
"Oh, kamu memiliki dasar yang bagus dalam bela diri! Apakah kamu pernah berlatih sebelumnya?"
Pertanyaan itu diajukan kepada Arana ketika dia telah memulai sesi latihan bela dirinya dengan Maria--wanita bersurai hitam pendek dengan kulit sawo matang. Mengenakan baju tanpa lengan berwarna putih dengan celana selutut berwarna hitam, Arana sedikit mengatur napasnya dan mengangguk dengan senyuman yang terpatri diwajahnya.
"Pernah, tapi hanya sebentar kak, dengan temanku."
Arana menjawab dengan jujur. "Oh, temanmu sangat berbakat pasti."
Arana tidak ragu untuk memuji Amber didepan orang lain. "Tentu saja, kak. Temanku ini sudah memenangkan banyak kompetisi karate bahkan tingkat internasional sebanyak empat kali berturut-turut. Dia pemegang sabuk hitam diusianya yang menginjak dua belas tahun."
Maria mengangguk, "Wow! Dia hebat!"
Maria adalah seorang wanita dengan proposi tubuh yang kekar. Dengan otot halus yang tergambar dilengan dan perutnya yang tereskpos, Arana dengan jelas tahu bahwa Maria pasti berlatih dengan keras dan menjadi tangguh dengan kekuatannya. Arana tidak bisa menahan kagum, dan dengan serius mendengarkan ceramah Maria seputar seni bela diri dan mempraktikkannya.
Maria adalah guru yang baik bagi Arana. Setiap kesalahan Arana, Maria menjelaskannya dengan detail, dan mengungkapkan cara mengatasi kesalahan yang dia buat jika itu terjadi dipertarungan secara langsung. Akibatnya, setelah tiga jam berlatih, Arana bahkan tidak sadar bahwa waktu berjalan secepat itu, jika bukan karena kedatangan Alva yang menyadarkannya.
"Sayang, masih belum selesai?" tanyanya begitu membuka pintu ruang latihan.
Arana yang berkeringat memandang jam di dinding dan menemukan bahwa itu adalah waktu makan malam. Arana dengan perasaan bersalah segera menoleh pada Alva. "Maaf sayang, aku terlalu fokus dan bersenang-senang sampai tidak ingat waktu."
"Kak Maria, ikut makan malam bersama kami saja, ya? Sebagai permintaan maaf dan rasa terimakasih karena sudah menyekap kakak disini untuk mengajariku." Kata Arana.
Maria dengan semangat menganggukkan kepalanya. "Aku akan merepotkanmu!"
Setelah membersihkan diri, Arana berkutat di dapur untuk memasak sementara Maria dan Alva mengobrol di sofa.
"Bagimana latihannya?" tanya Alva membuka suara.
Maria menyandarkan tubuhnya kesofa dengan tangan yang direntangkan. Memberikan efek dominasinya yang santai. "Istrimu benar-benar berbakat. Dia sangat mudah diajar, dan aku bisa menebak bahwa dia akan menyamai kemampuanmu dalam dua bulan kedepan."
__ADS_1
Alva menyunggingkan senyuman dengan tenang. "Tentu saja dia hebat."
"Oh, lihat pria ini." Goda Maria membuat Alva mengedikkan bahunya dengan acuh, menoleh untuk memandang Arana yang masih sibuk didapur. "Setidaknya, dia harus bisa menjaga dirinya dengan baik untuk saat-saat tertentu. Akan ada banyak bahaya yang mengincarnya, dan Arana harus terbiasa untuk mengutamakan dirinya."
"Kemudian, aku akan mengurus sisanya." Lanjutnya dengan ekspresi serius.
Maria mengamati ekspresi Alva dari waktu ke waktu dan tidak bisa menahan untuk tidak mengangkat sudut bibirnya dengan cara yang main-main. Pertama kali melihat pangeran es benar-benar bertekad untuk mencintai sesuatu, membuat Maria merasa bersemangat untuk membuat Arana menjadi lebih dan lebih baik lagi.
"Serahkan saja padaku." Gumam Maria.
Beberapa jam kemudian, Alva telah berbaring ditempat tidur ketika Arana tengah bersandar dikepala ranjang sembari memainkan ponselnya. Alva dengan tenang memandang wajah Arana dalam diam, memperhatikan setiap perubahan wajahnya. Ketika dia menemukan sesuatu yang tidak menyenangkan, keningnya akan berkerut dan bibirnya mengerucut dengan sepasang manik menyipit karena ketidakpuasan. Ketika dia menemukan sesuatu yang lucu, dia akan tersenyum menyeringai dengan manik menyipit bahagia dan alis yang melengkung indah. Dan ketika dia terkejut, bibirnya akan mengerucut dengan manik melebar dan alis yang terangkat.
Tidak ada yang lebih menarik daripada memandang ekspresi Arana.
