
Entah berapa banyak waktu yang mereka habiskan dan entah berapa banyak wahana bermain yang sudah mereka naiki.
Arana tengah duduk bersandar disalah satu bangku. Wajahnya pucat ketika Aki dengan sabar memijat bahu dan leher Arana. Beberapa waktu lalu Arana dan Aki mencoba menaiki wahana roller coaster. Arana memang tidak pernah menaiki wahana itu dan ingin mencoba tahu. Awalnya Arana masih baik-baik saja, sampai ketika kereta meluncur dari ketinggian dengan kecepatan ekstrem, Arana mulai menjerit ketakutan dan hampir pingsan.
Ketika Arana turun, ia bahkan hampir terhuyung dan segera duduk dibangku didekat jalan dan mencoba menahan rasa mual dan pusingnya.
"Aku tidak mau naik roller coaster lagi!" Arana mengeluh dan dengan wajah pucat menenggak minuman yang dibelikan Aki untuknya beberapa waktu lalu.
Aki dengan tenang mendudukkan dirinya dibangku ketika merasa Arana sudah lebih baik. Ia menyesap minumannya sendiri dan dengan tenang menyeringai dengan wajah mengejek. "Aku baru tahu kakak penakut. Jika kakak memang takut, sebenarnya kakak tidak perlu menemaniku tadi. Aku bisa naik sendiri. Sekarang kakak jadi begini, kan~"
Arana sedikit cemberut dan tidak terima ketika dia dianggap sebagai penakut. Arana bukannya penakut, namun tidak terbiasa dan tidak nyaman naik wahana secepat dan seekstrem itu.
"Aku tidak takut, Aki. Hanya tidak terbiasa. Itu membuatku merasa sangat pusing dan aku merasa mual. Tapi aku tidak takut. Aku serius." Kata Arana membela diri.
Aki mengangguk dengan acuh dan dengan tenang kembali menyesap minuman kalengnya. "Aku agak lapar, kak. Sudah lewat jam makan siang juga. Ayo cari makan."
Arana melihat jam tangannya. "Oh, benar. Sudah jam dua, sudah lewat jam makan siang. Ternyata kita bermain sangat lama, ya. Baiklah, ayo pergi dan cari restoran terdekat untuk makan. Apa yang ingin kamu makan?"
"Aku ingin makan makanan Korea, kak." Aki melanjutkan, "Apakah disini ada?"
Arana mengangguk. "Tentu saja ada. Aku tahu restoran Korea yang lezat di dekat sini. Mari kesana."
Aki menganggukkan kepalanya.
...***...
Beberapa waktu kemudian, keduanya telah sampai disebuah restoran Korea. Aroma daging dan saus menguar diseluruh restoran, dan membuat perut Arana yang awalnya tidak begitu lapar menjadi bergolak. Arana memandang sekitar dan menemukan sebuah meja.
"Ada meja kosong disana."
Aki melangkah menuju meja kosong itu mengikuti langkah Arana. Keduanya duduk berseberangan dan mulai membaca menu.
__ADS_1
"Aku mau Tteokbokki pedas. Sepertinya enak."
Arana menatap menu dan menunjuk sebuah makanan. "Aku juga akan memesan ayam goreng Korea."
"Apa yang ingin kamu pesan, Aki? Kamu tidak suka pedas, kan?"
Aki menunjuk gambar semangkuk mie. "Aku mau Jajangmyeon."
"Hanya itu?" Tanya Arana dibalas anggukan oleh Aki.
Arana menganggukkan kepalanya, mengangkat tangannya dan memanggil seorang pelayan. Pelayan datang dengan segera, membawa buku catatan kecil ditangannya dan dengan ramah bertanya kepada Arana. "Ada yang ingin dipesan, nona?"
"Kami pesan seporsi Tteokbokki pedas, satu Jajangmyeon, seporsi ayam goreng Korea yang pedas dan juga dua porsi oden. Tolong seporsi acar lobak kuning juga untuk Jajangmyeon-nya. Untuk minumannya, bannana milk dan teh yuja" Kata Arana menyampaikan pesanannya.
"Sudah, nona?"
Arana mengangguk. Wanita itu mengulang pesanan dan kemudian pergi melapor ke dapur setelah mendapatkan anggukan kepala dari Arana. Keduanya menunggu selama limabelas menit sebelum makanan dengan segera dikeluarkan, menyusul minuman yang sudah datang lebih awal. Aroma makanan lezat mengalir, dan Arana segera merasa lapar. Keduanya mulai makan dengan tenang, sesekali mengobrol tentang hal kecil tentang film yang disukai Aki, hobinya dan bahkan sampai pada pernikahan Alva dan Arana.
Setengah jam kemudian, keduanya sudah kekenyangan karena makanan mereka. Terutama Arana yang memang memesan makanan lebih banyak dari Aki, dan Aki tidak mau membantunya menghabiskan ayam goreng dan tteokbokkinya.
