My Beloved Arana

My Beloved Arana
Bab 68: His Heatred For Alana


__ADS_3

Arana memandang tajam mereka, mencoba mengintimidasinya dan menunjukkan bahwa dia tidak mudah diintimidasi. "Apa mau kalian?"


Dia tidak menanyakan siapa mereka karena khawatir mereka adalah orang yang mengenal Alana. Jadi dia secara langsung menanyakan alasan mereka menghentikannya dijalan sepi ini dan mengintimidasinya.


Pemimpin geng itu adalah seorang pria dewasa dengan tato yang memenuhi wajah dan tubuhnya. Rambutnya berwarna merah cerah dan jatuh menutupi dahinya. Wajahnya sebenarnya tampan, namun tertutupi oleh tatonya yang membuatnya menyeramkan dan nampak tidak dari kalangan orang-orang yang baik.


Ia mendekat dan menjebak Arana diantara tubuhnya dan mobil, benar-benar menampilkan posisi berbahaya yang mengintimidasi, namun Arana mengerutkan keningnya dan mendorongnya dengan sebelah tangannya, terlalu tidak nyaman dengan posisi seperti itu dengan orang asing. "Katakan saja apa mau kalian. Tidak perlu membuang-buang waktuku disini."


Pria itu tertawa dengan liar, sebelum meraih kerah baju Arana dan menatapnya dengan tajam. Ia menyeringai. "Kami juga sebenarnya tidak ingin membuang waktu kami disini untukmu. Tapi kami memiliki sesuatu yang harus kami sampaikan padamu."


"Datangi aku dan berlututlah memohon pengampunanmu. Jika tidak, maka sampai kehancuranmu, kamu tidak akan pernah memiliki hari baik dalam hidupmu."


Arana tercengang dan hendak berkata apa maksudnya ketika pria itu terlebih dahulu melanjutkan perkataannya. "Itu adalah pesan yang ingin disampaikan seseorang kepadamu. Ingatlah hal itu, dan jika kau tidak mengingatnya, dia berkata akan selalu mengingatkanmu."


Mengepalkan tangannya, Arana mengerti bahwa mereka tidak mencoba menyakitinya. Mereka kemungkinan besar hanya suruhan seseorang yang menargetkan Alana untuk balas dendam. Jadi dengan tegas Arana menyentak tangan pria itu dan memandangnya dengan tajam, tidak memiliki ketakutan dalam matanya.


"Jika begitu enyahlah. Katakan pada orang itu, bahwa jika dia berani, suruh dia muncul dihadapanku." Katanya.


Pria itu memandang Arana dengan ketertarikan disepasang manik gelapnya. Bibirnya menyunggingkan seringaian sebelum dia mengedikkan bahunya. "Kita lihat saja. Jika dia masih membalas pesanku, berarti dia berani menemuimu, jika tidak, berhati-hatilah pada setiap langkahmu."


Selesai berkata hal itu, ia menoleh, memandang anggota gengnya dan berkata, "Ayo pergi!"


Kemudian dalam sekejab, Arana dan Agus ditinggalkan disana dalam keadaan linglung. Arana memandang kedepan, namun pikirannya menyebar entah kemana.


Berpikir siapa orang yang menargetkan Alana? Apakah kejadian buruk yang menimpanya selama ini ada hubungannya dengan orang itu? Dan kesalahan apa yang dilakukan Alana hingga membuat seseorang mampu melakukan kejahatan seperti itu hanya karena untuk mendapatkan permohonan maaf dan balas dendam?


Arana memandang ragu pada Agus dan membuka bibirnya. "Pak Agus. Apa saya bisa minta tolong?"

__ADS_1


"Ada apa non? Apa ada yang terluka?" Tanyanya panik.


Arana menggelengkan kepalanya. "Bisakah bapak merahasiakan kejadian hari ini dari Alva? Saya tidak mau Alva khawatir dan mencemaskan saya sampai melalaikan pekerjaannya. Kejadian hari ini, saya jamin tidak akan terjadi lagi. Lagipula, mereka tidak menyakiti saya ataupun bapak, kan?"


Agus nampak ragu, namun kemudian menganggukkan kepalanya.


"Baik, non."


Satu-satunya alasan Arana tidak ingin memberitahu Alva adalah karena tidak ingin merepotkan pria itu. Alva, sudah terlalu banyak ia repotkan.


