My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 65: Confusing Misunderstanding


__ADS_3

"Ma, silakan diminum tehnya."


Meletakkan secangkir teh camomile yang harum dan menenangkan didepan Arletta, ia kemudian duduk dengan punggung yang sedikit tegang. Baru beberapa saat lalu dia masih berbaring nyaman disofa sembari menonton televisi ketika Arletta datang, membunyikan bel dan membawakannya beberapa bingkisan.


Arana dengan hati-hati membuka bibirnya. "Kenapa mama datang tidak memberitahu Alana atau Alva? Jika mama memberitahu sebelumnya, Alana bisa menjemput mama."


Arletta dengan tenang menyunggingkan senyuman. "Tidak perlu. Mama tidak ingin merepotkan kalian. Lagipula, mama bisa menaiki taksi."


Arana benar-benar gugup. Ketika Arletta muncul didepannya, dia benar-benar merasa beruntung bahwa ia selalu memastikan rumahnya dalam kondisi bersih dan bahkan tidak meninggalkan debu sedikitpun. Meski ia sempat terkejut karena ia sedang sibuk memikirkan pekerjaan barunya yang diberikan oleh Karina, keterkejutannya berubah menjadi kegugupan karena tidak ingin membuat masalah didepan Arletta.


"Apakah selama tinggal bersama, Alva merepotkanmu, nak?'


Arletta melanjutkan bahkan sebelum Arana menjawab. "Alva sebenanya adalah seorang yang pemilih. Dia bahkan pemilih dalam urusan makanan dan gaya berpakaian. Jika Alva merepotkanmu, katakan saja pada mama dan mama akan memberinya pengajaran lebih sampai telinganya panas."


Mendengarkan candaan Arletta, Arana menyunggingkan senyuman dan menjawab dengan malu-malu. "Sebenarnya, selama ini aku yang selalu merepotkan Alva, ma."


Arana mengatakan menurut pendapatnya dan apa yang sudah terjadi selama ini. Dihari pertama dia bertemu dengan Alva saja, dia sudah membanting Alva kelantai. Kemudian karena ingin Alva memiliki kesan buruk padanya, dia merepotkan Alva dengan pekerjaannya dan bahkan merepotkan pekerja Alva. Tidak hanya sampai disana, dia mengalami banyak kecelakaan yang membuat Alva kerepotan untuk mengurusnya dan memperhatikannya.


Arana benar-benar merasa bahwa dia sangat merepotkan Alva.


Arletta meletakkan cangkirnya ditatakan gelas dan menggelengkan kepalanya dengan senyuman. "Tidak mungkin. Bagi Alva, kamu yang bergantung kepadanya adalah sebuah keharusan dan sebuah kewajiban yang harus dia jalani. Papa Alva juga berkata demikian, berkata bahwa jika mama merepotkannya, papa akan senang dan merasa dihargai sebagai seorang suami."


Mendengarkannya, Arana mau tidak mau sedikit menunduk dan menganggukkan kepalanya. Sepasang maniknya tidak lepas dari Arletta dan ia tidak bisa menahan membatin.


Arletta adalah sosok wanita yang anggun dan penuh kharisma.


"Ngomong-ngomong, apa yang biasanya kamu lakukan di apartemen sendirian, nak?"


***


Alva melangkah cepat melewati lorong apartemen untuk menuju pintu apartemennya. Meski langkahnya berirama dan tegas, namun dia benar-benar melebarkan langkahnya dan berharap pintu apartemennya segera terlihat.


Arana mengabarinya bahwa sang mama tengah berkunjung. Dan Alva tidak bisa tidak merasakan kekhawatiran pada Arana.

__ADS_1


Bukan lagi rahasia bahwa mamanya tidak menyukai Alana. Jika mamanya datang dan mencoba menggertak Arana karena mengira Arana adalah Alva, itu bisa menjadi masalah bagi Arana. Alva tidak ingin Arana merasa sakit hati karena gertakan sang mama, sebab Alva tahu bagaimana perilaku sang mama pada seseorang yang tidak disukainya.


Berdiri didepan pintu apartemennya, Alva memasukkan serangkaian kode apartemen dan hendak membukanya ketika dia mendengar suara isakan dari dalam apartemennya. Pintu yang baru terbuka sedikit membuatnya bisa mendengar suara dari dalam.


Sepasang manik Alva melebar.


