
Arana tercengang melihat siapa yang ada dihadapannya sekarang. Tunggu, apakah dia memang sangat suka mencari masalah dalam hidupnya?
"Hei, jangan diam saja seperti patung." Kata seseorang itu membuat Arana tersadar dari lamunannya.
"Juan?" Arana memanggil dengan nada tak percaya. Suaranya tidak keras, namun cukup untuk sampai didengar oleh Amber. Gadis blonde itu menoleh dengan kaget dan segera berlari keluar menyusul Arana.
"Kau?! Apa yang kau lakukan disini?! " Garang Amber seraya menunjuk Juan dengan jari kecil nan lentiknya.
Yang ditunjuk hanya mengangkat alisnya dengan acuh dan dengan tenang mengulurkan tangannya, menyerahkan sesuatu. Manik Amber dengan cepat menangkap ponselnya, dan tangannya segera terulur mengambil alih ponsel miliknya. "Ponselku!"
Juan memutar bola matanya malas dan menengadahkan tangannya. "Ponsel milikku."
Amber menatap Juan dan Arana sebelum berbalik menuju kamarnya untuk mengambil ponsel pemuda itu. Arana memandang Juan dan bertanya, "Apa yang membuatmu berubah pikiran?"
"Hmm~ Tidak ada. Aku hanya tiba-tiba berpikir, tidak ada gunanya juga aku memiliki ponselnya. Aku juga butuh kartu diponsel lamaku, dan entah akan selesai diperbaiki kapan. Karena dugaanku, hampir mustahil diperbaiki." Jawab Juan acuh tak acuh.
Arana sedikit curiga, namun pada akhirnya mengabaikan alasan keanehan pemuda itu. Toh, yang penting ponsel Amber sudah kembali, masalah selesai lebih mudah daripada kemungkinan terburuk yang dibayangkannya.
"Ini ponselmu! " Amber berteriak sembari berlari dari kamarnya dan memberikannya tanpa banyak kata. Teriakan itu membuat Arana menatap Amber dan menegurnya. "Amber! Alva sedang istirahat."
"Upssie! Maaf, Na~"
Melirik apa yang ada didalam paper bag, Juan menghela napas. "Akan kukirimkan nomor rekeningku nanti. Jangan lupa segera kirimkan uangnya."
Setelah mengatakan itu, Arana menyaksikan Juan berbalik dan pergi bahkan tanpa berpamitan. Menutup pintu, Arana melihat Amber tengah menunduk, menggulir layar ponselnya dengan mata melotot.
"Naa.." Lirihnya membuat Arana mengangkat alisnya bingung.
"Ada apa?"
Amber mengangkat wajahnya, menampilkan sepasang manik yang berkaca-kaca. "*Tamatlah riwayatku. Dosenku menelpon sampai sepuluh kali, dan tidak diangkat sama sekali oleh ba*ingan itu! Sekarang Pak Devion akan membunuhku dengan tugas-tugas darinya yang menggunung! Aku serius*!! "
"Memangnya ada apa sampai dosenmu menelpon? " Tanya Arana.
__ADS_1
Amber dengan ragu berkata, "Tugas terakhir yang kuserahkan ternyata gagal total karena salah konsep. Nilai akan dimasukkan paling lambat akhir minggu ini, dan pak Devion memintaku untuk segera menyelesaikan tugasku jika tidak ingin mendapatkan nilai F."
Arana mengerutkan kening. "Kamu pasti tidak mendengarkan rule-nya dan berakhir tidak tahu bagaimana konsep tugasmu. Hmm, Amber. Jika Lily mendengar ini, dia pasti akan menyekapmu didalam kamarnya sampai seminggu."
Memikirkan perkataan Arana, Amber mendadak lemas. Oh, jangan sampai Lily mendengar apa yang dia alami. Atau dia akan muntah karena dicekoki soal-soal dan rumus-rumus pelajaran dari sahabat mereka yang gila akan pengetahuan itu.
Amber menggeleng. "Tidak, tidak! Jangan sampai Lily tahu atau aku benar-benar dalam masalah besar, melebihi masalahku dengan Pak Devion! "
Amber mengatur napasnya dan nampak menatap layar ponselnya selama dua detik, memastikan sesuatu. "Tampaknya aku harus kembali besok, Na. Aku benar-benar menyesal karena tidak mendengarkan Pak Devion sehingga liburanku kali ini kandas. Huh! Ini cukup membuatku frustasi."
"Oh, jangan sedih. Jika ada sesuatu yang tidak kamu mengerti tentang tugasmu, kamu bisa bertanya padaku kapanpun itu. Aku akan membantu sebisaku." Serius Arana.
Amber mengerucutkan bibirnya. "Aku harap kamu segera kembali ke Melbourne, Na. Aku benar-benar tidak bisa apa-apa tanpamu. Yah, aku bisa sedikit jika tanpa Lily. Tapi tanpamu, benar-benar buruk! "
"Sudahlah. Aku akan berkemas sekarang."
