
DOR!!
Ketika pelatuk ditarik, Arana menarik Erlan. Peluru melesat kedinding setelah tanpa sengaja menggores lengan Erlan yang terhuyung karena tarikan Arana. Keduanya kehilangan keseimbangan dan Arana tanpa sengaja jatuh. Arana yang tahu bahwa dia akan jatuh memegangi perutnya dan membiarkan punggung dan sikunya menjadi korban demi menjaga perutnya sebisa mungkin, sementara Erlan jatuh didekat kakinya.
Erlan meringis merasakan sakit dilengannya yang tergores, namun dia segera melotot dan bergegas membantu Arana untuk duduk.
Erlan menoleh kebelakang dan melihat pria yang mencoba menembaknya sekarang jatuh terlungkup dan tidak bergerak. Ada seorang pria muda yang menginjak kepala pria itu dengan sebatu boot, menatap Erlan dengan sepasang manik hitamnya yang kemerahan karena darah. Maniknya melirik Arana yang memucat dan meringis memegangi perutnya.
"Jika terjadi sesuatu dengannya, Alva akan menghabisi kita semua."
"Kenapa kau menyisakan satu dan mana lagi dia membawa senjata?!'
Seorang pemuda bersurai merah melangkah mendekat dan memandang Arana dengan sedikit kecemasan dimatanya. "Lan, dimana Angga?"
Erlan berusaha menenangkan Arana. "Na, tolong bertahanlah. Angga sedang dalam perjalanan dengan petugas medis. Dia akan segera sampai jadi bertahanlah. Tolong tetap terjaga sampai setidaknya Angga datang, oke?"
Arana meringis. Ia berusaha untuk menahan rasa sakit dan rasa nyeri dipunggung dan disikunya. "Sakit."
Mendengar perkataan Arana, baik Erlan, J maupun R menjadi panik juga. Erlan berusaha mengusap punggung Arana dan berusaha sebisa mungkin mengalihkan dan mengurangi rasa sakit yang dialami oleh Arana. Arana perlahan meraba perutnya. Hatinya menjadi sedikit lebih ringan ketika dia merasakan gerakan kecil diperutnya, seolah bayinya tengah menyapanya, mengatakan kepadanya bahwa dia baik-baik saja.
Arana sedikit menunduk, bersandar didinding dan mencoba menstabilkan nafasnya.
"Erlan!"
Selang beberapa waktu kemudian, Angga dengan cepat datang. Dibelakangnya ada beberapa perawat yang mengenakan pakaian. Penampilan mereka nampak seperti orang asing dengan rambut berwarna pirang dan bermata biru. Beberapa jam sebelumnya Angga memisahkan diri dan terbang ke pulau terdekat dengan pulau itu untuk menemui temannya yang kebetulan adalah perawat darurat yang bekerja di kapal. Karena masih banyak pulau yang kurang terjamah tenaga medis, banyak dari teman Angga yang mengabdikan diri untuk menjadi perawat dan dokter darurat yang menyelamatkan dan membantu banyak orang.
"Segera bawa dia ke tempat yang lebih nyaman."
__ADS_1
R dan J yang secara otomatis adalah yang paling kuat diantara mereka dengan segera mengangkat Arana dengan posisi yang nyaman. Ada cairan yang membasahi tangan keduanya. Kedua perawat segera melebarkan mata mereka sebelum salah satu dari mereka berkata, "Segera bawa ke salah satu kamar! Kita harus segera melakukan penanganan! "
Mereka kemudian berlari dengan membawa koper besar menuju sebuah kamar. Seorang suster menyemprotkan sesuatu kedalam ruangan dan segera menyiapkan matras yang diletakkan diatas tempat tidur. Satu sisi koper dibentangkan keatas, dan jajaran alat-alat kesehatan yang dikhususkan untuk proses persalinan segera terpampang dengan jelas.
"Letakkan dengan hati-hati disana." Kata Angga kepada R dan J agar menyuruh Arana dibaringkan diatas matras ketika dia dan suster segera membasuh tangan mereka dengan air minum yang bersih dan segera menyemprotkan cairan penyeteril.
"Kalian keluar, dan apapun yang terjadi tolong pastikan tidak ada siapapun yang masuk sampai kami selesai."
Suster berkata kepada ketiganya. Baik R, J dan Erlan menganggukkan kepalanya dan segera keluar, menutup pintu dan membiarkan Arana ditangani didalam. R segera berkata, "Aku akan berkeliling dan memastikan tidak ada lagi yang tersisa disekitar sini. Kalian berdua jaga mereka."
J melambaikan tangannya, bersandar di dinding sembari melipat tangan dan membiarkan R berlalu sementara Erlan berjongkok dan menghela napas panjang. "Tuhan, semoga Arana baik-baik saja. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Alva jika sampai sesuatu yang buruk terjadi kepada Arana."
