My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 109: Amber Problem


__ADS_3

"Benarkah? Itu bagus untuk mengetahui bahwa Arnando suka bermain musik. Amber juga mencintai musik melebihi apapun."


Ketika Amber mendengar hal itu saat dia menapak di anak tangga, Amber tidak bisa menahan cibiran dihatinya. Dengan balutan dress pendek, Amber tampak menawan dengan surai pirangnya yang dibiarkan tergerai bebas. Jika penampilan biasanya adalah gadis urak-urakan, penampilannya saat ini membuatnya terlihat seperti peri.


Sepasang maniknya memandang dingin kearah sekelompok orang yang duduk di meja panjang. Rumahnya adalah mansion dengan perpaduan unsur modern dan kesan clasik. Perabotan antik bisa dilihat disepanjang mata memandang dengan kesan naturalis dan spiritualis. Pilar-pilar besar membentang dan mengelilingi ruang tengah yang merupakan sebuah balroom, berisi meja makan bundar besar yang biasa digunakan untuk acara kumpul keluarga, dengan lampu gantung dari permata asli yang berpendar membawakan warna emas yang mulia. Namun karena saat ini hanya ada beberapa orang, meja ditukar menjadi meja bundar yang berukuran lebih kecil.


Kedatangannya membawa atensi penghuni meja untuk menoleh, memandang Amber yang berjalan dengan cara yang paling anggun yang sudah tertanam dalam dirinya sejak ia masih kecil.


"Ini dia putri kecil kami, Amber." Wanita berlipstik merah gelap itu menarik senyuman, "Nak, kemarilah dan sapa tuan dan nyonya Estanor."


Amber memandang pasangan paru baya yang nampak memiliki penampilan berminyak ditubuh mereka. Pria tua bertubuh gemuk yang memandangnya dengan tatapan aneh, seorang wanita gemuk yang saking gemuknya hingga matanya menyipit, dan seorang pemuda yang nampak memiliki tatapan sopan, namun Amber bisa melihat kebusukan disenyumnya. Sungguh, keluarga mana lagi ini?


Membungkuk sesaat, Amber hampir tidak mengeluarkan suara ketika dia melangkah duduk disamping sang mama, Leviana.


Leviana memandang Amber dengan senyuman, namun Amber menyadarinya sebagai sebuah ancaman. "Amber, sapa mereka."


Amber terpaksa harus menyunggingkan senyuman setipis benang dan memandang mereka dengan sepasang manik yang tidak tersenyum sedikitpun. "Selamat siang tuan dan nyonya. Selamat siang tuan muda, senang berjumpa dengan anda."


Jika boleh mengatakannya, Amber adalah keturunan bangsawan. Meski bukan bangsawan murni, Amber adalah bangsawan yang memiliki kedudukan cukup tinggi di sana. Namun, status yang dimilikinya tidak pernah sekalipun membuat Amber merasa berbangga diri. Jika bisa dikatakan, Amber membenci statusnya.


Tuan Estanor menyunggingkan senyuman dan matanya tidak lepas dari Amber. Mengobservasinya dari atas kebawah, sebelum senyumnya semakin lebar. "Sangat cantik seperti yang dikatakan nyonya Leviana. Kecantikannya mungkin menurun dari nyonya."


Putranya menyahut dengan ringan. "Juga terlihat sangat muda untuk dikatakan bahwa dia akan segera berusia 20 tahun. Putri anda benar-benar sangat cantik dan manis, bibi."

__ADS_1


Leviana tersenyum dengan tenang, mengangkat cangkir ditangannya dan menyesapnya dengan tenang. Perasaan bangga tidak bisa tertahankan, dan dia mengangkat sudut bibirnya dengan cara yang anggun, namun sebenarnya dia begitu angkuh dan arogan. Amber melirik sang mama dengan dingin, dan mencibir dalam hatinya sebelum dengan tenang meraih sendok teh disamping cangkir tehnya dan mengaduk teh didalamnya dengan berulang.


Tepat ketika dia hendak mengangkat tehnya, ada sentuhan dibetisnya.


Amber melirik kebawah, dan menemukan sepatu dengan gerakan halus menelusuri betisnya keatas dan kebawah. Ketika mendongak, Amber menemukan tatapan pria tua itu. Ekspresi Amber semakin dingin, dan dia menunduk dalam diam. Ia mengulurkan tangannya kebawah, dan dengan tenang meraih kaki yang menyentuh betisnya dan memelintir pergelangan kakinya dengan cara yang halus, namun mantap tanpa menimbulkan gerakan ditubuhnya.


"Ahh!!"


Teriakan itu mengejutkan seisi meja. Bahkan Amber juga memasang wajah terkejut untuk menutupi tindakannya. Istri pria itu segera memandang sang suami dan dengan cemas bertanya. "Sayang, ada apa denganmu?"


