My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 17: Amber, What Do You Think?


__ADS_3

Amber tanpa kata menarik Arana dari kerumunan dan membawanya menjauh. Arana menyampaikan kode kepada teman-temannya untuk melanjutkan kegiatan mereka dan lanjut mengobrol. Menatap sekelilingnya, memastikan situasi aman, Amber menoleh dan melotot padanya.


"Astaga, Rana! Suamimu benar-benar luar biasa tampan! Gadis itu sangat buta tidak menyukainya!" Bisik Amber dengan suara yang hampir memekik. "Dia benar-benar terlihat seperti pangeran berkuda putih! Dari negeri dongeng tentu saja. Tunggu, aku serius!"


Arana menyunggingkan senyuman kaku dan berkata, "Tenanglah Amber. Aku tahu Alva tampan, aku sudah pernah mengatakan padamu setidaknya mama dan papa memikirkan masa depan Alana meskipun ini pernikahan bisnis. Tidak mungkin mama dan papa mencarikan pasangan yang jauh dari standar Alana."


Amber mendengus. "Ah, sial! Kamu mengingatkanku bahwa ini tidak sesuci dan seindah itu."


"Aku harus mengakui, meskipun mereka orangtua yang gila dan aneh menurutku. Tepatnya sih, tidak pantas jadi orang tua, namun selera mereka tinggi sekali." Amber memincingkan matanya.


"Apakah kamu akan tinggal beberapa hari disini?" Arana bertanya setelah memberikan kekehan geli melihat sahabatnya memasang wajah murung.


Amber menghela napas tanpa daya. "Seandainya aku bisa, tapi tidak. Besok aku harus kembali, dan dalam waktu dekat, aku tidak bisa sering berkomunikasi denganmu. Aku harap aku memiliki otak secerdas kamu dan Lily, sehingga aku bisa mengerjakan semua tugasku dalam semalam!"


Arana tersenyum lembut. "Ayolah, kamu mengatakan kami tidak cerdas. Tapi lihat siapa yang memiliki lemari piala paling banyak."


Amber memutar bola matanya. "Itu perlombaan atletik, sayangku. Berbeda denganmu dan Lily yang memiliki segudang piala akademik. Bisakah kamu membedakannya?"


"Ah, baik. Aku membedakannya."


"Ngomong-ngomong, Na. Lily menanyakan kabarmu padaku karena belakangan kamu sedikit lama saat membalas pesan. Lily bertanya kepadaku dan aku menjawab kamu sibuk karena sedang bekerja. Aku sama sekali belum memberitahu Lily bahwa kamu sudah pergi dari Melbourne. Tapi, Lily juga harus tahu bahwa kamu kembali ke keluargamu, setidaknya, selama beberapa waktu. Dan beruntungnya lagi, Lily berkata tidak akan bisa kembali sampai akhir tahun karena proyek besarnya mengharuskan Lily pindah dari satu tempat ke tempat lainnya." Amber menatap sepasang manik Arana yang juga menatapnya.

__ADS_1


Gadis Asia itu menghela napas dan mengangguk. "Aku mengerti, Amber. Aku akan mencoba menceritakannya pada Lily. Tapi, aku akan menunggu waktu yang tepat. Aku tidak ingin pekerjaan Lily terganggu karena dia mencemaskanku."


Amber mengangguk paham. "Aku paham. Tapi kamu tetap harus mengatakannya pada Lily."


"Aku akan melakukan." Ucap Arana.


Manik Amber melirik kebelakang, sebelum ia menyunggingkan seringaian kecil. "Hei, suamimu datang. Mari ingat bahwa aku adalah teman onlinemu, kan, Alana?"


Dalam sekejab setelah Amber membungkam bibirnya, Arana dapat merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Arana menoleh, menyambut Alva yang menyapanya. "Hei, semua baik disini?"


"Ya, tentu saja! Sayang, kenalkan, dia Amber. Dia sahabatku. Dia belum begitu fasih berbahasa Indonesia." Kata Arana memperkenalkan Amber.


"Saya Alva, senang bertemu denganmu, Amber. Terimakasih sudah menjadi sahabat Ala. Saya pikir, Ala bukan tipe orang yang akan berteman bahkan bersahabat secara online. Tapi ternyata Ala melakukannya." Alva berbicara dengan aksen Inggris yang fasih dan natural, seakan-akan dia benar-benar berasal dari luar negeri.


Amber menyeringai lebar, girang karena setidaknya, selama identitas sahabatnya tidak terbongkar, gadis kesayangannya itu akan baik-baik saja dan hidup nyaman bersama dengan pria ini. Ah, sungguh menyenangkan melihat Arana hidup bahagia dan tenang—!!


Tunggu!


Amber melewatkan satu hal. Maniknya melebar dan pupilnya menyempit. Bibirnya membuka dan menutup, namun tak sedikitpun suara berhasil dikeluarkannya. Ya setidaknya, itu karena Amber terlalu ayoo dengan apa yang terlintas dipikirannya barusan. Dia menyaksikan Alva berbincang dengan Arana sekilas dalam bisikan kecil.


"Oh, kamu tidak memberitahuku bahwa kamu memiliki sahabat online?"

__ADS_1


Arana mengangkat alisnya. "Hanya, kupikir itu tidak terlalu penting untuk diberitahukan kepadamu."


Alva meraih pipinya dan mengusapnya. "Bagaimana hal seperti itu tidak penting? Apapun yang berhubungan denganmu adalah hal yang sangat penting untukku. Tapi tentu saja itu hakmu untuk memberitahukan setiap hal padaku atau tidak. Tentunya kamu berhak memiliki beberapa rahasia untuk tidak dibagikan pada orang lain, mn?"


Arana mengangguk dengan senyuman yang menampilkan deretan gigi putihnya. "Oh, tentu saja!"


Wajah Amber lebih buruk.


"Sial! Pria ini menyentuh Arana seenaknya!! Dan sialnya aku tak bisa melakukan apapun!"


Amber panik. Tentu saja! Nasib dan masa depan sahabat tercintanya dipertaruhkan setelah pesta ini. Bulan madu?


Bagaimana dengan malam pertama?!


Tidak!! Bagaimana Amber bisa membiarkan pria ini menyentuh sahabatnya? Mahkota Arana hanya boleh diberikan kepada orang yang benar-benar Arana cinta! Tidak boleh diberikan kepada sembarang pria! Hanya boleh kepada suami Arana.


Namun sialnya, dimata Tuhan, mereka sudah sepasang suami-istri yang dipersatukan diatas altar.


Sungguh sial!


__ADS_1


__ADS_2