My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 101: Al, Divorce Me


__ADS_3

"Bukan aku! Tolong ... dengarkan aku dulu."


Ia nampak ketakutan dengan kekejaman dimata Alva, dan dia mendadak gugup dan kehilangan keberanian yang dia miliki diawal kedatangannya. Melihat bahwa pria itu ingin berucap, Erlan menarik Alva kebelakang, menghindari kebringasan Alva. Erlan memang terkadang takut pada Alva yang sudah menampilkan emosinya yang sesungguhnya, namun Erlan adalah sahabatnya dan dia tahu bahwa dia harus berani menghalangi Alva seperti ini suatu waktu.


"Tenangkan dirimu, Al. Dia mungkin ingin mengatakan sesuatu yang penting." Ucap Erlan.


"Anda bisa mengatakan apa yang ingin anda sampaikan," lanjutnya sembari memandang sang bartender--Chio.


"Terima kasih," lega Chio sebelum melanjutkan kata-katanya, "Saya tahu bahwa saya mungkin terlihat mencurigakan dan apa yang akan saya katakan terdengar aneh. Namun saya benar-benar ingin berbuat baik."


"Saya khawatr bahwa apa yang sudah terjadi dengan istri anda sudah direncanakan." Ungkap Chio.


"Apa maksudnya?" tanya Alva.


"Sebenarnya, kemarin malam, ada seorang wanita yang mendatangi saya. Dia mengenakan fashion yang aneh dengan masker dan kacamata hitam bahkan topi pantai lebar yang membuatnya tidak bisa dilihat dengan jelas. Dia memberi tahu saya bahwa dia memiliki penawaran untuk saya." Jelas Chio.


"Dia menyodorkan sebungkus obat yang dia bilang harus saya campurkan untuk seseorang tamu, dan dia menawarkan uang sebesar lim ratus juta."


Dia segera mengimbuhi. "Jangan salah paham dahulu. Saya berani bersumpah bahwa saya menolak tawarannya dan mengusirnya hari itu karena dia begitu mencurigakan dan aneh. Tolong percaya pada saya bahwa saya tidak melakukannya. Saya mencintai pekerjaan saya dan tidak ingin mengotorinya dengan tindakan tercela seperti itu. Bahkan jika anda tidak percaya, anda bisa memeriksa rekaman pengawas bahwa saya menolak cek senilai limaratus juta itu dan menyuruh wanita itu pergi."


Alva mendengarkan dengan seksama dan maniknya menggelap. Ternyata dugaannya benar bahwa seseorang itu kembali mencoba menyakiti Arana.


Bahkan sekarang dengan cara yang lebih kejam dan tidak berperikemanusiaan.


"Tapi anda yang membuat minuman kami saat itu, kan?" tanya Civanya.

__ADS_1


Chio menganggukkan kepalanya. "Untuk kalian, ya. Namun satu minuman biru itu tidak. Rekanku yang membuatnya karena aku tidak bisa membuatnya."


Erlan mengerutkan keningnya dan bertanya, "Lalu dimana rekanmu?"


Chio menelan ludahnya. "Masalahnya, nomornya tidak aktif ketika aku mencoba menghubunginya setelah kejadian itu. Aku pikir, memang ada yang aneh dengannya, dan aku mendatangi rumahnya, dan hasilnya ... rumahnya kosong."


Erlan berhasil mengambil kesimpulan. Seseorang menyuruh bartender didepannya mencampur obat perangsang kedalam gelas Arana, namun pria didepannya menolak. Karena dia tidak bisa diajak kerjasama, wanita itu mengajukan tawaran yang sama pada rekannya, dan rekannya itu menerima iming-iming limaratus juta dan melakukannya tanpa sepengetahuan bartender didepannya ini, dan melarikan diri dengan limaratus jutanya setelah berhasil menjalankan tugasnya.


Tangan Alva terkepal, dan giginya bergemeletuk. Melihat reaksi Alva, Erlan terlebih dahulu berkata, "Aku akan menyelidiki rekan kerjanya dan menemukan pelakunya. Tenangkan dirimu dan bersih-bersihlah. Istrimu memerlukan dirimu untuk menemaninya."


