My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 106: Menstruation And Sanitary Pads


__ADS_3

"Al, aku lelah. Kita pulang, ya?" pinta Arana.


Alva memandang Arana dan menyunggingkan senyuman sembari menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Sudah lelah? Baiklah."


Alva dan Arana bangkit berdiri, ketika Alva berucap dengan senyuman profesional yang selalu dia tampilkan untuk menjalin sebuah kerjasama. Benart-benar berbanding terbalik dengan senyuman yang biasanya dia tunjukkan kepada Arana. "Ma, pa. Sudah larut malam, kami akan kembali ke apartemen untuk istirahat."


Lidia segera berdiri, disusul Michael.


"Mengapa tidak menginap disini saja, nak?" tawar wanita setengah baya itu.


Arana menggelengkan kepalanya dengan tenang "Ada sesuatu yang harus dilakukan dirumah, ma. Aku dan Alva memiliki sesuatu untuk dibicarakan dan tidak baik membicarakannya di sini. Lagipula ini sudah malam, kami tidak ingin merepotkan mama dan papa untuk merawat kami malam ini. Jadi, kami akan kembali."


Alva menganggukkan kepalanya, menandakan bahwa dia menyetujui perkataan Arana dan menyahuti, "Mama dan papa tidak perlu mengantar. Kami akan pergi sendiri."


Setelah berpamitan, Arana dan Alva berjalanan beriringan pergi dari mansion itu, untuk menghilang dibalik pintu depan, dibawah tatapan Lidia yang sulit diartikan. Wanita itu meremat kedua tangannya, dan memandang kearah Michael yang tidak mengalihkan tatapannya dari dokumen ditangannya. "Pa, ini ..."


Lidia kehilangan kata-katanya dan tidak bisa melanjutkan sementara waktu, sebelum suara Michael yang dingin menginterupsinya. "Istirahatlah terlebih dahulu, aku akan menyusul."


Lidia memandang Michael selama beberapa detik sebelum ia menghela napas dan menganggukkan kepalanya, dan berjalan menaiki tangga untuk menuju kamarnya. Meninggalkan Michael yang tidak mengubah posenya sedikitpun.


...***...


Tiba diapartemen sejak beberapa waktu lalu, Arana dan Alva sudah berbaring diatas ranjang dan siap untuk tidur. Bersandar dilengan Alva, Arana melamun sementara waktu, dan dia tiba-tiba mengungkapkan pemikirannya setelah lima menit berlalu.


"Sayang," panggilnya.


"Hm?"


Arana melirik Alva yang tengah membaca dokumen dilayar Ipad dan segera berkata, "Aku ingin berlatih bela diri. Apa boleh?"


Mendengarnya, Alva menoleh dan memandang Arana dengan sedikit terkejut. Arana tidak banyak berpikir pada awalnya. Namun semenjak kejadian ini, Arana berpikir bahwa dia terlalu lemah bahkan untuk membela dirinya sendiri. Arana ingin meningkatkan kemampuan bela dirinya, sehingga dia bisa menjaga dirinya agar tidak menyusahkan Alva kedepannya.


"Bela diri? Bela diri apa yang kamu inginkan?" tanya Alva.


Arana terkejut bahwa Alva akan setuju semudah itu, jadi Arana tidak menyia-nyiakan kesempatan dan segera menjawab. "Taekwondo."


Alva nampak memikirkan sesuatu dan nampak menghubungi seseorang. "Halo, kak Maria?"


[Oh, Alva? Ada sesuatu yang bisa kubantu?]

__ADS_1


Alva melirik Arana yang menampilkan wajah penasaran dan tidak bisa menahan untuk tidak mengulurkan tangan dan mengusap wajah Arana. "Istriku ingin belajar taekwondo. Tentu saja itu secara privat, bisakah?"


[Istrimu? Tentu saja bisa! Mengapa tidak? Jam latihan bisa dimulai? Aku merekomendasikan setiap sore pukul 5. Itu waktu terbaikku. Tapi jika istrimu menentukan jam berapapun itu, aku siap.]


"Sebentar," Alva menurunkan ponselnya dan bertanya kepada Arana. "Kak Maria menawarkan latihan setiap sore pukul lima. Apa kamu bisa?"


Arana mengangguk seperti ayam mematuk beras, dan membuat Alva terkekeh dengan geli. "Istriku menyetujuinya, kak. Silakan memutuskan tempatnya, tapi akan lebih baik jika berlatih di apartemenku sehingga istriku tidak perlu keluar."


[Begitu memanjakan, ya? Baiklah, aku akan kesana minggu depan. Jangan lupa mempersiapkan keperluan untuk latihan.]


"Hm." Gumam Alva.


Setelah percakapan yang terjadi, Arana dalam suasana hati yang baik dan dengan senang hati memeluk Alva yang tidak pernah sekalipun merasa tidak nyaman dengan sikap manjanya. Alva justru berharap bahwa Arana akan selalu dan selalu bersikap manja padanya. "Terimakasih, sayang~"


"Tidak perlu berterimakasih, sayang. Aku akan melakukan apapun untukmu." Tulus Alva sembari memejamkan matanya.


...***...


Hari ini Arana dan Alva tengah berjalan-jalan.


