My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 144: You're His Aunty


__ADS_3

"Kau bilang kau hamil anakku?" Suara Josh terdengar sedikit sebelum tatapannya berubah menjadi jijik. "Jangan mengatakan omong kosong! Bagaimana kau bisa hamil anakku jika aku selalu mengenakan pengaman?!"


Disampingnya, Issabella yang telah mendapatkan kembali kesadarannya dengan seringaiannya menyesap wine-nya dan berkata, "Mungkin dia tidur dengan pria lain dan berpura-pura bahwa dia hamil anakmu. Dia ingin mengikatmu, mungkin. Perusahaanmu kan sudah akan menjadi perusahaan besar sebentar lagi."


"Tutup mulutmu jal*ng sialan!!"


Alana berteriak dengan penuh kemarahan sembari melempar barang yang ada didekatnya kearah Issabella yang dengan tenang memiringkan kepalanya menghindari lemparan dari Alana. Ia melirik Alana dan menyunggingkan seringaian sebelum dengan tenang melirik Josh yang nampak merenung. Pria itu menatap Alana dan dengan jijik mencemooh. "Begitu licik."


"Aku bahkan tidak sudi untuk menyebut namamu. Sekarang, pergi dari hadapanku bersama dengan bayi haram-mu itu."


"Dia darah dagingmu, Josh! Aku berani bersumpah!"


Alana menjerit, namun Josh membentaknya. "Pergi sekarang sebelum aku menggunakan kekerasan!!"


Alana mencelos mendengar perkataan Josh. Alana benar-benar mencintai Josh, dia tidak pernah sekalipun mengkhianati Josh. Dia bahkan rela meninggalkan Alva yang nampak sempurna untuk Josh, karena dia mencintai Josh. Namun, mengapa dia tidak percaya bahwa anak diperutnya adalah miliknya? Darah dagingnya?


"Aku bersumpah, Josh..." Lirih Alana.


Josh tanpa kata menarik tangannya dan mendorongnya keluar dari ruangan hotel itu sebelum dengan kejam menutup pintu didepan wajah Alana. Alana ditinggalkan didepan pintu, merasa kedinginan, terkhianati, murka dan kecewa.


"Josh brengs*k!! Bagaimana kau bisa melakukan ini padaku? Kau berselingkuh dengan jal*ng sialan itu!! Aku mencintaimu! Tapi kau mengkhianati! Apa selama ini kau memanfaatkanku demi uangku?! Begitukah dirimu yang sebenarnya sialan!!"


Alana menjerit dan meraung, Menggedor pintu dengan penuh emosi yang tidak bisa dia tahan. "Breng*ek!!!!!"


Keheningan panjang itu membuat suara terengah napas Alana terdengar disepanjang koridor yang remang dan dingin. Ia memandang pintu dengan tangan yang jatuh dikedua sisi tubuhnya, bersamaan dengan linangan air mata yang meluncur dikedua pipinya. Alana benar-benar mencintai Josh, dia sudah menyerahkan segalanya kepada pria itu. Mengapa hidup begitu kejam sehingga pria yang dicintainya justru mengkhianatinya?


Beberapa jam kemudian, gadis yang berpenampilan elok beberapa jam lalu memiliki penampilan kacau. Pakaiannya tak tertata dengan benar dan aroma alkohol menguar dari tubuhnya. Berbotol-botol minuman keras tergeletak kosong diatas meja, bahkan hingga saat inipun, ia tengah menenggak minuman keras ditemani sorakan beberapa pria yang duduk disebelahnya, menggerayangi tubuhnya selayaknya serangga. Tatapan Alana kosong dan matanya berputar. Wajahnya memerah dan kemudian menjadi pucat ketika ia berkeringat dingin.


Ia menjatuhkan botol ditangannya dan memegangi perutnya ketika dia meringis kesakitan.


"Aghh! Ugh! Sakit..."


"Sakit, huuu!!"

__ADS_1


Ia menjerit kesakitan, menjatuhkan tubuhnya dilantai sembari meringkuk memegangi perutnya. Pria yang duduk disebelahnya saling tatap dan dengan helaan napas berat menghubungi pihak medis bar itu untuk segera menangani Alana yang mungkin terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras.


Kemudian, dia dinyatakan keguguran dan divonis tidak akan pernah bisa memiliki hamil kembali.


...***...


Melangkah menuju bandara dengan langkah menawan, Issabella tampil cantik dengan denim dress dan boots hitam. Helaian rambut panjangnya dibiarkan diikat kuda tinggi dengan kacamata hitam yang bertengger diwajahnya yang ayu. Lipstik merah terang menghiasi bibirnya yang tebal, dan dia melangkah sembari menyunggingkan senyuman penuh kemenangan ketika dia menarik koper hitamnya.


Ia melirik rentetan pesan didalam ponselnya dan dengan tenang membuang ponsel itu kedalam tempat sampah yang ada dibandara.


