
Dua hari semenjak Arselyne meninggalkan Jakarta dan kembali ke Melbourne. Dua hari itu juga, Amber memutuskan untuk tetap di Jakarta dan menenangkan dirinya sampai dia siap untuk menemui Arselyne dan mencoba membujuknya sembari meminta maaf karena sudah memukulnya.
Pagi itu, Amber mendatangi Arana dengan membawa koper ditangan kanannya. "Aku akan kembali ke Melbourne hari ini. Aku akan menemui Lily dan mencoba menjelaskan lagi masalah ini padanya. Aku akan mengabarimu jika terjadi perkembangan."
Arana sedih dan tertekan. Ia memandang Amber, ragu untuk mengatakan apapun dan pada akhirnya mengangguk, memeluk Amber, mengucapkan kata maaf dan melepaskannya setelah beberapa waktu. "Berhati-hatilah diperjalanan Amber, Tuhan memberkatimu."
Amber menyunggingkan senyuman dan mengangguk, melambai padanya. "Terima kasih, Na. Sampai jumpa!"
Melihat punggung Amber yang menjauh, Arana menarik pandangannya dan menghela napas dengan berat. Ia menutup pintu, melangkah ke sofa dan menyandarkan dirinya disana, memandang pantulan dirinya dilayar televisi yang padam. Tidak ada senyuman diwajahnya, dan ia nampak sedikit tertekan, wajahnya sedih dan menampilkan penampilan seseorang yang menyimpan begitu banyak beban. Arana menggelengkan kepalanya, tidak boleh membiarkan siapapun melihat ekspresinya dan mencoba mengatur mimik wajahnya untuk menjadi lebih santai.
"Tidak apa, Na. Semuanya akan baik-baik saja asalkan kamu menghadapinya dengan tenang. Tidak masalah." Sugestinya pada dirinya sendiri.
...***...
Beberapa hari kemudian, tidak ada kabar apapun dari Amber. Dan dalam beberapa hari tersebut, Alva menyadari bahwa Arana lebih banyak diam dari biasanya. Mungkin karena pertengkaran yang terjadi diantara Arana, Amber dan Arselyne yang ia ketahui melalui video rekaman CCTV yang memang sejak awal dipasang dipasang diapartemen itu.
Alva jelas tahu bagaimana sedihnya Arana saat itu dan bahkan saat ini, namun Alva tidak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya selain tetap berada disisinya, karena dia juga berpura-pura tidak tahu bahwa Arana mengalami masalah itu karena itu adalah rahasia Arana.
Jika dia membahasnya, sama saja dia mendorong Arana untuk meninggalkannya.
"Sayang, sepertinya lusa aku akan pergi ke luar kota dan tidak akan kembali sampai tiga hari."
Pernyataan Alva membuat Arana segera menoleh dan memandangnya dengan terkejut. Namun daripada terkejut, Arana nampak lebih menampilkan ekspresi seakan dia menemukan oasis ditengah gurun yang mengalami kekeringan selama berabad-abad lamanya. Namun mungkin menyadari bahwa ekspresinya sendiri salah, Arana mengubahnya dalam sekejab.
__ADS_1
"Benarkah? Memangnya ada apa?" Alihnya.
Alva dengan tenang mengikuti alur dan menjawab dengan santai. "Perusahaan akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan resort di Surabaya, dan kami diminta secara langsung terjun kelapangan dan melihat bagaimana pembangunan resort itu dan menilai apakah semua sudah cukup memuaskan sebagai fasilitas yang disediakan untuk pengunjung."
Arana mendengarnya dengan baik, dan dia juga memikirkan kemungkinan bahwa dia akan bisa menemui Lily secara langsung di Melbourne dan mencoba berkomunikasi dengan Lily dan memperbaiki hubungan mereka.
"Kamu harus menjaga diri disana, dan harus makan tepat waktu. Pokoknya tidak boleh melupakan makan." Nasihatnya pada Alva.
Dia tulus menasehati dan memberikan perhatian kepada Alva, karena Arana tidak ingin Alva terluka atau sakit karena masalah melupakan makan. Arana tidak pernah setengah-setengah untuk peduli kepada seseorang, dan dia ingin Alva selalu dalam keadaan baik, memperhatikan dirinya sendiri. Alva mendengar perhatian Arana dan menyunggingkan senyuman dan dengan tenang membalas. "Tentu, sayang. Karena istri tercintaku sudah mengingatkanku, tidak mungkin bagiku untuk melupakan makan dan kebutuhanku disana."