J melirik Erlan sebelum memandang kelangit-langit sekilas. "Jika sampai terjadi sesuatu dengan kita, hukuman teringan yang bisa kita dapatkan hanya amputasi tangan dan kaki. Yang terburuk, tentu saja balas nyawa karena tidak bisa menjaga dan melindungi Arana."
"Jangan bilang begitu, ah!"
Erlan hampir menangis karena rasa takut. Ia mencengkram dadanya, merasa begitu khawatir. Ia berharap bahwa Arana dan bayinya akan baik-baik saja. Erlan sudah pernah melihat bagaimana Alva berubah dari pemuda biasa yang hanya pendiam namun baik menjadi seorang pria kejam yang tidak segan membalas dengan kejam seseorang karena tanpa usaha sendiri. Dunia tidak akan berpihak padanya jika bukan dirinya yang memaksa dunia berpihak padanya, menjadi motto hidup Alva selama ini setelah kematian Theo.
Lima menit menunggu, Erlan mendengar suara telapak kaki. Erlan dan J menoleh untuk melihat Alva perlahan melangkah turun dari lantai dua. Napas Erlan sedikit tertahan ketika melihat penampilan Alva. Sebagian wajahnya ternoda darah, dan tetes cairan pekat menetes dari tangan kanannya. Tatapannya masih tajam dan berbahaya, namun tidak bisa menyembunyikan kecemasan dan kekhawatiran didalam hatinya.
"Dimana Arana?" Suaranya masih dingin.
Erlan perlahan berdiri dan nampak gugup untuk memberitahu. Namun Erlan harus memberitahunya. "Arana sedang ditangani didalam. Tadi dia jatuh dan ... dan ketubannya sepertinya pecah."
BUGH!
Sebuah pukulan Alva layangkan pada Erlan. Pria itu terhuyung dan ditangkap oleh J. Erlan meringis kesakitan, namun dia tidak melakukan apapun sebagai bentuk pembalasan atau pembelaan, karena kejatuhan Arana memang menjadi salahnya juga. Dia yang seharusnya menjaga Arana namun tidak becus. Erlan mengepalkan tangannya, mengabaikan bercak darah yang tertoreh dipipinya dan menunduk.
__ADS_1
"Bukankah aku menyuruhmu menjaga istriku?"
"Maaf, Al. Kejadiannya begitu cepat."
J turut membantu Erlan. "Ada yang berniat menembak. Erlan dan Arana berusaha menghindar, namun mereka justru jatuh saat menghindari serangan itu. Itu karena aku terlambat datang, Al. Maafkan aku."
Alva menatap keduanya dengan dingin. "Jika terjadi sesuatu yang buruk kepada Arana dan anakku, aku akan menghancurkan kalian dengan tanganku sendiri."
Erlan dan J tidak mengatakan apapun selain Erlan yang mengangguk. Alva melangkah menuju pintu. Erlan hendak mengatakan sesuatu untuk melarang Alva masuk ketika pria itu hanya menyentuh pintu dengan tangannya, menyatukan dahinya dengan pintu dan memejamkan mata. Erlan tertegun, dan kemudian menggigit bibirnya. Erlan benar-benar ingin menangis. Erlan sama sekali tidak marah Alva memukulnya bahkan mengatakan akan menghancurkannya.
Yang diinginkan Erlan hanyalah kebahagiaan Alva, juga Arana.
"Maaf aku memukulmu, Lan."
20 menit dalam keheningan, akhirnya Alva membuka suaranya. Ia masih berdiri didepan pintu, tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya. Erlan yang berdiri disampingnya menoleh, sedikit tersenyum.
"Tidak apa."
Mendengar jawaban Erlan, Alva mendongak dan menghela napas sebelum berbalik. Erlan bertanya, "Kau mau kemana, Al?"
"Mandi." Suaranya semakin samar saat dia berjalan menjauh, "Aku tidak ingin istriku melihatku dengan tubuhku yang kotor."
Setelahnya, tubuh Alva menghilang dibalik dinding. Satu jam kemudian, Alva akhirnya kembali. Ia membutuhkan waktu begitu lama untuk membersihkan diri, memastikan bahwa tubuhnya benar-benar terbebas dari aroma darah. Ketika dia kembali. Erlan menatapnya dengan sepasang manik yang berkaca-kaca. Ekspresi rumit diwajahnya membuat langkah Alva terhenti selama beberapa detik, sebelum dia tertegun ketika melihat sosok Angga melangkah keluar dan menatapnya, sebelum tersenyum dengan penuh ucapan selamat.
"Ini dia sang ayah."
Jantung Alva berdentum dengan sangat amat keras. Ia hampir tuli mendengarkan perkataan Angga ketika dia membeku ditempatnya.
__ADS_1
"Mereka sangat mirip denganmu."