My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 85: Clever Or Cunning


__ADS_3

Arana membuka matanya ketika dengan samar dia merasa seseorang tengah mencoba membawanya kedalam sebuah pelukan.


Arana tahu bahwa itu mungkin Alva, namun Arana merasa aneh bahwa dia merasa tubuhnya ringan. Tepat ketika dia membuka matanya, wajah rupawan Alva terpampang didepannya, dan dia ada diposisi dimana kaum hawa akan menjerit iri karena melihatnya. Didalam gendongan putri Alva, wajah Arana linglung selama dua detik, sebelum Arana dengan panik mencoba menghentikan Alva.


"Al, apa yang terjadi?" tanyanya, "Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"


Alva menurunkan pandangannya, menatapnya lembut sembari mendaratkan kecupan dipipinya. "Kamu sudah bangun? Maaf aku mengganggu tidurmu."


Arana tercengang dengan perkembangan ini. Tunggu, dia hanya meminta Alva untuk menurunkannya, bukan menyuruhnya menciumnya dan meminta maaf pada kesalahan yang bahkan bukan kesalahan yang dibuatnya. Arana menggelengkan kepalanya dan masih mendesak Alva untuk menurunkannya. "Al, turunkan aku dulu. Aku benar-benar tidak apa untuk berjalan sendiri."


Saat ini mereka baru saja menaiki lift menuju lantai apartemen mereka, dan dilift, ada beberapa orang yang juga menggunakan lift. Arana melihat mereka sesekali mencuri pandang kearahnya, dan bahkan mereka dengan terang-terangan menampilkan bermacam ekspresi. Ada yang diam-diam malu, ada yang senang, dan ada yang nampak tidak suka. Gadis-gadis itu mungkin berpikir bahwa dirinya terlalu manja hingga menyuruh Alva menggendongnya.


Memikirkannya, Arana merasa sedikit malu dan tertekan.


"Al, turunkan aku, ya?" desak Arana.


Sayangnya, yang ia dapat hanya gelengan kepala dari Alva. "Sebentar lagi kita sampai, sayang. Kakimu mungkin terkilir tanpa kamu sadari, dan aku tidak ingin kamu tambah terluka karena kelalaianku."


Arana tidak bisa menangis atau tertawa. Dia benar-benar tidak terluka dan hanya memiliki beberapa luka sayat di tangannya karena mencoba melepas tali. Selain itu, tidak ada luka apapun ditubuhnya. Alva terlalu memanjakannya, dan Arana mulai merasa rendah diri kembali ketika memikirkannya. Seharusnya, semua kepedulian dan perhatian Alva ditunjukkan kepada Alana, bukan dirinya.


Arana menghela napas samar, menyandarkan kepalanya didada Alva dan diam-diam mendengarkan suara detak jantungnya.


Ya sudah, jalani saja.


Tidak lama setelah itu, Arana, Alva, Erlan dan Calvian sudah sampai di apartemen milik Alva. Erlan dengan cekatan mendahului Alva dan menekan sandi pintu, sehingga Alva bisa langsung membawa Arana masuk tanpa harus menurunkannya untuk menekan sandi apartemen. Semua anggota kelompok rahasia Alva dan Erlan tahu sandi apartemen Alva agar memudahkan mereka untuk memberikan informasi kepadanya. Pun, karena Alva mempercayai mereka, dan mereka setia kepada Alva, sehingga tidak ada yang perlu memusingkan masalah sandi apartemen.


Ketika Alva membawa Arana masuk, gadis itu menemukan bahwa ada seseorang yang duduk disofa apartemen sembari menikmati sekaleng minuman soda ringan dan menikmati sepiring siomay. Ketika mendengar seseorang masuk, ia menoleh, memamerkan deretan gigi putihnya yang ternoda saus kacang dan buru-buru menenggak soda.


"Hai, sudah lama aku menunggu sampai aku kelaparan!" serunya.

__ADS_1


Dia adalah Angga, salah satu dari bawahan Alva dengan profesinya sebagai seorang dokter. Daripada bawahan, Angga lebih bisa disebut sebagai seorang mitra. Dibawah perlindungan Alva, Angga bisa melakukan praktik dengan obat-obat yang diciptakannya untuk menjadi dokter sekaligus penghasil obat untuk berbagai kepentingan militer. Seperti obat yang digunakannya untuk menyadarkan pria yang menculik Arana selama masa interogasi R dan J yang seperti neraka, dan banyak obat lain. Tentu saja meskipun itu melanggar kode etik seorang dokter, selama Angga bisa menemukan obat baru yang ampuh dan berguna, dia hampir tidak peduli.


Toh, dia punya perisai selama dia setia memegangnya dan menyokongnya dari belakang.


"Bereskan sampah yang kau buat setelah kau obati istriku." Perintah Alva tegas tanpa bantahan.


Arana yang kemudian menyadari bahwa pria didepannya itu adalah dokter segera menoleh pada Alva. "Aku baik-baik saja, Al. Tidak perlu memanggil dokter untuk mengobatiku."


