My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 87: A Crazy Video


__ADS_3

Hari berlalu dengan cepat. Ketika Arana menyadarinya, hari ini adalah waktunya dia berangkat ke kampus dan belajar.


Melangkah beriringan dengan Chisa yang sedang memperhatikan ponselnya, Arana dengan tenang memandang sekelilingnya selama beberapa waktu, memeriksa apakah ada sesuatu yang mungkin menarik untuk dilihat. Mungkin karena terlalu fokus pada ponselnya, Chisa tidak menyadari bahwa didepannya, ada beberapa anak laki-laki yang nampak bercanda ria. Mereka juga tidak menyadari bahwa Chisa dan dirinya akan melintas dijalur yang sama.


Tapi bahkan jika mereka menyadarinya, mereka akan menjadikan hal itu sebagai lelucon dan membiarkan Chisa menabrak salah satu diantara mereka.


Hanya tinggal beberapa langkah, dan Arana mengulurkan tangan untuk menarik Chisa untuk lebih dekat kesisinya, memberikan jalan yang lebih luas untuk sekelompok mahasiswa itu. Chisa yang merasa ditarik mendongak, memandang Arana yang tidak memandangnya dan kemudian mengalihkan tatapannya pada sekelompok mahasiswa yang memandangnya seolah kehilangan moment candaan terbaik mereka.


Apakah dia akan menabrak mereka?


Ia memandang Arana dan merasa bersyukur. "Terimakasih sudah membantuku."


Arana meliriknya dan berucap dengan samar. "Kamu hanya akan membuatku malu jika sampai menabrak mereka karena kesalahanmu. Lain kali, simpan ponselmu saat berjalan."


Dicibir seperti itu oleh Arana tidak membuat Chisa marah atau tidak nyaman, dia justru merasa bersyukur dan merasa kagum bahwa gadis yang biasanya dingin dan bahkan tidak mau menyentuh atau dekat dengannya ternyata diam-diam perhatian dan bahkan dengan tegas menasehatinya agar lebih berhati-hati dimasa mendatang.


"Baiklah." Syukurnya.


"Eh? Apakah itu Alana Si Putri SMA Bangsa?"


Suara itu membuat Arana melambatkan langkahnya, berhenti dan menoleh. Sekelompok mahasiswa itu berhenti, dan salah satu dari mereka, seorang pemuda bersurai kepirangan dengan tindik telinga disebelah kiri memandangnya dari atas kebawah dan dalam sedetik mengangkat sudut bibirnya dengan aneh.


"Ternyata benar, SI Putri." Cetusnya.


"Lama tidak bertemu, tapi tidak mungkin kamu melupakanku, kan, Ala?" sapanya sembari melangkah mendekati Arana yang merasakan bahwa radar kewaspadaannya terangkat.


Pria itu hanya berjarak satu jengkal dengannya, dan tangan kanannya terangkat, menangkap paha jenjang Arana yang terespos. Pada hari itu, ia memang mengenakan pakaian yang lebih pendek dari biasanya. Rok setengah paha itu berdampingan dengan kaus putih polos berlapis cardigan ungu yang membuat penampilannya nampak lembut dan segar.


"Wow, kamu bertambah kurus, ya?"

__ADS_1


Mendengar dan merasakan perilaku tidak sopan pemuda didepannya, kening Arana berkerut dengan marah. Wajahnya sedikit menggelap, dan dengan tegas dia menampik tangan dipahanya dan melangkah mundur.


"Tindakanmu sangat tidak sopan!" tajam Arana.


"Haha!" Tawa itu meluncur dari bibir pemuda itu, dan dia dengan penuh cibiran mencoba melangkah mendekati Arana kembali, ketika Arana dengan tegas melangkah mundur dibawah tatapan kebingungan Chisa.


"Jaga langkahmu." DIngin Arana.


Wajah pemuda itu menggelap, dan seringaian diwajahnya menghilang. Ia dengan santai memandang Arana dan kemudian berucap, "Apa kau berpura-pura menjadi Bunda Maria sekarang?:


"Hah?"


Chisa yang merasa bahwa suasana menjadi sedikit aneh membuka suaranya. "Maaf, kupikir kamu mungkin memiliki kesalahpahaman dengan temanku. Mengapa tidak membicarakannya dengan lebih tenang dan santai?"


Pemuda itu melirik Chisa tajam dan mencibir. "Diamlah!"


Kemudian, dibawah tatapan Arana dan Chisa, ia nampak mengeluarkan ponselnya dan mengutak atiknya selama beberapa waktu. Menemukan apa yang dia cari, pemuda itu menunjukkan sebuah video kepada Arana. Karena Chisa berdiri disamping Arana sejak awal, secara kebetulan dia bisa melihat video diponsel itu.


