
Pria muda itu duduk disebuah meja panjang didepan bartender ketika dia sedang menikmati segelas coktail di dalam salah satu bar terkenal dikota itu. Wajahnya yang tampan menarik perhatian banyak wanita penghibur yang bekerja di bar itu, dan tak jarang dari mereka mencoba menggodanya, yang tentu saja ditanggapi dengan agresif oleh pria bersurai pirang itu.
Setelah mendapatkan ciuman dan sentuhan, para wanita itu puas dan melangkah menjauh untuk menjamu tamu lainnya.
Menenggak cairan berwarna kuning jernih didalam gelas, maniknya melirik kearah sampingnya ketika merasakan ada gerakan disana.
Ada seorang wanita muda yang mengenakan mini dress berwarna hitam yang hampir mencapai pangkal pahanya dan potongan dada yang dikenakannya rendah, cukup untuk memperlihatkan setengah aset yang dimilikinya, terhias kerlip kalung permata putih yang dikenakannya. Sama halnya dengan kalung yang dikenakannya, gelang dan anting-anting menghiasi tubuhnya, dan jelas menampilkan statusnya sebagai orang kaya.
Wajahnya cantik, beberapa bisa mengatakan bahwa wajahnya menjurus kepada aura sensual yang penuh dengan godaan, dan dia memiliki daya tarik yang cukup memuaskan bagi laki-laki kebanyakan, terutama bibir merahnya yang tebal, seakan mengundang para pria untuk mencicipinya.
"Sendiri?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh sang pria sebagai basa-basi untuk berkenalan dengan wanita cantik disebelahnya.
Wanita itu menoleh, memegang segelas coktail berwarna jernih dan menyunggingkan senyuman miring yang terlihat cantik. "Ya, apa pria tampan sepertimu juga sendiri? Sayang sekali."
"Josh." Memperkenalkan dirinya sebagai Josh, pria itu mengulurkan tangannya, menunggu balasan dari sang wanita yang tidak membuatnya menunggu terlalu lama. "Namaku Issabel. Kau bisa memanggilku Bel, begitulah orang-orang memanggilku."
Josh mendekatinya, mengendus aroma parfum mahal yang dikenakannya dan bertanya dengan nada agresif sembari mengulurkan tangan untuk mengusap pahanya yang terespos bebas. "Tertarik untuk bermain denganku, nona Bel?"
Wanita itu menyunggingkan seringaian dan tidak menolak sentuhan pria itu. "Mengapa tidak?"
Beberapa jam kemudian, didalam sebuah kamar, wanita itu berdiri didekat jendela, menggigit rokok diujung bibirnya dan memegang ponsel ditangan kanannya. Tubuhnya yang polos tertutup bathrobe berwarna merah yang sesuai dengan nuansa kamar hotel itu. Maniknya yang tajam memandang dingin seseorang yang terbaring diatas ranjang dengan selimut yang menutupi tubuh bawahnya yang setengah telanjang.
__ADS_1
Ia meniup asap dari rokok, dan bergumam pada seseorang diseberang telepon. "Sudah kulakukan, bayarannya benar-benar harus mahal."
[Bagus, pastikan untuk membuatnya meninggalkan Alana.]
Wanita itu menyunggingkan senyuman. "Akan aku kabari perkembangannya, Lan."
...***...
Pada pukul 9 malam, Arana sudah sampai di bandara yang ada di Jakarta. Meski memang malam, Arana bersyukur bahwa Alva mengabarinya bahwa dia akan sampai besok pagi yang berarti Arana masih memiliki kesempatan untuk sampai dirumah lebih awal dan tanpa harus takut ketahuan. Arana menyunggingkan senyuman didalam taksi online yang dipesannya dan dengan tenang memainkan ponselnya, ketika dia kemudian merasakan keanehan setelah beberapa waktu kemudian.
