My Beloved Arana

My Beloved Arana
EKSTRA BAB 5


__ADS_3

EKSTRA BAB 5 — ABOUT ARSELYNE


Setelah mengantar Arana ke bandara, Arselyne dan Amber kembali kerumahnya dan menemukan keberadaan seseorang tambahan didalam rumahnya selain Cella dan Jake. Pria itu mendongak dan memandang Arselyne selama beberapa saat sebelum kembali memandang ponsel ditangannya. "Halo, nak. Lama tidak berjumpa."


"Sedang apa ayah disini?" Arselyne melirik Alard sebelum menatap Cella dengan tatapan bertanya yang dibalas dengan kedikan bahu.


"Memangnya tidak boleh ayah kesini?" Alard bertanya sembari menyesap americano dari cangkir yang baru diangkatnya dari tatakan diatas meja.


Arselyne meliriknya selama dua detik sebelum mendaratkan pantatanya yang berlapis jeans ke atas sofa diseberang Cella sementara Amber duduk tak jauh darinya dan mulai mengobrol dengan Cella tentang Arana selama perjalanan menuju bandara tadi. Amber bercerita dengan penuh semangat dan beberapa kali sampai membuat gerakan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat menarik baginya. Cella dan Jake juga mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Ayah kapan pulang?" tanya Arselyne.


Alard merespon dengan pertanyaan, "Bagaimana denganmu?"


"Lusa."


"Kalau begitu ayah juga lusa." Mendengar jawaban Alard membuat Arselyne memutar bola matanya malas. Ayahnya yang satu itu tidak bisa sehari saja terpisah darinya. "Memang pekerjaan ayah tidak akan menumpuk?"


"Ada Dio. Lagipula, ayah juga butuh liburan." Kata Alard sembari menscroll layar ponselnya.


"Tapi kamu benar-benar tidak apa, nak??" Pertanyaan dari Alard membuat Arselyne sedikit terdiam selama beberapa waktu sebelum menganggukkan kepalanya dan bersandar ke sofa. "Tentu saja baik, yah. Ayah kan mengenalku dengan baik."

__ADS_1


"Arse." Panggilan itu membuat Aeselyne mendongak menatap Cella. "Istirahatlah. Kamu pasti lelah hari ini. Kami tidak akan mengganggumu."


Arselyne sedikit diam sebelum menganggukkan kepalanya dan tanpa kata melangkah menuju tangga dan naik untuk pergi ke kamarnya. Mereka yang ada dibawah memandang Arselyne dengan tatapan yang berbeda-beda.


"Arse terlihat sedih sekali." Gumam Jake membuat Cella menghela napas sama halnya dengan Amber yang duduk diseberang Cella.


Cella bergumam merespon, "Bagaimanapun Lily sudah menganggap Arana sebagai kakak perempuannya sendiri. Kalian bertiga sudah berteman sejak lama, bersekolah, bermain, makan bahkan tidur sudah sering bersama. Tante bahkan ingat kalian sudah seperti kembar tiga. Kehilangan salah satu dari kalian seperti ini, tentu saja membuatnya dan bahkan membuatmu sedih, tante mengerti."


"Meski itu bukan dalam artian kehilangan yang benar-benar hilang, namun kalian sudah bertambah dewasa dan sudah memiliki kehidupan sendiri, dan itulah yang paling ditakutkan oleh Arse."


Amber menghela napasnya dan dengan lembut menganggukkan kepalanya. "Lily pasti masih takut akan masa depannya."


"Anak itu terlihat sangat tegar, namun dia sebenarnya begitu bergantung. Sejak kecil, dia sudah merasa bahwa kamu dan Nana adalah orang terdekatnya. Kamu sebagai tempatnya bercerita dan Nana sebagai tempatnya bersandar. Sekarang dia harus kehilangan tempatnya bersandar seiring bertambahnya usianya, dan tante tahu bahwa dia sedang merasa ketakutan sekarang."


"Jika bukan karena kejadian waktu itu ..." Amber menahan suaranya dan tidak melanjutkan.


Cella tersenyum, "Itu hanya masa lalu, Amber."


