My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 102: Don't Leave Me


__ADS_3

Tubuh Alva menegang, dan jantungnya seakan kehilangan kemampuan untuk bekerja. Alva melebarkan matanya dan memandang Arana dengan kepanikan yang ia sembunyikan dibawah matanya.


"Sayang, apa yang kamu katakan? Ah, kamu mungkin masih lelah, tidak apa. Istirahatlah, aku akan disini untuk menemanimu." Ungkap Alva dengan senyuman diwajahnya yang sedikit tidak bisa dibaca.


Arana menggelengkan kepalanya. Ia meraih tangan Alva dan berkata, "Aku ingin bercerai, Al. Ceraikan aku, ya?"


Alva memandang Arana tanpa senyuman diwajahnya. "Katakan, katakan alasannya? Apa aku menyakitimu? Apa aku membosankan bagimu? Kamu ketakutan padaku? Atau apa?"


Arana terdiam. Apa alasannya?


Tidak, Alva tidak pernah sekalipun menyakitinya. Alva tidak pernah membuatnya merasa terabaikan, dan Alva selalu ada untuknya. Alva adalah kenyamanan baginya dan Alva tidak pernah membuatnya takut dan merasa tidak nyaman. Alva adalah pria paling sempurna baginya, dan Arana tidak bisa mengelak dari itu.


Alva memandang Arana. Ada kilatan disepasang maniknya, dan itu membuat Arana tertegun. "Aku minta maaf. Aku minta maaf datang terlambat. Namun aku mohon, jangan meninggalkanku."


"Tidak apa jika kamu tidak ingin melihatku untuk sementara waktu. Tidak apa jika kamu ingin memukulku, tidak apa jika kamu ingin memakiku karena aku tidak mampu menjagamu. Namun ..." Alva menggenggam tangan Arana, meletakkannya didepan wajahnya, yang membuat wajahnya tertutup.


"Namun jangan meninggalkanku." Lirihnya.


Ada cairan bening yang jatuh ke sprai kasur yang digunakannya. Arana memandang bagian basah kain dengan wajah tertegun, dan tidak bisa menahan tangannya untuk terulut, menangkap sisi wajah Alva dan mengangkatnya. Benar, Alva menangis.


"Jangan meninggalkanku, sayang. Aku mohon."


Tangan Arana bergetar sama seperti hati kecilnya. Dia telah membuat Alva menangis, dia telah membuat Alva merasakan sakit hati. Arana merasakan sakit hatinya ketika dia melihat air mata dan wajah putus asa Alva. Alva tidak pernah menyakitinya, mengapa Arana selalu menyakiti dan mengganggunya?


Apakah dengan menceraikannya benar-benar menyelesaikan masalah? Seorang yang membenci Alana telah berkeliaran. Bagaimana jika Arana menceraikan Alva, apakah dirinya benar-benar bisa baik-baik saja? Bagaimana jika kenyataannya setelah ia menceraikan Alva dan meninggalkan Melbourne, dia masih saja diteror karena masih dianggap bahwa dia adalah Alana?


Tidak ada jaminan bahwa setelah dia bercerai dan setelah dia meninggalkan Alva dia akan baik-baik saja dengan kehidupannya seperti yang ada dimasa lalu.


Arana menitikkan air matanya tanpa sadar, dan mengulurkan tangannya. "Al."


Grep!


Mendengar panggilan dan gerakan itu, bahkan tanpa diperintah dua kali, Alva telah membungkukkan tubuhnya untuk memeluk Arana dengan erat. Menyalurkan emosinya dalam setiap hembusan napas yang terjalin diantara keduanya, dan pada titik demi titik air mata.


"Maafkan aku, Al."

__ADS_1


"Aku benar-benar minta maaf." Tangis Arana.


Alva menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang. Jangan minta maaf, jangan menangis. Okey?"


"Aku mencintaimu." Bisiknya penuh dengan ketulusan yang tidak akan pernah bisa disembunyikan bahkan dengan kekejaman dan rasa dinginnya. Didunia ini, Alva benar-benar hanya mencintai Arana, hanya Arana.


Arana membenamkan wajahnya diceruk leher Alva dan bergumam, "Aku juga mencintaimu. Aku mencintaimu Al."


...***...


Esok hari datang dengan cepat. Langit berwarna biru, dan suara burung pipit terdengar dari luar jendela kamar inapnya. Aroma manis bercambur dengan aroma obat masuk ke hidung Arana yang membawa sedikit rasa aneh dihidungnya.


