sampai tubuh Nana sekarang menjadi kurang kuat untuk dipakai banyak bekerja. Habisnya, Alva memanjakan Nana sampai tidak mengizinkan Nana bekerja."
Arletta menatap Arana sebelum maniknya perlahan menjadi cerah. "Ikut mama sebentar, ya?"
Arana menaikkan alisnya. "Kemana, ma?"
Arletta tersenyum dan hanya membantu Arana bersiap. Setelahnya, Arletta menaiki mobilnya dan membawa Arana kesuatu tempat. Ketika Arana sampai, Arana mengerutkan kening ketika melihat bangunan rumah sakit besar didepannya. "Nana tidak sakit, ma. Tidak perlu sampai kerumah sakit."
"Atau mama mau menjalani pemeriksaan kesehatan rutin?" Tanya Arana penasaran.
Arletta hanya kembali tersenyum dan tidak menjawab, namun dia dengan lembut meraih tangan Arana dan menariknya memasuki rumah sakit dan melangkah menuju sebuah departemen. Ketika Arana melihat nama yang terpasang diatas pintu masuk, Arana melebarkan maniknya.
Dokter Spesialis Kandungan dan Kehamilan
"Ma?" Arana memanggil dengan bingung.
"Mama pernah hamil, Na. Mama merasa ciri-ciri yang kamu sebutkan tadi sangat mirip dengan apa yang mama alami dulu sewaktu mengandung Alva." Kata Arletta.
"Mama tidak bermaksud apa-apa. Hanya, mari melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah kamu benar-benar hamil atau tidak."
Otak Arana memproses apa yang baru saja dikatakan oleh Arletta. Dia dibawa masuk kesebuah ruangan dan langsung bertemu dokter yang merupakan kenalan Arletta. Arana menjalani pemeriksaan dengan otak yang masih berkelana dan masih berpikir. Ketika dokter mengatakan hasilnya kepada Arana dan Arletta yang duduk diseberang meja, Arana akhirnya pulih.
"Selamat, menantu anda positif hamil, nyonya."
"Karena ini masih awal, memang sedikit sulit mengetahui janin karena ukurannya yang hanya sebesar jarum dan masih melakukan pembelahan. Namun nona Alana memang benar-benar hamil, dan memasuki minggu ke-3 kehamilan." Kata Dokter.
Arletta memekik bahagia disamping dan tidak bisa menahan diri untuk memeluk Arana yang masih tertegun. Gadis itu perlahan mengulurukan tangannya dan menyentuh perutnya yang masih rata sebelum dengan manik berkilau oleh air mata menyunggingkan sebuah senyuman kebahagiaan hingga maniknya menyipit bak bulan sabit.
__ADS_1