"Ah, benarkan! Istrimu sangat baik sampai mengerti betapa lelahnya aku berkendara berjam-jam begitu aku mendengar panggilanmu," keluh Angga, "Tapi cantik, aku tetap harus mengobatimu dan memeriksa apakah ada cedera serius pada tubuhmu."


Mendengar perkataan Angga, dahi Alva berkerut. Beraninya menggoda istri orang didepan suaminya secara langsung.


"Kau tidak diizinkan menyentuh istriku!" tegas Alva.


"Oh, lalu aku tidak jadi memeriksanya, boss?" tanya Angga.


"Tetap periksa istriku, tapi kamu dilarang menyentuhnya!" tekan Alva membuat Angga melotot. "Lalu bagaimana aku bisa memeriksa istrimu jika aku tidak bisa menyentuhnya, boss? Kau bercanda?"


Dibelakangnya, Erlan dan Calvian mencoba menahan tawa mereka. Menikmati kepayahan Angga dibawah sikap keras kepala Alva. Erlan menyeringai geli, dan tidak bisa menahan untuk tidak membatin. Yah, siapa yang memintanya menggoda istri singa posesif?


Melihat dokter bermata sipit didepannya kesusahan, Arana yang sudah didudukkan di sofa meraih lengan Alva dan mencubitnya pelan. "Tidak boleh begitu, Al!"


"Sayang, jangan gunakan tanganmu dulu. Bagaimana jika lukanya sakit?" cemas Alva sembari menahan tangan Arana dengan lembut.


Arana menggeleng, menarik tangannya, namun dengan lembut ditahan Alva. Pria itu memeriksa tangannya dengan hati-hati.


"Apakah sakit?" tanya Alva.


"Tidak," sahut Arana jujur, "Tidak sakit."

__ADS_1


"Tidak apa, bahkan jika sakit, aku akan membiarkannya pergi dengan cepat, agar istriku ini tidak kesakitan lagi." Cetus Alva membuat Arana tertawa kecil.


Mengapa Alva bisa menggemaskan seperti itu?


Memandang keromantisan didepannya, Angga menaikkan kacamata yang dikenakannya dan dengan wajah datar berucap. "Seorang dokter sudah datang jauh-jauh disini. Apakah akan dianggurkan begitu saja? Aku tidak setidak berguna itu, okey?"


"Oh," Erlan hanya bergumam dengan senandungan.


Heh, sekarang dia punya seorang teman untuk merasakan perasaan menjadi dirinya ketika menjadi seorang jomblo dan dihadapkan pada adegan uwu setiap hari oleh pasangan yang diberkati surga didepannya itu. Bagaimana rasanya? Enak? Hehe!


Sayang sekali si kecil disebelahnya dengan acuh mengabaikan mereka dan fokus bermain game online bersama dengan teman-teman online-nya.


...***...


Beberapa waktu memeriksa, Angga menarik kacamatanya dan mengangguk. "Tidak ada masalah serius. Luka ditangannya akan sembuh dalam beberapa hari selama menerapkan salep yang akan kuresepkan. Kemudian, lebam dikakinya tidak berefek banyak. Secara alami itu hanya efek benturan kecil, dan akan menghilang dalam satu minggu."


"Tidak ada luka lain?" telisik Alva.


"Apa kau berharap istrimu terluka?" tanya Angga.


"Kau gila?!" geram Alva membuat Angga meringis pelan dan berkata, "Serius tidak ada luka lain. Hanya itu. Tapi perhatikan juga mentalnya, mungkin istrimu masih syok dengan kejadian penculikan ini. Yah, tapi sepertinya tidak sih."


Sebab saat ini Arana sudah bisa menonton televisi dengan sesekali tertawa ketika ada adegan lucu di layar kaca itu. Alva mendesah lega dan kemudian dia mulai berbicara kepada Calvian yang berada disampingnya dengan suara pelan. "Bagaimana dengan orang itu?"


Calvian menyerahkan ponselnya dan menunjukkan sebuah video. Dalam video itu, nampak seseorang yang mengenakan jaket dan topi serta masker hitam berjalan sembari membawa tas besar dan menaruhnya didekat bangunan tua. Video itu berhasil didapatkan dari kamera drone yang pada saat itu tidak sengaja diterbangkan oleh seseorang karena ingin merekam pemandangan sekitar. Sosok itu kemudian segera berbalik pergi setelah menaruh tas itu dibangunan tua, dan tidak menyisakan jejak apapun lagi setelah itu.


"Aku memeriksa kamera pengawas lain, dan tidak menemukan orang itu lagi. Mungkin dia mengubah pakaiannya ditempat yang jauh dari kamera setelah dia menaruh uangnya." Simpul Calvian setelah memeriksa video.


"Orang ini ... aku tidak tau harus menyebutnya pintar atau licik."

__ADS_1



__ADS_2