Arana ... menangis?!


Apakah mamanya benar-benar menggertak Arana?!


Dengan kerutan didahinya yang menandakan kemarahannya, Alva membuka pintu dengan bantingan keras dan membuka suaranya dengan lantang. "Mama!! Apa ya--!!"


Suara Alva tercekat. Ia memandang linglung pemandangan yang ada didepannya. Arana tengah menangis, dengan selembar tissue ditangannya, duduk disofa disamping Arletta yang memiliki penampilan sama dengan Arana. Kedua matanya memerah dan sembab, hidungnya memerah dan tersumpal oleh tissue. Didepan mereka, televisi menampilan sebuah tayangan film dimana seorang wanita tengah menangisi seekor kucing yang terbaring dijalan dengan darah disekelilingnya. Nampaknya merupakan hal yang sedih.


Apa yang terjadi?


"Nak! Bisakah kamu membuka pintu dengan lebih lembut?! Kamu ingin membuat mama terkena serangan jantung?!"


Arana juga turut mengomel. "Kamu bahkan tidak melepaskan sepatumu dan masuk begitu saja. Lihat! Lantainya kotor!"


"Aku pulang sayang." Ia membungkuk, dan dengan lembut mendaratkan kecupan kedahi Arana, kebiasaan yang dia lakukan ketika dia pulang bekerja.


Wajah Arana memerah dan dia melotot dengan cara lucu. "Al!"


Tersenyum, Alva menoleh memandang sang mama yang memincing menatapnya. "Mama kapan datang? Kenapa tidak mengabari Al?"


"Bahkan jika mama mengabari kamu, memangnya kamu akan menjemput mama?"


Alva menggeleng. "Erlan yang akan menjemput mama."


Arletta mendengus dan kembali melanjutkan menonton film sembari mengusap air matanya dan bergumam memanggil Arana dengan gembira ketika adegan di televisi menampilkan kucing itu membuka kembali matanya. "Nana! Luca kembali hidup!"


"Tentu saja! Sudah pasti Luca tidak akan kehilangan nyawanya karena dia adalah cinta sejati Amigo!"

__ADS_1


Alva memandang keduanya dan televisi denga kosong. Sebenarnya, ternyata itu adalah film hewan peliharaan yang bermutasi sehingga bisa memiliki kekuatan super.


"Jadi sebenarnya kalian berdua menonton film ini sampai menangis?" Alva bertanya karena tidak habis pikir.


Arana dan Arletta menoleh dengan cepat. "Tentu saja!"


Alva bertanya kembali. "Film seperti ini, bagian mananya yang sedih?"


Arana berkata, "Semuanya, Al! Saat Hima kehilangan kelinci kecilnya yang menggemaskan karena menjadi penjahat. Saat Luca tidak bisa lagi bertemu dengan Amigo. Saat Luca hampir kehilangan nyawanya. Semuanya sedih."


Arletta tidak ketinggalan. "Kamu ini. Sejak kecil sama sekali tidak bisa mengerti perasaan seorang perempuan saat sedang menonton film sedih dan menghina dimana letak sedihnya. Bukankah lebih baik kamu mengambilkan mama dan Arana popcorn lagi dan beberapa kaleng jus buah didalam kulkas daripada bertanya dimana letak sedihnya saat kamu tidak bisa mengerti seni film?"


Arana menganggukkan kepalanya dengan kuat, setuju dengan pernyataan Arletta yang benar-benar membuat Alva tidak mampu berkata-kata.


"Nana, lihat. Bukankah sepertinya Lila tampak mencurigakan?"


Arana menganggukkan kepalanya. "Benar, ma. Bagaimana jika dia sebenarnya penjahatnya dan bukan Ceci?"


"Eih! Tidak bisa diterima!"


Melihat keakraban dan suasana harmonis diantara keduanya, Alva mau tak mau mengungkapkan senyuman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sebab istrinya sangat istimewa.


"Nan, apa yang kamu lakukan berdiri disana? Ambilkan popcorn dan jus kalengan untuk mama dan Nana. Adegan selanjutnya benar-benar membutuhkan popcorn!"


Mendengarkan perkataan sang mama, wajah Alva benar-benar terdistorsi.


Baiklah, lupakan saja.


Mamanya sangat luar biasa.


__ADS_1


[Selamat berpuasa bagi yang merayakan, ya! Semangat 45!]


__ADS_2