Mengangguk, Arana membiarkan Amber kembali ke kamarnya. Arana berjalan menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya bersama dengan Alva. Pria itu masih nampak terlelap, namun ada beberapa bulir keringat di dahinya yang menunjukkan ketidaknyamanannya. Menutup pintu, Arana melangkah mendekati Alva, dan duduk dibangku disamping ranjang. Gadis itu meraih kain kompresan dan menyeka keringat Alva perlahan, dengan sentuhan lembut yang hampir tidak terasa.
"Lekaslah sembuh, Alva." Bisik Arana hampir hanya sampai pada dirinya sendiri.
Beberapa jam sebelumnya..
"F*ck!" Umpatan itu meluncur dari bibir Juan yang pada saat ini tengah bersitatap dengan laptope-nya. "Untung saja aku punya cadangan nomor yang sama di laptope. Jika tidak, aku akan ada dalam masalah besar."
Menyenderkan punggungnya kesandaran kursi belajarnya, pemuda itu menghela napas dan melirik ponsel disampingnya. Ponsel itu menyala, dan bergetar karena panggilan telepon dari seseorang yang seharusnya adalah kenalan dari pemilik asli ponsel berlogo apel digigit itu.
Juan memang sedikit sulit diatur, dan dia sangat jahil. Terkadang dia bisa sangat menyebalkan, dan terkadang dia hanya sedikit menyebalkan. Namun Juan adalah orang yang tahu sopan santun dan etika menjaga privasi orang lain, tanpa seizin sang empunya. Jadi, Juan membiarkan ponsel itu kembali padam setelah panggilan itu berhenti. Namun didetik selanjutnya, layar menyala, dan muncuk notif pemberitahuan dilayar.
"Mn?" Menyipitkan maniknya menatap layar ponsel itu, Juan memutuskan untuk mengangkat panggilan masuk di beberapa detik berikutnya.
[Halo? Maaf mengganggu, saya Ana. Saya adalah teman dari gadis yang sudah merusakkan ponsel anda ditoko es krim tadi.]
Juan mengangkat alisnya. Mengapa suaranya terdengar mirip dengan Alana?
__ADS_1
Ia membuka bibirnya dan bertanya dengan ragu. "Alana?"
Ada keheningan selama beberapa saat yang membuat kecurigaan Juan. Kemudian, kata-kata selanjutnya membuat Juan menyunggingkan seringai. Ternyata benar. [Hai, Juan.]
"Benar, Alana, ya? Bagaimana kau bisa mengenal gadis bar-bar itu? Kupikir kau pilih-pilih saat berteman."
Tentu saja. Alana adalah tipe orang yang pilih-pilih dalam berteman. Setidaknya dari kadar kesombongan dan keangkuhannya, temannya harusnya sama orang kayanya, atau sama sombongnya seperti dirinya. Walaupun Alana adalah sepupunya, Juan benar-benar cukup tidak senang mengakui bahwa Alana adalah sepupunya.
Tetapi gadis yang ditemuinya beberapa waktu lalu tidak terlihat seperti tipe teman yang Alana butuhkan. Penampilannya seperti anak kecil, suaranya lantang, dan dia bar-bar. Seseorang yang seperti itu adalah seseorang yang tidak disukai oleh Alana.
[Bukan urusanmu. Aku hanya ingin mengatakan, kembalikan ponsel temanku dan akan kuganti ponselmu. Belilah ponsel sendiri.]
Jawaban yang sama seperti biasanya, arogan.
"Haha! Kalau begitu masalah ini juga bukan urusanmu, Alana."
Juan mendengar jawaban dari seberang. [Aku ikut campur masalahnya karena dia adalah sahabatku. Sementara kamu, bukan siapa-siapaku. Jadi, kirim lokasimu dan akun rekeningmu supaya kami bisa ambil ponselnya dan bisa mengirim uangnya. Masalah selesai.]
Juan mengerutkan keningnya. Mengapa dia meminta nomor rekeningnya jika setiap saat Juan selalu meminta uang kepada Alana sebagai uang tutup mulut karena mengetahui Alana memiliki pacar selain Alva?
Ekspresi Juan sedikit berubah. "Tidak mau. Dia bahkan tidak minta maaf setelah merusak ponselku dan bahkan mengganggu kenyamananku di muka umum."
[Hah?]
"Aku akan mengembalikan ponselnya jika dia mengembalikan ponselku dalam keadaan utuh. Jika aku tidak mendapatkan kembali, dia juga tidak akan mendapatkan kembali ponselnya." Lanjutnya tanpa mengindahkan kebingungan sepupunya.
"Aku bisa memberi keringanan kepadamu. Jika kau bisa menemukan dimana aku berada sekarang, datanglah temui aku dan akan kuberikan ponsel gadis itu. Ngomong-ngomong, aku sudah mematikan lokasi perangkat ini, jadi kamu tidak akan bisa menemukannya dengan melacaknya. Oh, waktunya sampai jam 1, jika lewat, berarti ponselku harus kembali. "
Setelahnya, dia memutuskan panggilan telpon itu.
Ekspresi diwajahnya berkurang banyak. Hanya ada sepasang manik yang menyipit dan bibir yang memadat. Jika itu Alana, tanpa banyak kata akan mentransfer uang dan mendobrak pintunya sebentar lagi.
Jika tidak—
__ADS_1
"Maka, aku harus mencari tahu siapa kau sebenarnya, kan?"