
Amber keluar dari kamar yang ditempatinya semalaman penuh itu dan merentangkan kedua tangannya sembari menguap, merasa puas dengan tidurnya malam tadi yang diungkapkannya dengan senyuman lebar. Ia menoleh kearah dapur, dan menemukan Arana tengah berkutat dengan panci dan sendok pengaduk.
"Yeay! Sarapan! " Amber berteriak riang sembari berlari mendekati Arana. Gadis yang saat ini tengah mengenakan celemek sembari memegang pengaduk kayu menoleh.
"Ah? Bubur? " Beo Amber ketika melihat apa yang dimasak oleh Arana. Bubur seafood dengan potongan kecil sayur. Arana menyunggingkan senyuman. "Bubur ini untuk Alva. Aku sudah membuatkanmu roti panggang dengan telur goreng dan sosis panggang dimeja makan. Makanlah sebelum dingin."
Amber mengerutkan keningnya. "Kenapa kamu membuatkannya bubur? Apa selera makannya seperti itu? "
"Alva sedang sakit, jadi dia tidak bisa makan makanan berat. Aku membuatkannya bubur agar dia tetap bisa mendapatkan energi dan lekas sembuh." Ucap Arana sembari mengaduk sepanci kecil bubur seafood yang aromanya hampir bisa menggugah selera makan Amber jika saja Amber suka dengan bubur. Sayangnya, Amber tetap tidak suka dengan bubur karena teksturnya yang terlalu lembut dan lunak.
"Bukankah semalam dia masih baik-baik saja? " Tanya Amber bingung.
Arana menggeleng. "Sepertinya Alva kelelahan karena semalam dia masih mengurus pekerjaannya saat kita akan tidur. Sepertinya aku tidak bisa menemanimu jalan-jalan lagi hari ini. Aku harus merawat Alva."
"Kenapa kamu harus merawatnya? Kan ada dokter, bawa saja Alva ke rumah sakit. Atau jika dia tidak mau, tinggalkan saja. Toh, dengan begitu, pandangannya padamu atau Alana maksudku akan memburuk, dan dia akan menceraikanmu." Kata Amber.
Arana menggeleng. "Astaga, Amber. Walaupun aku memang ingin Alva menceraikanku, namun aku juga tidak setega itu membiarkan Alva sendirian di apartemen sementara aku bersenang-senang diluar. Kamu tahu, kan? Aku tidak bisa membiarkan orang sakit tidak dirawat. Setidaknya meski tidak banyak membantu, aku ada untuk menemaninya. Kamu juga saat sakit selalu ingin ditemani, kan? Kamu bahkan menangis saat aku hanya pergi kedapur mengambil air kompres."
Wajah Amber sedikit memerah dan dia terbatuk kecil. "Ya–Ya sudah! Aku akan berkeliling sendiri saja nanti. Tapi kamu harus siap jika aku menelponmu kapanpun itu."
Arana tersenyum geli. "Aduhh, tentu saja. Bagaimana mungkin mama akan membiarkan putri mama menangis dipinggir jalan jika terjadi sesuatu dengannya."
"Owh, aku sayang kamu, mama!" Kata Amber sembari berbalik dan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Menggelengkan kepalanya, Arana kembali memfokuskan dirinya pada bubur yang ada didalam panci, mengadukan berkala agar tidak gosong. Setelah lima menit berlalu, Arana mengambil beberapa sendok bubur dan memasukkannya kedalam mangkuk sebelum membawanya dengan nampak menuju kamarnya dan Alva.
Tidak ada yang berubah dari posisi Alva selain kepalanya yang miring kearah pintu. Maniknya masih terpejam, dan napasnya masih berat. Meletakkan bubur diatas nakas meja sembari membiarkannya sedikit dingin, Arana mengulurkan tangannya untuk memijat lengan Alva. Setelah beberapa lama kemudian, dia beralih mengelus sekaligus memijat pelan kepala Alva.
Ketika dia sakit dulu, neneknya selalu melakukan hal yang sama kepadanya, dan entah bagaimana, rasa sakit dan pusing itu sedikit berkurang. Entah mungkin karena rasa damai yang dirasakan atau memang karena itu berfungsi dalam dunia medis.
