
"Kamu masih menyukainya?" Tanya Arana terkejut.
"Iya. Tapi itu jauh sebelum aku mengenalmu, sayang. Aku memang menjalin hubungan karena aku suka dengannya dulu. Tapi setelah mengetahui dia berselingkuh dibelakangku, aku tidak bisa lagi menyukainya." Alva menjelaskan, tidak ingin gadis dipelukannya itu salah paham, meskipun perkataannya tadi memang bisa membuat orang salah paham jika tidak mendengarkan sampai akhir.
Ia memandang Arana dengan serius. Tidak ada secuilpun kebohongan dimatanya. "Satu-satunya perempuan yang kucintai selain ibuku adalah kamu, sayang. Hanya kamu, satu-satunya istriku."
"Jadi, jangan pernah membuat kesimpulan jika aku menyukai wanita lain, jika istriku saja secantik, semanis, seimut dan semenggemaskan kamu. Hanya kamu satu-satunya yang aku inginkan untuk menjadi istriku, pendampingku." Ia mendaratkan kecupan manis didahi Arana.
Tanda kasih yang benar-benar tulus.
"Jadi, mau lanjutkan kegiatan kita yang tadi?" Tanyanya sembari menaik turunkan alisnya.
Otak Arana masih merespon apa yang dikatakan Alva. Ketika dia biss bereaksi, dia telah digendong disepasang lengan kokoh itu. Wajah Arana memerah, dan dia menggeleng meskipun tangannya melingkar dileher sang pria karena takut jatuh. "A—Aku mau makan! Aku lapar."
Alva mendekat dan mencumbu sudut matanya. "Aku bercanda. Aku tidak ingin kamu berjalan, atau kamu akan menyakiti kakimu. Maka, berjanjilah padaku. Jangan memaksakan dirimu jika sedang terluka dimasa depan. Aku benar-benar ketakutan tadi."
Arana mengangguk, membenamkan wajahnya diperpotongan leher Alva dan bergumam. "Aku janji."
Bibir pria itu tersungging, sebelum beberapa saat kemudian tatapan lurusnya menjadi serius. Ia membatin, "Tapi aku berjanji tidak akan membiarkanmu terluka lagi."
Setelah menurunkan Arana ke sofa, Alva mengambil makanan yang sebelumnya ia letakkan di meja didekat pintu dan membawanya kembali.
"Makanan datang~"
Membongkar isi paper bag, ada dua mangkuk laksa yang ditutup dengan plastik wrap yang menjaga makanan didalamnya dari kontaminasi udara. Ketika Alva membukanya, ada uap samar yang mengepul dari laksa berwarna merah tersebut, yang menandakan bahwa makanan tersebut baru saja dibuat.
"Uwahh! Terlihat enak!" Seru Arana sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke meja bersamaan dengan dibukanya plastik pembungkus.
Aroma laksa yang khas tercium ke hidungnya, dan Arana merasa bahwa perutnya bergetar karena rasa lapar. Setelah membagi sumpit, Alva menyerahkannya kepada Arana yang segera mengangkat mangkuk dan menyeruput kuah laksa yang cukup pedas itu.
__ADS_1
Bibirnya yang terlapis minyak menyunggingkan senyuman. "Lezatnya!"
"Ngomong-ngomong sayang, besok kita sudah akan pulang, kan?" Tanya Arana disela suapannya.
"Tergantung keinginanmu sayang. Kalau kamu masih ingin ada disini, kita bisa memperpanjang kepulangan kita. Tapi jika tidak, kita bisa kembali besok." Jawaban Alva membuat Arana mengangguk dan berkata, "Aku mau pulang besok."
Arana masih harus mengerjakan desain pesanan Karina. Ini sudah dua hari, dan besok adalah hari terakhir dia harus mengumpulkan desainnya pada Karina.
Alva menyunggingkan senyuman dan mengangguk. "Baiklah, sesuai keinginanmu."
...***...
Malam datang dengan cepat. Hanya setelah mandi dan beristirahat selama beberapa waktu, matahari sudah tenggelam dan bulan benderang disisi langit, menemani gugusan bintang yang menyebar keseluruh angkasa.
Arana hampir tidak tahu dia akan dibawa kemana. Sebelum sampai ditempat tujuan, Alva menutup mata Arana menggunakan kain hitam, yang membuat pandangan Arana terhalang. Benar-benar terhalang.
Meski sedikit gugup, namun Arana tidak merasa takut, sebab ia percaya bahwa Alva tidak mungkin berniat buruk padanya.