***


Agus menunduk. melaporkan segala kejadian yang terjadi pada hari ini kepada Alva yang duduk dibangku kebesarannya.


Sepasang tangannya terjalin, menutupi ekspresinya. Namun sepasang mata hitam itu tidak bisa menyembunyikan emosi dan kemarahan yang jelas dirasakan. Bahkan Agus sampai merasakan perasaan dingin di punggungnya. Pria itu mendongak, mengintip untuk melihat Erlan mengkodenya untuk pergi. Agus dengan segera membungkuk dan bergegas keluar.


Benar-benar tidak kuat berada dibawah tekanan Alva.


Jika mengingat semua hal buruk dan kecelakaan yang dialami oleh Arana, kemarahan dan kebencian Alva pada Alana tidak bisa tidak makin membuncah.


Karena kesalahan p*lacur itu, gadis yang ia cintai berulang kali berada dalam bahaya, dan sekarang bahkan mendapatkan ancaman yang sedemikian rupa.


Tetapi hal yang membuat Alva lebih marah adalah fakta bahwa Arana tidak sekalipun memiliki keinginan untuk menceritakan masalah yang dialaminya kepadanya. Bahkan menghadapi situasi seperti ini, Arana bahkan menyuruh Agus untuk merahasiakannya darinya. Jika bukan karena Agus adalah salah satu pekerjanya yang setia kepadanya, Alva yakin ia tidak akan mengetahui masalah yang dialami oleh istrinya itu.


Alva mengepalkan tangannya.


Dia ingin Arana percaya padanya. Alva ingin Arana bergantung kepadanya dan membiarkan dia mengatasi semua masalahnya karena dia adalah suaminya.

__ADS_1


Alva memandang Erlan dan dengan dingin memerintahkannya. "Aku tidak peduli dengan cara apapun yang akan dilakukan olehmu dan yang lain. Pada akhirnya, aku ingin kalian melakukan sesuatu yang bisa membuat gadis itu menderita dan lebih memilih mati daripada hidup."


Erlan menghela napas tanpa daya.


Jika Erlan bisa mengatakannya, dia benar-benar lelah dengan semua masalah ini. Tidak bisakah mereka membiarkan Alva tenang dan hidup bahagia dengan Arana tanpa ada gangguan apapun?


Erlan hanya menjawab dengan seadanya. "Aku mengerti. Aku akan menyuruh Asazel melakukan sesuatu."


Dalam keadaan seperti ini, ada sekilas pemikiran yang mengalir dibenaknya, dan dia membutuhkan bantuan rekannya untuk menjalankan rencananya. Membuat Alana menderita, dan memilih mati daripada hidup.


Suara Alva kembali terdengar. "Selidiki juga siapa yang sudah menghentikan mereka. Aku ingin membuat perhitungan dengannya yang sudah berani-beraninya menyentuh milikku."


Lagi, orang-orang bodoh yang tidak sayang nyawa.


"Baiklah." Jawab Erlan.


***


Itu sudah larut malam ketika Erlan masih duduk dimeja kerjanya, mengerjakan setumpuk dokumen ketika Alva kembali lebih awal.


Ia memandang layar komputer dengan kejam dan ingin memaki Alva. "Meskipun tidak lembur sendirian, aku masih tetap iri ketika mengingat dia mungkin sudah bergelung nyaman memeluk istrinya ditempat tidurnya dan bermimpi indah ketika aku disiksa oleh setumpuk berkas yang tertunda karena perintah-perintahnya."


"Jika tidak mengingat dia adalah sahabatku, aku benar-benar akan resign!" Erlan bergumam, menggerutu dengan suara yang tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


Ia hendak meregangkan tubuhnya ketika segelas kopi hangat diletakkan diatas mejanya. Ia mendongak, dan bertemu sepasang iris hitam yang lembut dan hangat. Wanita itu memiliki pir air dipipinya bahkan ketika dia tersenyum tipis. "Segelas kopi, supaya kuat bekerja lembut."


"Pak Erlan, semangat bekerja!"

__ADS_1


Erlan tidak bisa menahan untuk tidak memegang jantungnya. Ah, Erlan selalu menyukai senyumannya yang manis dan lembut!



__ADS_2