
Ada dua lantai di balroom hotel. Lantai atas memiliki balkon yang langsung menghadap ke pemandangan malam dan gedung-gedung pencakar langit yang bisa dilihat dari kejauhan. Dilantai atas, Arana dapat melihat seseorang menatapnya dengan tatapan penuh dendam. Gadis itu mengenakan gaun merah gelap pendek. Ia dengan terbuka menunjukkan sebuah pisau lipat kearah Arana, dan dengan jelas mengisyaratkan dirinya untuk mengikutinya, tanpa seorangpun yang boleh tau. Tentu saja dari gerakannya menunjuk seseorang disekitarnya.
Arana tahu jika dia bisa berada dalam masalah. Namun, Arana tidak bisa membiarkan orang lain terluka.
Arana menoleh kepada teman-temannya dan berkata, "Permisi sebentar. Aku akan keatas sebentar, kalian lanjutkan obrolan kalian."
"Baiklah." Jawab yang lain.
"Mungkinkah dia juga orang yang sama yang merusak gaun pernikahan?" Batin Arana sembari berjalan menjauh dari teman-temannya.
Gadis itu melangkah menaiki tangga untuk menuju lantai dua. Menatap tempat terakhir dia melihat gadis itu dan mengikutinya. Ada sebuah lorong yang menghubungkan balroom dengan ruangan lainnya. Lorong panjang itu kemudian bercabang, dan Arana menemukan perempuan tadi diujung lorong sebelah kanan. Dia mengangkat kakinya untuk berjalan mendekati perempuan yang juga berjalan. Seakan menuntunnya kesuatu tempat.
Jantung Arana berdentum dengan kuat. Koridor yang sepi membuat suara langkah kakinya menggema. Tuk, tuk, tuk. Masuk ketelinganya sendiri, dan hampir membuat dirinya cemas. Perasaan tidak menyenangkan menyeruak dari dadanya, dan dia meremas tangannya tanpa sadar ketika dia lebih dekat dengan titik terakhir dia melihat perempuan itu. Persimpangan koridor. Pesta ini membuat seluruh gedung ini ditutup, dan hampir tidak ada seorang tamupun yang menginap disana.
"Arghhh!!"
Arana tersentak kaget ketika perempuan itu muncul, mengayunkan pisau ditangannya kearahnya. Arana mundur kebelakang mengikuti instingnya, dan membulatkan matanya ketika pisau itu menancap didinding. Perempuan itu terengah, menolehkan kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Perempuan itu masih muda, memiliki wajah cantik jika saja tidak memiliki bekas luka lepuh disisi wajahnya. Sepasang manik itu menyorot dengan tajam, dan Arana hampir merasakan tenggorokannya tercekik ketika perempuan itu tertawa dengan liar.
"Mengapa menghindar seperti kucing kecil penakut, Alana?"
__ADS_1
Arana terkejut karena gadis itu tidak berbicara dengan jelas. Suaranya sedikit acak, dan serak hampir seperti tenggorokannya tersumbat. Arana memperhatikan tatapan tajamnya dan jantungnya berdentum lebih dan lebih cepat.
Gadis itu terlihat sangat membencinya.
"Si—Siapa kamu? Mengapa menyerangku?!" Arana mencoba berkomunikasi dengannya, menanyangkan siapa dirinya. Namun dia tertawa dengan keras. "Sungguh menyebabkan!"
"Sudah kuduga kau pantas dibunuh, Alana! Kesombongan dan keangkuhanmu adalah racun! Itu yang membuatmu pantas dibunuh dan tidak pantas diampuni!" Lengkingan itu membuat Arana tersentak.
"Aku, aku mohon tenanglah. Kita bisa membicarakannya baik-baik!" Arana mencoba menenangkannya. Setidaknya, Arana jelas panik saat perempuan itu mencabut pisaunya dan melangkah lurus kearahnya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Alana! Tepat ketika orangtuamu menutup kasusmu disekolah bahkan tanpa pemikiran untuk mengucapkan maaf atau rasa bersalah sedikitpun, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu. Karenamu, wajahku hancur! Bahkan keluargaku hancur karena keluargamu! Jadi, aku juga ingin kamu merasakan hal yang sama." Ucapnya dengan senyuman.
Gila.
Perempuan itu sudah gila! Namun hal yang lebih gila adalah fakta bahwa orangtuanya begitu rela melakukan apapun untuk Alana. Bahkan menutup kasus sebesar ini hanya dengan uang, bahkan tanpa permintaan maaf! Arana melangkah mundur dan mencoba menenangkan perempuan itu.
"Aku minta maaf, sungguh. Aku tidak bermaksud. Bisakah kita tenang dan membicarakannya lebih dulu."
Namun seakan tuli, perempuan itu mengayunkan lengannya yang membawa pisau ke arah Arana. Arana yang melihat pisau datang kearahnya menghindar, dan tanpa sadar menangkap tangan perempuan itu. Meringis, dia menatap Arana dengan nyalang ketika Arana memutar tubuhnya dan mengunci lengannya dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!!" Dia mendesis.
"Aku mohon dengarkan aku. Aku—" Dalam sepersekian detik, Arana tidak mampu mengatakan apapun lagi.
Tentu saja dia sedang terdesak. Tapi apakah jika dia mengatakan jika dia bukan Alana, gadis itu akan menerimanya? Arana yakin jika bahkan dia sadar Arana bukanlah Alana, dia tetap akan melukainya. Karena dendam gadis ini sudah sampai pada orangtuanya. Sayangnya, bahkan jika dia merusak wajahnya, Arana tidak akan yakin apakah Lidia dan Michael akan peduli.
"Siapa namamu?" Tanya Arana.
Perempuan itu tertawa dengan gila. "Dasar ja*ang sialan! Kau bahkan tidak mengingat siapa aku?! Haha, aku Olivia! Yang kau hancurkan wajahnya dikelas kimia satu tahun yang lalu!!"
Baik, Olivia.
"Olivia, aku benar-benar bersungguh-sungguh. Aku minta maaf untuk kejadian yang terjadi." Arana tidak tahu Alana melakukannya secara sadar atau tidak sadar, jadi dia benar-benar tidak bisa mengatakannya dengan lebih detail apakah dia benar-benar melakukannya atau tidak. "Aku benar-benar minta maaf."
Olivia mendesis dan memberontak. Dengan cara terakhirnya Olivia menarik tangannya sekuat tenaga. Dan mengayunkan begitu terbebas, membuat Arana terhuyung saat mencoba menghindari tangan Olivia. Olivia tidak mempedulikan rambut keritingnya yang berantakan dan bajunya yang tersingkap. Dia hanya berusaha mengulurkan tangannya mengambil pisau, untuk kembali mencoba melukai Arana.
Arana hendak berbalik ketika rambutnya yang dibiarkan tergerai ditarik dari belakang. Membuatnya tersentak dan hampir jatuh.
"Matilah!"
__ADS_1