My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 151: Inappropriate Videos


__ADS_3

"Mama, pelan-pelan! "


Arselyne kepayahan menarik dua koper ditangannya sementara sang mama-Cella justru hampir berlarian dibandara karena merasa begitu bersemangat untuk menghadiri pesta kelahiran putri Alva setelah sebulan berlalu semenjak kelahiran sang bayi.


"Ayo, Se! Mama sudah tidak sabar! "


Bayi itu belum diberi nama, dan namanya akan diumumkan pada hari itu juga ketika pesta berlangsung didepan seluruh kenalan. Baik kenalan Alana, Alva, Arletta, Johan, Lidia dan Michael diundang. Bahkan pada saat ini, Jasmine, Hiro dan Alicia juga hadir dalam acara tersebut. Kolega-kolega dan investor dari perusahaan besar dan kecil yang bekerja sama dengan perusahaan mereka. Alana dan Alva tampil menawan dengan balutan pakaian pasangan. Alva mengenakan suit bergaris tipis berwarna hitam yang dipadukan dengan dasi bercorak. Helaian surainya ditata sedemikian rupa sehingga wajahnya terlihat semakin menawan.


Disisi lain, Alana menggandeng tangan Alva, menyunggingkan senyuman penuh kegembiraan dan kepuasan. Bibirnya yang terlapis lipstik merah berpadu dengan gaun putih bergarisnya yang pada bagian bawahnya bercorak. Gaun itu dengan jelas memamerkan bahu dan tulang selangkahnya yang semakin apik dengan tambahan kalung permata dilehernya.


Alana tidak menggendong sang bayi, namun sang bayi digendong oleh pengasuh yang dipekerjakan untuk menjaga dan mengasuh sang bayi selama pemulihan Alana.


Balroom luar dan besar itu dipenuhi dengan hiasan yang sederhana namun mewah. Pesta selalu tidak kekurangan coctail ataupun camilan, semuanya tersedia hingga semua tamu undangan bisa menikmati pesta, sekaligus memperlakukan pesta ini sebagai akses untuk menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan lainnya.


Suasana semakin ramai, dan dentingan lagu merdu nan halus menambah suasana menjadi semakin menyenangkan. Sepasang manik Alva menatap keseluruhan dan kemudian menemukan sosok Hiro dan Jasmine melangkah masuk dan kemudian menghampiri Michael dan Lidia yang duduk disebuah meja bundar bersama dengan beberapa kolega.


Alva bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju keatas panggung kecil. Cahaya dari lampu kemudian menyorotnya, dan seketika dia menjadi pusat perhatian. Ia meraih mic dan kemudian mulai menyapa tamu undangan.


"Terimakasih atas kehadiran semua tamu undangan." Alva tersenyum dengan sopan dan menunjuk layar besar didepannya yang perlahan diturunkan ketika Calvian yang duduk dibangku sembari mengunyah perman karet menyiapkan tabletnya dan menunggu sinyal dari Alva.


"Sebelum kita mulai, silakan nikmati suguhan yang akan kami tampilkan pada hari ini."


Ia kemudian melangkah turun dan kemudian tersenyum, berdiri disamping kue besar dan mengaitkan tangan dibelakang punggungnya ketika sebuah proyeksi muncul dilayar putih. Suara mulai bergema dengan keras, dan suara itu perlahan membuat semua orang kebingungan. Suara erangan dan suara aneh yang sebagian besar mereka ketahui mulai dibarengi dengan tayangan video raksasa didepan, yang dengan jelas membuat semua orang bisa melihat apa yang ada didepan.


"Apa itu?"


"Sial! Apa itu video porno?!"


"Video apa itu?!"

__ADS_1


Pada awalnya semua orang terkejut bukan main saat video didepan memperlihatkan dua orang yang tengah berhubungan intim. Suasana menjadi riuh, dan mereka segera melihat kearah Alva yang nampak tenang dan tidak terganggu. Suasana menjadi hening ketika seseorang berkata sembari menunjuk kedepan. "Bukankah itu nampak seperi nyonya Lidia, istri tuan Michael?"


Lidia yang disebutkan namanya tidak merespon. Sejak awal ketika dia melihat video, ia telah membeku dan serasa ingin mati. Video itu memang adalah dirinya. Wajah yang jelas, suara yang jelas, dan hanya orang lain yang dikaburkan sementara dirinya diperlihatkan dengan jelas dalam video berdurasi limabelas menit itu.


"Eh? Benar! Itu Lidia, kan?!"


"Lidia benar-benar melakukannya?"


"Menjijikkan! Apa dia selama ini berpura-pura menjadi istri dan ibu yang baik didepan publik sementara dibelakang dia melakukan hal menjijikkan seperti itu?!"


Bahkan Jasmine, Hiro dan Alana memandang Lidia dengan penuh keterkejutan. Alana meraih tangan Lidia dan berkata dengan panik. "Ma, itu bukan mama, kan? Katakan itu bukan mama!"


