My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 111: Stephen


__ADS_3

"Ana, nanti siang temani aku, ya?"


Menanggapi ajakan Civanya, Arana yang tengah menyedot cairan merah muda dari dalam botol kaca menoleh dan memandang Civanya dengan sebelah alis terangkat. "Temani kemana?"


Civanya nampak memasang wajah malu. "Membeli novel."


Manik Arana segera berbinar. Arana sangat menyukai membaca novel, sama seperti Civanya. Membayangkan akan pergi ke toko buku dan saling mereview buku bersama membuat Arana sangat bersemangat. Dengan gerakan seperti ayam mematuk beras, Arana menyetujui ajakan Civanya. "Tunggu aku setelah kelasku berakhir!"


Civanya mengangguk dengan senyuman. "Oke."


Keduanya berjalan terpisah setelah saling menyapa untuk ke departemen jurusan masing-masing. Dengan totebag ditangannya yang berisi buku dan laptope, Arana melangkah dengan santai sembari sesekali menyedot susu stroberynya melalui sedotan bening. Rasa manis yang mengalir dibibirnya dan menyapa lidahnya membuat perasaannya menjadi hangat dan menyenangkan, sehingga Arana bahkan berpikir dia bisa berkeliling Jakarta sembari berteriak bahwa dia sedang bahagia saat itu.


Arana hendak berbelok ketika sebuah bayangan jatuh kewajahnya dan membuatnya tanpa sadar menghentikan langkahnya seketika. Ia mendongak dan memandang sosok didepannya dengan sepasang manik terkejut pada awalnya, sebelum berubah menjadi tatapan datar dan antisipasi.


"Oh, kebetulan kita bertemu disini. Alana, ada yang ingin kubicarakan denganmu, menyangkut kesepakatan kita."


Arana mengerutkan keningnya dan berkata dengan tegas. "Tidak ada kesepakatan apapun antara kau dan aku. Minggirlah karena kau menghalangi jalanku."


Perkataan arogan Arana membuat David mengerutkan keningnya dan dengan sembrono menarik sudut bibirnya menjadi simpul yang tajam dan naik. "Tidak ada? Oh, maka kau pasti benar-benar tidak ingin melihat Stephen, lagi."


Arana mengerutkan keningnya. "Siapa Stephen?"


Wajah David menampakkan keterkejutan, dan senyumnya menghilang ketika dia memandang Arana dengan penuh penekanan. "Apa kau berpura-pura bodoh?"


Arana tidak bisa mengatakan apapun karena Arana memang tidak tahu siapa itu Stephen. Arana tidak mengenalnya karena Alana tidak sekalipun pernah menyebutkan Stephen di ceritanya. Ia hanya diam-diam menghindari tatapan David yang semakin tidak nyaman dipandang. "Kau aneh."

__ADS_1


Baru saja Arana hendak berkata, David terlebih dahulu menyela. "Bagaimana kau bisa lupa dengan putramu sendiri, Alana?"


Deg!


Manik Arana melebar. Bibirnya sedikit terbuka, dan Arana hampir tidak bisa mencerna apa yang baru saja dia dengar. Sepasang maniknya dengan bergetar, dan dia dengan gugup bereaksi ketika David kembali bersuara. "Kau tidak ingin melihatnya? Enam tahun berlalu sejak kau melahirkannya, bahkan jika dia diadopsi oleh sepupuku, dia tetap putramu, kan?"


"Kau tidak ingin melihatnya?"


Arana memandang David. "A-Apa kau memiliki fotonya?"


David mengerutkan kening atas sikap gadis didepannya, namun dia dengan ringan mengambil ponselnya dan menyerahkannya kepada Arana. Menerimanya, pupil Arana semakin menyempit dan jantungnya seakan ditekan berton-ton karung batu.


Ada seorang anak laki-laki yang nampaknya telah berusia empat tahun. Melihat sepasang manik itu, Arana tidak bisa berkata-kata.


"Benar-benar mirip." Batinnya mencelos.