Memiliki hari libur, Alva mengajak Arana untuk menghirup udara diluar ruangan. Taman di dekat apartemen menjadi tujuan mereka. Dengan alasan agar perjalanan menjadi romantis sekaligus menyehatkan, keduanya tidak menggunakan mobil dan berjalan menuju taman. Dengan balutan baju berlengan panjang berwarna merah maroon dan celana panjang berwarna putih, Arana melangkah berdampingan dengan Alva yang menggunakan baju putih dengan jaket berwarna hitam, senada dengan celana panjangnya.


"Sayang, ayo duduk." Ajak Alva sembari menarik tangan Arana.


Arana menganggukkan kepalanya, duduk diam disamping Alva dan dengan tenang membiarkan Alva menikmati pemandangan disekitarnya. Arana kehilangan kata-katanya dan keceriaannya. Ada firasat tidak nyaman yang melandanya saat ini. Perutnya terasa sangat sakit, dan keringat perlahan membanjiri dahinya.


Arana menelan ludahnya dan dengan samar menekan perutnya yang terasa sedikit kram, dan itu menjadi sakit seiring berjalannya waktu.


"Udaranya sangat bagus kan, sayang?" Alva menoleh, hendak melihat reaksi Arana ketika menemukan keanehan istrinya itu.


Wajahnya sedikit pucat, dan ia nampak kesakitan sembari memegangi perutnya. "Sayang? Ada apa denganmu? Apakah kamu merasa tidak nyaman? DImana yang tidak nyaman?"


Arana memandang Alva dengan ragu, dan membuka bibirnya untuk mengeluarkan cicitan pelan. "Al, sepertinya aku ..."


Baru hendak mengatakan sesuatu, wajah Arana semakin buruk ketika dia merasakan keanehan pada bagian bawahnya. Ia memandang dengan ragu kebawah, sebelum terkejut ketika melihat noda merah dicelananya. Melihatnya, Alva tertegun.


"Kamu ... sedang datang bulan?" tanya Alva membuat Arana menganggukkan kepalanya.


Alva dengan bijaksana segera melepaskan jaketnya, dan mengikatkannya ke pinggang Arana. Ia membantu Arana untuk berdiri. "Ayo pulang."

__ADS_1


Sayangnya, rasa kram diperutnya membuat tubuh Arana kehilangan kekuatannya. Tubuhnya lemas, dan dia bersandar dengan tanpa daya pada Alva. "Sakit."


Alva memiliki jejak kepanikan diwajahnya, dan dia dengan cepat membawa tubuhnya berjongkok didepan Arana. "Naik sayang, aku akan menggendongmu."


"Tapi, Al ..." ragu Arana.


Alva mendesak Arana. "Naik, sayang, Ya?"


Dibujuk seperti itu, Arana mau tak mau naik ke gendongan Alva. Punggung lebar dan kokoh Alva membawa kehangatan tubuhnya. Detak jantungnya terdengar ketika Arana meletakkan kepalanya dipunggungnya. Alva memposisikan tubuh Arana agar sedikit naik, dan Arana melingkarkan tangannya dileher Alva, menyembunyikan wajahnya diceruk leher Alva.


Aroma mint yang menyegarkan.


...***...


Membaringkan Arana disofa, Alva segera menanyakan keadaannya kembali. "Sayang, apakah masih sakit?"


Arana mengangguk. "Al, bisa tolong ambilkan pembalut didalam laci? Aku harus memakainya sebelum aku mengotori sofa."


Mendengarnya, tanpa disuruh dua kali, Alva segera berjalan cepat kearah meja dengan banyak laci, dan mengobrak-abrik kedalamnya. Lima menit berlalu, dan semua laci telah Alva bongkar. Bukannya Alva tidak tahu seperti apa bentuk pembalut, namun ia benar-benar tidak menemukannya didalam laci. Dan hanya ada kotak obat-obatan dan barang-barang lain yang tersimpan.


"Tidak ada sayang!" lapornya pada Arana yang terkejut.


"Ah? Apakah sudah habis?'


Arana seharusnya bebelanja minggu depan, namun dia tidak menyangka dia akan kedatangan tamu lebih awal sementara perisainya telah habis sejak awal. Dengan serangan ini, Arana khawatir dia akan mengotori banyak tempat, bahkan sofa ini.


"Aku akan membelinya diminimarket depan. Tunggulah sebentar, sayang." Kata Alva membuat Arana sedikit tercengang.


Mengambil ponselnya, Alva dengan cepat berlari keluar meninggalkan Arana yang masih tidak bisa bereaksi selama beberapa waktu. Melangkahkan kakinya dengan lajuan yang cepat, Alva sudah sampai di lif. Ia menekan tombol lift, menunggu lift datang dan masuk sebelum menekan tombol lantai pertama. Dua menit menunggu, pintu lift terbuka dan Alva buru-buru berlari keluar, mengabaikan tatapan kebingungan penghuni apartemen lain.


Menyebrangi jalan, Alva memasuki minimarket dan segera menemui sang penjaga minimarket. "Pembalut, dimana?"


Napas Alva masih sedikit berat karena baru saja berlari untuk mempersingkat waktu. Wanita yang berada diseberang meja tertegun, sebelum dengan senyum profesional mengarahkan Alva menuju rak yang dimaksud.


Ada beragam jenis pembalut didepannya, dan Alva menjadi linglung sesaat. Ada begitu banyak dan ... yang mana yang dipakai Arana?


Alva mengerutkan keningnya, dan dengan tegas berkata kepada sang penjaga minimarket. "Ambil satu untuk setiap jenisnya dan bungkus segera!"


"Istriku sedang menungguku!"

__ADS_1



__ADS_2