My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 130: Arana's Cry And A Secret


__ADS_3

Arana mempercepat langkahnya menaiki tangga. Dinding disebelah kanan tangga itu memiliki kerak dan lumut, yang menandakan bahwa bangunan itu adalah bangunan tua. Ada jejak samar coretan pewarna pastel dan pewarna kayu didinding yang sudah usang dan berdebu.


"Sayang, kamu yakin Amber benar-benar ada disini?"


"Tidak pasti, tapi besar kemungkinan. Bangunan sekolah dasar lama ini adalah tempat dimana Amber, Lily dan aku—"


Arana tiba-tiba tersentak dari ucapannya. Ia melotot menatap kedepan ketika dia masih terus berjalan dan segera mengganti perkataannya. Ia hampir saja mengatakan bahwa ia, Amber dan Arselyne sering bermain kesana ketika kecil. "Ini tempat yang sering didatangi Amber ketika Amber sedang sedih. Dia sering berbicara denganku dan Lily mengenai ini."


Apakah Alva mendengar perkataannya tadi?


Arana membatin dengan penuh kegugupan, ketika dia mendengar suara Alva dibelakangnya. "Dia benar-benar gadis yang aneh. Bermain dibangunan kosong dan menyeramkan seperti ini untuk menangis? Bukankah dia sangat pemberani?"


Arana terkekeh dengan lega, "Amber tidak aneh, tau!"


Arana melangkah keatas dan melihat pintu menuju rooftop terbuka. Arana membuka pintu dan melebarkan mata ketika maniknya menangkap helaian rambut pirang yang tersibak oleh angin. Gaun putihnya meliuk seakan menari ketika gadis yang berdiri dipembatas pagar itu mengangkat kedua tangannya.


Mendengar pintu berderit, Amber menolehkan kepalanya kebelakang dan melebarkan matanya saat melihat bahwa itu adalah Arana.


"Nana ... selalu menemukan Amber." Gumamnya. Ia menatap Arana dan dengan tatapan sendu berucap, "Aku hamil, Na. Laki-laki itu memperkosaku satu minggu yang lalu dan membuatku mengandung anaknya."


Apa?


Jantung Arana seakan dihantam oleh berton-ton besi ketika melihat penampilan Amber dan mendengar penuturannya. Gadis yang biasanya selalu riang, yang selalu membuatnya tertawa, yang selalu membuatnya merasa nyaman dan merasa bahagia, gadis yang selalu kuat dan selalu kokoh, sekarang memiliki pandangan kosong dan sendu dimatanya. Arana menatap nanar kepada Amber sebelum perlahan mendekati Amber, selangkah demi selangkah dengan lembut.


"Amber, turunlah. Ya?"


Air mata mengalir dimata Arana ketika dia perlahan mendekati Amber. Beban dihatinya begitu berat sehingga dia hampir menjerit dan terisak. Sahabatnya yang disayanginya, mengalami hal seperti ini ketika dirinya tidak ada. Itu membawa Arana pada perasaan bersalah.


Amber dengan perlahan turun, memandang Arana, namun tidak mengatakan apapun sampai Arana berlari menuju kearahnya dan memeluknya dengan erat. Amber melirik Arana dan mengulurkan tangan dan memeluk Arana yang menangis terisak.


"Maafkan aku, Amber. Maafkan aku."

__ADS_1


"Kamu pasti berpikir aku akan bunuh diri, ya?"


Arana menangis sesungukan dipelukan Amber dan Amber justru menjadi orang yang menenangkan Arana. "Jangan menangis, jangan minta maaf."


Ucapan Amber justru semakin membuat Arana terisak. Air mata tak berhenti mengalir dari kedua matanya. "Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak ada bersamamu. Maafkan aku tidak membantumu sejak awal. Maafkan aku karena menjadi sahabat yang tidak berguna. Aku sungguh minta maaf, Amber. Aku sungguh minta maaf."


Amber menghela napas dan dengan tenang menganggukkan kepalanya. Ia melihat Alva berdiri beberapa meter dididepannya, memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun Amber tahu dan mengerti maksud tatapan itu. Alva bukannya tuli, dia mendengar juga apa yang dikatakan Amber soal kehamilan. Alva dengan jelas melihat apa yang terjadi.


Karena ini juga, istrinya pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya.


...***...


Menyerahkan segelas air hangat kepada Arana yang memiliki mata sembab, Alva duduk disamping Arana dan merangkul bahunya, memberinya kekuatan ketika Amber duduk diseberang meja dengan selimut yang menyelimuti kaki dan pinggangnya. Maniknya memandang pada susu hangat di tangannya, namun dia tidak memiliki niatan untuk meminumnya.


Manik Arana terangkat, menatap Amber sebelum bertanya, "Jadi ... dia benar-benar melakukannya, padamu?"


Amber menganggukkan kepalanya. "Aku pikir dia diam selama ini karena dia lebih bermoral dari yang lain. Namun aku ternyata salah. Sebenarnya, dia lebih baj*ngan daripada yang lainnya. Exel, pria itu hanya berpura-pura anggun, sopan dan bermartabat diluar, namun didalamnya dia adalah binatang. Sial, beraninya dia mencampur minumanku dengan obat dan meniduriku begitu! Aku beruntung dia tidak datang lagi dan berpura-pura bahwa tidak terjadi apapun dimalam itu."