"Aku akan mengambil waktu untuk menghubungimu, tapi aku tidak berjanji bisa selalu menghubungimu karena jadwalku yang padat."
"Aku mengerti." Ujar Arana mengerti kesibukan Alva.
...***...
Ia hanya membawa tas ransel yang berisi sepotong pakaian, paspor, beberapa makanan ringan manis dan beberapa barang yang biasanya dibawa perempuan pada umumnya. Dengan hanya menggunakan kemeja biru bermotif bunga dan celana jeans hitam panjang, Arana melangkah keluar dengan terburu, agar bisa mengejar pesawat yang akan take off pada pukul sebelas. Arana tahu bahwa itu cukup mepet dengan waktu, namun Arana hanya bisa mendapatkan tiket dengan penerbangan hari itu di jam seperti itu, jadi Arana harus mengambilnya.
Menggunakan aplikasi untuk memanggil taksi online, Arana menunggu selama sepuluh menit sebelum mobil berwarna hitam itu muncul, dan mendekatinya. Arana memastikan bahwa itu adalah taksi online pesanannya dan segera masuk.
"Tolong agak cepat ya, Pak. Saya buru-buru." Pesannya kepada sang supir.
"Baik nona."
__ADS_1
Tidak banyak kata kemudian, mobil meluncur membelah jalanan untuk menuju ke bandara yang dimaksudkan Arana. Empat jam kemudian, Arana sampai didepan bangunan bandara, membayar kepada supir taksi online dan bergegas masuk untuk melakukan pengecekan dan verifikasi tiket. Arana tidak mau membuat kesalahan yang bisa membuatnya tidak dapat terbang ke Melbourne dan atau tidak bisa kembali ke Jakarta tepat waktu.
Setelah selesai mengurus semuanya, Arana menghela napas dengan lega dan melihat jam ditangannya. "Seharusnya tidak lama lagi."
Ia mendudukkan dirinya diantara orang-orang yang juga ingin pergi ke Melbourne. Mendudukkan dirinya, Arana fokus pada ponselnya selama beberapa waktu, mengirimkan pesan kepada Amber bahwa dia akan kesana. Setidaknya dia perlu mengabari Amber, jadi ketika ponselnya tidak aktif selama berjam-jam, Amber tidak akan khawatir. Namun masalahnya adalah Alva, meski sibuk, setidaknya Arana yakin bahwa Alva tetap akan menghubunginya. Jika pada waktu itu dia masih didalam pesawat, Arana harus menyiapkan berbagai alasan yang memungkinkan.
Arana berdoa dalam hati agar Alva tidak menghubunginya selama dia masih didalam pesawat.
Tidak lama setelah dia meletakkan ponselnya, suara mekanis seorang wanita terdengar mengumumkan penerbangan pesawat yang akan ditumpanginya. Ia segera bangkit mengikuti penumpang lainnya dan melangkah menuju jalur yang sudah disediakan, ketika dia tidak menyadari bahwa seseorang dari arah lain memandangnya dengan keraguan.
"Alana?"
Selena memandang Arana yang menyerahkan tiket pesawat kepada petugas sebelum melangkah masuk kedalam jalur menuju bagian dalam pesawat. Maniknya beralih memandang keatas dan melihat bahwa itu adalah penerbangan menuju Melbourne. Ia mengerutkan keningnya.
"Mengapa dia sendirian?" Selidiknya.
Beberapa detik kemudian, kebingungannya seakan menemukan sebuah jawaban. Bibirnya menyunggingkan senyuman mencibir.
"Oh, apakah dia akan menemui selingkuhannya? Kupikir seharusnya Alva sedang dalam perjalanan bisnis sehingga dia bisa leluasa pergi." Cibirnya.
Selena mengangkat tangannya, meraih ponselnya dan nampak menghubungi seorang kenalannya. "Halo, tuan Ghan. Saya memiliki tugas untukmu. Ada seseorang yang aku ingin kamu selidiki. Aku akan mengirimkan fotonya kepadamu, dan kamu hanya perlu memata-matainya selama dia berada di Melbourne. Dan laporkan hasilnya padaku."
Sedetik kemudian, dia mematikan ponselnya dan menyunggingkan seringaian sembari berbalik dan berjalan dengan cara yang sombong dan penuh kepuasan. "Aku akan mengungkap kebusukanmu, Alana. Sehingga Alva akan membuangmu selayaknya membuang sampah.'
__ADS_1