
Acara pernikahan Amber dan Exel terbilang sederhana. Mereka hanya mengundang teman dan orang terdekat. Bahkan Exel sama sekali tidak terlihat mengundang keluarganya dan meminta seseorang menjadi walinya menggantikan sang ayah. Dibawah tatapan penonton, dibawah cahaya mentari yang lembut, dibawah cakrawala yang menawan, ketika aroma bunga semerbak tercium, pasangan diatas altar saling bertukar cincin dan resmi menjadi pasangan dengan sebuah segel berupa ciuman selepas sang pendeta membacakan ikrar pernikahan.
Suasana bahagia dan haru menular dengan cepat, dan Arana sama sekali tidak bisa menahan senyumannya.
Acara pernikahan keduanya memang sederhana dan hanya mengundang orang terdekat. Suasana memang tidak ramai atau meriah, namun pernikahan itu menghasilkan suasana yang sakral dan penuh kebahagiaan. Tidak ada sedikitpun kepalsuan atau perasaan sedih, yang entah mengapa tanpa sadar membuat Arana sedikit tersesat.
Arana menggelengkan kepalanya sesaat sebelum kembali memandang kedepan. Arana menghela napasnya samar dan kembali menyunggingkan senyuman.
Kemudian ketika bunga terlempar, pesta pernikahan Amber dan Exel berakhir. Berhari-hari kemudian, sudah tiba waktunya Arana untuk kembali. Setelah memastikan bahwa dia boleh naik pesawat setelah melakukan pengecekan kehamilan, Arana kemudian kembali. Karena yang lain sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing, Arana melarang mereka mengantarnya. Arana juga melarang Exel mengantasnya karena Exel harus menjaga Amber yang sudah hamil tua.
Pada akhirnya karena kekeras kepalaan Arana, Arana berhasil ke bandara seorang diri menggunakan taksi.
Menggunakan kemeja berwarna peach dengan rok setengah kaki berwarna putih, Arana melangkah disepanjang bandara yang pada hari itu cukup sepi. Penerbangan yang paling ramai sudah sejak beberapa jam yang lalu, jadi wajar jika hanya tersisa beberapa penerbangan pada hari itu. Arana melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian, dia membuka pintu selepas mengeringkan tangannya.
"Berapa menit lagi, ya?"
Arana bergumam dan hendak berjalan ketika sepasang tangan terulur dari belakang dan membekap separuh wajahnya. Ada sebuah kain dengan aroma menyengat yang membuat kepala Arana pusing. Ia tanpa sadar memeluk perutnya dan mencoba menahan nafas sebanyak yang dia bisa.
"Siapa ini?!"
Namun, beberapa saat kemudian, dia merasa kepalanya semakin pusing, disaat dia kemudian didukkan diatas kursi roda.
"Ugh.. To ... long ..."
Arana meringis pelan, matanya memberat dan dia bersandar lemah di kursi roda yang segera membawanya keluar dari bandara. Sepasang maniknya semakin memberat dan menggelap, ketika dia perlahan jatuh pingsan karena obat bius.
...***...
"Bangun."
Arana perlahan menggeliat. Ia membuka matanya yang terasa sangat berat dan berkedip linglung melihat langit-langit ruangan yang asing baginya. Arana menolehkan kepalanya dan tanpa sadar menyentuh perutnya yang membuncit ketika dia melihat seseorang berdiri disampingnya. Arana mengambil posisi duduk dengan kepayahan, sedikit menjauh ke sudut tempat tidur dan menatap seseorang itu dengan tatapan waspada.
__ADS_1
"Siapa kau?! Dimana aku sekarang?! "
Josh menatap Arana dengan tatapan menelisik. Menatapnya dari atas kebawah sebelum menyeringai geli. "Sayang sekali aku sudah terlambat. Kau ternyata sudah dibobol dan bahkan sudah memiliki perut membuncit."
Arana mengerutkan keningnya. Perasaannya begitu tidak karuan, antara ketakutan, cemas, marah dan waspada. Dia dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Sama sekali tidak menguntungkan. Seandainya Arana tidak sedang hamil, dia mungkin masih bisa melawannya atau bahkan mengalahkannya, namun Arana sedang dalam keadaan yang tidak baik. Dia bahkan kesulitan menggerakkan kakinya karena hamil besar, apalagi untuk menyerang. Arana tidak bisa membahayakan buah hatinya.
"Apa maumu sebenarnya? Aku tidak mengenalmu, mengapa kau melakukan ini? "
Josh menyilangkan kaki dan tangannya, bersandar nyaman pada bangku sebelum dia berkata, "Coba tebak. Jika kau menebak dengan benar, mungkin aku akan membebaskanmu."
Arana memutar otaknya segera untuk memikirkan siapa yang akan melakukan tindakan ini padanya, namun Arana sama sekali tidak bisa menebak. Apakah seseorang ini juga musuh Alana? Apakah orang yang berusaha mencelakai Alana masih belum tertangkap juga?
Josh melihat kebingungan dan kecemasan Arana sebelum terkekeh, "Alana."
