
Arana menyeka hidungnya menggunakan tissue. Ia memandang ponselnya yang telah berjam-jam coba ia hidupkan, meski hasilnya gagal. Sepuluh menit sejak ponselnya jatuh ke air, Arana segera membawanya ke konter terdekat dan meminta ponselnya untuk diperbaiki. Namun sang mekanis mengatakan bahwa ponselnya sudah tak bisa lagi dipakai. Setelah diperbaiki berkali-kali, semua suku cadang didalam ponsel itu mati total karena terkena air.
"Hiks, hiks. Nenek," lirihnya sebelum lanjut bergumam, "Aku tidak bisa menjaga barang pemberian nenek dengan baik."
Gadis itu menyembunyikan wajah sembabnya dilipatan tangannya dan menangis. Menuangkan kekesalan dan kekecewaannya karena satu-satunya benda berharga yang ditinggalkan sang nenek untuknya telah rusak.
"Arana?"
Suara itu membuat Arana mendongak dan melihat Michael berdiri didepan pintu kamarnya dengan tatapan bertanya kepada Arana.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya tak mengubah wajah tegasnya.
Arana mengusap air matanya dan menggeleng dengan tenang. "Bukan apa-apa. Hanya teringat nenek."
Michael menghela napasnya dan duduk disamping Arana. "Ibu sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu, Rana. Ibu sudah tenang disana. Jangan membuatnya kesulitan untuk tenang dengan kamu yang enggan melepasnya."
Arana diam tidak menjawab pernyataan Michael. Apa yang dia tahu?
Arana juga sudah berusaha melepaskan neneknya meskipun dia harus menghabiskan waktu bertahun-tahun. Neneknyalah yang selalu ada untuknya, yang menggantikan peran orangtua untuknya dan selalu menyayanginya dengan penuh ketulusan.
Bagaimana dia bisa semudah itu menerima kepergian dan menegikhlaskannya?
Arana butuh waktu.
"Aku mengantuk. Bisakah aku tidur lebih dulu?" Tanya Arana berniat mengusir Michael dengan halus.
Pria yang hampir setengah baya itu mengangguk mengerti dan bangkit berdiri sebelum berhenti ketika mendengar panggilan Arana.
"Pa,"
"Ya?"
Arana sedikit menurunkan pandangannya, sebelum berucap dengan sedikit nada samar. "Selamat malam."
Michael diam selama dua detik sebelum menganggukkan kepalanya dan membalas. "Yah, selamat malam."
Menyaksikan pintu kamar tertutup, Arana membaringkan dirinya sesaat setelah menyimpan ponselnya kedalam kotak penyimpanan dan memasukkannya kedalam laci. Tangan kanannya meraih salah satu papper bag yang ada diatas nakas meja dan mengambilnya.
Membukanya, Arana menemukan ponsel yang telah diprogram sama persis seperti milik Alana, bahkan termasuk nomor telepon, chat, akun media sosial dan lain-lain.
__ADS_1
Arana memincingkan matanya saat melihat postingan terbaru yang diupload beberapa menit yang lalu.
The Freedom.
Yah, Alana memang sudah bebas. Dengan akun ganda, Alana dan Arana bisa saling memantau akun media sosial.
Arana tersenyum miris. "Haruskah aku bersyukur sepertimu?"
"Aku memang tidak perlu lagi bersusah payah bekerja, aku mendapatkan tempat tinggal yang nyaman, dan aku tak perlu khawatir akan masalah keuangan." Katanya.
Ia melanjutkan sembari menutup sebelah wajahnya dengan tangan. "Tapi, mengapa aku baru bisa mendapatkan semua itu setelah menjadi dirimu?"
"Alana, apa ini adil menurutmu?" Samarnya tertelan kesunyian malam.
...***...
Pria itu duduk dibangku kebesarannya. Memandang berkas dengan sepasang netra jelaga sekelam malam, yang dapat memperangkap siapapun kedalam pesonanya yang bak batu permata. Wajahnya tampan, percampuran antara orang Eropa-Indo, yang membuatnya kebulean. Meski tidak kentara, tetapi wajahnya benar-benar rupawan.
