My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 63: Bad Plan


__ADS_3

Arana menarik napasnya panjang, menenangkan emosi dihatinya dan berkata, "Maaf."


Kemudian, ia mematikan panggilan telepon itu dan bersandar di sofa. Maniknya yang berkaca-kaca memandang kejendela. Cahaya matahari yang cerah. Burung terbang bebas, nampak seakan menghinanya karena tidak merasakan kebebasan sama sepertinya. Berkawanan dengan keluarga dan teman.


Sesungguhnya dia tahu bahwa sikapnya cukup impulsif. Dia seharusnya bisa menahan emosinya dan lebih bersabar menghadapi Ella.


Namun Arana bertindak egois kali ini.


Arana berani bersumpah bahwa dia tidak ingin membuat perusahaan Michael terkena masalah. Ia tidak pernah berharap bahwa Michael akan sebegitu marahnya, hanya karena kehilangan kerjasamanya dengan perusahaan ayah Ella. Dia tidak pernah memikirkan setiap ancaman yang dia dengar. Dia hanya diam, dan bertahan. Meski kekuasaan mereka menekannya, menghalangi untuk melangkah maju, Arana selalu diam karena ia berpikir akan ada saatnya dimana dia tidak akan tertekan dengan ancaman-ancaman mereka.


Kali ini, ketika dia setitik merasa sombong, merasa bahwa dia sudah memiliki sosok orangtua yang akan melindunginya, itu menjadi angan-angan bahkan menamparnya. Ia tetaplah pengganti.


Dan pengganti, tidak akan pernah mendapatkan perlakuan yang sama dengan yang asli.


Bulu matanya berkedip. Sepasang manik madu itu memandang lurus ke depan, ketika perlahan, cairan bening meluruh membasahi pipinya. Arana menggigit bibirnya, menahan isakan yang ia coba tahan.


Tangannya tak tinggal diam meremat baju yang dikenakannya, bahkan sesekali memukul dada kirinya yang terasa tertikam. Begitu menyakitkan, hingga isak tangisnya terdengar begitu memilukan.


"Hiks.. Hiks.."


Arana ingin meraung. Ingin menyatakan ketidakadilan yang dia terima. Ia ingin kembali ke pelukan neneknya, memeluknya dan mengeluh padanya atas hidupnya yang begitu keras dan menyakitkan. Jika pada akhirnya dia akan ditinggalkan, mengapa dia harus ada?


Mengapa dia harus dilahirkan?


Arana hanya ingin orangtuanya memandangnya untuk sekali, tapi apa yang dia lakukan selalu salah dimata mereka.


"Hiks.."


Terlalu merasakan sesak, Arana bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi, Rosa berdiri dibalik pintu, membelakanginya dengan ponsel yang terhubung ke panggilan pada seseorang. Sepasang maniknya melirik kebelakang, sebelum memandang lurus kedepan lagi. Bibirnya bergerak, mengeluarkan gumaman tanpa suara. "Anak yang malang."


...***...

__ADS_1


"Bos, ada berkas yang perlu—"


Ketika Erlan memasuki ruang kerja Alva, ia menghentikan suaranya ketika melihat aura tak mengenakkan disekeliling Alva. Dia menatap lurus kedepan dengan tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Erlan meremang, dan tangan kanannya memegang ponsel, mendekatkannya ke telinganya.


Entah apa yang didengarkan, namun itu nampak bukan sebuah hal yanh baik.


Haruskah Erlan mendekatinya sekarang?


"Mungkin nanti. Sekarang selamatkan diri sendiri dulu." Batinnya sembari berbalik, sebelum suara dingin dibelakangnya menghentikannya. "Lan, berhenti."


Erlan memasang senyum tepat ketika dia berbalik. "Ya boss? Ada sesuatu?"


"Aku menemukan satu lagi kelemahan Alana."


Erlan mengerutkan keningnya. Oh, jadi balas dendamnya masih berlangsung meski sudah berumah tangga dengan bahagia bersama Arana?


Alva melanjutkan berkata, "Minta Calvian menyelidiki gadis bernama Olivia yang pernah mencoba menyerang Arana saat pesta pernikahan. Katakan padanya untuk tidak melewatkan satu informasi apapun."


Alva, tidak akan melepaskan dari mereka, satupun!