Pria itu dengan kesakitan memegangi kakinya, namun dia tidak berani berucap apa-apa. Jika dia mengatakan alasan rasa sakitnya, dia jelas juga akan terekspos. Ia mengeratkan giginya dan menggelengkan kepalanya. "Kakiku hanya tiba-tiba kram. Aku merasa sakit saat menggerakkannya, namun sudah tidak masalah sekarang."


Mendengarnya, nyonya Estanor memastikan sekali lagi dengan pertanyaan sebelum yakin ketika suaminya mengangguk. Akhirnya, obrolan mereka dilanjutkan kembali. Tuan Estanor melirik Amber yang memandangnya dengan dingin. Pria tua itu berani bersumpah bahwa dia melihat Amber menarik sudut bibirnya dengan tatapan mencemooh, sebelum dengan tenang menanggapi pertanyaan yang dilayangkan kepadanya.


...***...


Plak!


Ketika acara itu selesai, Leviana melayangkan tamparan keras kepipi Amber ketika mereka tengah berada dikamar Amber. Tamparan itu membuat kepala Amber tertoleh, sebelum ia menoleh dan menampilkan wajahnya yang memiliki luka panjang dipipinya.


"Sial, kau menggoresnya dengan kukumu." Kata Amber sembari menyentuh pipinya yang terasa perih.


Namun bukannya berhenti, Leviana justru mengangkat tangannya kembali dan melayangkan tamparan dipipinya yang lain. Sekali, dua kali dan sekali lagi. Sampai ketika ia hendak menampar lagi, Amber menahan tangannya dan memandangnya dengan mata berdarah. Sepasang mata memerah itu melotot menatap tajam Leviana yang memekik.

__ADS_1


"Kau melakukannya lagi, kan?! Berapa kali aku bilang padamu untuk tidak melakukannya lagi? Apa kau tahu seberapa sulitnya aku mendapatkan koneksi untuk mengundang mereka makan bersama, huh?! Dan kau mematahkan kakinya!!"


Amber menghempaskan tangan Leviana dan berkata dengan ringan setelah meludahkan darah dimulutnya. "Sebenarnya tidak patah. Hanya membuatnya pincang saja."


"Amber!" bentak Leviana.


Amber mengangkat wajahnya, melemparkan dirinya ketempat tidurnya dan dengan tenang menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Jika mama mencari dengan cermat, aku tidak akan membuat masalah selama ini. Setahun yang lalu, mama mencari seorang pria, mama kira dia baik tapi aku tahu bahwa dia adalah seorang pecandu narkoba karena dia adalah teman sekolahku. Empat bulan lalu mama memintaku bertemu dengan orang yang mama pilih. Mama tahu kenapa aku memukulinya? Karena dia menyeretku kehotel dan hendak berbuat buruk padaku! Dan sekarang ..."


Amber hampir tidak bisa meneruskan kata-katanya dan dia dengan dingin menekan suaranya. "Pria tua itu mencoba merayuku dibawah! Apa mama tidak bisa menerka bagaimana kakinya bisa sampai ke tanganku bahkan saat aku tidak sedikipun membungkuk?"


Leviana memandang Amber selama beberapa waktu dalam keheningan, sebelum dengan ringan berkata kepada Amber. "Memangnya apa yang salah dengan menggunakan narkoba? Apa yang salah dengan mengajakmu ke hotel? Apa yang salah dengan pria tua? Selama mereka kaya, bukankah kamu juga akan hidup dalam kemewahan dan kenyamanan?"


"Pria yang kamu sebut pecandu adalah putra pengusaha kaya di Dubai, dia memiliki lebih dari ratusan miliar aset atas namanya sendiri. Pemuda yang mengajakmu kehotel adalah pengusaha dengan ribuan cabang perusahaan yang bekerja dibidang ekspor dan impor. Kemudian tuan Estanor, dia adalah salah satu dari sekian banyak bangsawan yang memiliki kekayaan yang melebihi kita! Jika kau mendapatkan salah satu diantara mereka, atau bahkan ketiganya, lihat seberapa mewahnya dan nyamannya gaya hidupmu!"


Amber semula tercengang mendengar perkataan Leviana sebelum dengan cepat tertawa terbahak-bahak sehingga dia berguling-guling ditempat tidurnya. "Hahahaha!!"


"Seperti itulah bagaimana mama memanjat ranjang ayah untuk mendapatkan kekayaannya. Menggunakan obat-obatan untuk merangkak ke pangkuan pria yang lebih tua sepuluh tahun dari mama! Itu yang ingin mama turunkan padaku? Menjijikkan!" desis Amber kemudian.


Leviana hendak mengangkat tangannya untuk kembali menampar Amber ketika Amber berdiri dan memandang Leviana dengan nyalang.


"Aku selamanya bukan anak kecil, ma. Jika aku sudah kehilangan kewarasanku, aku tidak akan pernah takut untuk membunuh mama."


__ADS_1


__ADS_2