Aki menatap Arana. "Siapa suruh kakak memesan banyak makanan padahal tahu bahwa kita hanya berdua. Aku juga sudah kenyang dengan makan odeng dan jajangmyeon-nya."
Arana dengan sedih mengambil sepotong ayam dan menggigitnya. Sebelum sebuah suara menginterupsinya dan membuatnya menoleh.
"Alana?"
Arana menatap Ernad yang berdiri disampingnya. Arana berkedip selama beberapa waktu, namun dia sama sekali tidak mengenalnya. Arana yakin bahwa dia adalah kenalan Alana karena dia memanggil nama Alana, namun masalahnya Arana tidak ingat bahwa Alana pernah bercerita memiliki kenalan seperti pemuda disampingnya.
Melihat Arana tidak merespon, Ernad menyunggingkan senyuman. "Oh, apa tidak bertemu selama dua tahun saja sudah membuatmu lupa padaku, sayang?"
Ernad bergerak dan memeluk Arana yang masih duduk dengan senyuman diwajahnya yang rupawan. "Jangan marah, sayang. Kamu tahu, kan, aku disana juga belajar. Kita sudah berjanji akan menikah, mengapa kamu berpura-pura tidak mengenalku sekarang?"
__ADS_1
Arana tercengang, dia bahkan tidak sadar menjatuhkan ayam yang ada ditangannya hingga jatuh berguling kemeja. Matanya melebar karena kejutan, dan otaknya seakan tidak bisa mencerna situasi selama beberapa waktu.
Hah? Apa?
Tatapan mata beberapa pengunjung segera teralihkan kepada Arana dan Ernad. Bukan karena penasaran dengan apa yang terjadi, mereka juga penasaran dengan ketampanan Ernad dan kecantikan Arana. Berpikir apakah mereka sedang mengadakan syuting film disana.
Aki menatap keduanya selama dua detik sebelum membuka suara. "Hei, jangan seenaknya memeluk seseorang seperti itu. Siapa kau seenaknya memeluk orang begitu?"
Ernad menoleh dan maniknya bersinggungan dengan manik Aki. Ernad melepaskan dirinya dari Arana yang masih tercengang dan dengan tenang menyunggingkan seringaian ketika tangannya menyelipkan anak rambut Arana kebelakang telinganya. "Aku Ernad, kekasih Alana. Kau siapa?"
Manik Arana semakin melebar dan dia menatap Ernad dengan ketidakpercayaan dimatanya. Ia menepis tangan Ernad. "Apa yang kau lakukan?!"
Ernad mengalihkan tatapannya dari Aki menuju Arana. "Aku tahu kamu marah padaku, sayang. Tapi jangan berpura-pura tidak mengenalku. Itu membuat hatiku sedih mengingat kenangan kita selama bertahun-tahun disekolah."
Tangan Arana gemetar. Bukan karena kegugupan, bukan karena ketakutan, namun karena amarah. Satu-satunya yang dia pikirkan sekarang adalah Alana.
Masalah apa lagi yang akan dihadapinya hanya karena Alana?!
Arana dengan tegas menatap Ernad. "Maaf, tapi mungkin terjadi kesalahpahaman disini. Hubungan kita sudah lama berakhir. Jangan bersikap seolah kau adalah kekasihku, karena kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."
Arana tidak tahu apa hubungan Alana dengannya. Namun mengingat perkataan Ernad, Arana berasumsi bahwa Ernad dan Alana adalah sepasang kekasih di masa sekolah menengah dan harus menjalani hubungan LDR karena Ernad yang pergi ke luar negeri. Jadi Arana hanya bisa mengikuti alur dan membuat hubungan keduanya seolah-olah memang sudah berakhir.
Jika dia berpura-pura tidak mengenal Ernad, justru akan membuatnya terlihat sangat mencurigakan jika ingin menghindari Ernad. Aki bisa berpikir bahwa dia diam-diam selingkuh dari Alva.
Jika dia mengakui hubungan keduanya namun mengatakan bahwa hubungan mereka sudah berakhir, dia bisa menghindari Ernad tanpa harus dicurigai berselingkuh.
Ernad tidak merespon selama sesaat sebelum menyunggingkan senyuman yang nampak aneh dimata Arana. "Sejak kapan kita putus, sayang? Kapan kamu mengucapkan kata putus padaku?"
Arana mengerutkan kening dan menjawab dengan tegas. "Kau pikir aku masih bisa ingat kejadian dua tahun lalu? Aku bahkan tidak ingin mengingat apapun, jadi apa yang bisa aku ingat? Aku hanya tahu bahwa hubungan kita sudah berakhir, dan tidak ada lagi kata kita diantara aku dan kau. Paham?"
Arana berdiri, hendak berjalan pergi ketika sebuah lengan menahan pergerakan Arana. Arana menoleh dan melihat Ernad menahannya dengan senyuman yang bukan senyuman dimata Arana. Ernad membuka suaranya kembali. "Jangan begitu, sayang."
__ADS_1
"Bukankah itu hanya alasanmu untuk meninggalkanku karena kau berselingkuh?"