My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 75: No More Kissing In Public


__ADS_3

"Dia adalah kekasih Amber, namanya Lily." Jawab Arana. Ia menyunggingkan senyuma bercanda, mencoba mencairkan suasana. "Dia datang jauh-jauh dan mencoba memamerkan kekasihnya kepadaku. Soalnya, selama ini aku suka memamerkanmu kepada Amber."


Alva terkejut. Alva tahu bahwa Arana memang memilliki dua orang sahabat. Amber yang sudah dikenalnya, dan seseorang yang di dalam data bernama Lily. Tidak ada foto atau keterangan lain yang menunjukkan identitasnya.


Alva terkejut. Tidak, bukan karena mendengar gadis bar-bar itu memiliki seseorang yang mau menjadi kekasihnya. Namun Alva hanya tidak mengira bahwa Lily, adalah seorang laki-laki. Ia benar-benar terlena dengan namanya dan sampai tidak mengetahui bahwa Lily adalah nama seorang laki-laki.


"Benarkah? Syukurlah. Itu berarti hubungan kita menjadi tombak inspirasi hubungan orang lain. Kita harus lebih sering memamerkan hubungan kita kan, sayang?" Kata Alva.


"Mn! Iya, Al." Balas Arana.


"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi. Oh, iya! Sudahkah kamu makan? Jika belum, aku akan memanaskan lauk untukmu makan."


Alva menggelengkan kepalanya. "Aku sudah menyempatkan diri makan malam di kantor tadi bersama dengan yang lainnya."


Arana menganggukkan kepalanya dan melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air mandi untuk Alva.


Pria muda itu memandang lurus kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia kemudian menunduk, meraih ponsel didalam sakunya dan memandangnya setelah membuka sebuah file. Maniknya menyipit, dan bibirnya membentuk garis lurus yang samar.


"Lily ... sebenarnya siapa dia?'


Alva tidak mampu menemukan fakta apapun mengenai Lily dari data yang dikirimkan Erlan. Ia menekan sebuah nomor dan melangkah keluar dari apartemen untuk menghubungi seseorang. "Calv."


[Hai boss! Ada apa menghubungiku? Adakah sesuatu yang kamu butuhkan?] Suara diseberang sana menjawab dengan menggunakan bahasa Jerman yang fasih, dan nada suaranya terdengar kekanak-kanakan.


"Hal yang kuminta Erlan beritahu padamu, tentang mencari tahu identitas Arana, apakah data tentang sahabatnya yang bernama Lily hanya seperti itu?" Tanya Alva.


"Atau, hanya itu yang mampu kamu temukan?"


[Aia, boss! Kamu seperti tidak mengenalku saja. Saat itu aku sedang tidak enak badan dan terlalu malas mencari hal lain yang tidak penting. Jadi aku hanya mencari informasi terdangkal tentang lingkungan istrimu. Jika kamu membutuhkan informasi lebih lanjut, katakan saja boss.]


Alva bersenandung. "Mn, aku membutuhkan data mengenai kedua sahabatnya. Tanpa terkecuali.]


Suara disana menjawab dengan riang. "Siap laksanakan boss!"


...***...

__ADS_1


Sunrise Hotel, Kamar 982


Melemparkan jaketnya keatas ranjang hotel, Arselyne melangkah menuju jendela, membukanya dengan kasar dan membiarkan angin dingin masuk menyapanya.


Dibelakangnya, Amber berdiri di ambang pintu hotel dengan gugup, sebelum perlahan menutup pintu, menjaga privasi mereka dari orang lain. Amber yakin, jika obrolan mereka malam ini akan sangat lama dan rahasia.


"Ly, I— || Ly, aku-"


"Shut up || Diam." Sebelum Amber menyelesaikan perkataannya, Arselyne lebih dulu menyela perkataannya, tidak ingin mendengarkan penjelasan yang ingin dia sampaikan.


Amber masih mencoba untuk berbicara. "Li, listen! We don't mean to lie to you, Arana really is in a state where he can't deny what happened to him. What Arana went through was also not entirely what he wanted, and you should know that! || Ly, dengarkan! Kami tidak bermaksud membohongimu, Arana benar-benar ada dikeadaan dimana dia tidak bisa menolak kejadian yang dia alami. Apa yang dialami Arana juga bukan sepenuhnya menjadi keinginannya, dan kamu harus tahu itu!"


Arselyne masih mengabaikannya dan merespon dengan datar. "Go back to your room. I won't listen to any explanation from you, because I will hear it from Arana myself, why she lied to me, and why she lives with that man || Kembalilah ke kamarmu. Aku tidak akan mendengarkan penjelasan apapun darimu, karena aku akan mendengarnya sendiri dari Arana, kenapa dia membohongiku, dan kenapa dia tinggal bersama pria itu."