Tubuh Arana menegang, dan maniknya untuk waktu yang lama tidak bisa fokus. Kepalanya sedikit berdengung oleh suara samar di ponsel itu. Benar-benar suara menjijikkan yang ingin membuat Arana muntah detik itu juga. Divideo itu, nampak setengah tubuh sosok yang mirip dengan Arana tengah menggerakkan tubuhnya naik turun diatas pemuda didepannya. Tubuhnya terekspos ketika dia hanya mengenakan sebuah kemeja putih yang nampaknya tidak dikancingkan. Karena itu terlihat dari samping, secara otomatis dia terlihat berpakaian lengkap. Sementara dibawahnya, pemuda itu tidak mengenakan atasan dan memamerkan tubuh atasnya yang polos. Meski tidak sepenuhnya terlihat jelas apa yang sedang dilakukan keduanya karena video itu diambil dengan setengah tubuh, namun hanya dengan video itu, Arana dan Chisa bisa menebak apa yang tengah dilakukan oleh sosok itu, Alana.


"David ... Dav ... lebih ..."


Pemuda itu--David, menyeringai ketika melihat reaksi Arana dan mematikan video itu sebelum dengan seringaian penuh cemoohan menatap Arana. "Bagaimana? Sudah ingat?"


Gila!


Arana tidak pernah menyangka bahwa perbuatan Alana bisa seketerlaluan itu. Arana tahu bahwa Alana adalah gadis manja yang setiap harinya bersikap arogan dan tidak bisa menjaga emosinya, namun dia tidak menyangka bahwa Alana melakukan hal yang lebih gila dari itu semua!


"Aigo, hatiku sakit ketika kamu berpura-pura lupa kepadaku, setelah kita saling berbagi keuntungan saat di SMA." Ledek David membuat bulu kuduk Arana meremang karena kemarahan dan ketidakpercayaan.

__ADS_1


Bagaimana dia bisa terlibat dengan hal menjijikkan seperti ini?


David mengulurkan tangannya, hendak meraih Arana dibawah kelinglungannya. Namun, seseorang menghalanginya dengan menarik Arana kebelakangnya. Arana mendongak dengan linglung, dan melihat Chisa berdiri didepannya, memandang David dengan ketidakpuasan dan kewaspadaan. Dibawah tatapan tajam David, Chisa menghapus semua ketakutannya dan dengan tegas melindungi Arana dibelakangnya.


"Tindakan ini bisa disebut sebagai sebuah pelecehan. Merekam tanpa izin dan melakukan penyebaran bisa mendapatkan pidana berat." Papar Chisa tanpa takut, "Aku bisa melaporkan hal ini kepada sekolah, dan tidak mungkin kau bisa berkelit dari hukum."


David menyeringai, "Bukankah jika aku ditangkap dia juga akan?"


"Tapi dia adalah korban, dan ini adalah privasi yang kamu sebarkan." Tegas Chisa.


Mendengarnya, kening David berkerut. Namun memikirkannya, pada akhirnya dia berdecak, memandang Arana yang juga memandangnya dan berbalik pergi diikuti teman-temannya.


Chisa menghela napas. Meski sebenarnya dia sangat ketakutan, dia tidak bisa membiarkan Arana digertak dan dipermainkan seperti itu. Ia berbalik dan menemukan wajah Arana yang pucat dan mencoba menahan mual, dilihat dari tangannya yang menutup bibirnya.


Arana benar-benar merasa sangat tidak nyaman.


Melihat Alana didalam video seolah-olah dia melihat dirinya sendiri. Dan itu membuat isi perutnya seakan diaduk. Arana merasa tidak nyaman hingga keringat dingin tercipta didahi dan dilehernya. Mendengar kekhawatiran Chisa, Arana menggeleng.


"Tidak, tidak apa."


Arana benar-benar terkejut. Dia cukup syok melihat keburukan Alana, dan dia tidak bisa menahan kesedihan didalam hatinya. Alana adalah saudari kembarnya. Meskipun mereka terpisah, Arana harus mengakui bahwa ia peduli pada Alana, karena Alana adalah belahan jiwanya, dalam artian bahwa mereka adalah satu jiwa dalam dua tubuh. Alana adalah adiknya, dan Arana juga memiliki keinginan didalam hatinya untuk menjaga Alana meskipun, Alana tidak pernah menganggapnya sebagai kembaran dan kakaknya.


Arana hanya tidak mengerti. Apa yang membuat Alana bisa berkelakuan seperti itu?



Halo, Ree disini!


Ini bukan pengumuman penting, tapi Ree cuma mau berbagi kebahagiaan sedikit. Jadi kemarin, tanggal 5 Mei 2023, Ree udah lulus dari SMA! Setelah belasan tahun duduk dibangku sekolah. Jadi, Ree minta doanya ya, biar Ree semangat terus!

__ADS_1


Jadi karen Ree ada di mood yang super baik, Ree akan update 3 episode sekaligus hari ini.


Makasiih udah sempetin baca😍


__ADS_2