
Melangkah disepanjang koridor departemen jurusannya, Arana tampil sederhana dengan hanya menggunakan kemeja biru muda lembut berlengan panjang dengan rok tutu berwarna hitam. Ia membawa ransel kecil dipunggungnya yang membuatnya terlihat segar.
"Iya, Al. Aku dalam perjalanan keluar untuk pulang."
Ditangan kanannya, ada ponsel yang tertempel ditelinga kanannya. Suaranya ditransmisikan ke ponsel dan tersambung ke seberang sana. [Aku memesan Kari untuk hari ini. Jangan yang pedas ya, sayang.]
"Kamu ingin makan kari? Emm, banyak jenis kari. Dengan daging atau sayuran saja?"
[Sayuran saja, ya?]
"Dikabulkan dengan satu syarat."
[Eh, apa itu?]
Arana menyunggingkan senyuman. "Pulang lebih cepat, oke?"
Suara tawa Alva yang renyah terdengar dari sana, dan membuat wajah Arana sedikit memerah, ketika dia menyunggingkan senyuman. [Baiklah, aku berjanji akan kembali lebih awal. Pekerjaan hari ini juga tidak terlalu banyak, kok.]
Ada suara lain yang menyahut setelah Arana selesai berbicara, dan suaranya terdengar samar. Namun Arana dapat dengan jelas mendengarnya. [Bohong! Alva hanya akan memberikan pekerjaannya yang menumpuk karena kemalasannya padaku. Aku tidak menyalahkanmu, okey, Na?]
Oh, itu Erlan.
[Jangan berisik, Lan. Lanjutkan pekerjaanmu sana!]
"Puft! Apa-apaan itu? Kamu berbohong, Al?" tawa Arana.
[Aku tidak bohong sayang~ Itu beberapa waktu yang lalu, sekarang pekerjaanku memang tinggal sedikit kok. Erlan kan memang suka begitu. Pokoknya, aku akan pulang cepat nanti.]
Arana bergumam dan melangkah menunduk. Ada bayangan didepannya dan Arana sembari berbicara kepada Alva menggeser tubuhnya menghindari seseorang didepannya. Namun ketika dia selangkah melewatinya, sebuah tengan mencengkram lengannya dan menahan pergerakannya. Ketika Arana menoleh, ada David disana.
Arana mengerutkan kening ketika dia mengingat dia masih tersambung dengan Alva. [Sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba berhenti?]
__ADS_1
Arana menjawab dengan tenang. "Maaf Al. Ada dosen yang harus kutemui untuk beberapa pertanyaan untuk materi dikelas. Kebetulan dia ada diseberang koridor. Aku akan matikan, ya?"
[Tentu. Lakukan yang terbaik, aku mencintaimu.]
"Love you too, Al." Setelah berpisah, Arana menutup ponselnya dan mendongak, menatap David yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat.
"Tadi suamimu?" tanya David.
Arana mengerutkan keningnya dan dengan tegas mengabaikan David. Arana benar-benar serius untuk menghindarinya. Ketika Arana berpapasan dengan pemuda itu dikoridor, Arana akan dengan tegas mengubah langkahnya dan mengabaikan panggilannya. Ketika dia bersama dengan Civa, dia akan mendorong Civa untuk menjauhkan pemuda itu darinya. Bahkan ketika berada dikantin, dia akan langsung menghentikan kegiatan makannya dan pergi karena tidak ingin sama sekali berurusan dengan David yang memang sejak awal tidak ada hubungannya dengannya.
Namun, Arana baru mengetahui bahwa David adalah pemuda yang gigih ketika dia membuka sebuah pesan diponselnya seminggu kemudian.
[Aku David. Datanglah sendirian ke alamat yang aku kirim. Jika kau tidak datang, kau akan melihat suamimu tahu bahwa kau, memiliki seorang putra.]
Arana hampir tidak percaya. [Apa kau gila? Kau tidak memikirkan perasaan Stephen jika dia tahu dia bukan anak kandung sepupumu?!]
Balasan datang dengan cepat, tanpa bantahan. [Aku tidak peduli, sama seperti kau juga tidak peduli. Jadi datanglah, karena aku juga memiliki bukti tes DNA antara kau dan Stephen ditanganku.]
...***...