Lidia bergetar hebat. Wajahnya memucat dan dia tidak bisa membalas apa-apa selain tetesan keringat yang mengalir dipelispis dan lehernya karena kecemasan dan kegugupan yang dimilikinya. Michael mengepalkan tangannya, bangkit berdiri dan menampar Lidia dengan keras.


"Berani-beraninya kau melakukan ini dibelakangku!" Lantang Michael.


"Oh, jadi Michael benar-benar tidak tahu?"


Alva terkekeh dan kemudian mengalihkan atensi mereka kembali saat dia berkata, "Seperti yang diharapkan, papa mertua sangat menjaga reputasi, ya? Sehingga langsung mengorbankan sang istri untuk menjada nama baiknya dan reputasinya, bahkan menggunakannya sebagai penarik simpatik orang-orang."


Alana berteriak, "Apa yang kau lakukan, Al!?!"


Alva mengabaikan Alana dan slide berganti dengan cepat menuju ke sebuah dokumen. Orang-orang tua segera memakai kacamata mereka dan tersentak ketika melihat dokumen itu. Seorang pria memukul meja dan kemudian melangkah terburu sebelum meraih kerah baju Michael yang menyebabkan keributan. "Sialan!! Jadi selama ini dana yang aku investasikan padamu kau gelapkan?!"


"Tolong tenang tuan Gio!" Michael mencoba menahan Gio dan mencoba mencari alasan ketika banyak orang lain datang dan mulai menginterogasi dan menghujani Lidia dan Michael dengan celaan dan makian.


Didepan, slide berganti dan kemudian giliran Erlan yang maju dan mulai menjelaskan. "Mereka adalah pasangan yang menarik. Tuan Damarian menggunakan sang istri untuk pemuas nafsu beberapa pengusaha berhidung belang sebagai bayaran atas bantuan mereka kepada perusahaan Damarian Corp. Bahkan, penggelapan dana yang dia lakukan sudah dimulai sejak awal perusahaan dibangun. Tuan dan nyonya sekalian sudah tertipu berapa banyak dan masih belum sadar. Bukankah hal ini menunjukkan betapa hebatnya tuan Damarian dalam berdalih dan berkilah dan memanipulasi dana?"


Erlan berkata, "Data yang sudah kami kumpulkan merupakan bukti valid, dan bagi anda yang masih tidak percaya, akan kami beri salinan bukti dan anda bisa memeriksa jumlah pemasukan dan pengeluaran dana yang tidak seharusnya ada dalam pengeluaran. Kami memeriksa dan menemukan bahwa rekening penerima adalah rekening pribadi dan bukan rekening perusahaan."

__ADS_1


"Erlan! Tutup mulutmu! Berhenti berkata omong kosong tentang ayahku dan ibuku!!" Alana berteriak dengan marah dan penuh dengan emosi.


Alva menyunggingkan seringai sementara Erlan hampir tidak menatap Alana ketika Alva melirik Calvian untuk mengganti slide.


"Apa kau berpikir dia adalah ibumu, Alana?" Suara Alva dingin dan penuh dengan cemoohan yang membuat Lidia menggigil.


Ia segera berdiri, menangis dan berlari kekaki Alva dan memohon.


"Tidak! Tidak! Kumohon berhenti! Jangan lanjutkan!"


Lidia tahu, bahwa mereka tahu.


Slide berganti. Sebuah video tertampak dan membuat Lidia mencelos. Seluruh orang diruangan itu mengalami keterdiaman ketika Alva bertanya kepada Jasmine. "Nyonya Jasmine, apakah mengenali siapa yang ada disamping mama mertua?"


Ada sebuah foto. Dua wanita kembar. Lidia yang mengenakan dress mawar berwarna biru, dan seorang gadis berwajah sama persis dengan Lidia yang tengah mengenakan dress mawar berwarna putih. Jasmine menatap foto itu dengan sendu sebelum berkata, "Putriku yang sudah meninggal belasan tahun lalu. Nadia."


"Dia Nadia."


Alva menatap Jasmine. "Saya dengar dia tidak sengaja terpeleset dari tangga. Apakah anda yakin bahwa kecelakaan yang dia alami adalah murni sebuah kecelakaan?"


"HENTIKAN!!!"


Lidia menjerit yang membuat Jasmine segera membeku ditempatnya duduk. Ia menatap Alva yang balas menatapnya, menatap Lidia yang berwajah pucat dan bergetar hebat, seolah dia pernah melakukan kesalahan yang mempertaruhkan nyawanya dan beralih ke slide yang berubah, menampilkan sebuah video.


Maniknya melebar dengan sempurna.


Dalam video itu, Lidia putrinya, mendorong Nadia, sang kembaran dari tangga dengan sengaja. Itu, bukan kecelakaan.


Selama belasan tahun, Lidia merahasiakan kebenaran tentang kematian Nadia, ketika putrinya, menjadi pembunuh.

__ADS_1



__ADS_2