
Berapa kalipun pertanyaan yang sama ditanyakan padanya, Alva tidak akan pernah ragu menjawabnya. "Aku mencintai Arana, ma."
Mendengar apa yang dikatakan Alva, Arletta tidak bisa menahan kelegaan dalam hatinya. Bagaimanapun, dia memang tidak pernah menyukai Alana bahkan, dia merasa tidak rela menyerahkan putranya untuk menikahi gadis yang tidak tahu sopan santun dan angkuh itu. Namun, Arletta tidak bisa menolak keinginan dan keteguhan hati Alva yang seumur hidupnya tidak pernah meminta apapun kepadanya ataupun kepada Jordan.
Pada awalnya dia datang ke aparteman Alva untuk mengetahui keadaan putranya, namun dia tidak menyangka akan menemukan penemuan besar seperti itu.
Dia mengobrol banyak dengan Arana. Semakin lama obrolan mereka semakin dalam dan mereka memiliki banyak kesamaan.
Mulai dari memanggang, memasak dan bahkan sampai menonton film dan kecintaan kepada binatang. Arana adalah sosok menantu yang benar-benar diinginkan dan diidam-idamkan oleh Arletta. Bahkan putranya yang dingin dan tidak mudah luluh pada seseorang bisa beralih menyukainya--tidak, mencintainya hanya dalam waktu singkat.
Ia bahkan dengan jelas dapat membandingkan karakter kedua gadis itu hanya dalam sekali pandang.
Flashback
Sebelum menonton film, Arletta dan Arana sebelumnya pergi ke supermarket untuk membeli jagung popcorn dan jus kalengan untuk dinikmati bersama-sama. Disana, Arletta dan Alva tengah memilah-milah rasa jus yang diinginkannya ketika dia tidak sengaja menangkap sosok anak laki-laki terduduk diatas kursi roda dan meluncur turun dari escalator. Dengan refleksnya, Arana berjaga dibawah dan langsung menangkap anak laki-laki itu kedalam pelukannya bersamaan dengan terikannya pada kursi roda agar tidak merusak escalator.
Anak itu menangis, namun suaranya pecah. Sepasang maniknya linglung, dan dia sangat ketakutan.
Arletta dengan cepat menghampirinya, menyaksikan Arana dengan tulus memeluk anak laki-laki itu, mengusap punggungnya dan mengiburnya.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, kakak sudah menangkapmu."
Ia meraih wajahnya dan mengusap air matanya dengan lengan bajunya, tidak memikirkan ingus anak itu yang menempel disana. Dengan lembut dan penuh penghiburan berkata, "Lihat, tidak ada yang perlu ditakuti saat ini, kan? Kamu sudah baik-baik saja."
"Lihat, apakah ada yang terluka? Emm, oh, ada. Wajahnya yang tampan terluka karena air mata. Cup, cup, cup. Sudah, tidak perlu menangis lagi."
Arletta benar-benar tertegun dan tidak bisa mengatakan apapun. Lengan gadis itu terluka, memiliki lebam keunguan ketika dia mengabaikannya, menyembunyikannya dan menghibur anak dipangkuannya. Bahkan tidak segan membuat ekspresi konyol yang membuat anak itu melupakan ketakutannya dan justru tertawa.
Flashback end.
Tidak banyak orang muda yang sepertinya, bahkan ketika mereka melihat suatu kejadian, bukannya menolong, kebanyakan dari mereka justru bergegas mengeluarkan ponsel mereka dan merekam kejadian yang terjadi untuk memviralkan berita tersebut.
Arletta tahu, jika itu Alana, bahkan dia tidak mungkin bergegas kearahnya dan menangkap anak itu. Jika itu Alana, ia bahkan mungkin tidak akan mau menemaninya ke supermarket karena alasan panas dan ramai.
__ADS_1
Tentu saja.
Arletta bertanya, "Apakah Arana memperlakukanmu dengan baik?"
Alva tertawa. "Sangat ma. Bahkan masakannya seenak masakan mama."
"Benarkah?"
Alva nampak berpikir sebelum menjawab dengan serius. "Sebenarnya lebih enak masakan istriku, ma."
"Cih! Begitu, ya? Baiklah! Mama akan mengadukanmu pada papamu."
"Kamu harus menjaganya dengan baik, Nan."
Alva tersenyum. "Ma."
Arletta menjawab dengan ketus. "Apa?!"
Tidak ada sedikitpun ketidakseriusan diwajah Alva. Ia memandang Arletta yang juga memandangnya. Arletta menghela napas tanpa daya dan mengangguk. "Baiklah."
Jika putranya sudah yakin akan sesuatu, dia tidak bisa melakukan sesuatu. Arletta, selalu mempercayai apa yang diyakini oleh Alva.
