My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 23: Kitchen Mission


__ADS_3

Arana terbangun dengan perlahan. Ia berkedip, menyesuaikan penglihatannya yang buram. Setelah sedetik kemudian, tubuhnya membeku ketika dia melihat dada bidang terlapis baju tidur hitam terpampang didepannya. Otot perut enam pack itu sedikit mengintip dibalik piyama tidur yang sedikit tersingkap. Wajah Arana memerah seketika, dia membuka bibirnya dan bernapas seperti ikan yang menggelepar didaratan.


"Um? Kamu sudah bangun?" Suara serak itu menggoda pendengaran Arana. Gadis itu terbatuk dengan canggung. "Kamu juga sudah bangun? Apa tidurmu nyenyak?"


Alva menggulung senyuman, menunduk untuk memberikan kecupan dipipi Arana. "Aku memeluk istriku tercinta, tentu saja tidurku nyenyak."


Wajah Arana benar-benar memerah hingga kepangkal lehernya. Sungguh, apakah dirinya mampu bertahan dengan rasa malu yang luar biasa dari skinship macam ini?!


Arana menyunggingkan senyuman pada akhirnya. Sebernarnya, sejak perbincangannya dengan Alva semalam, dia mulai tahu banyak tentang pria itu dan kehidupannya. Meski tidak bisa menggali semua informasi,namun hanya untuk alasan rumah tangga, informasi yang diberikan Alva sudah lebih dari cukup. Setidaknya, dari perbincangan itu, dia tidak begitu canggung dengan Alva dalam batinnya. Tentu saja jika itu bukan skinship semacam ini. "Benarkah?"


Alva menganggukkan kepalanya membenarkan. Dia menarik Arana kembali ke pelukannya dan mendesah puas. "Aku benar-benar tidur nyenyak malam ini. Terima kasih, sayang."


Arana terkikik geli. "Tentu, sayangku."


"Tapi kamu harus melepaskanku dulu. Aku harus membersihkan diri. Kamu juga, kamu bau." Arana berkata setengah bercanda sembari menutup hidungnya dan memejamkan matanya.


Alva memandangnya dengan tidak percaya dan menariknya makin mendekat. "Kamu bilang aku bau? Itu tidak bisa diterima. Kamu harus menerima hukuman."


Alva bergerak bangun, mengukung Arana dibawahnya. Kedua tangannya bergerilya disekitar pinggang Arana dan menggelitikinya. Gadis itu menatap Alva dengan seringaian kecil. Oh, Arana tidak pernah merasa kegelian saat digelitiki dibagian perut. Itu satu-satunya hal yang membuat Amber dan Lily cemburu kepadanya karena mereka tidak bisa membuatnya kegelian. Sedangkan Amber, jika seseorang menyentuh pinggangnya saja, dia bisa tertawa kegelian.

__ADS_1


Arana menarik Alva dan membalikkan keadaan. Dia duduk diatas Alva dan menggunakan kedua tangannya untuk menggelitiki area pinggang Alva. Pria muda itu tertawa kegelian, sementara Alva tertawa puas karena bisa membalikkan keadaan.


"Haha! Hentikan, itu geli sayang! Hentikann!" Alva melolong kegelian, sementara Arana menyeringai puas.


Dalam beberapa waktu, kamar itu hanya berisi suara tawa dari dua insan manusia yang tengah bersenang-senang.


...***...


Arana tengah berada di dapur ketika dia beberapa kali mengawasi tangga, memastikan keberadaan Alva belum muncul. Dia tengah dalam misi mengacaukan dapur. Sebagai seseorang yang belum pernah menyentuh dapur——Alana maksudnya, Arana harus mencoba membuat situasi terlihat normal untuk dirinya yang belum pernah memasak. Dia sudah membuat panci tak tertata, dan sisa bahan masakan disekitar talanan. Dia juga membuat telur sedikit——hanya sedikit, gosong, dan sosisnya kematangan.


Sebenarnya akan lebih terlihat natural jika jarinya terluka, seolah dia tidak pandai menggunakan pisau, namun Arana tidak ingin melukai dirinya sendiri, jadi dia lebih memilih alternatif.


Membuat nasi goreng yang sedikit keasinan tidak akan membuat seseorang terbunuh, kan?


Sebenarnya selama tinggal di Melbourne bersama neneknya, Arana telah belajar banyak hal. Bahkan dalam urusan dapur, Arana pandai mengolah bahan makanan untuk menjadi hidangan yang enak. Setelah dia tinggal sendiri, saat Amber dan Lily datang bermain, mereka selalu makan dirumahnya dan memuji masakannya adalah yang terbaik. Mungkin dalam beberapa minggu, dia bisa membuat makanan yang normal untuk Alva dengan alasan sudah berlatih memasak dengan sangat baik dan ketat.


Oh, Arana juga tidak ingin makan makanan yang keasinan atau kurang rasa setiap harinya!


"Sayang? Apa yang kamu lakukan?" Suara Alva membuat Arana menoleh, dengan sepiring nasi goreng dengan sosis dan telur ditangannya, dia menyambut Alva dengan senyuman. "Aku menyiapkan sarapan!"

__ADS_1


Dia meletakkan piring itu diatas meja. "Um, ini pertama kali bagiku untuk memasak. Jadi aku tidak begitu yakin dengan rasanya. Tapi, tapi aku mengikuti kiat dengan benar, kok."


Alva melirik dapur dan memasang satu ekspresi yang hampir membuat Arana terbahak. Dia selalu memiliki wajah itu jika menemukan Amber ada di dapurnya, mencoba memasak. Oh, ternyata alasan mengapa Amber tidak pernah merasa bersalah karena dapat melihat ekspresi yang menyenangkan dilihat itu. Haha!


Merasa ditatap oleh Arana, Alva menenangkan ekspresinya dan memasang senyuman setelah menjauhkan tatapannya dari dapurnya yang hancur. Pria muda itu mendudukkan dirinya dibangku didepan piring nasi goreng itu dan menyunggingkan senyuman. "Aromanya enak~"


Arana menyaksikan Alva menyendok dan mengunyah. Ekspresi wajahnya tidak berubah selama beberapa saat, sebelum pria itu menyunggingkan senyuman. "Enak!"


Hati Arana berdesir. Alva benar-benar mencintai Alana sampai membuat kebohongan kecil seperti ini untuk membuat Alana bahagia dengan pujiannya. Arana menatapnya selama beberapa saat, mengawasi Alva yang berulang kali menyuap nasi goreng dengan wajah yang sama. Arana merasa sedikit bersalah dihatinya.


"Biarkan aku mencoba sesuap. Aku belum mencicipinya tadi." Ucap Arana sembari mengulurkan tangan kanannya. Namun sebelum tangannya bisa menjangkau, Alva mengangkat piring nasi goreng itu dan menjauhkannya dari Arana.


"Tidak boleh, ini kan untukku." Ucap Alva.


Arana tahu dalam hatinya bahwa Alva hanya tidak ingin membiarkan dirinya tahu seberapa buruk masakannya. Oh, manis sekali!


Arana merengek, "Aku juga lapar."


Pria itu menoleh kepiringnya, menusuk sosis yang sudah tergigit sedikit dan memberikannya kepada Arana. "Makan saja sosisnya, tapi nasi ini milikku."

__ADS_1


Arana mencebik, namun diam-diam mengulas senyuman saat melihat Alva kembali menikmati sarapannya dalam diam. Oh, ingatkan Arana untuk meminta maaf kepada suaminya itu untuk sarapannya yang sedikit menyakiti lidah.



__ADS_2