My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 147: About Theo From Selena


__ADS_3

Waktu berjalan dengan cepat tanpa terasa. Kini kehamilan Arana sudah menginjak trimester ke tiga. Hamil tujuh bulan membuat perut Arana membuncit besar, dan terkadang Arana harus kesulitan jika ingin berjalan atau bergerak. Semakin besar dan semakin tua kehamilannya, semakin besar pula perhatian dari orang-orang yang ada disekitarnya.


Demi menjaga keamanan Arana, Alva menyewa seorang pembantu rumah tangga yang tinggal di apartemen sampai Alva kembali, dan frekuensi Arletta datang semakin sering. Namun ketika Arana menyarankan Arletta untuk tinggal bersama, Arletta menolak dengan alasan tidak ingin mengganggu waktu Arana dan Alva.


Arletta bilang, waktu berdua dengan suami disaat kehamilan itu penting.


Dan Arana mengakui bahwa dia memang benar cukup sering berhubungan dengan Alva. Sebab dokter mengatakan bahwa berhubungan intim dengan suami ketika kehamilan memasuki trimester ketiga diperlukan untuk mempersiapkan ibu hamil untuk persalinan, dan agar tidak mengalami ketegangan otot atau bahkan yang terburuk dapat mengalami serangan jantung karena kejutan dalam persalinan.


"Tapi, rasanya sedikit membosankan." Gumam Arana yang duduk disofa, menatap pembantu rumah tangganya yang tengah membuka jendela agar udara segar masuk.


"Nona, sudah minum susunya?" Arana menggelengkan kepalanya, "Belum, bi."


"Kalau begitu saya akan membuatkannya untuk nona." Ucap sang wanita membuat Arana menganggukkan kepalanya, karena memang biasanya dia akan meminum susu kehamilan di jam itu.


Ting... Tong...


Belum sempat memasuki area dapur, bibi art itu berbalik dan segera melangkah menuju pintu. Arana menoleh dan menatap pintu, menerka-nerka siapa yang akan datang. Ketika bibi art menggeser tubuhnya, Arana sedikit menghentikan gerakannya dan menatap kedepan dengan sepasang manik yang sedikit rumit.


"Selena?" Beonya.


Selena melangkah masuk dibawah pengawasan bibi art. Arana menoleh dan bersitatap dengan bibi art sebelum menganggukkan kepalanya dan membuat bibi art itu melangkah menuju dapur dan memberikan ruang kepada Arana dan Selena untuk mengobrol sembari ia membuatkan minuman untuk keduanya.

__ADS_1


"Lama tidak bertemu, perutmu sudah sebesar ini saja."


Arana sedikit menurunkan tatapannya dan tangannya dengan tanpa sadar menutup perutnya. Pada awalnya Arana sudah memiliki pertemuan pertama yang tidak menyenangkan dengan Selena, jadi dengan naluri keibuannya, dia tanpa sadar berusaha melindungi bayi dikandungannya meski Selena tidak menunjukkan sikap mengancam.


"Ada keperluan apa kamu kesini?" Tanya Arana.


Selena meletakkan tasnya disampingnya, duduk dengan anggun, dengan kaki bersilang dan tangan yang saling bertautan dengan ringan. Ia melirik Arana, membiarkan bibi art mengantarkan minuman kepada keduanya sebelum kembali ke ruangan lain, sebelum ia membuka suara. "Apakah kamu tahu bahwa Alva memiliki seorang adik?"


Mendengar pertanyaan Selena membuat Arana sedikit terkejut.


Alva memiliki adik?


Selena lanjut berkata, "Jika kau tidak mengetahuinya, itu hal yang wajar karena baik Alva maupun orangtuanya tidak ada yang pernah membahas tentang adik Alva dimuka umum sejak kematiannya karena bunuh diri bertahun-tahun yang lalu.


"Apa?"


"Nama adik Alva adalah Theo, Theo Mateas Erlangga. Dia sahabat dan teman terbaikku. Dulu, kami sering bermain bersama dan dia menjadi satu-satunya tempat dimana aku bisa berkeluh kesah tentang masalah yang aku hadapi. Kamu tahu, dia anak yang sangat manis dan baik. Dia ceria dan dia sangat suka bercanda. Pokoknya, dia sangat berbanding terbalik dengan Alva yang kaku dan dingin." Selena memandang lurus kedepan, nampak bernostalgia sebelum kembali berkata, "Tapi sebagai sahabat, aku tidak pernah tahu apa yang menimpa dirinya."