Ia ingat jalan menuju daerah appartemennya, dan setelah melewati jalan tol, seharusnya jika dari arahnya, ia harus berbelok kekanan, namun supir terus menginjak gas dan melalui jalan lurus.
"Pak? Kenapa tidak belok? Bukankah jalannya seharusnya mengambil persimpangan tadi?" Tanya Arana dengan kewaspadaan.
Mendengar jawaban terencana dari sang supir membuat Arana memiliki banyak keraguan didalam hatinya. Ia diam-diam melepaskan sabuk pengamannya dan memandang penuh kewaspadaan dan kecurigaan yang besar kepada sang supir. Jantungnya berdentum dengan keras, dan keringat tercetak di dahinya. Ia melirik sekelilingnya, dan jalanan cukup ramai pada saat itu. Arana merasa sedikit lebih aman dengan keramaian. Jika sang supir berani berbuat macam-macam, dia bisa memecahkan jendela mobil dengan ponselnya dan dia bisa melompat keluar dan meminta pertolongan.
Namun pada akhirnya, ia merasa terlalu overthinking sebab mobil itu sudah berhenti dibasement apartemen tempat tinggalnya.
"Sudah sampai, nona.'
Arana benar-benar merasa malu bahwa dia sudah menaruh kartu orang jahat pada orang lain dengan status tuduhan, dan dia diam-diam mencoba menyembunyikan rona merah diwajahnya, membayar dan keluar dari mobil tersebut. Sang supir membunyikan klakson mobil dan menjalankan mobilnya menjauh dari Arana yang membungkuk, membalas sapaannya dan diam-diam meminta maaf karena menuduhnya dan mencurigainya didalam hatinya.
__ADS_1
Meskipun itu adalah tindakan benar untuk selalu waspada pada hal yang mencurigakan, Arana juga tetap malu jika prediksinya salah.
Menghela napas dan menggelengkan kepalanya, Arana berbalik hanya untuk menemukan seorang pria bermasker hitam dan berjaket hitam berdiri dihadapannya. Ia bahkan belum sempat bereaksi menjauh ketika sepasang tangan pria itu menahannya dan menutup hidungnya menggunakan kain.
"Hmph!!"
Aroma aneh menyeruak, seberapa lamapun dia mencoba menahan napas dan memberontak, dengan tubuh kekar pria itu, Arana kalah dalam kekuatan dan pria itu berhasil memaksanya untuk menghirup sesuatu didalam kain itu.
Rasa kantuk menyerangnya ditengah perlawanannya. Dengan kekuatan terakhirnya, dia mendorong pria itu dan mencoba berbalik kabur. Namun karena kesadarannya yang semakin menipis, dia tersandung kakinya sendiri dan terjatuh.
Kepalaya pusing, dan maniknya berkunang-kunang. Ia mencoba menstabilkan kesadarannya dengan menampar wajahnya sendiri, dan dia mencoba berdiri kembali untuk kabur. Namun pria disana bukanlah patung atau benda mati. Hanya didorong tidak membuatnya terluka, dan dia dengan kejam menjambak rambut Arana, membuat gadis itu meringis setelah memekik samar dan pada akhirnya karena ketidaksadarannya yang berangsur-angsur menipis, dia memejamkan matanya dan pingsan.
Pada saat yang bersamaan, didalam mobil yang ditumpangi Alva, pria itu mengerutkan kening ketika Arana tidak menjawab panggilan teleponnya. Erlan mengatakan bahwa Arana sudah tiba dibandara pada pukul 9 tadi, dan seharusnya dia sudah sampai diapartemen saat ini.
Apa mungkin tertidur?
"Mungkin dia kelelahan, bos." Ucap Erlan yang melihat kegelisahan Alva disampingnya.
"Mn." Gumam Alva acuh tak acuh.
Alva menekan perasaan tidak nyaman didalam hatinya dan diam-diam memejamkan matanya sebelum memandang langit malam dari dalam jendela mobil. Mungkin memang benar.
__ADS_1
Mungkin, Arana memang sedang beristirahat.