Arana memandang pemandangan didepannya dengan sepasang manik tenang. Tidak ada ekspresi khusus diwajahnya. Namun ketika pintu terbuka dan Alva melangkah masuk dengan membawa nampan berisi makanan yang tentu saja harus dimakan oleh pasien sepertinya, Arana langsung menunjukkan senyuman manis.


"Al, makan apa hari ini?" Tanyanya.


Meski Arana sudah menebak apa yang dibawakan Alva, dia masih bertanya kepada pemuda itu. "Mn, kali ini bubur millet dengan susu stroberi."


"Eh, bubur lagi. Aku ingin makan pasta~" Ucap Arana bercanda.


Arana tersenyum dan mengangguk. "Janji, ya?"


Alva mengangguk dan menyendokkan sesendok bubur. "Sayang, buka mulutmu."


Arana dengan patuh membuka mulutnya dan menerima suapan dari Alva, sambil membiarkan pria muda itu mendaratkan kecupan dipipinya yang tidak ternoda kasa. Arana mengunyah dengan nyaman, meski bibirnya yang sedikit sobek masih terasa sedikit sakit, namun Angga mengatakan bahwa dalam seminggu dia akan sembuh jika terus menerapkan salep diluka dan lebamnya.


"Enak?" tanya Alva.


Arana menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Enak! Rasanya manis dan gurih!"


"Tahu siapa yang memasak?" tanya Alva membuat manik Arana melotot, "Jangan bilang kamu yang memasak?"


"Tentu saja," Alva tersenyum, "Bukan."


"Ehh?"

__ADS_1


Alva menyunggingkan senyuman lebar. "Bagaimana mungkin aku bisa membuat makanan seenak ini. Tentu saja aku membelinya direstoran."


Arana memukul lengan Alva dengan bibir cemberut. "Tidak menyenangkan sama sekali. Tidak romantis juga, apa-apaan itu?"


"Seharusnya kamu membuatnya sendiri dengan penuh cinta dan kasih sayang agar aku cepat sembuh." Kata Arana.


Alva menyunggingkan senyuman dan mengecup kembali pipi Arana. "Lihat, aku sudah melakukannya sejak tadi, sayangku. Lihat, aku sudah menyuapimu dengan memberikanmu ciuman. Ini lebih manis dengan aku membuatkanmu makanan, kan?"


Mendengar itu, Arana mencebikkan bibirnya sebelum menyunggingkan senyuman dan membuka bibirnya lagi. "Suamiku, suapi lagi~"


"Ehh! Kamu sangat manis dan menggemaskan. Jika pipimu sudah sembuh, aku akan menggigit pipimu!" ancam Alva dengan seringaiannya yang menunjukkan gigi taringnya.


Arana memperhatikan Alva dan sedikit terkejut. Alva benar-benar memiliki gigi taring yang menggemaskan. Arana mengulurkan tangannya tanpa sadar dan mendekat untuk memperhatikan gigi Alva yang nampak seperti gigi serigala itu dan dengan berbinar menyentuhnya. "Sayang, itu terlihat seperti taring serigala!"


"Oh, apa kamu vampir?!" tanya Arana.


Terkekeh, Alva memegang pergelangan tangan Arana dan menariknya untuk menjatuhkan ciuman dibibir Arana yang sejak tadi menggodanya untuk menyapanya. "Sangat manis, istriku benar-benar sangat menggemaskan."


Mendapatkan serangan tiba-tiba, Arana memiliki wajah memerah dan dengan malu-malu menyembunyikan wajahnya didada Alva yang menjaganya agar lukanya tidak menyentuh dadanya, dan agar tidak merasakan sakit.


...***...


"Tidak perlu khawatir tentang masalah polisi. Mereka tidak akan berani mengurus masalah ini, dan mereka tidak akan ikut campur."


"Yah, aku tahu kamu bisa diandalkan. Terimakasih, Lan." Erlan duduk disebuah sofa, dengan Alva yang tengah memandang Arana dari luar pintu kaca. Erlan memperhatikan Alva dan ia menjadi sedikit tidak sabar.


"Al, apa kamu benar-benar mencintai Arana?" tanya Erlan membuat Alva menoleh, menatapnya dengan kerutan dialisnya.


"Apa maksudmu?" sahutnya, "Bukankah kamu sudah melihatnya sendiri?"


"Al, bisakah kamu berhenti memikirkan balas dendammu pada Alana dan fokus melindungi Arana? Aku berpikir, bukankah lebih baik kamu membiarkannya pulang?"


Pulang, ketempatnya berasal.


Melbourne.

__ADS_1



__ADS_2