"Apa ... Apa yang terjadi padanya?" Arana meremat tangannya. Sebenarnya Arana tidak yakin dan tidak siap untuk mendengar cerita seperti itu dari Selena, namun Arana harus mendengarnya.


Selena sedikit menunduk. "Saat itu aku dan Alva duduk dibangku perkuliahan. Semester awal, ketika Theo menginjak bangku sekolah menengah atas. Dia datang kepadaku dengan wajah paling bahagia yang dia miliki ketika dia mengaku bahwa dia menjalin hubungan dengan seseorang yang sudah lama dia suka."

__ADS_1


"Aku pikir, Theo benar-benar mendapatkan kebahagiaannya dan aku turut bahagia atas pencapaiannya. Namun, aku tidak pernah tahu bahwa disanalah asal mula semua kepahitan dan asal mula kebencian tumbuh dihatiku." Kata Selena.


"Aku tidak pernah tahu bahwa Theo mendapatkan perlakuan buruk dari kekasihnya. Perempuan itu dengan gila menipu Theo untuk datang kesebuah bar, dan Theo tidak pernah tahu bahwa bar itu adalah bar gay." Ucapan Selena membuat perasaan Arana semakin tidak nyaman, dia menatap Selena yang tidak menatapnya dan hanya menatap kosong pada gelas berisi cairan merah muda.


"Gadis itu sengaja menjebak Theo karena permainan yang dia mainkan bersama dengan temannya. Theo hampir kehilangan harga dirinya disana, bahkan ketika dia disekolah, dia mulai dijuluki dengan panggilan aneh dan orang memandangnya dengan jijik. Mereka menuduh Theo tidur dengan guru disekolah yang sudah tua sehingga Theo bisa bersekolah disana, sebab yang mereka tahu, Theo adalah anak miskin."


"Hidupnya benar-benar hancur, dan aku sebagai sahabatnya bahkan tidak mengetahui kesedihan dan kehancuran dibalik senyuman yang biasa dia berikan." Selena tersenyum pedih dan miris.


Selena mengusap air matanya yang meluruh tanpa bisa ia tahan. "Seorang laki-laki yang polos sepertinya, dihadapkan situasi dimana seolah dunia membencinya dan membuangnya membuat mentalnya terganggu. Kami semua sibuk pada saat itu. Baik aku, Alva, Erlan bahkan orangtuanya tidak bisa terlalu memperhatikan perubahan pada Theo. Bahkan jika kami sedikit sadar, senyuman Theo akan menghapus keraguan kami."


Selena nampak berhenti untuk mempersiapkan dirinya, seolah apa yang akan dia ceritakan selanjutnya adalah bagian terberat baginya.


"Malam itu dia menghubungiku. Kami mengobrol, namun karena aku sedang sibuk dengan tugas kuliahku, aku dan dia tidak bisa mengobrol banyak hal. Aku mulai menyadari bahwa ada yang salah dengan dirinya ketika aku mendengar suaranya yang pecah, seolah dia menelan ribuan rasa sakit selama ini."


"Tapi ketika aku menyadarinya, dia sudah mengambil jalan terakhir yang amat mengerikan. Didepan mata kami, kami menemukannya tidak bernyawa didalam kamarnya, dengan ratusan biji obat penenang yang tersebar dilantai. Ada sebuah surat yang dia tulis, dengan tulisan yang penuh dengan coretan dan getaran seolah dia sedang kesakitan. Mengatakan permohonan maafnya karena tidak bisa bertahan didunia yang terlalu kejam baginya. Didunia yang begitu tidak adil padanya, ketika dia memberikan cinta yang tulus kepada gadis itu." Selena berkata.


Ia mendongak dan menatap Arana yang tengah berlinang air mata. "Jika kamu bertanya-tanya darimana aku bisa tahu, aku menelusuri semua tempat dan mengumpulkan bukti bahwa memang benar gadis itu yang melakukan tindakan sekejam itu kepada Theo. Namun aku tidak pernah bisa menyampaikannya kepada orang lain, karena aku tidak bisa melihat ekspresi seperti apa yang akan dimiliki orangtua Theo."


Selena meraih tangan Arana, sedikit meremasnya. "Aku tidak pernah membencimu. Pada saat itu, aku benar-benar tidak bisa memikirkan apapun, selain pikiran bahwa aku harus melindungi Alva dan tidak bisa membiarkan Alva berakhir seperti Theo."


"Karena aku, sudah gagal menjadi seorang bibi, seorang sahabat dan seorang yang wanita yang mencintai."

__ADS_1



__ADS_2