
Suasana hati Alva baik sampai beberapa hari setelah ulang tahunnya. Pria muda itu duduk diatas bangku kebesarannya, memandang berkas-berkas ditangannya dan sebuah senyuman terpatri diwajahnya yang rupawan. Memandangnya dengan tatapan jijik, Erlan menaikkan kacamata yang dikenakannya dan diam-diam memutar bangkunya menghindari Alva masuk ke pandangannya.
Orang yang sedang dimabuk asmara memang menakutkan.
Ding!
Denting ponselnya membuat Alva mengerutkan kening ketika melihat siapa yang mengirimkan email kepadanya. Nama Selena tertaut, dan ia menghela napas dingin, mencoba memikirkan apa yang sebenarnya menjadi alasan Selena untuk mengirimkan email dan lampiran foto kepadanya. Alva mengklik pada kotak lampiran, dan menemukan bahwa ada beberapa foto yang terlampir didalamnya.
Melihat foto-foto itu, alisnya berkedut.
Didalam foto itu, nampak Arana tengah duduk diayunan didepan rumah besar bertingkat. Ia duduk dengan pria yang dia ketahui adalah Arselyne, dan keduanya nampak begitu asyik mengobrol, bahkan tak jarang melakukan skinship. Kemudian, ada foto dimana seorang gadis berambut pirang yang mirip dengan Arselyne bersama dengan seorang pria yang nampaknya sudah berusia sama dengan Michael turut bergabung. Mereka nampak sangat dekat dengan Arana.
Arana bahkan tidak segan dipeluk oleh gadis--menurut Alva, itu.
Foto terakhir adalah foto yang membuat kening Alva berkerut. Disana nampak Arselyne tengah memeluk erat Arana yang membalas pelukannya. Suasana ramai itu mungkin ketika mereka berada di bandara untuk mengantarkan Arana. Alva bahkan melihat siluet Amber dibelakang mereka, meski tertutup pejalan kaki.
Alva tahu yang sebenarnya terjadi dibalik foto-foto itu, namun ia tetap tidak bisa menahan kecemburuan yang dia rasakan. Alva dengan tegas menghapus foto-foto itu dan segera membalas pesan Selena dengan singkat.
[Urus urusanmu sendiri.]
Setelahnya, Alva memblokir nomor Selena. Alva tidak perlu repot-repot mendatanginya untuk menghapus barang bukti. Toh, gadis itu akan memberitahu siapa? Jika Lidia dan Michael yang diberitahu, mereka mungkin tidak akan peduli, sementara jika Arletta yang diberi tahu, Alva yakin bahwa Selena hanya akan ditertawakan.
Namun tetap saja, emosi Alva yang semula seperti gula kapas berubah mendung dan hatinya terasa masam.
Menyebalkan.
Disisi lain, Selena memandang marah pada ponsel barunya. Ia telah mendapatkan informasi dari mata-mata yang dia kirim, dan pada akhirnya ia mengirimkan kembali foto itu pada Alva. Selena awalnya berpikir bahwa Alva akan marah karena mengetahui Arana yang dia ketahui sebagai Alana diam-diam bertemu dengan pria lain dibelakangnya dan nampak begitu mesra. Tapi Selena tidak menyangka bahwa Alva akan mengabaikannya dan membalas dengan acuh, bahkan memblokirnya!
__ADS_1
Sama seperti kejadian dimana dia menunjukkan video Alana yang tengah berhubungan dengan seorang pria asing.
Manik Selena memerah, dan rasa dongkol dihatinya kian menjadi. Ia mencengkram tangannya, menekan kuat keinginan dihatinya untuk mendatangi Alva secara langsung dan membuka matanya agar melihat kebusukan gadis yang ia sebut sebagai istri itu.
"SIalan! Al, aku benar-benar mencintaimu! Mengapa kau tidak bisa melihatnya sedikit saja!" geramnya.
...***...
Siang itu, Arana mendatangi boutique Karina sembari berencana melihat rancangan gaun yang ia kirimkan dua minggu yang lalu. Efisiensi pekerja di Karina Boutique sangat bagus dan cekatan, dalam beberapa minggu saja, gaun yang Arana kirimkan sudah jadi.
"Apakah ada pernik yang berwarna ungu lavender?" tanya Arana kepada salah satu pegawai yang menjahit gaunnya.
Wanita itu mengangguk. "Ada nona, ada berbagai macam bentuk. Yang mana yang anda inginkan?"
Arana memikirkan bentuk gaun didepannya, dan berkata. "Yang berbentuk seperti karangan bunga. Aku ingin kalian memasangkannya dileher sebelah kiri, dan rangkai dengan pernik pipih disepanjang garis lehernya."
"Baik, nona!" jawab pekerja itu segera memberitahu rekannya apa yang diperintahkan Arana.
Arana menggelengkan kepalanya, mencoba menjawab dengan santai. "Tidak, sejauh ini masih nyaman saja."