"Bangunlah sebentar. Kamu harus mengisi perutmu dan minum obat setelahnya." Ucap Arana sembari membantu Alva untuk mengangkat tubuh bagian atasnya. Tak lupa, Arana menaruh bantal dibelakang Alva, membantunya untuk bersandar lebih nyaman.
"Mnn, sudah.." lirih Alva membuat Arana mengerutkan keningnya.
Arana menggeleng "Baru satu suap, Al. Makan lebih banyak agar tubuhmu kuat. Jika tidak makan, kamu akan lemas dan semakin sakit."
"Hambar."
Jika tidak sedang mengurus orang sakit, Arana akan terbahak sekaligus melemparkan mangkuknya kepada seseorang jika seseorang itu berkata bahwa buburnya hambar. Arana sudah mengolah buburnya dengan sangat baik, jika bukan karena lidah Alva yang sedang sakit, bubur buatannya lezat dilidah. Gurih, lembut, sedikit manis yang juice dari lobster dan udang. Arana tidak merespon dan kembali menyendok bubur dan membawanya ke bibir Alva.
Alva menatapnya dengan pandangan menolak dan berkata kepada Arana dengan nada kekanakan. "Rasanya hambar, sayang. Aku tidak nafsu makan."
Arana menggeleng. "Kamu harus makan. Setidaknya, beberapa suap lagi." Dan mengangkat mangkuknya.
Ia memasang wajah sedih, dan menatap Alva dengan pandangan kecewa. "Atau kamu tidak suka masakanku? Apa masakanku terlalu buruk sampai kamu tidak mau makan? Aku minta maaf jika benar begitu. Lain kali kita membeli makanan jadi saja."
Manik Alva terbuka lebar, dan dia menggeleng. "Tidak! Uhuk! Uhuk!"
__ADS_1
"Tidak sayang, ma–maafkan aku. Masakan buatanmu sangat lezat, hanya saja karena sakit, lidahku tidak bisa merasakan rasa apapun kecuali pahit dan hambar. Tapi sekarang aku akan makan, bisa suapi aku lagi?" Kata Alva dengan suaranya yang sedikit parau.
Arana dengan cepat mengubah ekspresinya seperti sedia kala. Bahkan sekarang gadis itu mengungkap senyuman manis, membiarkan Alva tertekan oleh keadaan bubur hambarnya. Oh, Alva benar-benar tidak berselera makan saat dia sakit.
"Sayang, sudah."
Arana membujuk. "Satu sendok lagi. Lihat, hanya satu sendok lagi dan sudah habis."
Alva melirik kearah mangkuk dan mau tak mau membuka bibirnya untuk menerima suapan terakhir dari Arana. Menenggak air untuk menelan obat, Alva bersandar selama beberapa waktu. Menunggu setidaknya 10 menit untuk membiarkan makanan yang dia makan larut di lambungnya, agar tidak menyebabkan asam lambung.
"Terima kasih, sayang." Ucap Alva.
Arana yang tengah memijat lengan Alva mendongak dan menyunggingkan senyuman. "Jangan berterima kasih."
...***...
Di tempat lain, Amber tengah berjalan di trotoar sembari memandang sekitarnya. Memperhatikan pemandangan kota Jakarta yang pada saat itu cukup panas. Tidak, hari itu benar-benar cukup panas sampai membuat Amber menyesal telah keluar dari apartemen nyaman Alva. Beruntungnya, Amber membawa topi dan jaket sehingga jalan-jalannya hari ini tidak akan terhenti bahkan jika badai terjadi!
Menemukan toko es krim, Amber membelokkan langkahnya untuk memasuki toko es krim itu. Maniknya langsung mengunci satu meja yang merupakan tempat yang menjadi tempat favorit Amber di restauran maupun kedai atau caffe. Sebab, duduk disamping jendela membuat Amber bisa menikmati sajian yang di pesannya sembari disuguhi pemandangan yang ada diluar jendela. Entah itu orang yang berjalan, lalu lalang kendaraan atau apapun itu membuat Amber merasa damai.
Sret!
Menarik kursi, Amber mendongak ketika seseorang turut menarik bangku yang ada didepannya. Amber mengerutkan keningnya dan terpatung ketika mendengar apa yang dikatakan pemuda didepannya. "Dek, dimana Ibu atau ayahmu? Kenapa anak kecil berkeliaran sendirian disini? "
__ADS_1
Hah?!