"Eh, menyebalkan sekali!"
Arana tidak mengalihkan tatapannya dari ponselnya dan menjawab Alva dengan nada merajuk. "Apakah aku jelek, Al?"
Kening Alva berkerut. "Tentu saja tidak akan ada yang menyamai kecantikan istriku ini. Bagaimana bisa kamu jelek? Tidak sayang."
Arana dengan tidak puas mengerang. "Lantas kenapa orang ini menghinaku dengan kata-kata jelek? Aku hanya mengepost fotoku bersama denganmu. Orang-orang mengatakan kamu begitu tampan sedangkan mereka menghinaku jelek. Bagaimana maksud mereka, coba?"
Arana menggerutu sembari menunjukkan layar ponselnya pada Alva yang turut bersandar dikepala ranjang sembari membawa Arana kepelukannya. Alva memandang ponsel Arana untuk menemukan sebuah foto. Alva ingat bahwa foto itu diambil sebelum Arana mengalami kram perut karena menstruasi beberapa hari lalu. Arana dengan senyuman cerahnya memandang kamera sembari menempelkan pipinya ke pipinya, sementara dirinya sendiri mengulas senyuman lembut, dan dengan tenang melirik Arana.
Tatapannya tidak terelak, begitu lembut dan penuh cinta.
"Kamu sangat cantik." Ucap Alva membuat Arana menatapnya. "Benarkah? Lalu komentarnya?"
Alva melirik lagi, melihat nama akun yang mengatakan bahwa Arana jelek dan dengan tenang tersenyum. "Itu akun Juan sayang. Kamu lupa?"
__ADS_1
Manik Arana melebar. "Benarkah? Akun Juan? Aku tidak ingat!"
"Tentu saja, kamu bahkan tidak menerima permintaan pertemanannya, jadi bagaimana kamu bahkan tahu itu akunnya." Ucap Alva membuat Arana menatapnya dengan senyuman kecil. "Hehe, bagaimana lagi. Aku kan, sibuk."
Beberapa waktu lalu, Arana membuat akun baru dan mengepost fotonya bersama dengan Alva. Dia ingin memberitahu dunia dan mereka yang memaksanya untuk menikahi Alva bahwa dia sama sekali tidak terpaksa menikahinya. Arana bahagia, dan dia akan berusaha sekeras mungkin untuk mempertahankan kebersamaan mereka. Bahkan jika mereka tidak lagi bersama, Arana ingin memiliki kenangan dimana semua orang bisa melihatnya, tanpa campur tangan Alana. Tidak tercampur dengan foto kenarsisan gadis itu, dan hanya miliknya dengan fotonya bersama Alva.
Mengunci layarnya, Arana dengan samar menguap, menandakan bahwa dia telah mengantuk. "Sudah mengantuk?"
Pertanyaan retoris Alva diangguki kepala oleh Arana. Gadis itu dengan tenang melingkarkan kedua tangannya dileher Alva yang membawanya untuk berbaring sementara tangan pria itu sendiri ada dipinggangnya. Arana menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Alva dan dengan perlahan memejamkan mata.
"Al, apakah kamu membenci pembohong?" tanya Arana.
Apakah Alva membenci pembohong atau kebohongan? Ya, Alva membenci dibohongi. Alva paling tidak suka jika ada seseorang yang berbohong padanya, dengan tujuan menjatuhkannya. Kebencian itu hampir setara dengan kemarahan yang dia pendam selama bertahun-tahun. Ketika itu meledak, mungkin orang tidak akan menduga seberapa bengis Alva.
Alva bukannya tidak tahu mengapa Arana bertanya.
Arana selalu berbohong padanya. Tentang identitasnya, tentang sahabat-sahabatnya, tentang kesukaannya, dan banyak hal lain. Namun Alva bukan orang yang dungu dan buta dan tuli, untuk tidak bisa merasakan ketulusan dari Arana, ketika gadis itu mengucapkan kata cinta padanya. Alva memang tidak suka dibohongi, namun itu pengecualian untuk Arana yang hanya menyembunyikan identitas yang bahkan sudah dia ketahui sendiri sejak awal.
"Aku tidak suka dibohongi." Namun hanya itu yang bisa dikatakan olehnya. Dia tidak suka dibohongi, dan dia juga tidak suka berbohong.
"Tetapi ... bahkan jika kamu membohongi seluruh dunia, kamu membohongi aku, kamu tidak akan bisa membohongi dirimu sendiri. Aku tidak akan bisa membencimu, adalah hal yang harus kamu tahu, sayang."
Tapi ketika Alva menundukkan kepalanya, dia melihat bahwa Arana telah terlelap.
Ia diam selama beberapa waktu sebelum sebuah senyuman tersungging dibibirnya. Yah, kata-katanya barusan mungkin tidak bisa tersampaikan pada kekasih hatinya.
"Selamat malam, sayang."
__ADS_1