Memandang bangunan didepannya, Alva tidak akan lagi terkejut bahwa itu adalah sebuah apartemen, apartemen mewah. Menurunkan topinya agar menutupi wajahnya, Arana dengan tenang melangkah masuk dan berjalan menuju kekamar yang dimaksudkan oleh David setelah melewati lift.
Mengetuk pintu, Arana menunggu selama setengah menit sebelum pintu terbuka dari dalam.
"Sudah datang?"
Pertanyaan itu membuat Arana sedikit mendongak. Mesikpun dia tinggi, dia hanya lebih tinggi dari kebanyakan perempuan lain. Namun, dia masih lebih pendek dari laki-laki kebanyakan. Pemuda didepannya mengenakan celana pendek berbahan kain ringan, dan dia tidak memakai atasan sama sekali. Memamerkan tubuh atletisnya yang dipenuhi dengan otot halus. Informasi dari Civanya mengatakan bahwa David memang sangat menyukai olahraga, jadi tidak mustahil bahwa dia memiliki tubuh yang bagus.
Namun, bukan itu tujuan Arana datang kemari.
"Apa maumu?" Arana bertanya dengan tanpa ekspresi, membuka obrolan diantara keduanya.
__ADS_1
David memandang Arana dari atas kebawah dan memiringkan tubuhnya, mengodenya untuk masuk. Arana tahu bahwa dia tidak akan bisa membantah, jadi dengan tegas dia melangkah masuk dan melihat David menutup pintu. Arana mengikuti pergerakannya, duduk disofa dengan kaki dan tangan yang terbuka, dan menatapnya dengan tajam.
"Kau tidak perlu bersikap seakan tidak mengerti dengan tujuanku, Alana. Seperti kau gadis polos saja." Ledek David.
Arana dengan tenang melangkah mendekati David, duduk diseberangnya, menyilangkan kakinya dan menatapnya dengan sepasang manik tenang ketika dia menurunkan topinya dan menaruhnya diatas meja. "Jadi intinya, kau ingin melakukannya denganku?"
Arana sedikit memiringkan kepalanya. "Aku sedikit heran. Apa sebegitu tertariknya dirimu padaku, sampai-sampai kau mengancamku? Atau kau terlalu tidak laku diluaran sana untuk membuaskanmu, David? Bahkan jika Stephen memang putraku, kau tidak memiliki hak untuk mencampuri kehidupan pribadiku. Karena kau, hanya mantan teman benefitku. Jadi, kurasa kau tidak punya kuasa untuk mengancamku."
Arana meliriknya dan tersenyum tenang. "Lalu, apa kamu pikir aku menikahi Alva karena cinta? Oh, ayolah. Dia bahkan sudah mengetahui aku tidur dengan banyak pria dalam semalam. Kau begitu konyol jika memberitahunya."
David memandang Arana dengan seringaian dibibirnya. "Apa kau tidak tahu?"
"Tahu apa?' tanya Arana ketika merasa pertanyaan itu kurang jelas.
"Tentang ayah Stephen."
Arana menurunkan maniknya. "Memangnya aku peduli dengannya? Kami sama-sama tidak menginginkan Stephen, jadi mengapa kau membawa-bawanya?"
"Tentu saja ada ..." Arana hendak membuka bibirnya kembali ketika dia mendengar perkataan David. "Ayahnya kan, aku."
Hah?
David dengan tenang mengeluarkan selmebar kertas dari dalam laci mejanya dan menyerahkannya kepada Arana. Menerimanya tanpa sadar, Arana menadadak linglung ketika membaca isi dari selembar kertas itu. "Tidak mungkin."
David tertawa kecil. "Apa yang tidak mungkin?"
Dalam kertas itu, tertulis bahwa David, adalah ayah kandung Stephen. Tes DNA itu benar-benar memiliki kecocokan sepenuhnya, dan Arana tahu, bahwa itu bukanlah sebuah tipuan. Manik Arana bergetar, dan dia mendadak pucat untuk beberapa alasan. Bukankah berarti dia baru saja mengatakan omong kosong didepan David ketika dia mencoba berbohong?
Ia mengangkat maniknya, dan menemukan pemuda didepannya memandangnya intens dan mengangkat sebelah alisnya. "Jadi katakan, siapa kamu?"
__ADS_1