David merebut ponselnya dengan santai. "Dia Stephen. Walaupun kau memang bukan ibu yang baik, tapi bukankah setidaknya kau harus mengingatnya barang sedikit saja? Jika bukan karena kau menelantarkannya sejak bayi, dia mungkin akan sangat amat kecewa mengetahui bahwa ibunya sendiri sama sekali tidak mengingat dirinya dan sibuk bermain dengan banyak pria hanya untuk bersenang-senang. Ya, kan?"


Arana menunduk, mengangkat kedua tangannya dan menutup telinganya. "Kumohon diamlah sebentar."


Kepalanya serasa ingin pecah.


Ekspresi Arana benar-benar sulit dibaca dibawah sana. Arana benar-benar tidak bisa mengerti Alana, dia tidak ingin lagi mengerti tentang gadis gila itu. Manusia waras mana yang menelantarkan anaknya sendiri seperti itu?!


Alana benar-benar keterlaluan dan kejam!

__ADS_1


David memiringkan kepalanya. "Hei, tidak usah berlagak terkejut. Kita berdua sama-sama tahu kok, kalau kau tidak menginginkannya sama seperti senior itu. Jadi, tidak perlu berakting didepanku. Lagipula ka-"


"Aku bilang diam!" seru Arana tanpa mengangkat wajahnya.


David memang tidak bisa melihat ekspresinya, namun dari suaranya, David dengan jelas bisa mengetahu bahwa gadis itu tengah marah. Tidak, mungkin lebih tepatnya murka. David tidak tahu apa yang membuatnya begitu murka dari mengatakan kebenaran yang telah mereka ketahui, hanya mereka berdua yang tahu. David mengetahui kebenaran bahwa Alana mengandung adalah ketika mereka pertama kali berhubungan. Alana tidak mengatakan dengan jujur bahwa itu bukanlah anaknya--David, melainkan anaknya bersama dengan laki-laki lain yang merupakan kakak kelas dari Alana yang saat itu masih berusia limabelas tahun.


Awalnya Arana ingin melakukan aborsi, namun ketika David mengetahui bahwa sepupunya dinyatakan mandul, David memiliki ide untuk membiarkan Alana melahirkan anak itu dan akan memberikannya kepada sepupunya ketika anak itu terlahir, dengan balasan David akan mengabulkan keinginan Alana selama mereka masih bersama di sekolah.


Pada akhirnya, Alana benar-benar mempertahankan bayi itu, berbohong kepada orangtuanya bahwa dia akan mengikuti karantina untuk olimpiade selama limabulan ketika kandungannya sudah menginjak usia empat bulan. Setelahnya, Alana benar-benar melahirkan dan dia dengan tanpa beban atau perasaan bersalah memberikan bayi yang baru lahir itu kepadanya.


Jadi David tidak mengerti mengapa dia begitu marah sekarang.


"Kau ... marah?" tanyanya dengan nada bingung dan aneh.


Arana tengah menenangkan dirinya sejak tadi. DIa menarik napas dan membuangnya sebelum dengan kasar mengusap wajahnya dan mengambil langkah untuk pergi. Namun David tidak membiarkannya semudah itu untuk pergi. Arana merasa lengannya dicengkram, dan dia tidak bisa melanjutkan langkahnya.


"Lepaskan." Kata Arana.


"Jelaskan dulu alasanmu marah. Bukankah dari awal kau tidak ingin memiliki hubungan dengannya?"


Arana mengeratkan giginya dan menyentak tangan David. Ia mendongak, dan melotot marah kearah David. "Ya! Jadi karena itu, baik kau, Stephen dan segala hal yang terjadi, itu bukan urusanku, dan aku tidak mau tahu!"


Arana mendesis. "Jadi jangan pernah muncul didepanku lagi mulai sekarang. Karena aku bisa menunjukkan sisi lainku padamu."


Setelah mengeluarkan ancamannya, Arana dengan tegas berbalik dan tidak sekalipun memperlambat atau menoleh kebelakang, kearah David yang tercengang ditempatnya. Sebelum pemuda itu dengan keras tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Semakin lama semakin menarik saja!" Tawanya, "Baiklah. Kita lihat bagaimana dia akan menunjukkan sisi lainnya dimasa depan."



__ADS_2