
Alva masih mencoba mencerna apa yang baru saja dialaminya. Semua kesialan yang terjadi padanya, secara mengejutkan adalah rencana dari keluarga dan teman-temannya. Ia memandang mereka semua selama dua detik, sebelum memfokuskan pandangannya pada Arana yang menyunggingkan senyuman manis.
"Al, jangan marah, okey?" rayu Arana sembari mengulurkan tangannya, meraih tangan Alva. "Sebenarnya kami benar-benar ingin membuat ulangtahunmu terkesan tahun ini."
Alva tidak berkata apa-apa selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya dia tertawa. "Aku tidak marah."
"Bohong, kau bahkan memukulku dengan sekuat tenaga!" seru Erlan tidak terima, karena hanya dirinya yang menjadi korban kemarahan sesaat Alva. Sudah tahu singa, masih saja diganggu. Salah siapa, coba?
Alva menarik Arana, mengerutkan alisnya pada Erlan. "Aku masih mencurigaimu, jauh-jauh dari istriku."
"Benar, wajahnya benar-benar mencurigakan." Timpal Calvian yang dibalas anggukan oleh Flora, setuju dengan ucapannya.
Erlan segera meradang. "Hello? Ini ulang tahunnya, dan kenapa aku yang dianiaya disini?" keluh Erlan mengundang tawa dari yang lain.
Johan menengahi keseruan itu dengan berkata, "Sudah. Mari kita mulai kegiatan kita, kasihan kuenya sejak tadi menganggur."
"Benar! Siapa yang mengurus panggangannya?" tanya Arletta.
Angga segera mengangkat tangannya. "Sudah aku siapkan, tante. Aku dan Juan menatanya disebelah sana."
Segera, sekelompok orang itu menuju tempat yang dimaksudkan oleh Angga. Erlan sudah mengurus untuk mendapatkan surat izin menggunakan taman itu selama beberapa waktu untuk mengadakan acara bakar-bakaran. Taman itu sangat luas, dan ada danau buatan yang dibentuk. Didekat pagar, ada beberapa meja bundar dan bangku yang ditata mengelilingi pemanggang daging yang sudah dipanaskan dengan arang didalamnya.
"Ehem! Mohon perhatiannya," alih pria yang menabrak mobil Alva tadi pagi--Bima, "Sebelum tokoh utama kita yang berulang tahun disini meniup lilin, alangkah menariknya dan alangkah baiknya dari masing-masing keluarga dan teman untuk menyampaikan sepatah dua patah kata kepada Alva, untuk membuat suasana haru."
__ADS_1
"Sejak kapan ditetapkan, kau adalah pembawa acara?" tanya Angga.
Bima adalah asisten baru Angga. Dia adalah pria yang ramah, sedikit kikuk dan ceroboh, namun dia sangat menyenangkan dikesempatan tertentu. Mendengar pertanyaan Angga, Bima menyunggingkan cengiran. "Tentu saja sekarang."
"Mn, baiklah." Arletta menengahi. "Kepada putra mama yang mama sayangi dan mama cintai dengan setengah hati karena setengahnya lagi untuk papa."
"Ma," ringis Alva membuat Arletta tersenyum. "Mama bercanda. Saat ini kamu sudah benar-benar dewasa. Kamu sudah berusia duapuluh empat tahun tahun ini. Mama berharap kedewasaan kamu tidak hanya sebatas kedewasaan fisik saja, namun juga dewasa secara mental dan spiritual.'
Alva membiarkan Arlette memeluknya, dan dia membalas pelukan wanita yang merupakan cinta pertamanya didunia itu. Arletta melepaskannya setelah beberapa waktu, dan membiarkan Johan berkata, "Harapan papa kurang lebih sama dengan mama. Tapi ada tambahan. Sebagai seorang pria, jadilah pria yang bertanggung jawab dan jangan pernah malu untuk mengakui kesalahan. Tapi, papa yakin, kamu tidak akan melakukan kesalahan. Karena kamu adalah putra papa."
"Terimakasih, pa." Ucap Alva.