Amber menggeleng. "No, so listen to me first || Tidak, makanya dengarkan aku dulu."


Arselyne menoleh dan memandang tajam Amber yang membatu. "Amber, I told you to shut up and go back to your own room. This matter, I will ask Arana to tell me, directly, from his own lips. Not anyone else. Understand? || Amber, aku menyuruhmu diam dan kembali ke kamarmu sendiri. Masalah ini, aku akan meminta Arana untuk mengatakannya padaku, secara langsung, dari bibirnya sendiri. Tidak orang lain. Mengerti?"


Amber terdiam.


Dia sudah melihat pancaran tekad dari manik Arselyne yang tidak bisa dia bantah. Berapa kalipun ia mencoba meyakinkannya, Amber tahu bahwa hasilnya mustahil dan dia tidak akan mengerti bahwa Arselyne tidak akan mampu mengubah keyakinannya.


Pada akhirnya dia hanya bisa meminta maaf dan melangkah pergi dari kamar Arselyne untuk menuju kamar hotelnya sendiri.


...***...


"Sayang, aku berangkat. Jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, jangan lupa untuk menelponku. Mengerti?" Tanya Alva.


"Iya, sayangku~"


Alva mengulurkan tangannya, meraih pinggangnya dan merengkuhnya dengan mesara. Arana sedikit terkejut dengan tindakannya, dan maniknya memandang tidak puas ke arah Alva yang menyunggingkan senyuman jahil, "Al, kamu bilang kamu akan berangkat."


Alva menunduk untuk mengusap surai Arana dengan pipinya sendiri. "Atau aku tidak usah berangkat hari ini ya? Rasanya aku tidak semangat sekali."


Arana mendongak dengan bingung. "Apakah kamu sakit, Al?"

__ADS_1


Alva menggeleng. "Tidak, tapi sepertinya aku membutuhkan suntikan energi untuk hari ini."


Dahi Arana berkerut karena bingung, namun sebelum dia bisa menemukan maknanya, Alva terlebih dahulu memberitahunya. "Sayang, aku butuh ciuman semangat pagi~"


"Al!" Tegur Arana dengan maniknya yang membulat lucu.


Alva menunduk, memejamkan matanya dan sedikit memajukan bibirnya. "Ayo sayang, beri aku ciuman semangat pagi."


Wajah Arana memerah. Maniknya berkelana kesana kemaari. Ketika melihat knop pintu apartemen disampingnya bergerak, Arana melebarkan matanya. Akan sangat aneh melihat keadaan Alva saat ini dipandangan orang, jadi Arana dengan cepat menoleh dan menjatuhi Alva dengan ciuman singkat yang menimbulkan suara basah. Namun ketika Arana hendak menarik wajahnya menjauh, tangan kiri Alva terlebih dahulu terangkat dan menahan tengkuknya dari belakang, sembari menariknya untuk lebih dekat dengannya menggunakan tangan kanannya.


Arana tercengang oleh ciuman dalam Alva.


Namun Arana lebih tercengang ketika mendengar pintu apartemen disebelahnya terbuka, dan sosok Mellisa tertangkap disudut matanya.


Arana menarik wajahnya dan menghindari Alva. Pria muda itu melirik Mellisa yang menutup bibirnya dan tersenyum kecil. "Ops! Maafkan aku, aku tidak melihat apa-apa. Silakan lanjutkan~"


Kemudian, pintu kembali tertutup setelah Mellisa melemparkan sampah ke kotak sampah disamping pintu apartemennya.


Wajah Arana memerah dan air mata menggenang disepasang maniknya.


Arana benar-benar malu!


Ia menoleh dan dengan ganas menusuk pinggang Alva dengan kejam. "Gara-gara kamu! Tidak tahu tempat sekali!! Aku benar-benar malu sekarang!!"


"Auch! Sakit sayang.."


"Hmpf!"


"Haha!" Alva tertawa ringan, sebelum menangkap Arana kedalam pelukan singkatnya. "Siapapun yang melihatnya juga akan mengerti dan tidak akan mempermasalahkannya. Lagipula, kita adalah sepasang suami istri, dan tidak akan ada yang memprotes jika kita hanya berciuman didepan rumah kita sendiri."


Bibir Arana mengerut. "Tapi tetap saja, lain kali aku tidak akan menciummu di sini atau didepan umum. Pokoknya tidak."


"Apa? Jangan begitu, sayang!"


Arana menggeleng. "Tidak mau, aku sudah sangat kesal."

__ADS_1


"Sayang~"



__ADS_2