My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 99: He's Gonna Kill Someone


__ADS_3

Civanya memandang kearah pintu ketika tidak mendapati Arana kembali. Sudah hampir setengah jam, dan Arana tidak keluar-keluar.


Civanya cemas, dan dia segera berdiri dibawah tatapan bingung dan tidak senang yang lain. "Mau kemana, kau?"


"Menyusul Alana."


"Duduklah dan lanjutkan permainan. Alana mungkin sedang sakit perut atau sedang berdandan. Kau tahu bukan, dia sangat tidak senang jika diganggu saat sedang berdandan?" ingat Lora.


Civanya mengabaikannya dan tetap melangkah menuju pintu ke kamar mandi. Jika mereka tidak peduli dan tidak khawatir, Civanya adalah yang cemas dan khawatir. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada gadis itu dan dia tidak tahu?


Membuka pintu kamar mandi, CIvanya terkejut dan kebingungan ketika mendapati kamar mandi itu kosong. Dia membuka setiap bilik kamar mandi dan tidak menemukan keberadaan seseorang yang menggunakan kamar mandi.


"Dimana dia? Aku belum melihanya keluar." Ucap Civanya.


Keluar dari kamar mandi, Civanya menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri, menerka-nerka apakah Arana ada disalah satu pintu itu. Civanya dengan hati-hati mengetuk pintu, dan yang membuatnya terkejut adalah seorang pria yang telanjang keluar begitu saja. "Kau adal masalah?!"


"Ma-Maafkan aku. Ta-Tapi, apakah ... apakah kau melihat seorang gadis mengenakan kemeja putih dan celana bermuda lewat sini?"


"Tidak ada! Cepatlah pergi! Kau mengganggu kesenanganku saja!" Tukas wanita itu membanting pintu didepan Civanya yang masih memiliki wajah pucat.


Tuhan, tidak mungkin dia masuk ke salah satu kamar itu, kan?


Karena dia bukanlah Alana!


...***...


Alva kembali seperti biasanya malam ini. Apartemen masih kosong, dan Alva sudah menduganya karena Arana sudah meminta izinnya untuk kembali sedikit terlambat. Alva meletakkan tasnya di atas sofa dan kemudian memilih untuk mandi.


"Lebih baik aku mandi dulu."


20 menit kemudian, dia sudah bersih, mengenakan baju berlengan panjang dan celana yang sama panjangnya. Alva mendudukkan dirinya dan mengangkat telponnya untuk menghubungi Arana. Pesan-pesan yang dia kirimkan sebelumnya tidak dibaca, dan itu membuat Alva sedikit khawatir dan bingung.


Ia mengetuk kontak Arana dan menekan ikon telepon. Suara dial terdengar selama dua detik, sebelum kemudian panggilan itu terjawab. "Sayang, kamu belum selesai?"


[Maaf, ini bukan Alana. Saya Civanya, teman Arana.]

__ADS_1


Mendengar itu, Arana mengerutkan kening dan nadanya berubah menjadi dingin. "Dimana istriku?"


Suara Civanya terdengar panik, namun dia menjelaskan secara jelas. [Alana menghilang setelah kami bermain ToD. Saya sudah menyusul Alana ke kamar mandi dan Alana tidak ada. Saya masih mencoba mencari Alana dilantai dua.]


"Dimana itu?" tanya Alva.


[Club Eveloise.]


Wajah Alva mendingin. Bagaimana Arana bisa sampai ditempat seperti itu? Dan bagaimana Arana bisa menghilang?!


Alva mengkahiri panggilan itu dan segera berdiri dan berlari menuju lift untuk turun di basemant. Alva dengan terburu menghubungi Erlan.


"Dimana kau sekarang?"


[Aku dirumah, kenapa?]


"Pergilah ke club milik Danion, dan minta dia memeriksa rekaman CCTV untuk mencari Arana. Dia menghilang di club. Temannya menghubungiku dan tengah mencarinya. Aku tidak tahu dia sudah keluar atau belum." Kata Alva.


[Sial, menghilang di club?]


Tanpa mendengarkan perkataan Erlan selanjutnya, Alva mematikan sambungan telponnya dan bergegas melajukan mobilnya. Club Eveloise lebih dekat dengan apartemen Erlan, jadi dia menghubungi Erlan agar tiba disana lebih cepat dan bisa mencari Arana. Rasa tidak nyaman dan cemas membuat tangan Alva sedikit gemetar dan wajahnya sedikit pucat.