Tapi sejak hari itu, Arana mendapati kunjungan Arletta menjadi setiap hari, dan bahkan tidak jarang wanita itu menginap.
***
"Sayang, jangan lupa mengabariku saat sudah sampai di kampus."
Arana menganggukkan kepalanya. Alva bergerak memeluk Arana, merengkuhnya dalam pelukan hangat. Ketika dia berharap bisa menerima pasokan energi semangat untuk hari ini dari Arana, dia tidak sadar dia juga memberikan pasokan semangat untuk Arana.
Melirik jam dipergelangan tangannya, Arana dengan cepat melonggarkan pelukan mereka, berjinjit dan mendaratkan kecupan ringan dipipi Alva sebelum memasuki mobil pribadinya yang dibelikan oleh Alva untuknya pergi kemanapun, asalkan bersama dengan Agus sebagai supirnya.
Terbengong di luar, Alva menyunggingkan senyuman, sepasang maniknya menyipit oleh senyuman dan dia menoleh sembari melambaikan tangannya pada Arana yang juga melakukan hal yang sama dari dalam mobil.
__ADS_1
Mellisa yang secara kebetulan ingin berangkat bekerja dan mengantarkan putranya kesekolah, melihat interaksi keduanya dan menyunggingkan senyuman geli. "Pasangan muda, aih! Aku benar-benar jadi ingin menelpon suamiku dan menyuruhnya cepat pulang agar bisa pamer kemesraan pada kalian berdua."
Menoleh, Alva tersenyum sopan pada Mellisa yang berdiri didekat pintu mobil pribadinya yang berwarna merah cerah.
"Kalau begitu saya akan mendoakan juga agar pekerjaan suami kak Mellisa segera selesai."
"Haha, aku juga berharap begitu." Kata Mellisa. Ia hendak membuka suaranya lagi ketika ada suara ketukan dikaca mobilnya, yang diketuk dari dalam.
"Astaga, iya sayang!" Ia berkata, menatap kaca. Sebelum ia menoleh dan berujar pada Alva yang masih menyunggingkan senyuman tipis kesopanan. "Aku harus segera pergi. Putraku benar-benar tidak ingin terlambat sebentar saja untuk menemui kekasih kecilnya. Aku pergi dulu, Alva. Titip salam pada Arana, ya."
Alva dengan tenang, dan membiarkan Mellisa memasuki mobilnya sendiri dan pergi. Alva memandang jam dipergelangan tangan kanannya dan bergerak memasuki mobil hitam mewahnya sebelum berangkat pergi untuk menuju perusahaannya.
***
Memandang ponselnya dan berkirim pesan dengan Amber, Arana tidak menyadari bahwa Agus yang duduk didepan nampak mengerutkan keningnya, memandang melalui spionnya.
Ia menoleh kesamping. Ada beberapa motor besar yang memepet mobilnya, nampak sengaja membuat Agus mau tak mau mengikuti gerakan motor itu yang menggiringnya menuju jalan yang lebih sepi daripada jalan utama itu. Merasakan keanehan, Arana mendongak dan mendapati wajah tegang Agus. Disekelilingnya, ada motor-motor besar yang mengepungnya.
Arana mengerutkan keningnya dan jantungnya berdentum keras ketika mobilnya diberhentikan dan jendelanya diketuk dengan kasar.
"Keluar!!"
Arana dengan panik memandang sekelilingnya dan mau tidak mau menyadari bahwa dia sedang ada dalam keadaan yang berbahaya. Begitu dia ingin mengangkat ponselnya untuk menghubungi Alva, pintu mobil terlebih dahulu terbuka dan sepasang tangan kekar menahan tangannya dan merebut ponselnya sebelum menariknya dengan keras keluar.
Arana tersentak, hampir jatuh tersandung.
"Jangan menyentuh nona Alana!" Agus mencoba menghalangi mereka, namun dua orang dari mereka dengan cepat menjatuhkan Agus dan menahan pergerakannya agar tidak mengganggu sang pemimpin yang memandang tajam Arana. Ia melangkah mendekat dan memandang Arana dari atas kebawah, yang membuat jantung Arana berdentum karena panik. Bahkan jika dia bisa membela dirinya, melawan sekelompok pria yang nampak ganas dan brutal ini tidak akan menguntungkannya sama sekali. Apalagi jika dia kabur, Agus masih ada dibawah tekanan mereka, dan Arana tidak ingin Agus terluka karena kecerobohannya.
"Kau Alana bukan?"
Arana membatin dengan penuh kepanikan. Tuhan, apa yang dilakukan Alana mencari masalah dengan preman seperti itu?!
__ADS_1