"Apa surat perizinan pembangunan industri diwilayah Surabaya sudah didapatkan?"
Erlan sang asisten mengangguk. "Sudah, Amalia mengirimkannya kepadaku kemarin dan aku sudah memberikan salinannya pada pihak pemerintah daerah disana."
"Halo, bagaimana persiapannya?"
[Sudah delapanpuluh persen, Pak! Kami tinggal memasang dekorasi dari pintu masuk sampai Altar, cathering dan beberapa hal lain.]
"Saya mau semuanya berjalan dengan lancar tanpa cacat sedikitpun." Katanya.
[Kami akan memastikan semuanya aman dalam kendali, Pak.]
"Baiklah." Setelahnya, ia mengakhiri panggilan telepon itu.
Erlan memandang pria didepannya yang nampak mengeluarkan kotak perhiasan dari laci mejanya. Ada dua buah cincin pernikahan yang menawan didalamnya. Jika diperhatikan dengan cermat, ada ukiran nama didalamnya.
Alva & Alana
"Alva, kau yakin dengan pernikahan ini?" Erlan berbicara setelah diam selama beberapa waktu.
Pertanyaannya mengundang pria muda itu——Alvario Reynan Erlangga, untuk menoleh. "Aku sudah mempersiapkan segalanya dengan cermat, Lan. Lagipula, apa maksudmu?"
__ADS_1
"Hah, lupakan."
Erlan menelan kembali suaranya. Memilih diam daripada harus membuat keributan dengan sahabat sekaligus bossnya itu.
Hah, Erlan tak berdaya.
...***...
Arana memandang pantulan dirinya dicermin. Ia sudah tampil sempurna dengan baju terusan tanpa lengan biru yang pas ditubuh rampingnya. Bawahannya Arana menggunakan hels setinggi lima centimeter berwarna hitam, senada dengan tas selempangan yang dibawanya.
Rambutnya dibiarkan tergerai, dan dijepit menggunakan jepit rambut berwarna biru laut. Bibirnya terolesi lipbams warna cerah yang lembut disaat bersamaan.
Ia menatap sepasang netra gelap yang turut menatapnya.
"Rana, ini mudah. Kamu hanya perlu menggantikan Alana, menikah dengannya dan kemudian mencari cara untuk bercerai. Semudah itu, Arana." Gumamnya.
Ding~
Ada dering pesan diponselnya. Gadis itu meraih ponsel barunya dan melihat sebuah pesan yang ada disana.
Itu dari Alva.
[Sayang, maafkan aku. Sepertinya aku tidak bisa menjemputmu hari ini, karena ada meeting mendadak. Aku akan menyuruh Erlan menjemputmu, dan aku akan datang sedikit terlambat. Apakah tidak apa?]
Arana sedikit memiringkan kepalanya sebelum membalas.
[Mn, baiklah.]
Melangkah turun setelah membawa ponselnya, gadis itu menemukan Lidia menunggunya dibawah. "Rana? Kenapa Erlan yang menjemput didepan?"
Arana menjawab seadanya. "Ada meeting mendadak yang membuat Alva akan datang terlambat. Jadi dia menyuruh asistennya untuk kesini."
Lidia mengangguk mengerti. "Baiklah, kalau begitu jangan membuat Erlan terlalu lama menunggu. Dan ingat untuk menjaga identitasmu. Jangan sampai ada yang tahu jika kamu bukan Alana."
Arana merasakan sakit didadanya, tetapi dia memasang senyuman semanis milik Alana. "Oke, ma. Alana pergi dulu ya~ Aku sayang mama~"
Mengecup pipi sang mama, Arana menahan dirinya untuk tidak menangis bahkan didalam hatinya. Lidia terpatung ditempatnya, sebelum sepasang manik itu berkaca-kaca menatap punggung Arana yang menjauhinya.
"Maafkan mama, Rana." Lirih Lidia.
__ADS_1