Setengah jam perjalanan, Alva memarkirkan mobilnya bergitu saja dan terburu memasuki club, bersamaan dengan Erlan yang tengah berjalan keluar dari sebuah ruangan bersama dengan seorang pria yang nampak menampilkan wajah serius. Disana, ada juga Civanya yang memeluk tas Arana dan membawa ponsel Arana. "Lan, bagaimana?"


"Aku sudah berbicara pada Danion."


Danion--pria muda itu, segera berkata, "Aku sudah tahu situasinya. Mari kita ke ruang pengawas, aku akan menyuruh seseorang memeriksa rekaman CCTV."


Keempat orang itu segera berjalan menuju ruang pengawas. Ada beberapa orang yang tengah berada didalam ruangan, mereka nampak tengah bermain kartu. Melihat kedatangan bos mereka, dua orang itu segera bangun. "Pak, Danion!"


"Periksa kamera pengawas. Ada sesuatu yang perlu diperiksa!" tegas Danion membuat mereka mengangguk. "Baik, Pak!"


"Jam berapa gadis itu ke kamar mandi?" tanya Danion.


Civanya mengingat dan menjawab dengan kooperative. "Jam sepuluh kurang dua menit."

__ADS_1


"Periksa kamera pengawas dijam itu."


Monitor nampak menunjukkan rentetan angka dan sedetik kemudian ada gambar lingkungan bar yang ramai. Alva melihat Arana tengah duduk bersama dengan sekelompok remaja, dan nampak tidak banyak berinteraksi dengan mereka yang tengah memainkan permainan ToD. Sampai ia melihat Arana dipaksa minum tiga gelas alkohol dan kemudian pergi.


"Ikuti wanita itu." Tunjuk Alva pada Arana yang membuat dua petugas itu segera dengan cakap menggerakkan kamera ke kamera pengawas yang ada ditempat lain.


Dilorong panjang itu, Arana berjalan sendirian dan melangkah menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, Arana melangkah keluar dan berjalan sembari berpegangan dengan tembok, menyusuri jalan dengan langkah lemah.


Alva mengerutkan keningnya dan matanya melebar ketika melihat pintu disamping Arana terbuka dan seorang pria muncul.


"Sialan," desis Erlan dibelakangnya.


Alva akan membunuh seseorang malam ini. Dan dia yakin, ketika tanpa kata Alva berbalik dan lari keluar dari ruangan itu.


Erlan mengeratkan giginya dan menyusulnya, diikuti Civanya yang kebingungan dan Danion yang sama cemasnya.


...***...


Alva membuka pintu koridor, dan matanya berkilat memandang sekelilingnya, mencari pintu dengan nomor yang sama dengan yang ada direkaman video pengawas. Napasnya terengah karena berlari, dan keringat tipis tercetak didahinya, namun Alva tidak peduli. Ia segera menemukan pintu yang tepat dan mendobraknya dibawah tatapan Erlan, Civanya dan Danion.


Dua kali percobaan, Alva berhasil membuat pintu terbuka.


Baru melangkahkah satu kakinya, Alva dibuat mematung. Jantungnya seakan ditikam oleh pedang tak terlihat dan telinganya berdengung. Maniknya memerah dan tangannya terkepal. Ketika Civanya menyusul dan melihat pemandangan didepannya, Civanya membungkam bibirnya.


Arana tengah terduduk dipinggir ranjang. Sobekan pakaiannya berceceran dilantai. Celananya terlepas, dan dia hanya mengenakan kemeja yang hampir tidak bisa disebut kemeja utuh. Tubuhnya terespos dengan lebam dan bercak darah yang menghiasi tubuhnya. Darah melebar di kemejanya, menetes dari lubang hidungnya dan sudut bibirnya yang robek karena kekerasan yang mungkin dialaminya. Tidak, hanya orang buta yang mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan kekerasan.


Alva masih terpaku memandang Arana. Wajahnya yang penuh lebam. Sepasang manik sayu, dan ketidakberdayaannya.


"Bang*at! Siapa kalian?!"


Lengkingan itu membuat atensi mereka teralihkan. Pria itu berdiri, dengan keadaan yang juga tidak baik. Wajahnya penuh darah ketika sebelah matanya terpejam, nampak tekrkena bekas cakaran. Ada lebam dibagian pipi kanannya, namun hanya samar.


"Beraninya kalian masuk sembarangan! Keluar!"


Wajah Alva menggelap, dan tanpa kata, dia melangkah kearah pria itu, mengangkat vas diatas meja dan menghancurkannya kekepala pria itu.

__ADS_1


"Arghhh!!!"



__ADS_2