Disisi lain, mendengar perbincangan Cella dan Amber membuat Alard yang sedari tadi tidak mengucapkan sepatah katapun mengepalkan tangannya dengan penuh jejak kemarahan dimatanya saat ia menunduk. Kejadian mengerikan itu masih terngiang jelas dikepalanya. Hal yang sama yang membuatnya bercerai dengan Cella dan terpaksa harus meninggalkan Arselyne sampai sang putra beranjak remaja. Alard tidak menyesal bercerai dengan Cella karena hubungan keduanya juga tidak muluk karena cinta. Namun Alard begitu kecewa pada dirinya sendiri karena pada saat itu dia tidak bisa melindungi hal berharga dihidupnya.


Pertama kali bertemu dengan Cella, Alard ingat bahwa wanita itu mengenakan dress berwarna merah yang sangat berani. Pada awalnya Alard mengira bahwa Cella baru saja terjun keperjamuan setelah lulus sekolah menengah atas, namun ia tidak menyangka bahwa penampilan Cella dan usianya begitu terpaut jauh.

__ADS_1


Kemudian wanita itu diperkenalkan oleh orangtuanya sebagai calon tunangannya dan keduanya dijodohkan untuk menyatukan kedua perusahaan besar mereka.


Alard tahu bahwa dirinya tidak mencintai wanita itu, dan ternyata Cella juga bukanlah wanita yang mudah jatuh cinta. Keduanya menikah atas dasar perjanjian lisan hanya untuk mempertahankan kerjasama diantara kedua keluarga besar mereka. Memasuki usia pernikahan ke dua, setelah memikirkan banyak pertimbangan, Cella dan Alard setuju untuk memiliki keturunan yang kedepannya akan mewarisi perusahaan keduanya dan pada akhirnya mereka memiliki Arselyne ditahun ketiga pernikahan mereka.


Tujuh tahun kemudian, tepat di usia kesepuluh pernikahan keduanya, ada satu kejadian yang membuat Alard memutuskan bercerai dengan Cella. Cella menerima perceraian itu dengan lapang dada dan tidak ada penyesalan diantara keduanya, sebab pada bulan ketiga setelah perceraian, Cella kembali bersama dengan Jake yang juga merupakan temannya sewaktu sekolah menengah dan memperkenalkan pria itu sebagai calon suaminya sekaligus ayah tiri dari Arselyne.


Alard masih sering mengingat kejadian itu, dan kemarahannya tumbuh dihatinya, seolah itu tidak pernah padam.


Karena pada saat itu, putra kesayangannya hampir mati ditangan musuhnya.


...***...


Didalam kamarnya, Arselyne bersandar dijendela kamarnya sembari memandang keluar. Cahaya dari lampu taman sedikit memberikan cahaya untuk kegelapan kamarnya. Tatapannya yang samar memandang lurus kedepan, namun jelas siapapun bisa melihat bahwa pikirannya sedang berkelana dan sedang tidak ada ditempatnya.


Ada banyak hal yang ada didalam pikiran Arselyne.


Ingatan itu kembali menghantuinya, dan untuk beberapa alasan dia merasa sedikit ketakutan. Ia mencengkam ambang jendela dan mencoba menyalurkan emosi dan perasaanya kedalam setiap tekanan yang dia berikan. Ia memejamkan matanya selama beberapa saat sebelum menutup jendela dan membanting dirinya ke tempat tidur.


Ia membenamkan wajahnya kedalam bantal sebelum mengambil ponselnya yang sudah ada diatas bantal sejak tadi dan dia menyalakan layar ponselnya. Wajah Arselyne dengan jelas menyampaikan emosinya. Setiap gurat wajahnya memperlihatkan dengan jelas apa yang dia pikirkan. Arselyne hanya anak yang penakut dan pendiam sejak dulu, namun karena kenyamanan, dia keluar dari cangkang itu dan menjadi pribadi yang lebih berani dan mandiri. Namun, ketika dia harus mulai kehilangan kenyamanan itu karena sebuah keharusan, Arselyne merasa krisis dalam dirinya, namun dia tahu bahwa dia harus menghadapi krisis itu untuk menyelamatkan dirinya.


"Nana."

__ADS_1


Arselyne, mencintai Arana.



__ADS_2