Erlan baru saja mengangkat ponselnya ketika suara Alva kembali terdengar. "Satu hal lagi. Cari tahu siapa orang yang sudah menghina Arana di kampusnya. Aku harus memberinya sedikit kejutan, agar dia bisa menjaga mulutnya lebih baik dimasa depan."


"Baik." Gumam Erlan.


Ah, lagi-lagi orang yang masuk ke kandang singa untuk bunuh diri. Em, atau sebenarnya naga saja, ya?


...***...


Mengompres matanya menggunakan kompresan dingin agar tidak sembab, Arana sesekali menghela napas. Merenungkan betapa cengeng dan lemahnya dirinya. Arana berkedip, menyesuaikan penglihatannya setelah merasakan dingin selama beberapa saat. Sebentar lagi Alva akan kembali, dan dia belum menyiapkan makan malam untuk Alva.


Meski sudah diwanti-wanti oleh Alva untuk tidak memasak selama masa pemulihannya, Arana tetap saja nekat memasuki dapur untuk memasak.

__ADS_1


Alasannya ya, Arana hanya mau-mau saja.


Tidak ada alasan khusus, tapi Arana benar-benar hanya suka memasak dan ingin membuat makanan dengan tangannya sendiri.


Arana tidak selalunya duduk di kursi roda. Ketika dia butuh menggoreng atau menumis sesuatu, dia akan berdiri. Jika hanya mengiris bahan atau meracik dan mencuci, Arana bisa melakukannya sambil duduk. Meski tidak begitu nyaman melakukannya dengan posisi duduk, namun makanan yang dibuatnya tidak berbeda dari biasanya.


Bangkit berdiri, Arana mengulurkan tangannya untuk meraih botol kecap yang berada diatas rak, dan mencampurkan cairan kental berwarna hitam itu kedalam tumisan ayam suirnya.


Ayam suir adalah makanan kesukaannya, sebenarnya, salah satu makanan kesukaannya. Ketika dulu neneknya masih hidup, wanita itu sering sekali membuatkan Arana suir ayam kecap yang rasanya sebenarnya tidak hanya manis, namun juga asam dan manis.


Jadi ketika Arana masih ada disini, dia ingin membuat Alva merasakan rasa makanan rumahan khas rumahnya. Yang sebenarnya umum, namun Arana ingin Alva menyukai dan mengingat masakannya.


"Alana? Kamu mengelabuhiku lagi." Suara itu berasal dari Rosa yang berdiri berkacak pinggang didepan pintu.


Arana menyunggingkan senyuman malu. "Habisnya sudah malam. Aku juga mau memasak saja daripada membeli. Kak Rosa juga tunggulah sebeno sebelum pulang. Mari makan malam bersama."


Rosa menggelengkan kepalanya. "Terimakasih tawarannya, Alana. Tapi aku harus pulang, putraku akan kembali dari luar negeri malam ini. Jadi, beberapa hari kedepan aku tidak bisa lama berada di apartemen. Aku hanya akan kesini untuk mengecek kakimu."


"Mn, baiklah. Semoga hari kak Rosa dan putra kak Rosa menyenangkan saat nanti sudah berkumpul."


Arana mengangguk, paham dan mengerti akan situasi Rosa. Tentu saja wanita itu harus menemani anaknya. Bahkan jika wanita itu berniat menemaninya, Arana akan memaksanr untuk tidak datang ke apartemen dan menemani putranya berkeliling atau sekedar mengobrol mengobati rasa rindu.


"Aku akan membantumu menyiapkan makan malamnya. Jadi, kamu bisa menunggu di ruang utama."


"Baiklah, terimakasih, kak Rosa."


Toh, makanannya sudah matang. Jadi dia tidak akan merepotkan Rosa dengan membantunya memasak. Arana dengan perlahan menggulir kursi rodanya ke ruang utama, menyalakan televisi dan menonton berita yang beredar di layar televisi yang hampir memenuhi satu sisi dinding apartemen itu.


Tak menyadari bahwa diwaktu bersamaan ditempat lain, seseorang berusaha melakukan hal buruk kepadanya.


"Aku akan membongkar rahasianya kepada Alva. Tunggu dan lihat saja, bagaimana Alva akan murka selama ini dipermainkan olehnya."

__ADS_1



__ADS_2