My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 42 : I Will Beat Him


__ADS_3

Duduk di bangku taman, Arana saat ini berhasil menarik banyak pasang mata untuk menatap kearahnya. Gadis itu tampil cantik dengan minimal dress berkerah tinggi tanpa lengan. Mini dress itu berwarna putih, dengan lapisan bolero berwarna maroon kotak hitam yang membuat nuansa manis dan lembut.


Rambut pendeknya diikat menggunakan ikat rambut beruang berwarna tulang, dengan riasan tipis yang membuat wajahnya tidak pucat.


"Rana!"


Seruan itu membuat Arana yang tengah menatap ponselnya mendongak, sebelum sebuah pelukan besar menyambutnya. "Aku merindukanmu! Senang akhirnya bertemu denganmu! "


Dengan keberadaan Amber—si bule, atensi pengguna jalan semakin tertuju kepada Arana dan Amber. Keduanya adalah gadis yang sangat cantik. Arana dengan wajah lembut dan senyuman ramahnya, sementara Amber yang babyface dengan seringaian jahil yang selalu terpasang apik dibibirnya yang sewarna cherry.


Amber selalu memiliki gaya dandanan yang berbanding terbalik dengan Arana. Jika Arana selalu berdandan simple namun terlihat bagus, Amber selalu tampil dengan dandannya yang childish dan meriah. Seperti saat ini. Sebuah overall berbahan denim berwarna merah terang dengan baju dalam berlengan pendek berwarna hitam. Rambut pirang pucatnya diikat tinggi dan dimasukkan ke lubang topi putih yang dikenakannya. Senada dengan kets putih keunguan yang dikenakannya pada saat ini.


"Aku kelaparan, Rana! Aku butuh makan! " Tanpa melepaskan pelukannya, Amber mengeluh.


Arana terkekeh dan menepuk punggung Amber. "Sudah, sudah. Ayo, aku akan mengajakmu makan."


Amber mendongak, maniknya berbinar. "Benarkah? Kamu akan menjadi food guestku? "


"Tentu saja! Aku akan mengajakmu membeli semua makanan yang enak disini. Oh, juga akan merekomendasikan makanan kesukaanku." Kata Arana riang sembari membuka layar ponselnya. "Tapi sebelumnya kita harus membawa kopermu dulu, baru kita jalan-jalan."


Amber mengangguk setuju. Toh, dia memang tidak bisa membawa kopernya kemana-mana, kan?


...***...


Menggigit bakso dengan gigitan besar, Amber menikmati makanannya dengan wajah yang menampilkan kepuasan. Bibirnya tak henti mengunyah, bahkan jika kuah bakso itu pedas karena kejahilan Arana yang menambahkan sambal kedalam mangkuk baksonya. Rasa pedas tidak mengurangi kenikmatan makan, justru itu menambah selera makan Amber. Gadis itu menatap makanan lainnya. Sembari mengunyah, tangannya terjulur mengambil tusukan sate. Begitu ia menelan, mulutnya sudah tersimpan dengan sate yang telah kepas dari tusukannya.

__ADS_1


Kaki Amber bergoyang dibawah meja, dan kepalanya sedikit menggeleng kekanan dan ke kiri berulang. Hal yang selalu dia lakukan jika dia sedang makan, dan merasa bahwa makanan itu lezat.


"Bagaimana, Amber? Enak? " Disela makannya, Arana bertanya kepada Amber yang segera memelototinya. "Kamu bercanda? Ini makanan kedua paling lezat yang pernah kumakan! "


Arana menaikkan alisnya penasaran. "Kedua? Lantas, apa yang pertama? "


Amber menyeringai. "Tentu saja makanan buatan Arana Canyelier."