"Bayi ini tidak ada hubungannya dengan kebencian diantara kami." Amber menyentuh perutnya yang masih rata, "Bayi ini tidak berdosa."


"Iya, keponakanku tidak berdosa."


Arana dan Alva merasa begitu lega begitu mendengar jawaban Amber. Amber yang kekanakan, tidak dilihatnya dari Amber yang sekarang duduk didepannya, tersenyum lembut sembari memegang perutnya. Amber berucap, "Aku memutuskan untuk meninggalkan keluarga itu selamanya. Pada awalnya aku bertahan karena ibuku ada disana, aku berharap bahwa Ibuku akan mengubah pandangannya padaku dan mencintaiku, namun aku salah. Ibuku selamanya akan membenciku, dan tidak akan ada yang menerimaku dirumah itu."


"Jadi aku memutuskan untuk tinggal bersama dengan bibi Melody."


Arana menganggukkan kepalanya. "Aku akan mendukung keputusanmu, Amber."


Amber menyandarkan punggungnya kesandaran sofa. "Untung aku punya banyak sekali tabungan. Aku berterimakasih atas nasihatmu yang menyuruhku untuk selalu menjaga gaya hidupku, Na. Sekarang aku bisa hidup tanpa mereka bahkan sampai aku lulus dengan hanya menggunakan uang tabunganku."


Amber menyeringai, "Namun jika aku ingin bertemu dengan Arana, kamu harus mentraktirku tiket pesawat kelas bisnis ya, Al."

__ADS_1


Mendengar apa yang dikatakan Amber membuat Arana tertawa. Alva mendengus, namun ada senyuman diwajahnya. "Hubungi Erlan kapanpun kamu butuh."


Amber menyunggingkan senyuman dan dengan lembut mengusap perutnya. "Dimasa depan, kalian akan menjadi orangtua baptis dari buah hatiku."


"Aku khawatirkan apapun, baby. Mommy akan mencintaimu dan menjagamu dari apapun."


...***...


Sehari setelah kejadian itu, Arselyne datang setelah melewati penerbangan. Pertama kali mendengar kejadian yang menimpa Amber dari Arana, Arselyne hampir akan langsung bergegas menuju rumah Amber dan akan membunuh Exel yang telah melakukan sesuatu yang sekejam itu kepada Amber. Namun karena Arana bahkan Amber sendiri, termasuk Alva sudah menenangkan Arselyne, pemuda itu lebih tenang, namun kebencian dan kemarahan dimatanya tidak bisa disembunyikan.


"Apa selamanya kamu akan diam? Ini adalah tindakan kriminal karena dia telah memperkosamu, Amber. Ini adalah kekerasan!"


Amber menghela napas, namun Alva yang menjawab. "Aku sudah menghubungi seseorang yang bisa membantu. Dia akan menyelidiki dan menemukan bukti yang bisa membawa pria itu kemeja hijau. Kau tenang saja dan tunggu sampai hasilnya sampai ditanganku."


Arslyne sedikit lega, namun dia masih terlihat kebingungan. Ia gelisah, dan dia memijat pangkal hidungnya ketika dia akhirnya mengangkat suara kembali. "Ayo menikah, Amber."


Ada keheningan selama beberapa waktu setelah Arselyne mengucapkan kata-kata itu. Arana melebarkan matanya sedikit, namun ketika dia melihat perut Amber, dia seketika mengerti mengapa Arselyne mengucapkan kata itu. Berbeda dengan Arana, Amber hanya melirik Arselyne sebelum menyesap susu hangatnya dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak."


"Mengapa tidak?"


"Jika kamu berpikir kamu akan menjadikan dirimu sebagai tameng agar aku tidak dipermalukan dan agar anak ini memiliki orangtua lengkap, lebih baik tidak, Ly. Aku tidak pernah merasa diriku salah, jadi aku tidak akan malu. Kemudian anak ini, dia tidak akan menerima kebohongan apapun. Ketika dia lahir, aku akan mengatakan yang sebenarnya, aku akan jujur tentang bagaimana dia bisa dilahirkan, namun aku juga akan mengatakan betapa aku bahagia dan mencintainya meskipun kejadian yang menimpaku adalah kesalahan."


Amber menggeleng sekali lagi. "Aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah. Aku akan egois, karena jika suatu hari Exel mencoba membawanya dariku, anakku akan bersaksi untukku, dan dia akan memihakku."


Arana dan Alva hampir tidak bisa berbicara apapun. Keduanya hanya sesekali saling bertatapan dengan jejak kebingungan dan ketidakberdayaan dimatanya. Berbeda dengan Arselyne yang masih mencoba berkata, "Aku tidak berpikir demikian. Aku mencintaimu, aku ingin menjadikannya sebagai anakku juga. Aku tidak ingin melihatmu kesulitan merawatnya sendiri."


"Jangan bohong, Ly."


Tatapan Amber kuat dan tegas ketika dia berbisik, "Kita berdua tahu siapa yang kamu cintai."

__ADS_1



__ADS_2