Arana segera menoleh kepadanya, melihatnya dengan tatapan waspada dan bertanya-tanya, apa yang akan dia katakan selanjutnya.
Josh semakin tergelak yang membuat Arana menggigil, emosi dan takut. "Kau pasti berpikir aku memanggilmu. Padahal, aku sudah memberitahumu jawabannya."
Jantung Arana seakan berhenti berdetak selama sepersekian detik ketika dia akhirnya menyadar maksud Josh. Pria itu sudah tahu identitasnya, dan orang yang menyuruhny adalah Alana. Dia tidak mengenalnya sebagai Alana, namun dia mengenalnya sebagai Arana. Arana mengerutkan keningnya, semakin berhati-hati. "Alana yang menyuruhmu untuk menculikku? "
Arana mengerutkan kening semakin dalam. Ia memandang pria didepannya. Penampilannya memang menarik dan wajahnya sama menariknya, namun Arana dengan jelas melihat dan merasakan aura tidak menyenangkan darinya. Tatapannya membuat Arana tidak nyaman dan ingin muntah.
"Alana yang manis menyuruhku untuk menculikmu. Kau tahu, sekarang dia sedang hamil, dan sedang hamil anakku. Tampaknya usia kandungannya hampir mirip denganmu."
"Alana ... hamil? "
Arana terkejut bukan main dengan fakta yang didengarnya, dia merasakan perasaan aneh bercampur didalam hatinya. Disatu sisi dia merasa senang bahwa artinya Alana tidak akan mengambil bayinya, namun disatu sisi dia khawatir tentang Alva. Arana sudah menyiapkan diri untuk saat seperti ini, namun Arana tidak bisa menerima seperti yang dia katakan dan tanamkan dibenaknya. Arana masih tidak bisa membayangkan bahwa suatu hari Alva akan kembali memandang Alana, dan dia kehilangan tatapan penuh cinta dan kasih sayang itu.
Arana tahu Arana egois, namun Arana benar-benar mencintai Alva.
"Ini terdengar lucu. Kekasihku sekarang bersama dengan pria yang adalah suamimu, dan kau bersama denganku yang adalah kekasih Alana. Bukankah ini seperti aku dan pria itu melakukan pertukaran yang adil? "
__ADS_1
"Tutup mulutmu! Jangan bicara omong kosong! " Arana mendesis dengan marah.
"Aku sudah tahu apa yang dilakukan Alana. Katakan kepadanya untuk membebaskanku, karena aku akan kembali ke kampung halamanku dan aku akan meninggalkan mereka semua! "
Josh mengangkat bahunya. "Alana memberikan pesan kepadaku untuk membiarkanmu tetap berada disini sampai dia menyelesaikan urusannya."
Ngomong-ngomong, berarti dia seharusnya melahirkan bulan ini." Ia memasang wajah sedih palsu, "Aku sangat sedih tidak bisa melihat bagaimana anakku lahir. Jadi, aku akan menggantikan suamimu dan menemanimu bersalin, oke, Arana? "
"Jangan bermimpi." Gumam Arana penuh amarah. "Biarkan aku pergi sekarang juga! "
Josh bangkit berdiri, melangkah kepintu. "Aku akan coba berbicara pada gadis keras kepala dan licik itu dulu, mengerti? Tunggulah disini dengan tenang."
Ketika pintu tertutup, ketegangan Arana berkurang. Ia menoleh keluar dan menemukan dirinya berada dilantai atas. Ada pemandangan pasir pantai dan air laut di kejauhan yang membuat perasaan Arana semakin tidak karuan. Ia membungkuk, menyentuh perutnya.
"Bapa.. Apa ini hukuman untuk Rana karena Rana tamak dan egois?"
"Alva."
...***...
Duduk dibangku di bandara, Alva tidak henti-hentinya menolehkan kepalanya kesana dan kemari guna menemukan sosok yang dikenalinya. Ia sesekali menatap ponselnya, mencoba melihat notifikasi dari Arana ketika dia mendengar sebuah suara yang akrab.
"Sayang!"
Alva menoleh, tersenyum ketika mendapati sosok gadis bersurai hazel sebahu tengah melangkah mendekatinya dengan balutan kemeja setengah paha berwarna biru gelap dengan sneacers dikakinya. Kakinya yang putih dan ramping dipamerkan, dan dia mengusap perutnya yang membuncit dengan senyuman lebar ketika ia melangkah menuju Alva.
Ia dengan cepat mengulurkan tangannya dan memeluk Alva, Alva segera melengkungkan tubuhnya agar tidak menekan perut besar sang istri.
"Aku sangat merindukanmu. Apa kamu bersenang-senang disana, sayang?" Alva bertanya dengan lembut yang membuat gadis itu menyeringai tanpa sepengetahuan Alva.
"Ternyata dia memang benar-benar penyayang seperti bagaimana Arana diperlakukan selama ini. Arana, Arana. Sudah cukup aku membiarkanmu mendapatkan kasih sayang mereka. Sekarang adalah giliranku untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, sayang~"