Karina tersenyum mendengarnya. "Baguslah kalau begitu. Aku akan kembali ke atas memeriksa gaun untuk Nona Madeline. Lanjutkan kegiatanmu, Ala."
Arana tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk singkat, membiarkan Karina pergi meski hatinya sebenarnya sangat senang. Arana dengan sabar menenangkan emosi gembiranya dan kembali duduk untuk melihat rancangan gaun yang ada diatas meja untuk diperbaiki. Masih ada bagian yang terkadang menonjol atau kurang hingga membuat gaun itu nampak salah.
"Gaun itu indah, aku menginginkannya."
"Ah, maafkan saya nona. Namun gaun ini adalah gaun pesanan orang lain." Pekerja yang sama yang mengerjakan gaun Arana tengah berbicara kepada seseorang yang tengah menampilkan mimik wajah kesal.
__ADS_1
"Aku akan membayar berapapun asalkan berikan gaun itu padaku. Aku membutuhkannya untuk acara di kampusku." Ujarnya dengan arogan.
Arana mengerutkan kening, melihat kesusahan diwajah wanita bernama Gina, Arana segera bangkit berdiri dan mendatangi mereka. "Maaf, tapi gaun ini sudah kupesan terlebih dahulu dan tidak akan dijual pada orang lain."
"Apa maksud--" ucapannya terhenti sesaat, "Eoh, Alana rupawanya."
Mendengar bahwa gadis didepannya mengenal Alana, Arana memandangnya dengan sedikit gugup. Aduh, siapa lagi ini?
Arana mengatur ekspresinya dan memandang gadis didepannya dengan tenang. Alana mengatakan bahwa selain tiga sahabatnya dan Civanya, tidak ada temannya yang lain yang dekat dengannya dan bisa mengobrol ramah dengannya. Arana menerapkan apa yang dia ingat dari perkataan Alana dan dengan tenang menyapa gadis didepannya. "Oh, ternyata kamu."
"Ala, kurasa kau pernah mendengar rumor tentangku disekolah. Seharusnya kau tahu, bahwa aku mendapatkan apa yang aku mau." Ungkap gadis itu dengan senyuman, "Mia, selalu dapat apa yang dia mau."
Arana memandangnya dalam diam selama dua detik, dan kemudian menyunggingkan senyuman dan dengan senyum yang bukan senyuman berucap, "Lalu bukankah kamu juga sudah mendengar rumor tentangku sampai kamu menghapal namaku? Maaf saja, aku bahkan baru ingat namamu ketika kamu menyebutkannya padaku."
Senyuman disudut bibir Mia menghilang mendengar perkataan Arana, ditambah dengan ucapannya selanjutnya. "Jadi, bukankah kamu juga tahu, bahwa apapun yang sudah menjadi milik Alana, jika tidak aku buang maka masih akan menjadi milikku dan tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya?"
Alana mengatakannya kepadanya pada malam dimana Alana memberikan informasi mengenai dirinya sendiri. Arana masih mengingat jelas bagaimana gadis itu mengatakan kata-kata demikian dengan begitu percaya diri saat memberitahunya. Arana sebenarnya tidak habis pikir bagaimana seseorang bisa dengan begitu arogannya mengatakan kata-kata demikian yang bahkan tidak pernah terbesit dibenaknya.
Wajah Mia memerah, oleh amarah yang mendominasi. Ia dengan tajam memandang Arana, namun masih berkata dengan kemunafikan. "Sebenarnya, Alana. Kamu masih harus memikirkannya dengan matang. Tidakkah kau ingat bahwa ayahku adalah CEO Afeson Corp?"
"Oh, kalau begitu aku juga harus mengingatkanmu."
Arana melangkah selangkah mendekati Mia dan berkata sembari menyilangkan tangannya didepan dada. "Jika perlu kuingatkan, kamu mungkin lupa siapa suamiku sekarang, Mia."
Mendengar itu, wajah Mia semakin memerah. Amarahnya bercampur dengan rasa malu yang ia rasakan ketika ia merasa tertampar oleh perkataannya sendiri. Pernikahan Alva dan Alana--Arana memang diadakan secara privat, namun bukan berarti media massa buta. Alva adalah tokoh yang berpengaruh didunia bisnis dunia, dan merupakan sosok rupawan yang selalu digadang-gadang lebih rupawan dari model dan idol sehingga wajahnya sering muncul dimedia massa seperti televisi atau internet. Semua orang yang tidak mengenal Alva mungkin adalah orang yang gaptek akan teknologi atau mungkin mereka yang berasal dari desa terpencil tanpa perangkat elektronik.
Arana tidak ingin peduli dengan masalah yang mungkin bisa dia hadapi. Perusahaan Michael, Arana tidak mau membuat dirinya disudutkan terus menerus, dan Arana tidak ingin bergantung pada tali boneka milik Lidia dan Michael yang mengendalikannya untuk kepentingan mereka sendiri.
__ADS_1
"Jadi, sekali lagi aku katakan, gaun ini adalah milikku." Tegas Arana.