"Pft!" Arana terkekeh geli, sebelum menggelengkan kepalanya dan mulai mengaduk mie di mangkuknya. "Owh, seminggu ini aku akan membuatkan makanan lezat untukmu. Tenang saja! "


"Aku sayang kamu, Rana! "


Hendak menyuap lagi, Amber teringat sesuatu dan berkata, "Ngomong-ngomong, bagaimana rencanamu untuk membuat Alva menceraikanmu? "


Mendengar itu, wajah Arana berubah. Gadis itu sesaat bingung sebelum menjawab dengan ragu. "Entahlah, Amber."


Arana mulai menjelaskan. "Aku sudah mencoba membuat Alva bosan denganku dengan bersikap buruk kepadanya. Marah-marah tidak jelas, menyuruhnya seenaknya, mengganggunya bekerja. Namun, dia tidak terlihat terbebani sama sekali. Kupikir, Alva sudah terbiasa dengan sikap seperti itu dari Alana. Maksudku, kamu tahu kan, bagaimana sifat Alana dari ceritaku?"


"Hah!" Menghela napas kasar, Amber memandang Arana. "Kalian benar-benar hanya kembar di wajah saja. Sikap kalian benar-benar berbanding terbalik. Dia adalah iblis, sementara kamu adalah malaikat. Aku benar-benar heran! Ada manusia seperti itu? "


Amber menenangkan dirinya. "Intinya, jika aku melihatnya melakukan sesuatu yang sampai membuatmu disalah pahami orang lain lagi, aku benar-benar akan menghajarnya jika dia muncul dihadapanku. Ingat itu, aku tidak peduli bahkan jika kamu melarang."


Arana tersenyum tak berdaya dan hanya bisa berkata, "Tapi jangan terlalu kuat ya."


Amber mengangguk. "Bisa disetujui. Baiklah, mari lanjutkan makan. Kita masih harus berkeliling lagi! "

__ADS_1


Arana terkekeh geli sebelum mengangguk. "Mn."


...***...


Puas berkeliling, Arana dan Amber memutuskan untuk kembali, setelah hampir seharian berjalan-jalan. Jam menunjukkan pukul 8 malam ketika Arana dan Amber ada didepan pintu apartemen tempat tinggal Arana dan Alva. Gadis itu mengulurkan tangannya, menempelkan ibu jarinya dipegangan pintu yang membuat kunci pintu itu terbuka. Mendorong pintu, Arana sedikit terkejut melihat sepasang sepatu yang Alva gunakan untuk bekerja hari ini tertata rapi disudut rak sepatu.


Alva nampaknya sudah pulang.


Melepas sepatunya, Arana berjalan diikuti Amber. Maniknya langsung tertuju pada Alva yang tengah duduk santai disofa, membaca sesuatu di layar Ipad-nya. Sebuah kacamata persegi berframe emas membuat penampilannya bak bangsawan.


"Sudah pulang, sayang?" Menoleh, Alva melepaskan kacamatanya dan meletakkan Ipad mahalnya keatas meja sebelum melangkah menuju Arana dan Amber.


"Halo, Amber. Bagaimana kabarmu? "


Amber menyeringai kecil. "Aku baik. Terimakasih."


"Kamu pulang cepat hari ini. Apakah kamu sudah makan? Maaf kami pulang terlambat. Kami terlalu bersemangat berkeliling hari ini." Ucap Arana dengan senyum malu dan tidak nyaman.


Alva menyunggingkan senyuman, mengusap pucuk kepala Arana. "Tidak masalah, aku juga baru saja kembali. Kamu boleh kok, berkeliling dengan Amber. Jangan khawatir. Tapi, ehh, aku sangat lapar. Aku ingin makan masakan lezat istriku ini."


Arana menyunggingkan senyuman cerah. "Aku akan membuatkanmu makan malam sekarang!"


Amber menyaksikan Arana berlalu dari ruang utama menuju dapur. Maniknya menyipit menatap Alva yang tak lepas memandang Arana. Bibirnya mengerut dan dua jarinya menempel di dagunya.


Hmm, Amber harus melakukan sesuatu untuk membantu Arana.

__ADS_1



__ADS_2