Alva mengangkat wajahnya dan memandang wajah tegas Erlan sebelum memejamkan mata, menghela napas dan menstabilkan emosinya. "Terima kasih, Lan."


"Jangan dipikirkan." Ucap Erlan.


...***...


"Sayang, kumohon bangunlah."


"Maafkan aku. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Aku menjadi pecundang yang mengingkari janjiku sendiri untuk tidak akan pernah membiarkanmu terluka. Sayang, maafkan aku." Lirihnya pada Arana yang masih bergelung nyaman dengan alam mimpi, mengabaikan sesaat luka fisik dan psikis yang dialaminya.


Alva tidak menyadari berapa lama dia disana, namun ketika dia membuka matanya, dia tengah tidur membungkuk sembari menggenggam tangan Arana yang bergetar. Manik Alva melebar, ia dengan senyumannya mendongak untuk menyapa Arana yang sudah tersadar, ketika dia dikejutkan dengan pemandangan didepannya.


Manik Arana nampak kosong, air mata menggenang diwajahnya yang kuyu dengan emosi yang kompleks. Arana tidak sedikitpun memandangnya, dan dia memandang lurus kedepan, entah pada apa yang dilihatnya.


"Sayang?"

__ADS_1


Meskipun Arana mendengar panggilan Alva, otaknya terlalu tersumbat untuk merespon. Kepalanya berdengung dengan kemarahan, kesedihan dan emosi lainnya yang membuat Arana ingin menjerit dan berteriak selayaknya orang gila tanpa beban. Arana memandang kosong kedepan, dan tubuhnya terasa mati rasa.


Ingatan-ingatan melintas dikepalanya. Rasa sakit dan kebencian yang dia rasakan atas penghinaan yang dia terima. Perlawanan yang dia lakukan hingga batasnya, dan tatapan mata menjijikkan yang mencoba untuk menggagahinya, membuat Arana begitu marah hingga menggunakan kukunya untuk mencakar mata itu.


Arana menyesal.


Dia begitu ketakutan dan tidak ingin berada disituasi mengerikan seperti ini lagi. Arana hanya ingin membantu, Arana hanya ingin membalas budi karena sudah dilahirkan kedunia. Arana tidak ingin sakit lagi, Arana tidak ingin ketakutan lagi. Semua tindakan masa lalu Alana mengantarkan malapetaka baginya, dan Arana sangat yakin bahwa yang dialaminya kali ini juga merupakan akibat dari seseorang yang membenci Alana.


Amarah timbul didalam hatinya yang selalu hangat dan manis. Ia menyalahkan Alana. Ini semua adalah kesalahan gadis itu karena begitu arogan dan tidak berhati sehingga menyakiti banyak orang dengan kata-kata kejamnya dan tindakannya yang membuat orang ingin muntah! Tubuh Arana gemetar karena rasa sakit dan rasa marah. Dia sudah dibuang sejak dia kecil. Dia sudah merasakan bagaimana kerasnya harus mengurus hidupnya sendiri tanpa ada orang lain yang mendukungnya, memeluknya dan mengucapkan terimakasiha atas kerjakerasnya. Memujinya hebat karena semangatnya.


Arana sudah hidup susah sejak lama. Hidup Arana sudah pahit sejak lama. Jadi mengapa dia harus menggantikan Alana dari semua konsekuensi yang harus diterima oleh kembarannya itu sendiri?


Mengapa dia harus mau?


"Sayang? Tidak apa, aku disini." Suara itu bergema ditelinganya. "Jangan takut, aku disini."


Suara itu menyadarkan Arana dari bayangannya. Ia memandang Alva dengan sepasang manik berkaca-kaca.


Benar, dia harus berada disituasi ini karena Alana tidak ingin menikahi pria ini. Dia berada disituasi ini karena dia yang harus menikahi pria ini. Dia terjebak dalam situasi ini ketika hatinya memilih pria ini, dan dia enggan untuk membuatnya membencinya dan menceraikannya.


Jika Alva menceraikannya, semuanya beres bukan?


"Al, ceraikan aku."


Arana ingin bercerai. Arana, ingin pulang.

__ADS_1



__ADS_2