Issabella merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel lain bercase merah terang dan sebungkus permen karet sebelum dia membuka bungkusan permen karet itu dan menyunyahnya. Ia sedikit menurunkan kacamatanya dan kemudian menekan sebuah nomor, bersandar didinding bandara dan dengan tenang melirik sekitarnya.


[Yo, gimana?]


"Jangan tanya kalau kamu sudah tahu hasilnya. Jangan lupa siapkan mobil untukku besok pagi jam 2. Aku akan sampai." Ia menambah katanya, "Kau akan terkejut ketika mendengar ceritaku besok. Aku akan datang ke kantor besok."


[Kami tidak sabar mendengarnya. Kuharap itu jelas berita bagus.]


Issabella mendengus. "Tunggu saja."


...***...


Selena memandang bangunan didepannya dengan sepasang manik yang penuh dengan tekad. Ia memandang rumah Arletta dan dengan tenang menekan bel dan menunggu pintu terbuka. Arletta kebetulan tengah berada diruang tengah ketika dia mendengar bel berbunyi. Ia bangkit berdiri dan membukakan pintu ketika dia melihat Selena.


Ia mengerutkan keningnya sebelum bertanya, "Apa yang kamu lakukan disini?"


Selena memandang Arletta yang lebih pendek darinya dan tersenyum. "Tidakkah kakak ingin mengundangku masuk?"


Mendengar penuturan dan panggilan Selena, Arletta memandangnya selama beberapa detik sebelum memiringkan tubuhnya dan memberi akses Selena untuk masuk. Wanita muda itu melangkah masuk dengan santai dan mendudukkan dirinya disofa, memandang rumah itu selama beberapa waktu sebelum dengan tenang menyunggingkan senyuman. "Masih sama, ya?"


Arletta mendudukkan dirinya diseberang Selena dan berkata, "Kau juga masih sama. Sama-sama tidak tahu kesopanan."


Selena menyunggingkan senyuman. "Aku sudah menekan bel dan kakak sudah membukakan pintu untukku."

__ADS_1


"Apa yang kau inginkan dengan datang kemari?" Tanya Arletta tanpa basa-basi lagi.


Selena nampak diam selama beberapa detik sebelum mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya. Dia menekan sebuah video dan memberikannya kepada Arletta. "Karena ponselku bagus, jadi hasilnya sangat jelas. Jadi, itu adalah bukti kuat bahwa kau harus membuat Alva bercerai dari gadis ular itu."


Arletta sedikit menutup bibirnya ketika melihat video dimana Alana tengah bercumbu ria dengan pria-pria asing ditengah hiruk piruk suasana panas bar. Arletta kemudian meletakkan ponsel Selena keatas meja dan dengan tegas menatap Selena. "Itu menjijikkan."


"Tentu saja. Apa kau terima jika putramu harus memiliki seorang istri yang menjijikkan seperti Alana>:


Arletta mengerutkan keningnya. "Tentu saja tidak!"


"Bagus. Jika kamu tidak bisa, aku akan membantu kakak mengurus perceraian Alva."


"Kenapa Alva harus bercerai?"


Pernyataan Arletta membuat Selena mengerutkan keningnya. Bukankah dia baru saja menyampaikan mengapa Alva harus meninggalkan Alana?


"Apa kakak tidak paham?"


Arletta yang menggelengkan kepalanya. "Kamu yang tidak paham, Selena. Aku tidak akan pernah membiarkan Alva memperistri Alana. Dan, tidak ada alasan mengapa aku harus membiarkan Alva menceraikan istrinya sekarang."


"Apa maksud kakak? Mengapa kakak membuat pembicaraan ini berputar-putar?" Tanya Selena dengan sedikit kesal.


Arletta memandang Selena dan tidak bisa menahan untuk tidak menghela napasnya. "Aku membenci Alana, namun aku tidak membenci istri Alva."


Kening Selena semakin berkerut, ia hendak mengatakan sesuatu ketika dia tercekat ditempatnya. Tatapannya tertuju pada Arletta dan dia nampak tidak bisa menggerakkan bibirnya. Arletta berkata kembali dengan nada yang lebih tenang. "Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa kamu mencintai putraku, Selena?"


"Aku mencintainya." Gumam Selena.


"Aku akan bertanya sekali lagi, Selena. Apakah kamu mencintai putraku, Alva?"


Tatapan Arletta membuat Selena goyah. Sentuhan ditangannya membuat Selena semakin kebingungan dengan apa yang dia pikirkan. Dia hanya diam dengan mendengarkan kata-kata Arletta yang membuatnya menahan napasnya. "Alva sudah menemukan takdirnya, Selena. Takdir Alva yang sempurna baginya."


"Lagipula, kalian tidak akan pernah bisa bersama, karena kamu adalah bibinya."

__ADS_1



__ADS_2