
Hah?
Siapapun, tolong katakan kepadanya bahwa dia salah dengar. Arana memasang senyuman yang sebenarnya bukan senyuman. "Ma—Maksud anda apa?"
"Aku hanya bercanda, haha! Santai saja~" Perkataan itu membuat Arana lega tanpa alasan. Namun perkataannya selanjutnya membuat napas Arana kembali tertahan. "Maksudku, aku mantan pacar suamimu sekarang, Alva."
Arana tersenyum. Namun jika dilihat dengan seksama, ada jejak keputusasaan didalamnya. Ya Tuhan, Alana pernah membuat masalah apa lagi? Apakah Alana merebut Alva? Tapi, Alva terlihat sangat mencintai Alana. Oh, atau mungkin karena mencintai Alana, Alva memutuskan wanita didepannya ini? Siapa namanya, Flora?
Tapi apa itu mungkin?
Lihat betapa cantiknya wanita didepannya!
Manik Arana berkaca-kaca. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud merebut Alva dari anda. Aku—Aku ..."
Sial, Arana tidak bisa berkata-kata lagi. Apa yang harus dikatakannya selanjutnya?!
Apakah wanita ini berniat melabraknya?
"Tidak masalah, kami berpisah secara baik-baik, kok." Flora memasang seringaian yang nampaknya selalu menjadi andalannya. Wanita 23 tahun itu menyandarkan punggungnya di sandaran bangku taman. Kedua tangannya terlipat didepan dadanya, dan kepalanya miring kearah Arana. Memberikan penampilan visual yang sempurna selayaknya model.
"Tapi aku seperti mendengar kamu baru saja menghinaku jika aku kalah darimu sehingga kamu bisa merebut seseorang yang seharusnya adalah milikku." Arana menggeleng dengan panik sesaat setelah mendengar perkataan Flora.
Sungguh, Arana tidak pernah bermaksud begitu!
"Ti—Tidak! Bukan begitu maksudku!"
__ADS_1
Flora mengangguk. "Yah, lupakan saja. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan sendirian ditaman seperti ini?"
Begitu saja? Tidak ada tamparan, jambakan atau pelaporan?
Arana duduk dengan posisi canggung, memilin kedua tangannya dan menjawab dengan ragu. "Um, aku bosan dan mencari udara segar. Tapi sebenarnya, aku berniat pergi ke panti asuhan."
"Panti asuhan?" Flora membeo dengan penuh kejutan, yang membuat Arana menoleh dengan bingung. Namun tetap mengangguk dan menjawab, "Iya. Ada panti asuhan bernama Panti Asuhan Matahari didekat sini. Hari ini waktunya kunjungan."
"Apa anda pernah pergi ke panti asuhan?"
Flora menggeleng. "Tidak."
"Itu ... apa anda mau ikut?" Tawaran Arana membuat Flora terkekeh aneh, sebelum mengangguk. "Boleh juga. Aku akan ikut."
...***...
Gadis itu mendorong troli yang pada saat ini sudah terisi oleh beberapa kebutuhan pokok seperti beras, telur, mie dan makanan kaleng. Arana memegang troli dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya digunakan untuk memeriksa tanggal kadaluwarsa makanan didalamnya. Setelah memastikan bahwa makanan itu masih berjangka panjang, Arana memasukkannya kedalam troli dan mengambil beberapa kalengan yang sama, sebelum memasukkannya kembali ke dalam troli.
Dibelakangnya, Flora mengikuti dengan tenang. Kedua tangannya menyilang didepan dadanya. Sepasang maniknya yang tajam sesekali memperhatikan sekelilingnya, menemukan beberapa pasang mata memandangnya dengan tatapan kagum dan penasaran.
Penampilannya yang menawan dan penuh dengan pesona berhasil membuat orang-orang tertarik kepadanya, sama halnya dengan orang-orang yang ada di minimarket itu.
"Apa lagi yang akan kau beli?"
"Membeli peralatan menulis dan menggambar untuk anak-anak. Beberapa dari mereka ada yang bersekolah karena beasiswa yang bisa mereka raih. Namun ada yang tidak bisa mengenyam pendidikan sekolah karena tidak mampu belajar. Jadi, aku ingin setidaknya mereka bisa belajar membaca dan menulis atau menggambar." Ucap Arana sembari mengambil beberapa kebutuhan dapur seperti kentang, sayuran hijau dan daging-dagingan.
__ADS_1
Arana menggunakan uang yang diberikan oleh Lidia kepadanya. Lidia mengatakan bahwa Arana bebas menggunakan uang itu untuk apapun. Karena memang Alana setiap bulan mendapatkan jumlah yang sama untuk uang jajannya.
Pertama kali memeriksa berapa saldonya, Arana merasakan betapa miskinnya dia. Alana yang beruntung. Uang sebesar itu, yang mungkin tidak akan pernah bisa dia kumpulan jika selamanya bekerja menjadi pengantar bunga, hanya digunakan untuk uang jajannya selama mungkin satu minggu. Ingat, hanya uang jajan. Lidia mengatakan bahwa itu sudah menjadi haknya, dan maka dari itu, daripada Arana membuang-buang uangnya untuk sesuatu yang tidak perlu, dia menggunakannya untuk memberi bantuan kecil kepada anak-anak di Panti asuhan Matahari. Jadi selama Lidia dan Michael mengirimnya uang, Arana tidak menolak dan menabungnya.
Toh, mereka juga orangtuanya, kan?
Memberikan sedikit uang mereka untuknya tidak akan membuat mereka bangkrut.
Toh, uang kebutuhan belanja bulanan dan kebutuhan lainnya yang menyangkut rumah tangga, Alva yang menyiapkannya.
"Kenapa kau peduli sekali dengan mereka?" Pertanyaan itu membuat Arana menghentikan gerakannya selama sepersekian detik.
Karena Arana hampir tahu bagaimana rasanya. Ditinggalkan oleh orang yang seharusnya bertanggungjawab atas dirinya. Merasakan kerasnya hidup diusia muda. Bedanya, Arana masih memiliki neneknya dulu dan dia masih bisa bersekolah. Jadi Arana hanya ingin membantu mereka, meski hanya hal kecil dan remeh yang bisa dia lakukan seperti membelikan kebutuhan sandang pangan dan beberapa hadiah kecil lainnya. Agar mereka bisa lebih bersemangat dan mampu menjadi seseorang yang lebih baik dimasa depan. Membuktikan bahwa tanpa orangtua sekalipun, mereka masih bisa bertahan hidup didunia. Masih bisa menjadi seseorang yang dipandang, memiliki teman, memiliki seseorang yang dicintai, sebelum akhirnya berkeluarga sendiri.
Itu adalah balas dendam paling indah yang selalu Arana pikirkan.
Tidak perlu ada air mata. Tidak perlu ada rasa iri. Tidak perlu ada rasa ketakutan. Hanya itu yang Arana pikirkan, meskipun batinnya terkadang, menentang semua itu.
Arana membuka bibirnya menjawab, "Membantu tidak perlu memiliki alasan. Peduli pada orang lain pada dasarnya adalah kewajiban yang sudah seharusnya melekat dalam diri pribadi. Tidak hanya aku yang memiliki, orang lain, juga Anda, memilikinya."
"Hanya saja terkadang kita belum menyadari sebenarnya untuk apa dan untuk siapa kita harus peduli." Ujarnya sembari mendorong troli menuju tempat lainnya, untuk membeli hadiah untuk anak-anak.
Dibelakangnya, Flora menatap Arana dengan sepasang manik yang sulit diartikan.
__ADS_1