Ia merasa Alva mendorongnya sambil menjawab. "Sebentar lagi, sayang. Benar-benar sebentar lagi."
Setelah mengatakan itu, Alva mendorong kursi roda Arana selama beberapa waktu, sebelum berhenti ketika Arana mendengar sesuatu seperti tertutup. Ia mendongak kebelakang, meski tidak bisa melihat, dia biss tahu dimana Alva. "Al? Sudah sampai?"
Tidak ada jawaban dari Alva. Tetapi ketika Arana menutup bibirnya, kain hitam yang menutup matanya jatuh dan terlepas. Sepasang tangan hangat itu jatuh ke bahunya.
Pemandangan didepannya mungkin adalah hal terindah yang pernah Arana lihat. Kilau cahaya lampu dari bangunan dibawah sana sama indahnya dengan bintang yang menyebar diangkasa. Didalam salah satu kincir ria di Singapore Flyer, Arana dapat menikmati pemandangan melalui kaca 360 derajat. Bahkan ketika dia menoleh keatas, ia bisa melihat gugusan bimasakti yang melintang.
"Tunggu sebentar lagi, sayang." Alva berucap sembari melirik jam tangannya.
Detik berlalu, dan senyuman Alva tersungging, bersamaan dengan meluncurnya bola cahaya ke langit. Arana terkejut, sebelum maniknya melebar ketika bola cahaya itu meledak.
__ADS_1
Sebuah kembang api muncul, menyilaukan di malam yang gelap. Hampit memenuhi seluruh langit. Seperti bunga mekar, berwarna merah dan melingkar dengan mengagumkan. Tak berhenti disatu kembang api, rentetan kembang api lain menyusul, dan cahayanya dapat terpantul disepasang netra Arana.
"Indah sekali."
Ia bergumam tanpa sadar. Dibelakangnya, Alva sedikit membungkuk dan menempelkan pipinya ke sisi wajah Arana. "Apa kamu suka? Aku menyiapkannya khusus untukmu."
"Apa kamu yang menyiapkannya?" Arana bertanya dengan kaget.
Alva menggulung senyuman dan menganggguk. Dengan tenang mengulangi pertanyannya. "Apa kamu suka?"
"Kamu bercanda? Aku suka sekali!" Arana menjawab dengan kilau dimaniknya.
Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan perhatiannya kepada kembang api, membiarkan dirinya direngkuh dalam pelukan hangat oleh Alva.
Arana suka kembang api.
Sewaktu kecil, Arana selalu pergi menikmati natal bersama dengan neneknya. Apa yang dilakukannya adalah menyalakan kembang api bersama dengan tetangga-tetangganya. Di taman kita, dimana pohon natal setinggi belasan meter menyala dengan lampu yang melingkarinya, kembang api menjadi background yang indah.
Arana bahkan masih menyimpan foto dimana dia dan neneknya berpelukan dengan latar belakang taman kota yang ramai dan kembang api yang megah dilangit.
Tetapi setelah sang nenek meninggal, Arana hampir tidak bisa lagi menikmati kembang api, natal atau bahkan ulang tahunnya sendiri. Karena pekerjaan yang dilakoninya, ia berkali-kali lebih sibuk dimalam natal, dan tidak bisa menikmati suguhan pemandangan ketika dia harus membagi-bagikan bunga lebih banyak. Bahkan dengan ajakan Lily dan Amber, Arana selalu memiliki segudang alasan yang sebenarnya adalah fakta dia harus menolak ajakan mereka berdua.
Ingatan demi ingatan melintas dibenaknya, ia memandang ke depan dengan sepasang manik yang berkaca-kaca. Hanya satu kedipan, untuk membiarkan cairan sebening kristal itu meluncur di pipinya yang mulus.
"Aku suka," lirihnya.
Merasakan bahu Arana sedikit bergetar, Alva mendongak, melirik Arana yang terus menjatuhkan kesedihannya dalam air mata yang mengalir disepanjang ujung matanya. Meski tahu Arana menangis, Alva hanya bisa diam-diam mengeratkan pelukannya dan menikmati pemandangan kembang api, diam-diam menyalurkan kekuatan untuk Arana.
Arana mencuri gerakan mengusap air matanya secara diam-diam. Sudut bibirnya perlahan terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman ripis yang terlukis apik di wajahnya.
__ADS_1
"Nenek, Arana benar-benar bersyukur bisa merasakan kembali perasaan ini. Melihat kembang api, bersama seseorang yang Rana sayangi." Batinnya tertelan oleh kebisingan suara kembang api yang samar dari luar kapsul kincir ria.