Flora melangkah mendekat dan menepuk bahu Alva. "Kau sudah bertambah tua sekarang, selamat."
Alva mengangkat sudut bibirnya, menyeringai. "Kita seumur, kau tahu? Apa kau menyebut dirimu sendiri tua?"
Erlan menunjuk Alva. "Kita berhutang satu pukulan. Selamat ulang tahun, aku berharap gajiku naik bulan depan!"
Alva terkekeh dan menggelengkan kepalanya, membiarkan mereka menyampaikan doa dan harapan mereka untuk ulangtahunnya saat ini. Hingga tiba giliran Arana.
Alva memandang Arana, menunggu gadis itu mengucapkan harapannya. Arana meraih tangan Alva, menggenggamnya dengan erat. "Al, it might sound weird when I tell you this. However, I must say how grateful I am to be by your side on your precious birthday. You are the perfect man in my eyes, you are kind, you are warm, you are loving, and you are filling the void in my life || Al, mungkin akan terdengar aneh saat aku mengatakan ini kepadamu. Namun, aku harus mengatakan betapa aku bersyukur bisa berada disisimu dihari ulangtahunmu yang berharga ini. Kamu adalah pria yang sempurna dimataku, kamu baik, kamu hangat, kamu penyayang, dan kamu, adalah pengisi kekosongan dalam hidupku."
"Aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Aku berdoa kepada Bapa untuk menjagamu, melindungimu, memberkati kamu dengan kelimpahan dan kebahagiaan, dari apapun yang membuatmu bahagia. Tetapi terlepas dari itu semua, ini adalah hari besar bagimu. Aku berharap, apa yang kamu harapkan hari ini akan didengarkan oleh Bapa." Lanjutnya dengan senyuman teduh diwajahnya yang ayu.
__ADS_1
Mendengarkan perkataan Arana yang tulus, Alva tidak bisa menahan senyumnya. Pria muda itu dengan ringan menundukkan kepalanya dan mendaratkan kecupan mesra dikedua pipi putih Arana yang seketika terhias rona merah yang menyenangkan dimata Alva.
Menggemaskan sekali.
"Aduh, gigiku sakit." Ucap Flora tanpa ekspresi.
"Pergilah memeriksakannya kepadaku. Aku jamin akan sembuh dalam satu detik!" kata Angga mengundang kernyitan jijik Flora.
"Ekspresimu!" raungnya sedih.
Alva terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya dan berbalik untuk menghadap kue ulang tahunnya setelah diarahkan oleh Arletta. Sudah lama dia tidak memandang kue didepannya seperti ini, kue ulangtahun tepatnya. Sejak dia berusia 17 tahun, Alva meminta kepada Arletta dan Johan untuk tidak membuatkannya acara ulang tahun karena Alva merasa dia sudah dewasa dan tidak perlu melakukan perayaan ulang tahun. Namun memikirkan kue dengan lilin hangat didepannya dan orang-orang yang dia cinta, dia sayang dan dia percayai disekitarnya membuat hati Alva sama hangatnya dengan lilin diatas kue berlapis krim putih itu.
"Make a wish, Al." Kata Arana lembut disampingnya.
Alva tidak percaya pada takhayul semacam itu, bahwa jika dia memejamkan mata, menginginkan sesuatu dan meniup lilin, hal itu akan terwujud.
Namun, Alva dengan tenang menutup matanya, mengatupkan kedua tangannya dan bergumam didalam hatinya.
"Bapa, jika benar harapan saya bisa terkabul ditanganmu dengan lilin kecil ini, aku harap, orang-orang yang saya cintai bisa selalu berada disisi saya."
Kemudian, lilin padam bersamaan dengan meriahnya pesta kecil malam itu.
Tidak masalah untuk menangis, tidak masalah untuk bersedih, tidak masalah untuk marah. Asalkan selalu ingat, bahwa akan ada sesuatu yang membuat hidup lebih berarti. Jika waktunya menangis, peluk saja, dan menangislah. Jika tertawa, raih tangannya dan tertawalah bersama.
__ADS_1
Itulah, hidup.