My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 153: Go To Arana


__ADS_3

"Dimana Alva?"


Arletta bertanya dengan mata sembab kepada Flora yang tengah berdiri bersama dengan Calvian. Flora menjawab, "Menjemput cinta sejatinya."


Mendengar jawaban Flora, Arletta dengan perlahan menyunggingkan senyuman. Ia sedikit menitikkan air mata dan sedikit terisak pelan. Hatinya sakit ketika dia akhirnya mengetahui apa yang sebenarnya menimpa putra bungsunya. Hatinya sakit karena sebagai seorang ibu dan sebagai seorang wanita dia baru mengetahui kebenaran yang terjadi pada putranya. Ia merasa hancur, merasa tidak berguna dan penyesalan menggerogoti hatinya.


Namun, mendengar bahwa putra sulungnya akan menemui Arana, hatinya menjadi lebih lega.


Dia tidak akan bisa membayangkan seberapa hancurnya dia jika Alva benar-benar mencintai Alana, bukannya Arana. Dia tidak bisa membayangkan akan seberapa hancurnya hati putranya mengetahui bahwa orang yang dia cintai ternyata adalah orang yang sama yang membuat adiknya hancur dan bunuh diri. Arletta sangat amat bersyukur. Bahwa Arana hadir dalam kehidupan Alva.


Bahwa Arana menarik Alva dari lubang kebenciannya.


Johan mendekap istrinya, menahan tangisnya dan menenangkan istrinya dengan bisikan lembut dan menenangkan.


"Putra kita akan bahagia, pa.." Arletta berbisik dengan suara samar, teredam oleh isak tangisnya, namun Johan dengna jelas menyadarinya. "Ya sayang. Putra kita akan hidup bahagia. Aku yakin dia akan bahagia."


Flora memandang keduanya dan mengalihkan tatapannya. Ia memandang keluar jendela, mengantongi tangannya dan menyunggingkan senyuman tulus.


"Kau harus membawanya kembali kesisimu, Al."


...***...


Arana tengah duduk di kamar dimana dia disekap selama berhari-hari lamanya. Arana sesekali memandang pintu dan sedikit merasa gelisah tanpa alasan. Seharusnya saat ini, Lisa sudah mengantarkan vitamin dan susu, namun belum ada tanda-tanda wanita itu akan muncul. Arana mengusap perutnya dan menoleh keluar jendela sembari menghela napasnya dengan samar.


Arana meraih sesuatu dari bawah bantal dan memandang cincin emas ditangannya dengan saksama sebelum ia mengusapnya.


Arana menyunggingkan senyuman dan tanpa sadar berhenti bergerak ketika menemukan sesuatu didalam cincin itu. Arana membaca dengan perlahan tulisan yang tersemat didalamnya sebelum maniknya melebar.


Alva & ... Arana.


Arana membeku. Sepasang maniknya melebar ketika dia melihat ukiran yang ada didalam cincin itu. Sebuah tulisan sederhana yang dapat dibaca oleh siapapun yang melihatnya. Tangannya sedikit gemetar dan sebelum dia sempat bereaksi, pintu dibuka dengan keras yang membuatnya tanpa sadar menoleh dan menemukan Josh memandangnya dengan ekspresi yang tidak menyenangkan. Ekspresi yang membuat Arana merangkak mundur ditempat tidur.

__ADS_1


"Dia sama sekali tidak membahas pesanku."


Arana tahu siapa yang dimaksud oleh Josh, Alana. Alana mungkin tidak membalas pesannya akan sesuatu dan membuat Arana semakin gelisah ketika Josh perlahan mendekati Arana.


"Hanya sekilas info. Dia pernah mengatakan bahwa jika dia tidak lagi membalas pesanku dalam waktu duapuluh empat jam, aku bebas melakukan apapun padamu. Dalam artian, aku boleh menggunakanmu, atau bahkan menjualmu."


Manik Arana semakin melebar, namun ia berusaha untuk tidak terlihat gentar meskipun Arana tahu bahwa dia benar-benar dalam masalah besar dan dalam bahaya ketika pria itu perlahan melangkah mendekatinya dengan tatapan seakan tengah mengunci mangsa.


Josh terkekeh, "Sejak awal Alana menunjukkan fotomu kepadaku, aku sudah tertarik kepadamu. Kupikir, kau mungkin akan berbeda dan sangat menarik diatas ranjang. Berbeda dengan Alana yang akan dengan senang hati melebarkan pahanya untukku, kau mungkin akan menjadi hal baru bagiku."


"Kelinci kecil yang keras kepala dan penentang. Itu akan menjadi menarik."


"Jangan katakan omong kosong! Jika kau berani mendekat, aku akan mematahkan tanganmu! " Arana mengancam.


Josh tertawa, hampir membuat Arana merinding mendengarnya. "Kau? Ingin membuatku mengalami patah tulang? "


Ia kemudian mengangkat tangannya tinggi seolah hendak memukul. Arana segera memejamkan mata, memeluk erat perutnya dan berusaha menjadi tameng hidup untuk sang bayi yang ada dikandungannya. Rasa sakit yang ia bayangkan tidak kunjung datang, justru ia kemudian mendengar tawa dari Josh yang kini sudah berada didepannya.


Josh melirik perut Arana. "Aku tidak berniat menyakitinya, kok. Aku hanya berniat untuk sedikit bermain denganmu sembari aku menunggu uang dari Alana mengalir ke rekeningku."


Arana melebarkan matanya ketika melihat tangan Josh perlahan mengusap pahanya yang sedikit terespos karena pada saat itu ia mengenakan gaun langsung sebatas lutut berwarna ungu. Arana menampar Josh dengan keras dan berteriak. "*Jangan bertindak kurang ajar dasar brengs*k*! "


Mendapatkan tamparan keras dari Arana hingga kepalanya miring membuat Josh meradang karena amarah. Emosinya yang hanya setipis benang langsung tersulut karena tamparan Arana. Ia menatap Arana dengan marah dan mengangkat tangannya hendak memukul. Dan Arana tahu bahwa kali ini bukan main-main lagi. Arana melebarkan matanya, dan tamparan itu tidak pernah datang kepadanya.


Josh tidak berhenti, namun dia dipaksa berhenti oleh tangan kokoh yang membelenggu tangannya dengan kuat.


Manik Arana bergetar. Dua pasang manik itu saling bersitatap. Arana sedikit membungkam bibirnya dengan tangan sebelum bergumam bersamaan dengan Josh yang menoleh.


"Alva.."


Bagaimana dia bisa ada disana? Bagaimana Alva bisa menemukannya? Apa yang terjadi dengan Alana? Pikiran-pikiran semacam itu melintas dikepalanya, dan menghilang seketika melihat tatapan lembut Alva yang dilayangkan padanya.

__ADS_1


Air mata tanpa sadar meluruh dikedua pipinya.


Melihat Josh dengan tatapan dingin dan mematikan, Alva tanpa kata menyeret pria itu dan menghantam wajahnya dengan tinju yang membuat Arana tanpa sadar sedikit mundur hingga punggungnya menempel pada dinding. Josh yang dipukul membalas dengan segera ditengah rasa sakitnya. Keduanya terlibat dalam perkelahian sengit ketika Arana mendengar langkah kaki dari luar. Jantung Arana berdentum kencang, takut jika yang datang adalah penjaga gedung itu dan bisa saja menyulitkan Alva.


"Alva!"


Erlan muncul didetik berikutnya yang membuat bahu Arana melemas karena rasa syukur. Disisi lain, Erlan segera memperhatikan perkelahian Alva dan Josh dan segera menatap kearah Arana. Erlan segera berlari dan menghampiri Arana.


"Kamu tidak apa? Apa ada yang terluka?"


Arana menggeleng. "Tidak, tidak apa."


Mendapatkan jawaban Arana, Erlan menoleh. "Al, maafkan aku. Tapi aku minta izin untuk menyentuh istrimu!"


Tanpa menunggu jawaban Alva dan respon Arana sendiri, Erlan segera membantu Arana untuk berdiri dan menggandengnya keluar. Alva tidak menoleh dan terus beradu pukulan dengan Josh yang bagi Alva cukup baik dalam berkelahi. Arana menatap dengan panik antara Alva dan Erlan sebelum berkata pada Erlan. "Ka-Kamu tidak membantu?"


Erlan menggeleng. "Yang penting kita keluar dari sini dulu."


Erlan bukannya tidak mau membantu Alva. Tapi, Alva memang tidak perlu dibantu. Justru jika itu adalah perkelahian antar teman, yang perlu dibantu adalah Josh. Keduanya nampak seimbang tadi karena Alva menahan dirinya, untuk tidak membuat Arana tertekan ... jika dia menghabisi seseorang.


Erlan menghela napas dalam hati dan tetap menuntun Arana melewati koridor yang akan membawa mereka keluar. "Aku harus mengurusnya lagi jika seseorang terbunuh kali ini. Ditambah lagi, R dan J pasti masih menggila saat ini karena mendapatkan mangsa empuk untuk menjadi samsak mereka."


"Sial, kau harus naik gaji, Lan!"


"Lan! Awas!"


Teriakan Arana dibarengi dengan seseorang yang membawa pistol, mengarahkannya tepat kepada Erlan yang melotot bersamaan dengan tarikan pelatuk dan suara tembakan yang keras memekakkan telinga.


DOR!!


__ADS_1


__ADS_2